Seorang Bintang

Seorang Bintang
Duapuluhlima


__ADS_3

Dalam kesedihan yang mendalam, otakku terus saja berpikir, untuk apa aku menyiksa diriku sendiri? sedang diluar sana Pandu masih bisa menikmati hidupnya setelah apa yang dia lakukan padaku.


Hatiku bertekad untuk bangkit namun perasanku masih ragu, siapa yang harus aku beritahu tentang masalah terbesarku ini? Mamah? Dr Rendra? aku benar benar takut mereka kecewa dan menjauhiku.


Mungkin sebaiknya untuk sementara aku tutup rapat rapat aibku ini, biarlah waktu yang menentukan kemana rahasia ini akan mengalir nantinya.


"Mah...." aku ke dapur dan melihat mamah sedang memasak.


"Dara....!" mamah terkejut melihatku berdiri disitu dan memanggilnya.


"Mah...maafin Dara sudah nyusahin mamah" kataku lagi.


"Dara.... mamah seneng kamu keluar kamar dan berbicara lagi" sahut mamah antusias dan terharu sampai menangis memelukku.


"Mah.. mamah masak apa? Dara laper" ucapku kemudian.


"laper? Dara mau makan apa? biar mamah masakin ya" ucap mamah senang.


"Dara pengen ayam geprek mah, yang pedes yah" kataku.


"siaap sayang....Dara duduk dulu ya.. mamah masakin dulu buat Dara" wajah mamah berseri seri.


Mamah memasak dengan cepat, tak sampai sejam aku sudah bisa menikmati ayam geprek super pedas kesukaanku.


Tengah asyik menyantap makananku, Dr Rendra datang dan setengah berlari melihatku duduk di meja makan.


"ya Allah Daraaaa...." ucap Dr Rendra memandangku tak percaya.


Aku tetap menikmati makananku tanpa menghiraukan kehadirannya.


Dr Rendra yang melihatku makan dengan lahap, akhirnya hanya bisa duduk di hadapanku sambil memandangiku dengan senyum manisnya.


Makananku telah habis, aku menjilati jari jariku, sisa sambal tadi masih menempel disana,


"uuushh... huwaahh... pedas" gumamku.


Dr Rendra menyodorkan gelas berisi air kepadaku, aku hanya mengangkat kedua tanganku yang masih kotor, dengan sigap Dr Rendra memberikan gelas itu tepat dibibirku jadi aku bisa minum tanpa memegangnya.


"alhamdulillah.." seruku setelah minum air.


"cuci dulu tangannya..." suruh Dr Rendra.


Aku bangun dari dudukku dan menuju wastafel untuk cuci tangan.


Lagi lagi Dr Rendra membantuku, dia memberikan lap bersih untukku,


"terimakasih..." akhirnya aku menyahutinya.


Aku kembali lagi ke kamarku dan Dr Rendra ijin terlebih dulu kepada mamah untuk mengikutiku ke kamar, mamah mengijinkannya dan tentu saja dia langsung mengekor padaku.


"sayang.. apa kau merasa lebih baik sekarang?" tanyanya.


"he em..." sahutku sambil mengangguk.


"alhamdulillah.. aku khawatir sekali padamu" ucapnya kini menggenggam tanganku.


"jangan pegang pegang, tanganku masih bau sambel nih" jawabku sambil meletakkan tanganku di hidung mancung Dr Rendra sambil terkekeh.


"iyaaa masih bauk" sahutnya bercanda lalu kami tertawa bersama.

__ADS_1


Ada rasa bersalah dihatiku karena selama ini mengabaikan Dr Rendra, aku merasa tak pantas dengannya lagi, tubuhku sudah ternoda dan kotor.


"aku senang kau baik baik saja..." ucapnya penuh perhatian.


"Dokter..." panggilku.


"Dokter?" ulangnya kebingungan.


"Dokter Rendra.... sebaiknya kita putus saja..." ucapku dengan berat hati.


"apaa?? putus???" Dr Rendra benar benar terkejut dengan ucapanku.


"iya... sebaiknya kita jalani hidup kita masing masing, aku tak pantas untukmu"


"tidak... aku tak ingin putus denganmu...!!" sahutnya menolak mentah mentah.


"kau pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku"


"tapi aku mencintaimu Dara... aku tak ingin oranglain lagi!"


"maafkan aku Dokter..."


"tidak Dara.. kau tak bisa memutuskan aku seperti ini!"


"pulanglah Dokter... kau hanya butuh waktu untuk melupakanku"


"tidak Dara... aku tahu jika kau juga mencintaiku.. dan ingat janji kita, kita akan menikah!"


