
Aku harus beralasan apalagi pada Pandu, jika dia terus saja bertanya tentang kehamilan?? sedang aku benar benar tak siap untuk memiliki anak lagi, entah kenapa ada rasa takut dalam hatiku.
Apa mungkin ini semacam trauma? harus kah aku konsultasi ke dokter? aaaah.. aku bingung!!!
Aku harus bicara pada Dr Rendra, mungkin dia punya solusi untuk masalahku ini,
"Hallo, kau dimana?" tanyaku pada Dr Rendra melalui telepon.
"aku di rumah sakit! ada apa?" jawabnya.
"aku ingin berbicara sesuatu denganmu, apa kau sibuk?" kataku.
"setelah selesai praktek, aku free! kau mau ke rumah sakit atau aku yang menjemputmu?" katanya lagi.
"aku yang ke sana, di apartemen tidak ada orang, Pandu sedang syuting!" kataku.
"baiklah, aku tunggu di rumah sakit kalau begitu!"
"iya.. satu jam lagi aku sampai!" kataku lalu mematikan ponselku.
"semoga saja bercerita pada Dr Rendra, bisa meringankan beban ku!" gumam ku.
Sebelum pergi, aku ijin terlebih dahulu pada Pandu,
"sayang, aku mau menemui Dr Rendra" aku mengiriminya pesan WhatsApp.
"untuk apa? apa kau sakit?" balasnya.
"tidak, aku tidak sakit.. aku hanya konsultasi saja!"
"konsultasi? tentang apa?"
"ehmm tentang pola makan yang benar, aku rasa pola makan ku masih sedikit berantakan!"
"ehmm baiklah.. kabari jika kau sudah selesai, aku akan menjemputmu!"
"siap sayang.. apa syutingnya berjalan lancar?"
"iya lancar, tinggal beberapa scene lagi!"
"baiklah, tetap semangat sayangkuπ"
"terimakasih cintakuπ, hati hati di jalan dan sampaikan salam ku pada Rendra!"
"siap"
π§π§π§π§π§π§
Sampai di rumah sakit, Dr Rendra sudah menungguku di depan pintu ruangannya.
"kau menungguku?" tanyaku.
"apa aku terlihat sedang menunggu orang lain?" Dr Rendra bertanya balik padaku lalu tersenyum.
"hehe.. jadi benar kau sedang menungguku?" tanyaku lagi, aku memeluknya,
"tentu saja!" jawabnya sambil membalas pelukanku.
"apa jam praktek mu sudah selesai?"
"untuk siang ini sudah.. lanjut nanti malam!" jawabnya lalu mengajakku masuk ke dalam ruangannya.
"kau tampak sibuk belakangan ini, sampai jarang menghubungiku!"
"kau kan sudah menikah! jika aku terlalu sering menghubungimu, maka suami mu itu akan menghajar ku!" jawabnya sambil terkekeh.
"hehe.. dia tidak akan berbuat sejahat itu padamu!"
"siapa yang tahu? suami mu itu pencemburu!"
"sama saja sepertimu!" jawabku lalu terkekeh.
"oya kau mau minum apa? biar aku pesankan!"
__ADS_1
"apa saja, asal jangan kopi hitam!" jawabku
"aku sudah tahu kalau kau tidak suka kopi!"
"kau memang sangat mengenalku!"
"tidak ada orang yang lebih mengenalmu selain aku, bahkan suami mu tidak seberapa mengenalmu!" cibirnya.
"dia terlalu sibuk untuk lebih mengenaliku!"
"tadi di telepon kau bilang ingin berbicara, tentang apa?" tanyanya.
"tapi kau harus berjanji terlebih dahulu untuk tidak mengatakannya pada siapapun juga termasuk Cika!"
"iya aku berjanji, percaya lah padaku!"
"Pandu ingin memiliki anak lagi!" kataku.
"lalu? apa masalahnya?"
"aku takut..."
"takut apa?"
"entahlah, aku takut ketika dia bertanya tentang anak, kami bahkan sering cekcok karena masalah itu!"
"apa kandungan mu bermasalah?"
"tidak..."
"lalu?"
"aku sengaja minum pil KB tanpa sepengetahuan Pandu!"
"pil KB? kau menunda kehamilan mu?"
"iya.. aku takut untuk hamil kembali! apa aku merasa trauma?"
"aku tanya, apa sebenarnya yang kau takutkan hem?"
