Seorang Bintang

Seorang Bintang
Empatpuluh


__ADS_3

Sebulan sudah sejak terakhir aku melihatnya dirumah sakit waktu itu, sampai sekarang aku tak pernah melihat Pandu lagi, aku hanya melihat wajahnya sekilas dari beberapa iklan di televisi.


Aku sudah kembali bekerja lagi, saat jam istirahat aku memilih untuk makan siang diluar, kali ini resto geprek lagi lagi menjadi pilihanku,


"mas, ayam geprek plus nasi 1 sama lemontea ya" pesanku ketika sudah sampai di resto.


Sambil menunggu, aku mencoba video call dengan Mela, pasti jam segini dia sudah dirumah, batinku.


"hallo assalamualaikum anak cantik..." sapaku ketika wajah imutnya telah memenuhi layar ponselku.


"waalaikumsalam mamih.." sahutnya dengan nada yang sangat menggemaskan.


"sayang, lagi apa? sudah maem?" tanyaku.


"Mela baru pulang sekolah mih, ini lagi di suapin sama bik Sani" jawabnya, tampak bik Sani duduk disampingnya sambil memegang piring.


"maem yamg banyak ya sayang..." sahutku sambil tersenyum.


"iya mih, mamih juga jangan lupa mamam ya.." ucapnya dengan mulut penuh nasi.


" mamih juga lagi nunggu makanan nih, mamih mau makan siang"


"mamih makan siang dimana? kok keliatannya rame banget?"


Aku sengaja mengedarkan ponselku ke seluruh sudut resto, agar Mela bisa melihatnya,


"coba tebak mamih lagi dimana?" tanyaku tetap sambil mengedarkan ponselku.


"mih mih... berhenti disitu, kayaknya itu om ganteng ya mih" kata Mela sambil memicingkan matanya.


"om ganteng? mana?" aku berusaha melihat lagi.


"itu mih yang lagi duduk dibelakang mamih"


Dan degh..


Pandanganku terpaku pada layar ponsel yang memperlihatkan wajah tampan yang aku rindukan selama sebulan terakhir ini.


"Mela...mamih tutup dulu telponnya ya" ucapku lalu mengakhiri video call itu.


Aku beranjak dari kursiku dan hendak menghampiri Pandu yang tampak duduk seorang diri, ketika sudah dekat, tiba tiba ada seorang wanita datang dan duduk saling berhadapan dengannya,


Mata kami sempat bertemu sesaat, dia menatapku dengan begitu dinginnya, lalu aku berbalik badan mengurungkan niatku untuk menyapanya,


"hei kau... apa ada yang ingin kau katakan padaku?" tanya Pandu dengan angkuhnya membuat wanita dihadapannya ikut ikutan menatapku.


"aku? tiii...tiidak..." jawabku sedikit gugup.


"lalu kenapa kau kesini?"


"aak...aaku sedang mencari pinku, mungkin terjatuh disini"sahutku asal sambil bersikap seolah kehilangan sesuatu.


"apa kau yakin?" tatapnya penuh selidik.


"yakinlah..." sahutku berusaha menormalkan nada bicaraku.


"lalu apa yang menempel di sakumu itu?bukankah itu pin yang kau maksud?" Pandu tersenyum smirk.

__ADS_1


Aku meraba sakuku dan ya.. pin sialan itu bertengger manis disana, kali ini aku benar benar mati kutu, wajahku merona karena ketahuan berbohong.


"haha.. hei nona, pintar sekali kau mencari alasan, bilang saja kau caper pada kekasihku!" ucap wanita yang sedang bersama Pandu tersebut.


"Della..." tegur Pandu tak senang.


"caper? aku? cih.. hanya dalam anganmu nona!" sungutku kesal.


"lalu untuk apa kau disini berpura pura kehilangan sesuatu jika bukan karena caper hah?" ucapnya sambil berdiri.


"rasanya aku tak perlu menjawab pertanyaan bodohmu itu!" jawabku lalu berbalik badan kembali ke mejaku.


Sekilas aku mendengar wanita itu dan Pandu cekcok, namun kemudian hening, entah apa yang mereka lakukan selanjutnya, aku sudah tidak peduli, sampai akhirnya pesananku datang, aku pun makan dengan lahapnya, sepertinya emosi sudah membuat laparku naik setingkat lagi.


"maafkan sikap temanku tadi" tiba tiba Pandu duduk dihadapanku.


Aku berusaha untuk mengabaikannya, dia terus saja memandangiku, membuatku salah tingkah,


"bisakah kau kembali ke mejamu saja?" ucapku dengan mulut penuh.


"ck... telan dulu makanan dalam mulutmu baru kau bicara!" ucapnya sambil tersenyum kecil.


