
"oya dok.. bagaimana dengan Pandu? apa dia baik baik saja?" tanyaku.
Pertanyaan inilah yang selalu Dr Rendra hindari, dia tidak ingin membuat Dara syok dan merasa bersalah. tapi Dr Rendra tidak bisa membohongi Dara perihal Pandu,
"hmmm.. dia masih dirawat" jawab Dr Rendra ragu.
"dirawat? apa yang terjadi dengannya?" tanyaku penasaran sekaligus khawatir.
"dia... dia tertembak sesaat setelah menolongmu!" jawabnya lagi.
"apaaaaa??? dia tertembak? lalu bagaimana keadaannya sekarang?"
"dia sudah melewati masa kritisnya dan sekarang masih koma di ruang ICU"
"koma??? dokter tolong antarkan aku untuk melihat keadaannya!" aku memohon sambil hendak turun dari ranjangku.
"Dara.. aku mohon tenanglah, Pandu sudah mendapat penanganan terbaik dirumah sakit ini"
"tapi aku ingin melihatnya, sekaliiii saja dok" ucapku bersikeras dengan menangis.
"lihatlah keadaanmu Dar, bahkan keadaanmu jauh dari baik baik saja..."
"aku mohon dok... sekali saja...antarkan aku kesana..." ucapku kembali memelas.
"baiklah.. hanya kali ini saja, aku akan mengambil kursi roda untukmu"
"terimakasih dok..."
Dr Rendra berlalu meninggalkan kamarku,
"Pandu... apa yang kau lakukan? kau bahkan membahayakan dirimu sendiri" lirihku sambil terisak.
"aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu padamu" lirihku lagi.
Dr Rendra yang berdiri di depan pintu dengan kursi roda, merasa sakit mendengar lirihan Dara barusan.
Dia berusaha menormalkan perasaannya dan segera mengantar Dara ke ruang ICU.
Dara hanya bisa melihat Pandu dari balik kaca, dia tidak diperbolehkan masuk karena kondisinya yang juga sedang dalam perawatan.
Dr Rendra semakin pilu ketika melihat Dara menangis menatap Pandu dari kejauhan, bahkan tangannya membelai kaca seolah dia menyentuh tubuh Pandu,
"apa yang sakit Pan?? kenapa kau masih saja tertidur seperti itu?" gumam Dara.
"sudah cukup Dara.. sebaiknya kita kembali ke kamarmu.. kau perlu banyak istirahat..." ucap Dr Rendra sambil mendorong kursi roda menjauhi ruang ICU.
"terimakasih dok.. kau mau mengantarku untuk melihatnya" ucapku.
"iya... " sahutnya singkat.
__ADS_1
🧁🧁🧁🧁🧁🧁
Seminggu sudah berlalu, luka ditubuh Dara mulai mengering dan keadaannya pun mulai membaik,
"oya dok.. bagaimana dengan wanita yang menculikku?"
"dia tewas... sedang anak buahnya ditangkap polisi sesaat setelah Pandu dibawa kerumah sakit, ternyata sebelum kesana, Pandu telah menghubungi polisi namun sayang polisi datang agak terlambat karena akses jalan yang begitu sulit dijangkau"
"innalillahi wainna ilaihi rojiun, lalu bagaimana dengan bayi wanita itu dok?" tanyaku miris.
"bayi itu di asuh kerabatnya..."
"aku penasaran, bagaimana kau dan Pandu tahu kalo aku diculik?"
"Pandu curiga karena bodyguardnya pulang lebih awal, lalu dia mencoba menghubungimu namun ponselmu tidak aktif, dia kerumahmu tapi kau tidak ada"
"lalu?"
"lalu dia menelponku, bertanya tentangmu, aku bilang tidak tahu, lalu dia menceritakan semuanya dan kami curiga telah terjadi sesuatu padamu"
"lalu?"
"kami berdua melacak GPS yang terpasang dimobilmu, sampai kami berhasil menemukanmu disana"
"ceritamu seperti di film film dok" candaku sambil tertawa kecil.
"tapi ini bukan cerita film!" jawab Dr Rendra merajuk.
