Seorang Bintang

Seorang Bintang
Tujuhpuluhdelapan


__ADS_3

Pagi harinya, aku bangun kesiangan karena semalam tidur terlalu larut, aku hampir saja melompat karena kaget melihat jam di dinding menunjukkan pukul 8 pagi,


"matiii, telaaat parah nih ke kantornya!" gumam ku sambil menepuk jidat ku sendiri.


Aku hendak bangun ketika ada tangan yang mencekal lenganku dan menarik ku hingga aku terbaring kembali.


"jangan kemana mana!" bisik nya di telingaku, sedangkan tangannya memeluk tubuh polos ku dari belakang.


"tapi kita kan harus ke kantor!" sahut berusaha melepas pelukan Deva.


"kita libur aja hari ini! aku ingin berduaan dengan mu seharian di kamar!" sahutnya sambil menciumi leher belakangku.


"tapi.. mana bisa libur dadakan begini?" tanyaku.


"apa kau lupa siapa suami mu ini?" tanya Deva yang semakin menenggelamkan kepalanya di ceruk leherku.


"tapi kau tidak bisa berbuat semau mu mentang mentang kau bosnya!" sahutku jengah.


"aku akan bicara pada bagian HRD nanti!" jawabnya.


"lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanyaku.


"banyak hal yang ingin aku bicarakan padamu!" sahutnya sambil membenarkan posisinya menjadi terduduk bersandar pada kepala ranjang sehingga terekspos dadanya yang bidang.


Aku pun membenar kan posisiku sambil meraih pakaianku, risih rasanya berbicara tanpa memakai apapun, tapi setelah ku dapatkan pakaianku kembali, malah di buang ke sembarang tempat oleh Deva.


"kenapa malah di lempar ke sana sih!" protes ku dengan sewot.

__ADS_1


"biar kan tetap seperti ini, tutupi tubuhmu dengan selimut saja!" jawab Deva dengan lembut.


Aku hanya menurutinya dan membenar kan posisi selimut sampai sebatas dadaku.


"Dara.. untuk masalah kemarin, aku benar benar minta maaf padamu! maaf karena tidak jujur sebelumnya!" ucap Deva dengan mimik wajah serius..


"bisakah kau ceritakan dari awal hingga akhir kejadiannya secara mendetail?" kataku dengan mimik wajah yang sama seriusnya dengan Deva.


"awal mulanya karena aku kesepian, Lidya selalu sibuk dengan dunianya sendiri, lalu hadir Edward yang selalu ada untukku, aku mengenalnya di sebuah club malam yang dulu sering aku datangi! Edward selalu menjadi pendengar yang baik untuk segala keluh kesah ku, dia penuh perhatian dan kasih sayang, sampai suatu malam ketika kami sama sama mabuk berat, hal menyimpang itu pun terjadi dan anehnya aku malah mengulangi nya lagi dan lagi, ketika bertemu dengan mu dulu, aku sudah tidak ingin melakukannya lagi dengan Edward, tapi lagi lagi aku patah hati karena kau dekat dengan adikku, aku kembali lagi ke dalam pelukan Edward sampai saat dimana aku bertemu denganmu kembali setelah kau bercerai dengan Pandu!"


"dengan kata lain, Edward adalah tempat pelarian mu?" tanyaku menyelidik.


"bisa di bilang begitu, dia selalu ada ketika aku membutuhkannya! itu lah yang membuat ku bergantung padanya!" jawabnya.


"sejauh mana hubungan kalian?" tanyaku sedikit risih.


"seperti yang kau lihat dalam video kemarin! bahkan pernah lebih dari itu!" sahut Deva dengan raut wajah penuh penyesalan.


"entahlah, tak dapat ku pungkiri, saat itu aku juga menikmatinya, bagiku melakukannya dengan Edward bebas dari resiko kehamilan dan Edward tidak bawel seperti sikap seorang wanita!" jawabnya dengan lugas.


"lalu?"


"lalu sampai semalam aku melakukannya denganmu, rasanya berbeda, aku lebih menikmatinya denganmu!" sahutnya malu malu.


Aku sudah tidak bisa menitikkan air mata lagi hari ini, rasanya sudah kering air mataku sehingga susah untuk keluar.


Mendengar penjelasan Deva, aku sebenarnya risih, namun Deva berulang kali meminta bantuan ku agar membantunya untuk sembuh dan lepas dari jerat Edward.

__ADS_1


"kau mau membantu ku kan? untuk keluar dari lembah hitam ini?" tanyanya padaku.


"insyaAllah, asal kau berniat dengan tulus pasti selalu ada jalan!" jawabku.


"aku mengaku khilaf dan saat ini hanya dirimu yang aku ingin kan Dara, kehadiran mu mampu menyadarkan aku dari kelakuanku yang menyimpang! pesona mu meruntuhkan nafsu ku pada Edward!"


"kenapa setelah pernikahan kau tidak langsung menjamah ku?" tanyaku penasaran.


"aku takut Ra, takut mengecewakan dirimu, karena jujur saja, awalnya hasrat ku naik turun saat di hadapanmu!"


Deva menatapku lama, dan dia mulai menyambar bibirku kembali setelah pembicaraan kami selesai,


"hanya dengan melihat wajahmu saja, junior ku sudah bereaksi, hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya! aku tidak pernah horny ketika melihat wanita bugil sekali pun!"


Setelah berkata seperti itu, Deva mulai menindih tubuhku kembali dan melakukannya lagi dan lagi sampai tak terasa hari sudah siang, matahari yang masuk lewat celah jendela, terasa panas menyengat, membakar gelora asmara kami berdua.


Aku bangkit dari ranjang setelah Deva tertidur pulas, sepertinya dia kelelahan setelah berkali kali menggagahi ku, badanku rasanya remuk redam, apalagi area ************ ku, terasa panas dan perih.


Setelah membersihkan diri, aku segera ke dapur dan hendak memasak untuk Deva, aku yakin ketika dia bangun nanti pasti dia kelaparan karena tenaganya habis terkuras.


Sedang asyik memasak, ada sepasang tangan kekar melingkar sempurna di pinggang ramping ku, siapa lagi kalau bukan tangan Deva.


Deva mulai menciumi bagian belakang tubuhku, membuatku tidak fokus untuk memasak lagi.


Dia kembali menggagahi ku di atas meja makan, anehnya aku mengikuti permainannya, melakukannya lagi sampai sama sama terpuaskan.


Entah berapa kali aku mencapai klimaks, yang membuat tubuhku lemas dan bergetar hebat di tambah lagi dengan kondisi perut yang lapar.

__ADS_1


Deva memesan delivery order untuk makan siang kami berdua.


📣📣📣📣📣📣


__ADS_2