Seorang Bintang

Seorang Bintang
Duapuluhsatu


__ADS_3

Aku dan Pandu bersaing dalam hal pekerjaan, popularitas kami kian meningkat, berbagai macam kontrak terus saja berdatangan namun aku harus benar benar memilih pekerjaan mana yang harus aku ambil, tak semuanya bisa aku kerjakan.


Kalau Pandu bisa bermain sinetron, tidak denganku, aku orang yang tak suka terikat pada satu kontrak kerjasama dalam jangka panjang.


Jadilah aku hanya menerima tawaran sebagai model, bintang iklan dan pembawa acara yang tak memakan waktuku terlalu banyak.


Pada malam penghargaan tahunan, aku terpaksa datang seorang diri karena Dr Rendra harus piket, aku tak mengijinkannya mengambil cuti terlalu sering, akhirnya aku pergi bersama Cika dan mas Beno.



"oh my God, kamu cantik banget siiih Dar..." puji mas Beno melihat penampilan totalku malam ini


"iya Dar, kamu cantik banget" tambah Cika.


"benarkah?? terimakasih" sahutku tersipu malu.


"kita berangkat sekarang?" ajak mas Beno.


"okee..." sahutku dan Cika bersamaan.


Sampai di gedung tempat acara dilaksanakan, para awak media berebut mengambil fotoku, semua serasa mimpi bagiku, aku memang suka bergaya di depan kamera namun tak ku sangka hobiku bisa menjadi ladangku untuk mengais rejeki.


Saat masuk, aku tak sengaja berpapasan dengan Pandu, Pandu tidak sendirian, dia tampak menggandeng seorang wanita,dia bukan Lala ataupun Laura, aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena lampu sorot yang menyilaukan mata.


Pandu tampil all out malam ini, ketampanannya bertambah berkali kali lipat membuatku sempat terpesona,



"hai beb..." sapanya setengah berbisik kepadaku, kami berpapasan di pintu masuk.


Bulu kudukku berdiri karena nafasnya membelai telingaku dengan lembut, tak ada yang bisa aku lakukan selain tersenyum, karena saat ini semua kamera sedang tertuju pada sosok kami berdua.


Pandu melepas gandengan tangannya dengan wanita yang datang bersamanya dan beralih padaku, dia mengulurkan tangannya untukku gandeng, aku ragu.. demi sebuah image aku terpaksa menggandengnya, Pandu tersenyum senang.


Kami melambaikan tangan ke arah kamera dan memberikan senyuman semanis mungkin.


"makasih beb..." bisiknya lagi.


"jangan salah paham tentang ini, aku hanya menjaga imageku!" ucapku kesal tapi berbisik padanya.


Pandu tak membalasku, dia hanya terkekeh sedang tangannya kini menggenggam tanganku dengan erat. walau aku merasa risih, tapi jauh dilubuk hatiku, aku menyukainya, hal ini lah yang aku inginkan dari dulu, Pandu mengakuiku di depan awak media.


Sampai acara selesai, Pandu tetap di sampingku, kami sama sama memenangkan penghargaan menjadi yang terbaik tahun ini, ini jadi penghargaan pertamaku berbeda dengan Pandu yang langganan mendapat piala setiap tahunnya.


"hmm.. bagaimana kalo kita merayakannya?" ajak Pandu.


"merayakannya?" keningku berkerut.


"iya merayakannya... ini kan piala pertamamu, bagaimana kalo kita makan malam?" katanya menawariku.


"mungkin lain kali.. hari ini aku sangat lelah..." tolakku dengan sopan.


"sebentar saja beb..."

__ADS_1


"tolong berhenti memanggilku beb.. aku bukan kekasihmu lagi!"


"maaf..." sahutnya.


Aku terkejut karena baru kali ini dia tak membantahku bahkan dia meminta maaf.


"ya sudah, kalo gitu aku pulang dulu ya" pamitnya, lagi lagi membuatku heran, kenapa dengannya? batinku penasaran.


🌽🌽🌽🌽🌽🌽


Sudah 2 hari ini, Dr Rendra mengabaikanku, sejak acara penghargaan itulah tepatnya.


Aku berusaha memghubunginya tapi tak di angkat, aku kerumah sakit tapi tak bertemu dengannya, sebenarnya dia kenapa? aku bertanya tanya dalam hati.


Mau tak mau aku terpaksa kerumahnya, walau aku enggan kesana tapi daripada terus terusan begini, pikirku.


