Seorang Bintang

Seorang Bintang
Tigapuluhtiga


__ADS_3

"Dara tolong kerumah sakit sekarang, Rendra sudah siuman!" ucap mamah Rena via telepon.


Aku yang sedang berada di kantor segera meminta ijin pada direktur untuk melihat keadaan Dr Rendra di rumah sakit.


Aku sengaja tidak membawa mobilku, aku lebih memilih naik ojol agar lebih cepat sampai kesana, mengingat jalanan kota macet di jam jam makan siang seperti sekarang,


Ketika sedang menunggu ojol pesananku, tiba tiba dari arah berlawanan sebuah sepeda motor naik ke trotoar tempatku berdiri, dan braaakkk....


Motor tak di kenal itu menyerempetku membuatku jatuh tersungkur,lutut dan lenganku berdarah karena bergesekan dengan permukaan trotoar yang kasar.


"auuuuw..." pekikku.


Dan motor yang menyerempetku tadi langsung kabur begitu saja, aku meringis menahan perih dan sepertinya kakiku terkilir, hak sepatuku sampai patah karena tak kuat menopang tubuhku.


Aku berusaha menggeser tubuhku sampai ke tepi jalan yang lebih aman.


Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depanku,


"Dara... kau kenapa?" tanya orang yang baru saja keluar dari mobil tersebut, ternyata itu mobil Pandu.


"ada orang yang sengaja menyerempetku barusan" jawabku sambil meringis kesakitan.


"dimana orangnya sekarang?" tanya Pandu sambil menyapu pandangannya keseluruh sudut mencari keberadaan orang yang di maksud Dara.


"dia sudah kabur sesaat setelah menyerempetku tadi" jawabku.


"sebaiknya kita kerumah sakit sekarang!" sahut Pandu sambil membantuku berdiri namun aku tak bisa bangun karena kakiku yang terkilir sangat sakit untuk di gerakkan.


"auuuww..." pekikku lagi sambil memegang kakiku yang sakit.


"maaf, aku harus menggendongmu" kata Pandu lalu mengangkat tubuhku kemobilnya.


Pandu duduk dibelakang menemaniku, ternyata dia menggunakan sopir.


Wajahnya terlihat khawatir dan marah, entah itu tulus atau tidak tapi aku bersyukur bisa bertemu dia, jika tidak aku akan lama di tepi jalan menunggu pertolongan.


"kau harusnya lebih berhati hati" katanya.


"aku sudah berhati hati.." sahutku.


"semenjak kasus perusahaanmu 3 bulan lalu, sepertinya akan banyak orang jahat yang mengincarmu!"


"pak Deva sudah memberi pengamanan padaku tapi tak pernah terjadi apa apa padaku jadi aku meminta pak Deva untuk menarik semua pengamanan yang selama ini menjagaku"


"sepertinya mereka tahu jika kau sekarang tanpa pengamanan lagi"


"apakah ini perbuatan mereka?" tanyaku penasaran.


"apa kau punya musuh lain?"


"tidak..aku tidak merasa mempunyai musuh" jawabku.


Sampai dirumah sakit, aku langsung ditangani dengan baik, bahkan tanganku harus dijahit karena lukanya yang sedikit dalam.


"terimakasih karena sudah menolongku" ucapku pada Pandu.

__ADS_1


"sama sama..aku akan mengantarmu pulang" sahutnya.


"tidak usah.. aku tidak langsung pulang, aku akan kerumah sakit X untuk menjenguk Dr Rendra" jawabku.


"Dr Rendra? apa dia praktek disana?"


"tidak.. dia kecelakaan dan sudah lama koma, tadi mamahnya menelpon katanya Dr Rendra sudah sadar dan menyuruhku kesana"


"jadi saat kita bertemu dirumah sakit itu, kau habis menjenguk Dr Rendra?"


"iya....lalu kau? apa yang kau lakukan dirumah sakit waktu itu?"


"aku menemani mamah.. mamah abis operasi"


"mamah? mamah sakit apa?" tanyaku khawatir.


"ada myoma di rahimnya".


"astagfirullah, sekarang bagaimana keadaan mamah?"


"mamah sudah sehat kembali" jawabnya.


"salam pada mamahmu ya.. lain kali aku akan menjenguknya.."


