Seorang Bintang

Seorang Bintang
Tujuhpuluhsatu


__ADS_3

"aku dan Rendra sama, kami bukan lah tipe laki laki yang romantis dan dapat mengungkapkan perasaan begitu saja! aku juga merasa aneh ketika Rendra berani dengan terang terangan menunjukkan rasa sukanya padamu!" ujar Deva.


"iya bahkan kami sempat berpacaran waktu itu tapi tidak bertahan lama karena memang sedari awal, aku hanya memaksakan diri untuk bersamanya!" sahutku.


"aku tahu dan aku benar benar patah hati saat itu, tidak mungkin aku bersaing dengan adikku sendiri jadi aku memilih untuk mundur dan mengubur perasanku padamu!"


"kau memang kakak yang baik!" pujiku.


"aku bahkan patah hati berkali kali karena mu!" ucap Deva dengan jujur.


Aku hanya bisa tersenyum malu mendengar semua pengakuannya.


"maafkan aku, aku tidak tahu dan tidak menyangka kau akan menyukaiku!" sahutku kemudian.


"ah.. itu hanya masa lalu, lupakan saja.. yang terpenting sekarang adalah, kau sudah tahu perasaanku dan mau menerimaku!" ujarnya senang.


"aku belum menjawab iya atau tidak dan kau sudah menyimpulkan kalau aku menerimamu?" kataku.


"aku bukan lagi remaja belasan tahun yang membutuhkan jawaban yes or no untuk memastikan sebuah hubungan!"


"lalu?"


"sikapmu cukup untuk menjawab segalanya!"


Aku langsung memeluknya dengan erat, dia pun membalas, betapa hangat pelukan itu.


☮☮☮☮☮☮☮☮


Pagi ini aku bersiap untuk berangkat ke kantor, ketika keluar rumah, aku mendapati Pandu tengah berdiri di depan gerbang rumahku,


"ada apa kau kemari sepagi ini?" tanyaku dengan nada dingin.


"apa Mela sudah berangkat ke sekolah?" tanyanya,


"sudah dari tadi!" sahutku singkat.


Aku melipat kedua tanganku di depan dada, dan menatap Pandu dari atas sampai bawah, penampilannya terlihat sangat kacau, entah dari mana dia, jauh dari Pandu yang ku kenal dulu.



"kau bisa kemari lagi nanti siang setelah Mela pulang sekolah!" kataku lagi.


"apa boleh aku kembali kemari lagi?" tanyanya.


"ya..!!" sahutku dengan malasnya,

__ADS_1


" ya sudah aku berangkat kerja dulu, takut kesiangan!" ujar ku lagi sambil melirik arloji di tanganku.


"ya.. maaf kalau aku sudah menyita waktumu!" sahutnya dengan wajah berbinar.


Aku tidak menanggapinya lagi, aku segera berangkat karena memang hari sudah semakin siang.


✖✖✖✖✖✖✖✖


Sampai di kantor, aku langsung masuk ke ruangan ku dan di sambut oleh Pak Deva, yang sudah duduk manis di sofa tamu di dalam ruangan tersebut.



"ada apa sepagi ini duduk disitu?" tanyaku setengah terkejut.


"kenapa kau nampak terkejut seperti itu?" tanyanya dengan santai.


"ya karena tidak biasanya kau keruangan ku sepagi ini!" sahutku sekenanya.


"kenapa kau baru datang? padahal aku sengaja berangkat pagi agar bisa segera menemui mu!" ujarnya seraya bangkit dari duduknya dan menghampiriku yang sedang mematung.


"ta..tadi.. ada sedikit gangguan ketika aku hendak berangkat!" sahutku terbata.


"gangguan?" tanyanya dengan dahi berkerut.


"iya.. ta.. tadi Pandu datang untuk menemui Mela!" jawabku dengan jujur.


"apa kau tidak apa apa jika Pandu datang ke rumahku?" tanyaku merasa heran.


"kenapa memangnya?" Deva balik bertanya.


"apa kau tidak cemburu? secara Pandu adalah mantan suamiku?" kataku dengan sangat hati hati.


"buat apa aku cemburu? aku sudah tahu perasaanmu!"


"benarkah?"


"iya.. selama dalam batas wajar, masih bisa aku toleransi!" jawabnya dengan santai.


"maaf jika menempatkan mu pada posisi yang tidak nyaman!" ujar ku merasa tak enak hati.


"maksudmu?"


"iya, aku tidak tahu bagaimana perasaanmu jika bertemu Pandu nantinya, aku merasa tak nyaman saja dengan statusku!"


"kenapa kau berkata seperti itu?"

__ADS_1


"aku seorang janda, punya anak! aku bekas orang lain!" sahutku sambil menangis.


"apa yang kau katakan? aku sudah tahu statusmu dari awal dan aku tidak pernah mempermasalahkannya!"


"aku hanya merasa tak pantas menerima cintamu! kau seorang lajang sukses yang di perebutkan oleh banyak wanita!"


"tapi aku hanya mencintaimu!"


"aku merasa naif.. dan serakah jika mengharapkan orang seperti dirimu!"


"kenapa tiba tiba kau jadi seperti Dara?"


"bagaimana pun statusmu, aku sudah menerimanya sejak awal! aku mohon jangan begini!"


Deva mendekatiku dan merengkuhku dalam dekapannya.


"aku akan merubah statusmu! menikahlah denganku!"


Nafasku tercekat, mendengar kata kata Deva barusan, apa katanya? menikah? apa dia sadar saat mengatakannya?


"ap..apa katamu barusan?"


"menikahlah denganku Dara! aku sudah tidak dapat menunggumu lebih lama lagi!" sahutnya dengan penuh keyakinan.


"apa kau sadar dengan yang kau katakan?"


"aku sangat sadar Dara.. aku tidak ingin di dahului oleh orang lain lagi! dulu aku terlalu pengecut untuk mengungkapkannya dan aku menyesal!"


Aku menitikkan air mata, entah air mata bahagia atau lainnya.


"tolong terimalah lamaran ku!" ujarnya dengan memohon.


"haruskah aku menerima mu? sedang lamaran mu saja di ruang kerja seperti ini!" dengus ku.


"aku tadinya juga ingin merencanakan lamaran romantis untukmu dan aku juga tidak menyangka akan melamar mu seperti ini!" sahutnya.


"ish!!! kau ini!" ujar ku mencubit lengannya.


"jadi? apa jawabanmu?" tanyanya lagi.


"harus aku jawab sekarang juga?"


"tentu saja! aku tidak ingin insomnia gara gara menunggu jawaban darimu!" jawabnya.


"em.. Yeesss!!!!! " jawabku spontan.

__ADS_1


Wajah Deva langsung berbinar dan dengan reflek dia menggendongku karena terlalu senang mendengar jawaban dariku.


🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑


__ADS_2