Seorang Bintang

Seorang Bintang
Duapuluhtujuh


__ADS_3

Dr Rendra tidak tinggal diam, dia menghampiri tubuh Pandu dan memeriksa keadaannya,


"tolong panggil ambulan segera" teriaknya pada siapapun disana.


Dr Rendra membalut luka di kepala Pandu untuk menghentikan pendarahannya, Pandu tidak sadarkan diri, dia kehilangan banyak darah.


"bertahanlah..." ucapnya sambil menekan dada Pandu.


"Pandu... sadarlah..." ucapku sambil terus saja menangis.


Dr Rendra menatapku dengan wajah pilu, wajahku tak kalah pilu melihat Pandu seperti ini,


"Dara.. tenangkan dirimu.. wajahmu pucat sekali" ucap Dr Rendra.


Author Pov.


Niu....Niu....Niu....


Terdengar suara ambulan datang, petugas segera membawa Pandu, sedang Dara yang berlumuran darah hendak ikut namun saat dia bangun, tubuhnya langsung sempoyongan, beruntung Dr Rendra segera menangkapnya.


"Dar... Dara..sadarlah" ucap Dr Rendra sambil menepuk pelan pipi Dara.


Tak ada pergerakan dari Dara, Dr Rendra segera membopong tubuh Dara ke mobilnya dan membawanya kerumah sakit,


"Ben.. sebaiknya kau ikut ambulan yang membawa Pandu" kata Dr Rendra.


"baiklah Ren.. tapi apa yang terjadi pada Dara?" tanyanya panik.


"aku masih belom bisa memastikan, sepertinya dia syok" jawab Dr Rendra seadanya, padahal ada hal lain lagi yang dicurigainya setelah memeriksa denyut nadi Dara.


"Dan Cika tolong hubungi keluarganya, sementara aku akan membawa Dara kerumah sakit" lanjutku menoleh pada Cika.


"iya... tolong jaga Dara!" ucapnya.


Pandu sampai dirumah sakit dan langsung ditangani oleh tim medis, lukanya cukup parah dan dia harus segera di operasi.


"mana keluarganya?" tanya dokter pada perawat yang menanganginya.


"ada diluar dok" sahut sang perawat.


Dokter langsung keluar untuk menemui keluarga pasien.


"apa anda keluarganya?" tanyanya pada Mas Beno yang terlihat mondar mandir dengan gelisah.


"bukan dok.. tapi keluarganya sebentar lagi tiba" jawab Mas Beno.


"pasien sudah tidak dapat menunggu, kami harus segera mengambil tindakan" ucapnya.


"lakukan yang terbaik dok" tiba tiba seorang wanita paruh baya muncul dari balik tubuh Mas Beno.


"anda siapa?"


"saya ibunya dok.. lakukan yang terbaik dok, selamatkan putra saya" ucap Mia, ibu dari Pandu yang datang dengan wajah basah oleh airmata.


"baiklah.. kami akan segera melakukan operasi, silahkan anda mengurus segala administrasinya" kata dokter lalu masuk kedalam ruangan lagi.


"apa yang terjadi? kenapa Pandu sampai tertembak?" tanya Mamah Pandu di sela tangisannya.


"Pandu menembak dirinya sendiri bu" jawab Mas Beno.


"apa??? kenapa dia melakukan ini?"


"saya juga tidak tahu persis masalahnya bu, karena saat kejadian saya sibuk di ruangan saya"


Mamah Mia kembali menangis, Mas Beno terpaksa menemaninya karena dia datang seorang diri.


Di tempat lain, Dr Rendra membawa Dara ke rumah sakit tempatnya bekerja, dia memeriksa keadaan Dara dan alangkah terkejutnya dia karena dugaannya tadi mendekati benar, melihat tanda tanda yang di tunjukkan oleh Dara.

__ADS_1


Untuk memastikannya, Dr Rendra membawa Dara ke dokter spesialis, dan benar saja setelah di periksa ulang oleh Dokter spesialis kandungan, hasilnya tetap sama, Dara dinyatakan hamil.


"Dia sedang mengandung dok.. dan usianya baru 3 minggu" ucap Dokter kandungan yang juga teman Dr Rendra.


Hati Dr Rendra benar benar hancur, kenyataan pahit inilah yang dimaksud oleh Dara, Dr Rendra mengusap pelan wajah pucat Dara,


"inikah yang membuatmu menjauhiku?" gumamnya.


"siapa yang melakukan ini padamu?" suara Dr Rendra terdengar sangat lirih.


Dr Rendra duduk di sebelah Dara dan menunggunya sadar.


End Pov.


🍐🍐🍐🍐🍐🍐


Author Pov.


"alhamdulillah... operasinya berjalan lancar" ucap dokter pada Mamah Mia.


"alhamdulillah... terimakasih dokter, gimana keadaannya?" tanya Mamah Mia.


