Seorang Bintang

Seorang Bintang
Empatpuluhsatu


__ADS_3

Aku menjauhkan tubuhku darinya setelah pagutan kami terlepas, aku tak ingin Mela sampai melihat kelakuan kami.


Aku hanya diam dalam kegugupan, sementara Pandu sedang mengatur nafasnya yang tersengal.


"aku tunggu jawaban darimu, jika memang iya, datanglah ke apartemenku besok, aku akan menunggumu" ucap Pandu.


Aku tak bergeming sampai Mela datang dengan wajahnya yang penuh dengan bedak.


"ooooommmm ganteng... apakah Mela sudah cantik?" tanyanya dengan begitu polosnya.


"waahhh... tentu saja kau sangat cantik, bahkan bidadari kalah cantik denganmu" sahut Pandu.


Mela berlari kearah Pandu dan memeluknya, Pandu mencium rambut dan pipi Mela,


"hmmm selain cantik, kau juga sangat wangi... biadadari di langit sana pasti sangat iri jika bertemu denganmu" ucap Pandu membuat Mela tersenyum senang.


"benarkah itu om?"


"tentu saja sayang.. jika om harus memilih antara kau dan bidadari, om tak akan pernah ragu untuk memilihmu" sahutnya.


Sedang asyik mengobrol, tiba tiba mamahku datang,


"Mela... masuk kekamarmu!!" perintah mamah dengan tegas, terlihat raut mukanya menahan emosi.


"tapi kenapa oma?" tanya Mela tak senang.


"jangan banyak bertanya, cepat masuk!"bentak mamah tanpa sadar.


Mela yang ketakutan, masuk ke dalam kamarnya sambil menangis,


"mah...mamah kenapa membentak Mela?" sahutku tidak setuju dengan sikap kasar mamah.


"dan kamu.. pergi dari rumahku!!" kata mamah menunjuk kearah Pandu.


"mah.." tegurku lagi.


"kenapa Dara? kenapa kau membelanya?"


"mah.. aku tidak membelanya... tapi kenapa sikap mamah sekasar ini?" tanyaku penuh kekecewaan.


"mamah tidak ingin kau ataupun Mela berhubungan dengannya lagi!!!"


"maaah....!" kataku lagi.


"kau masuk kekamarmu Dara!" ucap mamah sambil mendorongku masuk.


"mah.. cukup!!! jangan pisahkan aku dari Dara dan putriku lagi!" Pandu angkat bicara.


"hah? putri?? bisa bisanya kau mengakuinya sebagai putrimu!!"


"Mela memang putriku, darah dagingku, mamah tak bisa menyangkal kenyataan tersebut!"


"kau masih berani bicara seperti itu padaku? setelah kau memperkosa putriku?"


"mah... aku memang bersalah,aku terpaksa melakukannya, aku hanya takut kehilangan Dara saat itu!"


"tapi karena kelakuanmu, hidup Dara hancur dan kau tahu? dia dihina karena hamil tanpa suami!"


"mah.. aku tidak berniat menghancurkannya, saat itu aku tidak tahu jika dia hamil, aku tahu setelah dia menghilang dan aku sudah berusaha mencarinya selama hampir 5 tahun ini!!"


"cih... pergi kau!! enyah dari kehidupan anak dan cucuku!!"


"tidak mah.. kali ini aku tidak akan menyerah, aku akan memperjuangkan Dara dan Mela!"


"pergi kau, sebelum aku memanggil polisi!"


"aku akan pergi mah.. tapi satu hal yang harus mamah tahu, aku dan Dara masih saling mencintai dan mamah tidak bisa memisahkan kami!!" kata Pandu lalu meninggalkan rumahku dengan perasaan yang berkecamuk.


πŸ—πŸ—πŸ—πŸ—πŸ—πŸ—


Setelah kejadian itu, Mela tak mau berbicara dengan omanya lagi, dia tampak ketakutan setiap melihat wajah omanya,


"sayang, oma minta maaf ya..." ucap mamah pada Mela.


Mela tak menyahutinya, dia selalu bersembunyi dibalik tubuh bik Sani.


"sampai kapan Mela akan takut sama oma nak? oma benar benar tidak sengaja membentak Mela waktu itu!"


"oma janji ga akan mengulanginya lagi" lanjut mamah.

__ADS_1


"non Mela masih butuh waktu untuk menanggapi ucapan anda nyonya, saya harap anda bisa lebih sabar lagi" sahut bik Sani.


"baiklah bik.. saya akan bersabar sampai Mela mau memaafkan saya" sahut mamah pasrah.


Sepeninggal mamah, bik Sani mencoba menasehati Mela agar tidak mendiami omanya lagi, omanya sudah mengaku salah, dan Mela harus bisa memaafkannya, Mela selalu menuruti ucapan bik Sani yang sudah merawatnya mulai Mela masih bayi.


Dan benar saja keesokan harinya, Mela mendekati omanya lalu memeluknya,


"oma..maafin Mela ya" ucapnya.


"seharusnya oma yang minta maaf sama Mela" kata mamah sambil menangis.


"oma jangan nangis lagi ya..." ucapnya sambil menghapus airmata di pipi mamah.


Merekapun akhirnya berbaikan.


πŸ₯—πŸ₯—πŸ₯—πŸ₯—πŸ₯—πŸ₯—


"kenapa kau tidak datang ke apartemenku tempo hari?aku menunggumu seharian!" isi pesan whatsapp dari Pandu.


"maaf.. aku harus menyelesaikan urusanku dengan mamah terlebih dahulu" balasku.


"lalu kapan kau ada waktu? aku merindukanmu!"