Aku menelan makananku dengan cepat dan meneguk lemontea dihadapanku,


"sebaiknya kau kembali ke mejamu, temani temanmu yang cerewet itu!!!"


"dia sudah aku usir" jawabnya enteng.


"apaaaa?" kataku sambil menoleh ke meja tadi dan benar saja wanita itu sudah tak nampak lagi batang hidungnya.


"lanjutkan makan siangmu!" titahnya.


"kenapa? bukankan lebih baik jika makan ada yang menemani?" sahutnya.


"cih... kata siapa aku disini sendiri?"


"jangan bilang, kau kesini dengan bayanganmu lagi" sahutnya sambil tertawa.


"ck... tentu saja, karena hanya bayangan yang setia padaku!" ketusku.


"akupun setia padamu, sayangnya kau lebih memilih dia daripada aku" ucapnya lalu berlalu dari hadapanku,


"memilih dia?" gumamku dengan bingung, siapa yang dia maksud? batinku bertanya tanya.


"ah... sudahlah" gumamku lagi menepis kebingunganku.


Aku melanjutkan makan siangku dengan cepat karena jam istirahat segera berakhir.


🌰🌰🌰🌰🌰🌰


Sampai dirumah, aku disambut dengan mobil sport hitam yang sedang parkir cantik di depan gerbang rumahku.


"mobil siapa ini?" gumamku.


Aku menepikan mobilku di samping mobil mewah tersebut dan segera masuk ke dalam rumah.


Dan tebak siapa yang aku lihat? Pandu sedang asyik bermain dengan Mela!!! yang benar saja, kemana mamahku? kenapa dia bisa masuk dengan bebasnya?

__ADS_1


"mamih... aku ketemu om ganteng lagi tadi di supermarket" seru Mela tampak bahagia.


"Mela.. oma kemana?" tanyaku.


"kenapa sih mamih sama om ganteng selalu menanyakan keberadaan oma?"


"mamih hanya ingin tahu sayang"


"sama.. om juga hanya ingin tahu" sahut Pandu menimpali, sungguh licik, dia sengaja bertanya lebih dahulu tentang keberadaan mamah agar dia bisa leluasa keluar masuk rumahku.


"oma lagi arisan mih.." jawab Mela.


Aku bisa bernafas lega saat mendengar jawaban Mela,


"Mela mandi dulu gih, ntar selesai mandi baru main lagi" kataku.


"tapi om ganteng jangan di usir ya mih" rengeknya.


"iya..." sahutku malas.


"janji dulu.." sahut Mela sambil menyodorkan jari kelingkingnya.


"yaa..mamih janji" kataku sambil mengaitkan kelingkingku pada kelingking mungil milik Mela.


"oke... karena mamih udah janji, Mela bisa mandi dengan tenang... om ganteng jangan kemana mana ya tunggu sampai Mela selesai mandi" serunya senang.


"siaaap cantik" sahut Pandu.


"untuk apa kau datang kesini lagi? kau bilang ingin menjauhiku?" kataku setelah Mela masuk ke dalam.


"siapa bilang aku datang kesini untuk mendekatimu?" sahutnya santai.


Jawabannya membuatku malu dan gelagapan,kenapa aku bisa berbicara seperti tadi, aku benar benar malu!


Aku memilih diam agar tak salah bicara lagi, hanya hening setelahnya, karena tak ada pembicaraan lagi, aku beranjak dan hendak masuk ke dalam,


"Aku sudah memutuskan, untuk berjuang kembali!" ucapnya tiba tiba membuat tubuhku menegang.


Aku berbalik dan menatapnya yang sedang memandangku,


"aku tidak akan menyerah lagi kali ini, aku akan merebutmu darinya!" lanjutnya lagi bahkan kini dia sudah berdiri di hadapanku.


"aa..aaapa maksudmu?" tanyaku gugup.


Pandu meraih tanganku dan menggenggamnya,


"aku akan merebutmu darinya, karena selamanya kau hanya milikku!!!"


"merebutku darinya? dari siapa?" tanyaku penuh kebingungan.


"karena aku yakin kau juga masih mencintaiku.."


Cuph....


Setelah mengatakan itu,lalu Pandu mengecup bibirku sekilas, melihatku hanya diam, dia kembali mengecup bibirku, kini bukan hanya kecupan biasa, dia menarik tengkukku untuk memperdalam ciumannya, entah setan darimana yang meracuni otakku, aku membalas ciuman itu bahkan tanpa malu tanganku sudah mengalung dilehernya.


Seketika ruangan yang tadinya hening, kini ribut dengan suara cecapan dari ciuman panas kami.

__ADS_1


Aku melepas pagutan bibirnya karena kehabisan nafas.


🍱🍱🍱🍱🍱🍱


__ADS_2