
Sebulan berlalu...
Sesuai kesepakatan bersama, aku dan Deva akan menikah besok, segala persiapan sudah 100 ℅ rampung.
Walau mengadakan pernikahan yang terbilang sederhana, tetapi tetap saja harus di persiapkan dengan matang.
Pernikahan kedua bagiku dan pertama bagi Deva, tapi tetap sukses membuatku insomnia di malam pernikahanku, aku tidak bisa tidur memikirkan hari esok, jujur saja kegagalan ku berumah tangga dengan Pandu masih menjadi trauma tersendiri bagiku.
Aku terpaksa keluar kamar untuk mencari udara segar, berharap setelah itu bisa mengantuk,
"hem.. dingin tapi hawanya segar!"gumam ku setelah berada di teras rumah dan menghirup udara malam yang begitu dingin tetapi menyegarkan.
Aku berjalan kecil di antara rerumputan tanpa alas kaki, dinginnya embun membasahi telapak kakiku,
Sreg...sreg..
Sampai aku mendengar suara berisik, seperti ada seseorang dibalik pohon yang sedang bergerak,
"siapa?" kataku memberanikan diri.
Tak ada jawaban, hanya hening..beberapa menit kemudian, sepintas aku melihat siluet seseorang dari pantulan cahaya rembulan.
"keluar! siapa kau?" kataku lagi, padahal saat ini aku sedang gugup dan takut.
Seseorang meloncat keluar dari persembunyiannya, cahaya rembulan yang terang memperlihatkan dengan jelas wajah orang tersebut.
"ka..kamu?" seruku tak percaya.
"maaf.." jawabnya.
"apa yang kau lakukan disitu malam malam begini?" tanyaku padanya setelah aku benar benar yakin itu Pandu, mantan suamiku.
"hem..ak..aku...aku hanya ingin melihatmu untuk yang terakhir kalinya!" jawabnya terbata dan menundukkan kepala.
__ADS_1
"apa maksudmu?"
"aku dengar kau akan menikah besok, benarkan?"
"iya!" sahutku singkat.
"aku hanya ingin melihat wajahmu sebelum kau menjadi milik orang lain Dara!"
"aku tidak mengerti kemana arah pembicaraanmu!"
"aku merindukanmu Dar!"
"apaaa?"
"iya.. maafkan aku Dara.. aku menyesal karena telah meninggalkan dirimu!"
"semua sudah berlalu Pan! tak ada yang perlu kau sesali lagi!"
"apa kau mau memaafkan aku?"
"benar kah?"
"ya.. pergi lah, jika sampai ada yang melihatmu! mereka akan mengira kau maling, mengendap di tempat gelap seperti ini!"
"terimakasih Dara.. karena kau mau memaafkan aku! jujur saja aku selalu di hantui rasa bersalah padamu!"
"sudah lah.. tidak perlu dibahas lagi! sekarang pergi lah sebelum petugas keamanan menangkap mu!"
"baiklah.. sekali lagi terimakasih Dara! jaga dirimu baik baik dan berbahagia lah!" ucapnya sebelum pergi.
"kau juga, jaga dirimu baik baik dan kembali lah menjadi Pandu yang dulu!" sahutku.
Pandu hanya menganggukkan kepala dan tersenyum lalu segera pergi dari rumahku.
Sepeninggal Pandu, aku menangis, mengingat segala hal tentang Pandu, mulai dari awal hingga akhir, kenangan manis dan pahit yang dia torehkan di dalam hatiku, begitu sangat terasa dan membekas, kenapa dia harus hadir di saat seperti ini? di malam pernikahan ku dengan Deva?
__ADS_1
♋♋♋♋♋♋
Alhasil, aku hanya terlelap dua jam saja, wajahku terlihat sembab karena sehabis menangis semalam, tanpa sadar aku terlelap.
"mudah mudahan saja setelah bermake up, sembab ini tak terlihat!" harap ku dalam hati.
Dan benar saja, kekuatan make up memang luar biasa, setelah di make over abis abisan di tambah lagi dengan mengenakan gaun indah, wajahku nampak berbeda dari yang tadinya lusuh karena sembab menjadi fresh dan cantik
Sungguh aku sangat berterimakasih pada make up dan tangan terampil yang telah memolesnya secara sempurna di wajahku,
"kau sangat cantik Nona!" puji wanita yang telah merias ku sedari pagi buta tersebut.
"terima kasih, semua berkat bantuan mu!" sahutku dengan ramah.
Walau sedikit keraguan mulai menyergap ku, ku coba untuk melangkahkan kaki dengan mantap dan penuh keyakinan menghampiri Deva yang telah menunggu ku di depan bersama penghulu dan para saksi serta beberapa kerabat yang hendak menyaksikan sumpah suci antara aku dan Deva.
Ku lirik Deva yang sangat tampan dengan tuksedo yang dikenakannya, dia terlihat sempurna di mataku, di tambah lagi dia menyambut ku dengan sebuket bunga di tangannya.
Aku meraih buket bunga yang di sodorkan nya padaku, dan melangkah bersama menuju tempat dimana akan dilangsungkan prosesi ijab qobul.
Beberapa menit kemudian, tanpa aku sadari, Deva telah mengucapkan ijab qobul dengan lantang dan lancar dalam satu tarikan nafasnya.
Dan kini status janda ku telah hilang, berganti menjadi nyonya Deva, aku menitikkan air mata yang sulit aku artikan apakah ini air mata bahagia atau sebaliknya?
Setelah prosesi ijab qobul, akan di lanjutkan dengan resepsi yang juga di adakan secara sederhana di rumahku dengan tamu undangan yang tak seberapa, Deva juga tak banyak mengundang kenalannya.
Kami menyalami tamu satu persatu dengan senyum sumringah, sampai di tengah acara, nampak hadir seorang pria Bule, naik ke pelaminan dan menyalami kami berdua, namun ekspresi wajahnya datar, ada senyuman paksa menghiasi bibirnya.
"hai.. Deva.. Congratulations!" ucap Pria itu seraya memeluk tubuh Deva dan menepuk nepuk bahunya.
Wajah Deva nampak berubah, yang tadinya sumringah, kali ini kaku tak berekspresi, dia pun tak membalas pelukan pria bule tersebut.
__ADS_1
🔆🔆🔆🔆🔆🔆🔆