
Setelah dinyatakan baik baik saja, Dr Rendra di perbolehkan pulang kerumah tapi tetap harus check up seminggu setelahnya untuk memastikan kalau dia benar benar sembuh total.
"Lusa jadwalmu kontrol, aku akan mengantarmu" kataku mengingatkan Dr Rendra.
"iyaa.. sudah berapa kali kau mengingatkanku" jawabnya.
"aku takut kau lupa..."
"selama kau tak bisu, aku tidak akan pernah melupakan apapun, karena kau akan terus berbicara hal yang sama berulang kali"
"oooh jadi kau mengharapkanku bisu?"
"tidak tidak.. bukan itu maksudku..."
"lalu apa?? kau menyumpahiku bisu barusan!" ucapku pura pura sebal.
"pikiranmu selalu saja jelek kepadaku!"
"karena kau memang begitu adanya!"
"astaga Dara..sampai kapan kau akan berpikiran negatif tentangku?"
"sampai aku bosan, hahaha..." jawabku lalu tertawa.
"bosan? bahkan kau belum menerima cintaku lagi, kenapa kau harus bosan?"
"haaah.... itu lagi yang kau bahas... apa hanya cinta yang ada dalam otakmu itu dokter yang tampan..." kataku sambil mengelus rambutnya.
"selama itu kau, isi otakku akan terisi penuh oleh cinta.. percuma saja tampan jika kau saja tak menaruh hati padaku"
"ish... kau ini! kau sangat tampan, apa yang kau harapkan dari seorang single parent sepertiku?"
"aku berharap bisa bahagia denganmu..."
"Dokter....." panggilku sambil melotot padanya.
"aku serius... aku ingin menikahimu, aku berjanji akan jadi suami dan ayah yang baik!"
"hmmm..."
"kau selalu saja begitu jika aku berbicara serius denganmu.." jawabnya merajuk.
"lihatlah dirimu, umurmu sudah tua tapi sikapmu sama saja dengan Mela" kataku sambil menjepit bibirnya yamg manyun dengan kedua jariku.
Dr Rendra mendengus kesal karena keseriusannya tak pernah aku tanggapi.
"maafkan aku dokter.. bukannya aku tak menanggapimu, tapi aku masih ragu dengan hatiku" ucapku dalam hati.
🍒🍒🍒🍒🍒🍒
"hei apa kabarmu? apa lukamu sudah sembuh?" sebuah pesan wa baru saja masuk ke nomor pribadiku.
"aku baik dan sudah sembuh, kau siapa?" aku membalasnya dengan cepat.
"jadi benar dugaanku, kau sudah menghapus nomor ponselku" jawabnya.
"maaf, aku memang sudah berganti nomor dan nomormu masih asing di ponselku"
"mungkin hanya nomorku saja yang asing, tapi tidak dengan pemiliknya"
"jangan bertele tele, siapa kau?"
__ADS_1
"aku ayah dari anakmu"
Sontak saja pikiranku langsung tertuju pada Pandu,
"Pandu?" balasku.
"nah dugaanku benar lagi, aku tak asing bagimu meskipun tanpa menyebut namaku, kau sudah bisa menebaknya" balasnya.
"darimana kau dapat nomorku?"
"itu hal yang mudah bagiku, apa kau belum tahu aku sesukses apa sekarang?"
"cih... sombong sekali kau!"
"hahaa....aku sombong karena aku memang punya segalanya sekarang"
"terserah kau saja..."
"jadi kapan aku bisa bertemu Mela?"
"hmm.. nanti aku kabari lagi.. aku belum mengatakan apa apa pada Mela"
"sampai kapan aku harus menunggu? aku sudah tak sabar ingin memeluk dan melihat wajahnya"
"aku akan mengirimimu fotonya, bagaimana?"
"baiklah... setidaknya aku bisa mengenali wajahnya jika aku bertemu dengannya dijalan"
"dia tidak akan sembarangan berkeliaran di jalan, aku tak pernah mengijinkannya pergi sendirian"
"ini foto Mela yang ku ambil barusan"
"tentu saja dia cantik.. kau lupa secantik apa mamihnya?"