"keadaannya stabil namun dia masih belum sadar, kami akan memindahkannya ke ruang rawat inap"


"baik dok.. sekali lagi terimakasih.." ucap Mamah Mia bahagia.


Mas Beno yang masih disana turut senang mendengar Pandu baik baik saja.


Setelah Pandu di pindah ke ruang rawat inap, Mas Beno berpamitan pulang pada Mamah Mia,


"bu.. saya permisi pulang dulu" pamit Mas Beno,


"oya.. terimakasih nak sudah menemani kami"


"sama sama bu" Mas Beno segera berlalu dan meninggalkan ibu anak itu.


"Hallo Ren... bagaimana keadaan Dara?" tanya Mas Beno via telepon.


"syukurlah kalo begitu, aku akan menjenguknya nanti" jawab Mas Beno.


"oke... oya bagaimana keadaan Pandu?"


"dia sudah baik baik saja.." ucap Mas Beno lagi.


"syukurlah..." jawab Dr Rendra.


End Pov.


*******


Aku mengerjapkan mata, menyesuaikan sinar yang masuk kedalam retinaku, aku meraba kepalaku yang terasa berat,


"aduh kepalaku.." keluhku ketika berusaha bangun.


"kau sudah sadar, kenapa kepalamu? sakit?" tanya orang di sebelahku yang ternyata Dr Rendra.


"aku kenapa?"


"tadi kau pingsan..."


Aku berusaha mengingat kejadian yang terjadi sebelum aku pingsan, aku langsung panik ketika mengingatnya.


"Pandu... gimana keadaan Pandu dokter?" tanyaku dengan panik.


"tenanglah Dara.. Pandu baik baik saja.." jawab Dr Rendra berusaha menenangkanku.


"lalu dimana dia sekarang? aku ingin melihat keadaannya" kataku lagi sambil mencoba turun dari ranjang rumah sakit.

__ADS_1


"kau jangan kemana mana dulu Dara, sebaiknya kau istirahat demi janin didalam perutmu" ucap Dr Rendra.


Aku terbelalak saat Dr Rendra mengatakan "janin" apakah aku tidak salah dengar? batinku.


"dokter.. apa katamu barusan?"


"kau hamil Dara"


"apaa....????" seruku tak percaya.


Kini aku hanya bisa menangis, hal yang aku takutnya ternyata benar benar terjadi, apa yang harus aku katakan pada Mamah setelah ini?


Tiba tiba saja terdengar suara gaduh didepan pintu, setelah dilihat ternyata Mamah tergeletak pingsan disana, apakah Mamah sudah mendengarnya?


Dr Rendra segera membopong tubuh Mamah dan meletakkannya di sofa,


"Maah... sadar mah.." kataku ketika sudah disebelah Mamah,


Dr Rendra memeriksa keadaan Mamah,


"Mamah hanya terkejut.. sebentar lagi juga siuman" ucap Dr Rendra.


Dan benar saja, setengah jam kemudian Mamah tersadar dan menangis,


"Mah.. maafin Dara mah..." kataku sambil memeluk Mamah.


"siapa yang melakukannya Dara?" tanya mamah.


Aku hanya bisa tertunduk dan menangis, benar dugaanku jika Mamah sudah mengehtahuinya.


"apa kau ayahnya Rendra?" tanya Mamah berpaling pada Dr Rendra yang berdiri di belakangku.


"bukan mah...bukan dia" jawabku.


"tapi aku siap bertanggungjawab mah..." sahut Dr Rendra.


"apaaaa?" seruku.


"iya Dara... aku akan menikahimu dan menjadi ayah untuk bayimu" katanya dengan penuh keyakinan.


"lalu siapa ayah kandungnya Dara? kau tak bisa terus terusan merahasiakannya!" kata Mamah.


Aku berpikir keras, apa sebaiknya aku berkata jujur pada Mamah dan Dr Rendra, tapi aku takut,


"Dara..." panggil Mamah membuyarkan lamunanku.


"iii..iya maah..."


"siapa dia?"


"emmm..."


"katakanlah... sebelum mamah berubah pikiran dan menyuruhmu menggugurkannya!!!" ucap Mamah dengan ketus.


"Mamah...." sahutku tak suka.


"cepat katakan!"


"sampai kapanpun aku tak akan mau menggugurkannya!" jawabku tak senang.


"maka katakan siapa ayahnya!"


"katakanlah Dara.. insyaAllah Mamah akan menerimanya" ucap Dr Rendra menengahi.


Aku mengangguk pada Dr Rendra dan memantapkan hatiku untuk mengatakan yang sebenarnya,


"ayahnya...adalah.... Pandu!" aku mengatakannya dengan pelan sambil meremas tanganku sendiri.

__ADS_1


Mamah dan Dr Rendra nampak syok dengan jawabanku, mereka tak ada yang bersuara, menghilang dalam pikirannya masing masing.


🍟🍟🍟🍟🍟🍟


__ADS_2