"terimakasih dok... karena kalian aku bisa selamat dan masih hidup sampai sekarang, aku berutang nyawa padamu dan Pandu"
"hanya terimakasih saja? apa kau tak berniat mentraktirku makan?" godanya.
"hahaha... aku akan mentraktirmu makan, setelah aku keluar dari rumah sakit" balasku.
"aku hanya bercanda..tapi jika kau berniat mentraktirku, aku tak akan menolak" jawabnya sambil tersenyum manis.
"oya dok.. bagaimana keadaan Pandu sekarang?" tanyaku.
"kondisinya stabil namun dia belum sadar" jawab Dr Rendra, ada raut kecewa diwajahnya, melihatku tiba tiba menjadi muram jika berbicara tentang Pandu.
"maaf Dok jika pertanyaanku membuat suasana hatimu berubah" ucapku tak nyaman.
"ah tidak apa.. aku hanya merasa iri saja padanya.."
"iri?"
"iya.. iri... disini aku yang berusaha mendapatkan hatimu tapi malah dia yang mendapatkannya meski tanpa usaha sekalipun" jawabnya mencoba berlapang dada.
"Dok..." ucapku menggantung, aku paham maksud dari ucapannya.
__ADS_1
"aku tahu... hanya dia yang ada dihatimu mulai dulu sampai detik ini..."
"maafkan aku dok..."
"kenapa harus minta maaf padaku? jujurlah pada hatimu, jangan terus lari dari kenyataan"
"terimakasih atas kebaikanmu selama ini dok.. kau benar benar malaikat bagiku, selalu ada untukku"
"itu karena aku mencintaimu Dara.. maaf jika aku dulu pernah mengecewakanmu"
"hiks... hiks... sekali lagi maafkan aku dok" tangisku mulai pecah dan aku ingin dia memelukku,
Dr Rendra paham dan kemudian memelukku dengan erat,
"perjuangkan cintamu..." ucapnya lembut sambil mengelus punggungku.
Tanpa mereka berdua sadari, ada seseorang dibalik pintu menyaksikan kedekatan mereka dan sepertinya salah mengartikan pelukan tersebut,
Mamah mia, ibunda Pandu yang hendak melihat keadaan Dara malah menyaksikan adegan pelukan antara Dara dan Dr Rendra,
"ternyata kau mencintai orang lain" gumam mamah Mia dengan berlinang airmata, entah apa yang akan dikatakannya nanti jika Pandu sadar, mamah Mia tahu Pandu berakhir dirumah sakit ini karena dia berusaha menyelamatkan Dara, karena Pandu sangat mencintainya.
Mamah Mia salah paham dengan apa yang dilihatnya, dia mengira Dara mencintai Dr Rendra.
Mamah Mia mengurungkan niatnya untuk menjenguk Dara dan memilih kembali ke ruang ICu dimana Pandu dirawat.
🧂🧂🧂🧂🧂🧂
Sebelum pulang, Dara menyempatkan diri untuk melihat keadaan Pandu di ruang ICU, disana dia melihat mamah dengan setia menemani Pandu yang terbujur kaku.
"maah..." sapaku.
"sebaiknya kau jangan menjenguknya lagi.." ucap mamah tanpa melihatku.
"maksud mamah apa?" tanyaku heran.
"jangan memberinya harapan palsu dengan perhatianmu itu" jawab mamah dengan sedikit ketus.
"harapan palsu? Dara ga ngerti maksud mamah" kataku lagi semakin bingung.
"sudahlah Dara, sebaiknya mulai sekarang kau jauhi Pandu, jalani hidup kalian masing masing seperti biasanya"
"mah.." kataku lagi.
"pergilah.. kau akan menganggu pasien lain jika terus disini"
Dengan perasaan campur aduk, aku meninggalkan ruangan ICU tersebut, benakku menyimpan banyak pertanyaan, tapi aku tak bisa berbuat apa apa selain bungkam.
Apalagi sekarang? di saat aku ingin mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya, mamah Mia malah berubah, apa yang terjadi padanya? apa aku telah menyakitinya tanpa aku sadari?
__ADS_1
Semoga kau lekas sadar Pandu.. aku merindukanmu..gumamku dalam hati.
🥐🥐🥐🥐🥐🥐