
"Zheyenk, kamu udah siap kan?" tanya Mas Beno padaku
"iya Mas, aku udah mandi kok, tinggal berangkat aja!" sahutku kesal karena dari tadi Mas Beno tak henti hentinya membuat ponselku berdering.
"cepetan berangkat! keburu macet jalanan nya!" ujarnya lagi.
"iya ini udah mau berangkat! ga sabaran banget sih!" sahutku dengan ketus lalu memutus sambungan telponnya, aku sudah capek untuk menjawabnya pertanyaannya lagi.
Giliran tidak di angkat, Mas Beno malah
mengirimiku pesan,
"kamu harus nyampe sebelum jam 8! model yang duet sama kamu udah nunggu dari tadi!" isi pesan dari Mas Beno.
Aku tidak membalasnya! biar jadi urusan nanti ketika aku sudah sampai ke kantornya.
Ketika sampai di sana, waktu menunjukkan pukul 8 kurang 15 menit,
"alhamdulillah" lirihku sambil mengatur nafas.
"ayo zheyenk, buruan ganti!" kata Mas Beno yang menyambut kedatanganku.
Aku mengekori Mas Beno ke ruang ganti,
"siapa sih model yang bakal duet sama aku Mas? on time banget!!" tanyaku ketika sedang di make up.
"Lidya!" sahut Mas Beno singkat, dia sedang fokus memilihkan gaun untukku.
"Lidya? model internasional itu?" kataku dengan mata melotot.
"kamu beruntung banget bisa duet sama dia! jarang jarang dia terima pemotretan di dalam negeri!" ucap Mas Beno menjelaskan.
"duh, aku jadi ga pede Mas!" jawabku dengan gusar.
"apanya yang ga pede? kamu kan udah pengalaman Ra!" tukas Mas Beno.
"tapi temen duet ku itu lho yang bikin minder!" sahutku semakin gusar.
"udah, kamu tenang aja! tinggal ikutin instruksinya aja, beres!!!" jawab Mas Beno menenangkan ku.
__ADS_1
"beres beres! apanya yang beres!! aku nervous akut nih!!" kataku sambil memberikan tanganku yang dingin bagai es.
"wajar aja kamu nervous, kan udah lama ga di depan kamera!" ucap Mas Beno sambil menggenggam tanganku dengan lembut.
"duh gimana nih" gumam ku saking nervous nya.
"oya, satu lagi, kamu ga perlu sungkan, Lidya itu tunangannya Deva!!" bisik Mas Beno di telingaku.
Kata katanya yang terakhir, sukses membuatku melongo,
"whatsss?? tunangannya bos??" lirihku.
"sssttt....!" Mas Beno menutup mulutku agar tidak bersuara.
🎉🎉🎉🎉🎉🎉
Ternyata tidak seberat yang aku bayangkan, model terkenal yang bernama Lidya tersebut sangat ramah dan baik bahkan dia memberiku banyak masukan agar ke depannya lebih baik lagi.
Aku dan Lidya, sama sama memandangi laptop, untuk melihat hasil pemotretan tadi,
Begitu pun setelah selesai pemotretan, Lidya kembali mengajakku mengobrol dan sharing tentang dunia modelling.
"Ra, kenapa dulu kamu berhenti?" tanya Lidya.
"em.. kebetulan aku di mutasi dari kantor, jadi aku harus pindah ke kota lain!" jawabku berbohong padahal alasan sebenarnya bukan itu.
"oh aku pikir kau fokus pada dunia modelling, memangnya kau kerja di perusahaan apa?" tanyanya ingin tahu.
"di perusahaan tunangan mu!" jawabku dengan berbisik di telinganya.
"hah??? kau kenal pada Deva?" tanyanya dengan wajah terkejut.
"dia bos ku! dan sekarang pun aku masih bekerja di perusahaannya!" jawabku dengan santainya.
"kau beruntung bisa melihat wajahnya setiap hari, sedang aku? meski aku tunangannya, aku tak bisa melihat wajahnya setiap aku mau!" keluhnya dengan wajah sendu.
__ADS_1
"oh, jadi ini alasannya mereka tidak kunjung menikah, karena terhalang karier model Lidya! kasian juga pak Deva!" gumam ku dalam hati.
"mumpung kau disini, kenapa tidak menemuinya saja?" kataku memberi saran.
"dia bilang, dia sibuk hari ini! padahal aku cuma satu hari ini saja berada di kota ini!" ujarnya, terlihat sekali raut kesedihan di wajah cantiknya itu.
"boleh aku bantu?" tanyaku hati hati.
"bantu?? emang bisa?" tanyanya ragu ragu.
"insyaAllah..." sahutku sambil tersenyum.
Aku menyarankan agar Lidya ganti pakaian dan menghapus make up di wajahnya agar tidak terlalu mencolok di lihat orang, aku berniat membawanya ke kantor untuk menemui Pak Deva.
"wah ternyata kau jauh lebih cantik tanpa make up!" pujiku dengan tulus.
"oh jadi maksudmu, aku jelek setelah memakai make up?" katanya bergurau.
"bukan jelek, kau itu sangat cantik bahkan dengan wajah natural mu! cantik mu bukan polesan tapi bawaan dari orok!" sahutku menjelaskan.
"kau terlalu memujiku!" jawabnya sambil cekikikan.
"selfie yuk!" ajak ku, lumayan buat kenang kenangan, hebatnya aku bisa bekerja sama dengan model terkenal, hihi...
Setelah selfie, aku langsung mengajaknya untuk menemui Pak Deva di kantornya,
Aku mengantarnya sampai ke depan ruangan Pak Deva, awalnya Lidya ragu untuk masuk, tapi aku terus saja meyakinkannya untuk tetap masuk dan semua akan baik baik saja.
Lidya melangkah masuk tanpa ragu, setelah itu aku tidak tahu apalagi yang terjadi pada mereka berdua karena pintu ruangan tertutup rapat.
Jujur aku kepo, apa yang terjadi pada mereka dengan pertemuan mendadak ini? bertengkar kah? saling diam atau malah lagi melepas rindu dengan melakukan adegan panas?? hah, aku memang mengidap kepo tingkat akut, haha...
Dua jam lamanya tidak ada pergerakan apapun, lalu tak lama pintu pun terbuka, Lidya keluar dengan setengah berlari sambil menangis, aku jadi panik dan berusaha mengejarnya.
Tapi Lidya melambaikan tangannya ke arahku seolah tak ingin di ganggu, melihatnya menangis, aku merasa sangat bersalah padanya, aku yang mengajaknya kemari, apa Pak Deva sudah menyakitinya? tapi kenapa? bukan lah mereka saling memendam rindu?? aaaahhh.... kenapa aku jadi ikut campur urusan pribadi mereka!!!
🎯🎯🎯🎯🎯🎯
__ADS_1