
Dara terbangun dari tidur nyenyaknya, tetapi kepalanya terasa berat, entah apa penyebabnya.
Dara mengerjapkan mata dan berusaha untuk bangun, tubuhnya terasa remuk redam, Dara semakin terkejut ketika melihat tubuhnya yang polos tanpa busana, dan lebih syok lagi melihat seorang laki laki yang sama polosnya dengan dirinya, sedang terlelap dibawah selimut yang sama.
"aaaaaaaa....." teriakku pagi itu.
Pandu terkejut dengan teriakanku dan langsung terduduk di sebelahku yang menangis histeris sambil memegang kuat selimut yang menutupi tubuhku.
"kau laki laki brengsek!!" makiku sambil memukul lengan Pandu dengan kuat.
"maafkan aku Dara..." ucapnya penuh sesal.
"tega sekali kau melakukan ini padaku!" ucapku lagi, tangis yang terdengar memilukan.
"aku akan bertanggung jawab" sahutnya berusaha menenangkanku.
Plakkk....
Aku menamparnya dengan kuat, sampai bibir bawahnya sobek dan mengeluarkan darah, tapi Pandu tak marah, malah dia menangis melihatku kalap seperti ini.
"pukul aku sepuasmu.. aku pantas menerimanya" ucapnya dengan wajah yang basah oleh airmata dan darah yang mengalir dari bibirnya.
"aku benci laki laki brengsek sepertimu!!! enyah dari hadapanku!!!" usirku penuh emosi.
Pandu tak menyahutiku, dia bangun dan memakai celananya dan bergegas keluar kamar.
Tubuhku bergetar hebat, aku tak menyangka, Pandu tega memghancurkan masa depanku, benar benar fatal telah mempercayainya.
"arghhhhh...." teriakku frustasi.
Dengan cepat aku memakai bajuku dan keluar dari kamar Pandu yang menjijikkan itu,
"mau kemana kau Dara? biar aku antar" kata Pandu.
"cih... jangan pernah menemuiku lagi!!!!" kataku meludah dihadapannya.
"kau tak bisa pulang dalam keadaan begitu..."
"apa pedulimu hah? lelaki bejat sepertimu tak perlu sok baik kepadaku!!!"
Aku keluar dari rumah itu dan berjalan keluar gang, aku pulang naik taksi, sampai dirumah, mamah yang melihatku acak acakan, langsung bertanya,
"darimana aja kamu Dar? semalem ga pulang, mamah telepon, ponsel kamu ga aktif" kata mamah.
__ADS_1
Tanpa menjawab, aku langsung menghambur ke pelukan mamah,
"maafin Dara mah... " ucapku kembali menangis.
"maaf buat apa sayang? kamu kenapa?"
"Dara udah berbuat salah mah...tolong ampuni Dara" ucapku.
"mamah ga ngerti maksud kamu..."
"mah... aku ga bisa cerita sekarang, aku lelah dan pengen istirahat"
"baiklah.. memang sebaiknya kau istirahat, wajahmu terlihat pucat dan kelelahan"
Akupun bergegas ke kamar dan mengunci pintu, aku menutupi wajahku dengan bantal dan menangis sejadi jadinya.
"brengseeekkkkkkkk kau Pandu!!!" teriakku yang teredam oleh bantal.
Mengingat kejadian semalam, aku langsung bangun dan ke kamar mandi, aku mengguyur tubuhku dibawah shower, menggosoknya dengan kuat,
"tubuhku sudah kotor!!!" racauku sambil menangis.
Aku terus saja menggosoknya sampai kulitku terasa perih, sepertinya kulitku lecet dan berdarah.
🍓🍓🍓🍓🍓🍓
Beberapa hari ini aku tak keluar rumah bahkan aku mengurung diri di kamar, ponsel aku matikan.
mamah khawatir melihat keadaanku,
"sayang.. kamu kenapa begini nak?" kata mamah.
Aku tak bergeming, tatapanku kosong,
"Dara.. kalau kamu sakit, ayo kita ke dokter" kata mamah lagi dan aku tetap tak menjawabnya.
Bukan hanya mamah yang khawatir, Dr Rendra yang tak dapat menghubungiku pun sudah berkali kali datang kerumah dan mencariku namun aku selalu menolak untuk menemuinya, rasanya aku sudah tak punya muka untuk berhadapan dengannya.
"gimana tante? apa Dara masih ga mau menemui saya?" tanya Dr Rendra saat datang kerumahku.
"maaf nak Rendra, Dara tetap sama seperti kemarin..." jawab mamah.
"oh begitu ya..." sahut Dr Rendra dengan wajah lesu.
__ADS_1
"sabar ya nak.. nanti biar tante yang mencari tahu kenapa Dara seperti ini"
"iya tante... terimakasih! kalo begitu saya pamit pulang dulu dan besok saya akan datang lagi" ucapnya berpamitan dan menyalami mamah.
🍌🍌🍌🍌🍌🍌
Seminggu sudah aku mangkir dari pekerjaanku, mas Beno sampai geram dan mendatangi rumahku bersama Cika.
"maaf tante, apa saya bisa menemui Dara?" ijin mas Beno pada mamah.
"bisa nak.. cuma Dara tidak bisa di ajak berkomunikasi.. tapi kalau nak Beno mau mencoba berbicara gapapa"
Mas Beno dan Cika datang ke kamarku, Mas Beno yang awalnya geram,sekarang prihatin melihat keadaanku yang jauh dari kata baik baik saja.
"oh my God.. Dara kamu kenapa sampe seperti ini?" tanya mas Beno terkejut.
Sedang Cika tampak menangisiku,
"Dara... aku mohon bicaralah" tambah Cika di sela tangisannya.
"Dar... kalo kamu ga cerita, selamanya kamu akan terpuruk sendirian seperti ini..." nasehat Mas Beno.
Aku tetap saja diam tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun dan pandanganku kosong.
"Mas Beno tetep nunggu kamu Dar.. kamu tetap artisnya mas Beno" Mas Beno menimpali.
"kembali lah Dar.. kami semua sangat menyayangi dan mendukungmu..." sahut Cika.
🍆🍆🍆🍆🍆🍆
Hari ini Dr Rendra datang lagi, setiap hari dia menyempatkan diri untuk menjengukku, dan dengan sabar menungguku berbicara.
"sayang... aku akan terus mendatangimu sampai kau mau berbagi kisah denganku, apapun itu aku akan menerima semuanya Dara" ucapnya penuh kasih sayang.
Aku tak bisa menjawab tapi airmataku seakan mewakili semua perasaanku saat ini,
"jangan menangis lagi sayang... aku janji akan membahagiakan kamu bagaimana pun keadaan kamu" tambahnya.
"ya udah.. jangan lupa makan ya dan minum obat secara teratur trus istirahat yang cukup supaya cepet sembuh... fans kamu sudah rindu dengan kehadiranmu di layar kaca"
Beno mengurus segalanya, termasuk FTV yang belom selesai yang dibintangi oleh Dara.
Untung saja semua berjalan lancar bahkan pihak FTV tidak menuntut atas ketidak hadiran Dara dalam syuting syuting berikutnya.
__ADS_1
🥔🥔🥔🥔🥔🥔