"mungkin besok"


"baiklah besok aku akan mengosongkan jadwalku dan menunggumu di apartemenku"


"oke" balasku.


'kau masih ingat alamat apartemenku kan?"


"tentu saja!"


"kau memang sesuatu, tak sedikitpun kau melupakan tentangku!"


"cih..."


"balasanmu singkat singkat, apa kau sibuk membalasi pesan yang lain juga?"


"jika iya kenapa?" jawabku berusaha memancingnya.


"dari kemarin kemarin aku penasaran kepada orang yang kau sebut " dia", dia siapa maksudmu?"


"dia kekasihmu lah!"


"hahaha.. kekasih? apa kau sedang bermimpi?"


"Dr Rendra, dia kekasihmu kan?"


"hahaha... leluconmu tidak lucu!"


"maksudmu?"


"siapa yang bilang Dr Rendra itu kekasihku?"


"tentu saja dari sikapmu dan mamah juga sempat melihatmu berpelukan mesra dengannya dirumah sakit!"


"sikap yang mana? dan sepertinya mamahmu sudah salah paham dengan apa yang di lihatnya, pantas saja saat itu mamah sangat ketus padaku!"


"jadi itu hanya salah paham?"


"maumu?"


"tentu saja aku mau itu hanya gosip belaka!! bahkan jika itu benar, aku sudah bertekad untuk merebutmu darinya!"


"cih... coba saja jika kau bisa, wleee...πŸ˜‹"


"kita lihat saja nanti... nyonya Pandu!"


"jangan mengganti nama orang seenak jidatmu!"


"terserah aku donk mau memanggilmu apa..wleeeπŸ˜‹"


"kauuuu.......😠"


Pandu tak membalasnya lagi, tapi aku senang hubunganku bisa membaik kembali dengannya walau sekarang kami punya tugas lain, aku dan Pandu harus bisa meyakinkan mamah Lina dan mamah Mia.


🍎🍎🍎🍎🍎🍎

__ADS_1


Hari ini aku meminta cuti dari kantor dan bersiap mendatangi apartemen Pandu, sesuai dengan janjiku kemarin.


Dari rumah aku berangkat memakai pakaian kantor agar mamah tidak curiga.


Ditengah jalan aku menepi, dan menghubungi Pandu,


"hallo, kau dimana?"


"aku sudah di apartemen"


"aku akan ke supermarket dulu membeli beberapa bahan makanan dan cemilan"


"baiklah.. tapi darimana kau tahu jika di apartemen tidak ada makanan?"


"sudah dari dulu begitu" ucapku dengan mencibir.


"hehe..."dia hanya terkekeh pelan.


Setelah menutup telepon, aku melajukan mobilku kembali dan berhenti di sebuah supermarket, membeli bahan makanan yang akan aku masak nanti dan beberapa cemilan serta minuman.


"buka pintunya, aku di depan.." aku mengiriminya pesan.


"buka saja.. passwordnya masih sama seperti dulu"


"baiklah..."


Aku menekan tombol angka yang merupakan tanggal lahirku, dan benar saja pintunya benar benar terbuka,akupun segera masuk.


"bahkan kau tak mengganti passwordmu, bagaimana jika aku berniat jahat padamu?"


"aku tahu kau tak akan pernah berbuat jahat padaku, jadi aku tak perlu repot repot menggantinya!" sahutnya yang sedang duduk bersantai di sofa.


"tapi ngomong ngomong, apa kantormu sudah pindah ke apartemenku sekarang?" ucap Pandu lagi setelah melihat pakaian yang aku kenakan.


"ish.. aku terpaksa memakai baju formal karena aku tak ingin mamah curiga!" sahutku beralasan.


Wajahnya terlihat fresh sepertinya dia baru selesai mandi, rambutnya yang basah membuatnya terlihat lebih seksi, batinku.



"kau baru selesai mandi?" tanyaku basa basi.


"iya, tadi aku terburu buru kesini, jadi aku tak sempat mandi dirumah" jawabnya sambil mengibaskan rambutnya yang basah.


"pasti kau juga tak sempat sarapan kan?" aku berusaha menerka.


"hehe.. iya... dan sekarang aku lapar"


"baiklah.. aku akan memasak untuk kita"


"terimakasih sayang"


"cihh.. apa kau bilang? sayang?"


"iya..kenapa? bukankah kita sudah berbaikan sekarang?"


"kata siapa?" sahutku menggodanya.


"lalu ciuman kemarin? apa maksudnya?" dia mulai gusar.


"entahlah.." kataku lalu berlari kecil ke arah pantry sambil tertawa.


"Dara.." katanya geram lalu mengejarku ke pantry.


Pandu menangkapku dan menghimpit tubuhku di meja pantry, jarak kami begitu dekat, aku bisa merasakan nafasnya diwajahku,


"aku mencintaimu Dara..." ucapnya dengan tatapan lekat padaku.


"aku juga mencintaimu..." jawabku tak bisa lepas dari pesonanya,


Lalu dia mendekatkan bibirnya dan menciumku dengan mesra, aroma tubuhnya membuatku lupa diri, aku membalas ciuman itu dengan hangat, cukup lama kami saling *******, bibirku sampai basah karena salivanya, dia terus mencium dan menggigit bibirku sampai nafas kami sesak.


Aku mengusap bibirnya yang bengkak dan basah karena ulahku setelah pagutan kami terlepas


"terimakasih karena mau menerimaku kembali" katanya sambil mengecup jariku yang menempel dibibirnya.


Aku hanya mengangguk, tanpa terasa airmata bahagia menetes di kedua pipiku.


🍏🍏🍏🍏🍏🍏

__ADS_1


__ADS_2