
Sudah dua minggu sejak kecelakaan itu, Dr Rendra terbaring koma diruang VVIP sebuah rumah sakit ternama di kota B.
Atas permintaan pak Deva, kakak kandung Dr Rendra, agar dia dirawat secara intensif dirumah sakit terbaik dikotaku.
Tak luput seharipun aku mengunjunginya, bergantian dengan Mamah Rena.
"mah.. mamah pulang ya dan istirahat dirumah, biar aku disini menjaganya" ucapku.
"apa kau tidak bekerja?"
"aku sudah minta ijin pada pak Deva, untuk mengerjakan pekerjaanku dari sini sambil menjaga Dr Rendra" jawabku.
"baiklah... terimakasih karena mau menggantikan mamah untuk menjaganya" kata mamah sambil menatap sendu kearah Dr Rendra yang tak kunjung sadar.
"maah... Dr Rendra begini karena Dara, maafin Dara mah" ucapku tertunduk.
"bukan salah siapa siapa nak.. ini sudah takdir yang Kuasa" sahut mamah.
Aku memeluk mamah Rena yang mulai kurusan karena selama dua minggu ini makan dan tidurnya tidak teratur.
"mamah jangan lupa makan dan istirahat yang cukup, jangan sampai Dr Rendra sedih melihat keadaan mamah ketika dia sadar nanti" kataku.
"iya...." tampak airmata mamah lolos membasahi wajahnya.
Aku mengusap lembut airmata itu, aku sebenarnya akan menangis juga namun aku tahan agar mamah Rena tidak semakin merasa sedih.
Sepeninggal mamah, aku duduk di samping ranjang Dr Rendra,
"Dok... apa kau tak lelah berbaring terus? bukalah matamu.." ucapku sambil mengusap lembut wajahnya yang pucat.
"apa kau tak merindukanku? katamu, kau tak bisa berlama lama tanpa melihat wajahku? lihatlah aku sekarang disini, di hadapanmu" lanjutku.
Tak ada pergerakan sama sekali darinya, dia tetap pada posisinya, terbujur kaku dengan mata yang rapat terpejam.
Aku bergeser agak menjauh dan mengeluarkan laptopku, sesuai janjiku pada Pak Deva jika aku akan menyelesaikan tugasku sambil menjaga Dr Rendra, adik kandungnya.
Aku berkutat dengan laporan keuangan yang terlihat banyak dimanipulasi oleh oknum tak bertanggungjawab sehingga mengakibatkan kerugian besar pada perusahaan, kini perusahaan ini sedang di ujung tanduk.
Jika bukan pak Deva yang memintanya sendiri padaku, aku tak akan sudi pindah ke kota ini lagi, aku tak ingin mengingat kembali kenangan pahit masa laluku.
Saking sibuknya dengan urusan pekerjaan, aku tak sadar hari sudah gelap dan mamah Rena sudah datang lagi,
"sebaiknya kau pulang nak.. wajahmu terlihat sangat lelah" ucap mamah.
"aku lelah karena pekerjaan mah bukan karena menjaga Dr Rendra bahkan aku senang bisa menjaganya disini" sahutku sambil tersenyum.
"terimakasih atas perhatianmu.." ucap mamah dengan tulus.
__ADS_1
Akupun berpamitan pulang pada mamah, ketika menyusuri lorong rumah sakit yang agak lengang karena jam berkunjung alan berakhir, mataku menangkap sosok seseorang yang sepertinya aku kenal,
Degh....
Seketika jantungku serasa mau copot, ketika bisa melihat dengan jelas wajah tersebut,
"Pandu???"lirihku nyaris tak terdengar.
Aku ingin menghindarinya tapi lorong ini lurus tak ada gang yang bisa dibuat berbelok, aku berusaha menutupi wajahku dengan tas laptop, berharap dia tak mengenaliku.
Kami berpapasan dengan wajah yang terus saja aku sembunyikan di balik tas laptopku,
"alhamdulillah..." batinku setelah melewatinya, sepertinya dia tak melihatku.
