
Malam ini pun aku habiskan di hotel seorang diri, bahkan Pandu tak sekalipun menghubungiku, apa sebegitu bencinya dia padaku? apa dia ingin mengakhiri pernikahan kami?
"arghhhhh!" teriakku menumpahkan segala kegundahan di dalam hati ku, untung saja kamar hotel ini kedap udara, jadi Dara bebas berteriak sesuka hatinya.
Sampai pagi menjelang, aku tidak bisa memejamkan mata, entah kemana perginya rasa kantuk itu, terjaga sepanjang malam membuat mataku seperti Panda.
Karena matahari sudah tinggi, aku bergegas mandi dan berniat menemui Mela hari ini.
Sampai di rumah
"kamu kemana kemarin nak?" tanya Mamah setelah aku duduk di ruang tamu.
"ada urusan dikit mah!" sahutku berbohong.
"eh, muka kamu kenapa pucat begitu? kamu abis nangis?" tanya mamah sambil memperhatikan wajahku. aku pun segera berpaling muka, agar mamah tidak curiga.
"gapapa kok mah, mungkin kurang tidur aja!" jawabku beralasan.
"kamu sama Pandu ga lagi bertengkar kan?" tanya mamah penuh selidik.
"enggak kok mah!" sahutku dengan cepat.
"kamu jangan bohong sama mamah, kualat lho!" ancam mamah.
"ya Allah mah, amit amit di kualatin mamah ih!" ucapku sambil mengetuk meja 3 kali, kata prang dulu, buang sial hehe..
"jangan coba coba bohong sama mamah, coba ceritakan!" kata mamah setengah memaksa, aku bisa apa? ya mau ga mau harus jujur.
"masalah kecil kok mah, mamah tenang aja, Dara masih bisa mengatasi nya sendiri!"
"kamu yakin?"
"iya mah! mamah doain Dara aja, supaya tahan banting kaya mamah!" jawabku sambil memeluk mamah.
"mamah selalu doain kamu nak, semoga kamu selalu bahagia selamanya!" ujar mamah sambil mengelus rambutku, kasih sayangnya selalu menghangatkan jiwaku.
Tanpa terasa aku menitikkan air mata, pelukan ini lah yang aku butuhkan, aku butuh tempat untuk bersandar.
"nangis aja kalau memang itu bisa buat kamu lebih tenang!" kata mamah.
"makasih mah.. mamah selalu bisa ngertiin Dara!" ucapku sambil sesenggukan.
"mamah mana di dunia ini yang ga ngertiin anaknya?? semua mamah pasti tahu jika anaknya sedang bermasalah!"
"cuma mamah yang bisa Dara jadikan sandaran.. Dara butuh mamah!" jawabku, tangis ku tambah pecah.
__ADS_1
"pelan pelan ceritakan, apa sebenarnya yang terjadi antara kamu dan Pandu?" tanya mamah lagi, kini mamah yakin bahwa aku sedang menghadapi masalah besar.
Dengan memantapkan hati, aku menghela nafas panjang dan hendak bercerita yang sebenarnya pada mamah.
"mah.. sebelum Dara cerita, Dara mau minta maaf sama mamah!" kataku.
"mamah akan selalu memaafkan kamu nak...!" ucap mamah menenangkan ku.
Aku mulai bercerita, dari awal sampai akhir tanpa jeda, raut wajah mamah mulai berubah bahkan mamah sampai menitikkan air matanya.
Ya Tuhan, setelah aku mencurahkan segalanya, hatiku benar benar plong.
"ambil barang barang kamu di hotel dan bawa kesini!" titah mamah.
"iya mah..." sahutku.
Mamah seperti memikirkan sesuatu, tapi tak banyak berkomentar tentang ceritaku.
Tanpa sepengetahuanku, ketika aku kembali ke hotel, mamah pergi ke apartemen untuk menemui Pandu,
Mamah menggedor pintu dengan tidak sabar, Pandu yang sedang bersama Lala, membuka pintu dengan bertelanjang dada.
"mamah...!" seru Pandu terkejut melihat mamah mertuanya.
"mamah mau bicara sama kamu!" ujar mamah dengan ketus.
Mamah terbelalak melihat ada wanita lain di rumah menantunya tersebut,
"apa apaan kamu Pandu? kamu bawa perempuan lain ke rumah sedang istri kamu ga ada di rumah?" ujar mamah murka.