"tolong pergilah dokter..." usirku, aku berusaha tak menangis dihadapannya, susah payah aku menahan airmata yang membendung di pelupuk mataku.


"baiklah.. tapi aku pergi bukan karena aku setuju dengan ide gilamu itu.. aku hanya memberimu waktu untuk berpikir Dara!" ucapnya lalu keluar dari kamarku sambil mengusap kasar wajahnya yang basah oleh airmata.


Betapa menyesalnya aku karena dengan begitu mudahnya percaya pada mulut manis Pandu, aku benar benar tak menyangka jika dia setega dan sebejat itu. emosiku tak terkontrol kala mengingat kejadian waktu itu, kesucianku terenggut dengan mudahnya.


"hiks...hikssss.." tangisku kian menjadi, mataku bukan hanya sembab tapi bengkak sampai aku susah untuk membuka mata.


🍢🍢🍢🍢🍢🍢


Mulai hari dimana aku memutuskan Dr Rendra, dia tak muncul lagi dirumahku bahkan dia tak menghubungiku sama sekali padahal ponselku sudah aku aktifkan kembali.


"mungkin saat ini terasa sulit... tapi lambat laun kau akan terbiasa Dokter..." gumamku seorang diri dan lagi lagi aku menangis mengingat betapa manisnya jalinan asmaraku dengannya.


Seminggu kemudian, saat aku sedang asyik menyiram halaman, Dr Rendra muncul dihadapanku dengan membawa seikat bunga yang sangat cantik,


"pagi sayaang..." sapanya.


Aku terkejut melihatnya datang, bahkan dengan bunga ditangan dan senyum manis dibibirnya, seolah tak terjadi apa apa.


"kenapa kau datang lagi?" kataku berusaha menutupi keterkejutanku dengan wajah datar.


"aku kan kekasihmu sayang.. wajar kan kalo aku datang kemari"


"kita sudah putus seminggu yang lalu...!" sahutku dengan ketus dan melempar selang air ke sembarang arah.


"siapa bilang? aku tak setuju dengan ide gilamu itu, jadi mana bisa itu dikatakan putus?" sahutnya santai.


"dasar keras kepala!" ucapku.


"sudah seharusnya aku mempertahankan orang yang sangat aku cintai"

__ADS_1


"jika kau tahu kebenarannnya, kau tak akan mencintaiku lagi!" gertakku.


"kebenaran seperti apa maksudmu?"


"kebenaran yang pahit!"


"sepahit apapun itu.. aku akan berusaha menerimamu selalu!"


"cih... kau sangat yakin sekali padahal kau belum tahu sepahit apa kebenaran itu!"


"aku memang harus selalu yakin"


"tapi aku tidak yakin kau akan bertahan setelah mendengar semuanya!"


"katakanlah..."


"apa kau sudah siap?"


"iya..."


Aku masuk dan duduk diruang tamu, sepertinya tak nyaman mengatakan hal menjijikkan di depan rumah.


Dr Rendra mengikuti langkahku dan duduk berhadapan denganku.


"katakanlah..." ucapnya.


"aku...." suaraku tercekat sesaat.


eheemm... ehemmm.. aku berdeham untuk menetralkan kegugupan dihatiku,


"aku.... sudah tak pantas lagi untukmu dokter.."


"kenapa?"


"karena.."


"karena apa Dara?"


Aku mulai menitikkan airmata, lidahku terasa kelu untuk memberitahukannya,


"Dara..." panggilnya


"ya..." sahutku dengan kepala tertunduk.


"tatap aku Dara... dan katakan apa yang ingin kau katakan..."


Dengan sekali tarikan nafas yang begitu dalam, aku mengangkat kepalaku dan menatapnya, lalu aku berkata,


"aku sudah tidak suci lagi!" setelah mengucapkan itu aku kembali menundukkan kepalaku tak berani melihat ekspresi wajahnya.


Dr Rendra tak bersuara lagi setelah mendengar jawabanku, lama sekali kami saling diam sampai akhirnya dia bangun dan berpamitan pulang,


"aku pulang dulu" ucapnya dengan nada yang begitu dingin membuat hatiku bergetar hebat.


Dia pulang begitu saja tanpa menanggapi jawabanku, akupun masuk ke kamar dan menangis lagi sampai aku terlelap.


"selamat tinggal dokter..." lirihku di sela tangisanku.


🌯🌯🌯🌯🌯🌯

__ADS_1


__ADS_2