"jujur, aku merasa tertekan setiap kali Pandu bertanya apa aku sudah hamil atau belum!"
"kau takut kejadian seperti dahulu terulang kembali?"
Aku hanya menganggukkan kepala sambil menghapus air mataku.
"Dara, dulu dan sekarang itu berbeda, sekarang Pandu sudah menjadi suamimu yang sah! dia tidak akan meninggalkanmu!"
"aku harus bagaimana untuk menghadapi ketakutan ku sendiri?"
"percayalah pada Pandu, yakin kan dirimu, Pandu adalah suami mu sekarang!"
"apa aku bisa?"
"tergantung dirimu sendiri Dara! apa kau mau lepas dari ketakutan mu atau tidak!"
Karena asyik mengobrol, tanpa mereka sadari, Pandu mendengar percakapan mereka dari balik pintu,
Pandu tidak sengaja menekan gagang pintu, hingga pintu terbuka membuat Dara dan Dr Rendra terkejut dengan kehadiran Pandu dengan raut wajah marah dan sendu.
"Pa..pandu..!" ucap Dara lalu berdiri dan hendak menghampiri Pandu.
"stop disitu!" kata Pandu dengan ekspresi wajah datar.
"kau kenapa?" tanyaku merasa takut melihat ekspresi wajah Pandu.
"kenapa kau tidak bilang jika kau takut dan tidak percaya padaku?"
"ak..aku.. bukannya tidak bilang, aku hanya tidak tahu cara menyampaikannya padamu!"
"tega sekali kau membohongiku!!! kau minum pil KB tanpa sepengetahuanku?"
"ma..maafkan aku!" jawabku, tanpa terasa air mataku luruh membasahi pipi.
__ADS_1
"maaf?? apa salahku padamu??sampai kau tega berbuat ini padaku!! kenapa kau masih meragukan ku? kau bisa bercerita pada Rendra tapi tidak denganku! aku suamimu Dara!!!"
Aku mendekati Pandu dan bersimpuh di hadapannya,
"maafkan aku!!! aku minta maaf!! aku tidak bermaksud membohongimu!"
"Pandu, tenangkan dirimu! Dara hanya trauma!" kata Dr Rendra berusaha menjadi penengah.
"trauma???"
"iya.. wajar saja dia takut, dulu dia mengalami masa sulit ketika sedang mengandung Mela!"
"tapi sekarang kan berbeda keadaannya! kami sudah menikah! apa lagi yang dia takutkan?"
"tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk menghilangkan trauma seseorang!" ujar Dr Rendra.
"dan kau Dara, mulai sekarang cobalah untuk berbagi pada suamimu!" lanjutnya.
"iya" sahutku.
"sayang, maafkan aku!" kataku sambil menatap Pandu.
Pandu maju mendekatiku dan memelukku dengan erat,
"jangan pernah merahasiakan sesuatu dariku lagi! kita cari solusinya sama sama!"
"iya... maafkan aku!"
"iya...maafkan aku juga telah membuatmu trauma seperti ini!"
Dara dan Pandu berpelukan sambil menangis, Dr Rendra hanya bisa memandanginya saja.
"ayo kita pulang..." ajak Pandu.
"ya..."
"Ren.. terimakasih untuk bantuan mu! kami pulang dulu!" ucap Pandu pada Rendra.
"terimakasih dok, aku pulang dulu!" ujar Dara.
"ya sama sama dan hati hati dijalan!" sahut Dr Rendra sambil tersenyum senang.
Dalam perjalanan pulang, Pandu mengajakku mampir di resto langganan kami,
"kamu pasti belum makan kan?"
Aku mengangguk mengiyakan.
"kau mau makan apa?"
"apa saja!"
Pandu memesan makanan dan minuman untuk kami berdua.
"jangan minum pil KB itu lagi!" ucap Pandu di sela sela kami menunggu pesanan.
"iya...!"
"Sejak kapan kau mengkonsumsinya?"
"sejak pertama kita bersama!"
"selama itu? dan kau merahasiakannya dariku?"
"maaf.. "
"sudahlah lupakan.. tapi mulai hari ini, buang semua pil pil itu!"
"iya aku janji!"
"seharusnya kau bangga, karena bisa mengandung dengan mudahnya!"
Aku tidak bisa merespon lagi karena pesanan sudah datang, melihatnya saja sudah membuatku semakin kelaparan.
__ADS_1
Kamipun makan dalam diam dan pulang setelahnya.
π₯π₯π₯π₯π₯π₯