Setelah kurasa aman, aku kembali berjalan normal dan menurunkan tas laptop dari wajahku,
"lama tak berjumpa..." suara itu menggema di lorong yang sepi.
"matiiiii aku.." seruku dalam hati.
Aku pura pura tak mendengarnya, dan terus saja berjalan menjauhinya, tapi tiba tiba dia mencekal pergelangan tanganku dengan kuat membuat tubuhku berbalik berhadapan dengannya,
"sudah ku duga, itu pasti kau..." ucapnya sambil tersenyum smirk.
Aku diam tak bergeming,
"apa kabarmu? Andhara Bilqis? MANTAN KEKASIHKU" ucap Pandu dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya.
"kenapa kau berdecih? itu kenyataan bukan?" ucapnya lagi.
"itu hanya bagian dari masa lalu yang sudah lama aku buang ke laut!" sahutku dengan ketus.
"yakin kau bisa membuangnya?"
"yakinlah..." sungutku.
"lalu bagaimana dengan janin itu, aku tidak yakin kau juga membuangnya?" ucap Pandu.
Degh...
Lagi lagi aku harus senam jantung untuk yang kedua kalinya, darimana dia tahu kalo aku mengandung anaknya? batinku.
"kenapa wajahmu berubah pucat begitu?" tanyanya lagi melihat mimik wajahku berubah.
"ck...." aku berdecak berusaha mengalihkan kegugupanku.
"kau tak mau menjawabnya?" dia keukeuh bertanya.
__ADS_1
"aku rasa aku tak perlu menjawab apapun!"
"kau benar benar tak ingin menjelaskan sesuatu tentang anakku?"
"anakmu? anak yang mana?" aku pura pura tak mengerti arah pembicaraannya.
"tentu saja anakku yang kau kandung 5 tahun yang lalu!"
"cih..aku tidak merasa mengandung dengan siapapun!"
"jangan berkilah atau aku akan merebutnya darimu!" ancamnya.
"cukup!!!!!" teriakku karena muak.
"kenapa? kau takut hah?"ucapnya penuh kemenangan.
"jangan pernah mengusik kehidupan pribadiku lagi! masih untung aku tak melaporkanmu karena telah memperkosaku!"
"memperkosa? kau bahkan menikmatinya!!!"
"dasar brengsek! jika kau tak menjebakku, aku tidak akan sudi tidur denganmu!!!" sungutku dengan berurai airmata.
"ck.. semua sudah berlalu.. dan kenyataannya sekarang adalah kau ibu dari anakku" ucapnya dengan suara melembut.
Aku tetap menangis,
"tolong katakan, dimana dia?"
Aku tetap membisu,
"aku ayahnya, aku berhak tahu tentang dia"
Mungkin inilah saatnya, pikirku.. tak bisa selamanya aku menyembunyikan rahasia ini darinya, lambat laun dia pasti akan tahu.
Akhirnya dengan berat hati aku menjawab, " dia.... ada dirumah dengan mamahku, dia perempuan dan sekarang sudah berumur 4th"
Pandu yang awalnya sangar, kini berubah sendu, bahkan dia meneteskan airmata saat aku memberitahunya tentang Mela.
"namanya Mela..." lanjutku lagi.
"hiks... hiks...bisakah aku bertemu dengannya?" ucapnya di sela tangisannya.
"ya.." lirihku pasrah.
Perlahan Pandu melepas cekalan tangannya, dan aku segera berlalu dari hadapannya, aku tak mau berubah melankolis karena melihatnya menangis.
Sedang Pandu, aku melihatnya luruh ke lantai sesaat setelah aku meninggalkannya sendiri, aku sempat meliriknya sekilas.
__ADS_1
Tadinya aku penasaran kenapa Pandu bisa berada dirumah sakit ini, siapa yang sakit? atau dia sedang menjenguk temannya? semua menguap begitu saja setelah dia membahas tentang janin yang membuatku kelabakan untuk menjawabnya.
☕☕☕☕☕☕