Sampai dirumahnya, aku melihat mobilnya terparkir cantik disana, itu berarti dia sedang dirumah saat ini.


"assalamualaikum..." kataku sambil mengetuk pintu rumahnya, rumah yang terletak di kawasan elite tampak lengang karena tak sembarang orang bisa memasuki area perumahan mewah ini.


"waalaikumsalam..." sahut seorang wanita,


Muncullah seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik meski usianya tak muda lagi.


"permisi, apa Dr Rendra ada?" kataku dengan sedikit kikuk.


"oh... yaa ada.. Rendra baru saja sampai" sahutnya ramah.


"tentu saja boleh.. tapi kenapa wajahmu sangat familiar sekali, seperti pernah melihat, tapi dimana ya?" katanya sambil berpikir.


"hmmm...benarkah?" ucapku sambil tersenyum.


"apakah kau Dara? model shampoo bergambar gingseng itu?" katanya dengan berseri seri.


"iya benar, itu saya bu..." sahutku rumah.


"wah..luar biasaaa... rumahku kedatangan artis" serunya senang.


"ada apa mah? kok teriak teriak?" tanya Dr Rendra yang baru keluar dari kamarnya.


"ini loh Ren, kamu dicariin sama Dara.. model iklan shampoo yang terkenal itu" seru wanita yang dipanggil mamah oleh Dr Rendra.


"Dara?" kata Dr Rendra sambil mencari sosokku yang masih berdiri diluar pintu.


"sini masuk nak..." ucap mamanya sambil menggiringku ke ruang tamu dan akupun duduk dengan canggung tak berani menatap Dr Rendra yang masih tak percaya dengan kedatanganku.


"Ren... kok malah bengong!" kata mamanya sambil memukul lengan Dr Rendra agar tersadar dari keterpakuannya.


" aduh sakit maaaaah..." ringisnya sambil mengusap lengan yang dipukul mama.


"Dara.. duduk disini dulu ya... mamah buatin minum buat kalian" kata mama Dr Rendra.


"ga usah repot repot bu, Dara cuma sebentar kok" sahutku malu malu.

__ADS_1


"eeeeits...kok bu sih.. mamah.. panggil saya mamah yaa Dara..."


"baik bu... eh mah..." jawabku merasa canggung.


Sepeninggal mamanya, Dr Rendra duduk jauh dari tempatku, aku bangkit dan duduk di sebelahnya tapi dia malah membuang muka,


"aku kesini karena aku kesulitan menghubungimu, maaf karena lancang kesini tanpa ijin darimu" ucapku pelan.


Dr Rendra tak bergeming, dia malah bersedekap dada tanpa menatapku sama sekali.


"sayang... sebenarnya ada apa denganmu? kenapa kau menghindariku?" tanyaku hati hati.


"kau pikir saja sendiri!" akhirnya dia buka suara walau agak dingin.


"aku sudah berpikir keras, tapi aku merasa tak melakukan kesalahan apapun" ucapku berusaha tenang.


"ooooo... jadi bergandengan tangan di depan awak media, itu bukan kesalahan?" sergahnya dengan kesal.


"bergandengan tangan?" ucapku mengulangi kata katanya.


"bergandengan dengan sangat mesra, jika pencari berita itu tahu kalo kau mantan kekasihnya, maka akan jadi gosip besar!!!"


Aku bungkam, tak tahu harus menjawab apa.


"maafkan aku sayang..." hanya itu yang mampu aku ucapkan.


Kini Dr Rendra ikut terdiam.


"mamah pikir sudah pulang, sepi banget sih!" kata mamanya memecah keheningan di antara kami. mamanya membawa minuman dan cemilan yang diletakkan di meja.


"makasih mah.. mamah udah repot repot"


"cuma air doank kok...ayo diminum.."


"iya mah..." aku meneguk minumanku hingga tandas, haus sekali rasanya.


Mamanya Rendra sampai tertegun melihatku menghabiskan minumanku dalam sekali teguk.


"mau mamah bikinin lagi?"


"g usah mah...makasih... Dara mau langsung pulang aja"


"kok pulang sih? baru juga sampai!" ucap mamah dengan kecewa.


"lain kali Dara main kesini lagi.." kataku


"beneran?? janji lho ya..." jawab mama senang.


"insyaAllah maaah...." sahutku lagi.


Aku merasa datang di waktu yang tidak tepat, Dr Rendra sepertinya butuh waktu untuk sendiri, jadi aku memutuskan untuk pulang saja.


🍒🍒🍒🍒🍒🍒

__ADS_1


__ADS_2