"mana bisa aku melupakan wanita tercantik dalam hidupku?"
"dasar tukang gombal!"
"buat apa menggombalimu? kau bukan anak gadis yang gila gombalan!"
"cih..." balasku singkat.
"jadi dia memanggilmu mamih?"
"ya.." lagi lagi balasanku singkat karena mataku tanpa sadar mulai terpejam saking mengantuknya.
"berarti dia harus memnanggilku papi donk" sepertinya Pandu masih bersemangat membalas pesan Waku.
Tak terasa hari sudah sangat larut, akhirnya aku tak membalas pesannya lagi karena aku sudah sangat mengantuk dan akupun terlelap dengan ponsel masih ditangan.
🍓🍓🍓🍓🍓🍓
Aku berangkat ke kantor, saat dijalan, aku melihat dari kaca, ada mobil yang terus saja mengikutiku,
"kenapa aku merasa mobil itu mengikutiku?" gumamku sendiri.
Aku berusaha mengecoh mobil tersebut, tapi sepertinya pengendara mobil itu adalah sopir yang handal, dia selalu bisa mencari celah untuk membuntuti mobilku, karena jengah akhirnya aku menepi, mobil itupun ikut menepi,
"hei...keluar kau!!" kataku mengetuk pintu kaca mobil tersebut.
__ADS_1
Dua kali aku ketuk, sang pengemudi tidak merespon, lalu aku melepaskan sepatu heelsku dan ketika akan mengetuk kaca dengan sepatu, tiba tiba dia menurunkan kaca mobilnya.
"siapa kau?" tanyaku.
"saya Danang nyonya" jawabnya setelah keluar dari mobilnya.
"aku tak peduli siapa namamu, untuk apa kau membuntutiku?"
"saya di utus oleh Tuan Pandu untuk mengawal nyonya kemanapun nyonya pergi!" jawabnya.
"apa? Pandu?"
"iya nyonya..." sahutnya.
Aku langsung mengambil ponsel dan menelpon Pandu,
"hallo..."
"hallo.. ini aku,kenapa kau mengirim pengawal tanpa berdiskusi denganku terlebih dahulu?"
"kalau aku memberitahumu, aku yakin kau akan menolaknya"
"kau membuatku ketakutan, aku pikir orang ini akan mencelakakanku" kataku sambil melirik orang disebelahku.
"kau tidak perlu takut lagi sekarang, bukan hanya dia yang menjagamu, masih ada dua orang lagi, coba saja kau lihat di sekitarmu"
Dan benar saja, setelah ku sapu pandangan ke seluruh sudut, aku mendapati 2 orang dengan penampilan preman, menganggukkan kepala padaku.
"kau sudah melihatnya?" tanyanya.
"kau terlalu berlebihan!"
"berlebihan? keselamatanmu sedang di pertaruhkan saat ini, dan kau mengataiku berlebihan? bagaimana jika kejadian seperti kemarin terulang lagi hah?" ucapnya dengan menggebu gebu.
"hei... selow.. kenapa kau jadi sewot begitu!" jawabku santai.
"karena kau terlalu meremehkan bahaya yang sedang menantimu!"
"sebenarnya aku takut..." akhirnya aku memilih mengakui ketakutanku pada Pandu.
"maka biarkan aku melindungimu..."
"terimakasih..." sahutku lalu melanjutkan perjalananku ke kantor.
Sampai di kantor, ponselku kembali berdering, ada telpon masuk dari Dr Rendra.
"hallo..."
"hallo apa kau sudah di kantor?"
"ya aku baru saja sampai" jawabku.
"kau menelpon siapa daritadi? nomormu selalu sibuk"
"ooh maaf, tadi aku sedang berbicara dengan klien" kataku berbohong.
"oouwh begitu.. oya hari ini aku mulai bekerja lagi"
"waah benarkah? apa kau sudah benar benar merasa sehat?"
"tentu saja..berkat dirimu"
__ADS_1
"kau bisa saja.. ya sudah aku tutup telponnya, pekerjaan sudah memanggilku" jawabku lalu mengakhiri panggilan tersebut.
🍋🍋🍋🍋🍋🍋