"anu mah, itu... Dara ada kok, tadi dia pamit mau ke pasar! dan ini.. ini temennya Dara mah!" ucap Pandu panik dan segera mencari alasan.
"ke pasar??? ada ya orang ke pasar mulai kemarin ga pulang pulang!?" sindir mamah.
Pandu terkejut mendengar ucapan mamah, berarti mamah mertuanya tahu jika Dara sudah pergi dari apartemennya mulai kemarin.
"oh, jadi dia sudah ngadu sama mamah?" ucap Pandu dengan sinis nya.
"Dara ga pernah ngadu sama mamah, mamah yang memaksanya untuk bercerita! tega kamu ya?!!"
"apa dia juga cerita, kenapa Pandu bisa seperti ini?" tanya Pandu tetap sinis.
"iya! mamah tahu dia salah tapi ga seharusnya kamu menyakitinya begini!!" sahut mamah.
"dia yang memulainya duluan mah!"
__ADS_1
"mamah kecewa sama kamu Pandu, bukannya mamah membela Dara, tapi kamu keterlaluan!" ujar mamah.
"jelas mamah membela Dara, Dara anak mamah!!!" jawab Pandu kesal.
"kamu sudah menyia nyiakan kesempatan yang mamah berikan!" ucap mamah yang kini menangis.
Pandu membuang muka, dia benar benar muak melihat wanita menangis!
"mamah harap, kalian bisa berpisah baik baik! kalau kau memang tidak menginginkan Dara di sampingmu lagi!!!"
Pandu tidak menjawab, setelah mengucapkan hal itu, mamah bergegas pergi dari hadapan Pandu. Pandu menjambak rambutnya dengan kasar dan berteriak " arrrghh... sial!!!!!" umpatnya dengan penuh kekesalan.
Lala berusaha menenangkan Pandu, dia memeluk Pandu dari belakang namun Pandu menepisnya dengan kasar membuat Lala mendengus kesal.
Pandu menerawang jauh keluar jendela apartemennya, seperti sedang memikirkan sesuatu sesekali mulutnya mengeluarkan umpatan, entah untuk siapa.
🎛🎛🎛🎛🎛🎛
Dara kembali ke rumah bersamaan dengan mamah yang baru saja turun dari taksi, mata mamah terlihat sembab dan memerah membuat Dara curiga.
"mah.. mamah darimana?" tanyaku.
"abis ketemu temen!" jawab mamah singkat lalu bergegas masuk ke kamarnya, tapi aku mengikuti langkah mamah,
"mah...mamah jangan bohong! apa mamah abis dari apartemen?" tanyaku makin curiga.
"iya... mamah dari sana!! dan apa yang mamah liat, membuat mamah kecewa!!!" jawab mamah mengakuinya dan mamah kembali menangis.
"aa..aapa yang mamah liat?" tanyaku ragu ragu.
"suami kamu bawa perempuan lain ke sana!!!" ujar mamah dengan kesalnya.
Kini giliran air mataku yang tumpah, jadi Pandu masih bersama Lala mulai kemarin??? hatiku sakit sakit sakit sekali..
"mamah akan bicara pada mertuamu agara kalian bisa pisah baik baik!" ucap mamah kemudian.
"mah... Dara ga mau pisah sama Pandu!" jawabku.
"ga mau pisah? lalu apa yang kamu harapkan dari laki laki yang tidak mengharapkan mu lagi? bahkan dia sudah bersama wanita lain padahal kalian belum bercerai!!"
"mah.. Dara mohon.. ijinkan Dara membicarakannya lagi dengan Pandu!" ucapku sambil berlutut di depan mamah.
"sudah cukup Dara!!! mamah tidak akan mengijinkan mu untuk bertemu dengannya lagi!" sahut mamah lalu menutup pintu dan menguncinya.
Dari luar, terdengar mamah seperti sedang berbicara, sepertinya mamah sedang menelpon seseorang, pasti itu mamahnya Pandu.
__ADS_1
Tamatlah kisah rumah tanggaku, karena mamah dan mamah mertuaku sudah mengetahuinya, dan aku hanya bisa pasrah.. aku benar benar lelah menghadapi semuanya.
🔕🔕🔕🔕🔕🔕