"baik akan aku sampaikan.. jika bisa bawa serta cucunya, mamah akan senang jika mengehtahui dirinya sudah menjadi seorang nenek"


Aku terdiam mendengar permintaan Pandu,


"maaf jika permintaanku berlebihan" ucapnya tak nyaman karena melihatku yang tiba tiba terdiam.


"hmm.. apa tak merepotkan?"


"tidak.. aku akan khawatir jika membiarkanmu pergi sendirian"


Aku berjalan dengan dibantu olehnya, kakiku yang terkilir masih sakit dibuat berjalan.


Sampai dirumah sakit X, tempat Dr Rendra dirawat,lagi lagi Pandu memapahku, posisi kami yang sangat dekat membuatku tak nyaman dan Pandu menyadarinya,


"kau tunggu disini, aku akan meminjam kursi roda" katanya sambil berlalu.


Aku jadi canggung, karena sikapku padanya.


Dengan telaten Pandu mendudukkanku di kursi roda,


"aku akan mengantarmu sampai di depan kamar Dr Rendra, setelah itu aku akan pulang" ucapnya sadar akan posisinya saat ini.


"terimakasih..dan maaf jika membuatmu tak nyaman" kataku.


Dia hanya tersenyum dan mendorong kursi rodaku sampai ke depan kamar Dr Rendra, setelah itu dia berpamitan untuk pergi.


"aku pulang dulu.. jika kau butuh sesuatu, hubungi aku.. nomorku masih tetap yang dulu" ucapnya dan bergegas pergi.


Aku mengetuk pintu dan mamah yang membukakannya,


"Dara..... kau kenapa nak?" tanya mamah terkejut melihatku duduk di kursi roda.

__ADS_1


Pak Deva yang sudah berada disana pun bergegas melihat keadaanku,


"apa yang terjadi padamu Dara?" tanyanya.


"hanya kecelakaan kecil" jawabku sambil tersenyum.


"kau yakin?" pak Deva menatapku curiga dan penuh selidik.


"iyaa..." sahutku


"bisakah aku masuk sekarang? aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya" lanjutku membuat mamah dan pak Deva yang berdiri di pintu segera menepi memberiku jalan untuk masuk.


Tanpa sadar airmataku luruh begitu saja setelah melihat Dr Rendra yang duduk dengan kepala bersandar dikepala ranjangnya.


"hai..." sapaku dengan nada kelu, aku menahan tangisku.


"hai..." sahutnya, tatapannya bingung melihatku duduk di kursi roda.


"apa kau merasa baik baik saja?" tanyaku.


Bukannya menjawab, Dr Rendra malah balik bertanya melihat keadaanku,


"apa yang terjadi padamu?" tanyanya dengan wajah khawatir.


"aku mengalami insiden kecil ketika menuju kesini, tapi aku baik baik saja" sahutku sambil tersenyum manis padanya.


Aku berusaha untuk berdiri dan duduk di sebelahnya, lalu aku memeluknya sambil menangis,


"terimakasih karena sudah sadar dan kembali sehat" ucapku dengan terisak dibahunya.


"tentu saja aku harus kembali.. aku tak rela jika harus meninggalkanmu sendirian di dunia ini" jawabnya membalas pelukanku dengan erat.


Mamah sampai ikut menangis melihat kami berdua,


"cepatlah keluar dari tempat mahal ini, uangku mulai menipis membiayaimu" canda Pak Deva membuat Dr Rendra memberengut kesal.


"aku akan mengganti uangmu!"sahutnya tetap dengan memelukku.


"hahhaaaa..." pak Deva terbahak dengan jawaban dr Rendra.


"simpanlah gaji doktermu itu untuk pernikahanmu" lanjut pak Deva yang masih saja terbahak.


"pernikahan? kau meledekku kak?" sahut Dr Rendra geram, dia melepas pelukannya dan melempar pak Deva dengan bantal.


"iya pernikahan, apa kau ingin menjadi bujang selamanya?" ledek pak Deva.


"heiii.. lihatlah siapa yang berbicara, bukankah kau juga masih bujangan sampai saat ini?" sahut Dr Rendra tak mau kalah.


"tapi setidaknya aku sudah ada calon yang sedang menungguku, sedang kau?" pak Deva kembali tertawa.


"kakakkkkkk" Dr Rendra makin geram dengan sikap kakaknya tersebut.


Sedang aku dan mamah hanya tersenyum kecil melihat perdebatan kedua kakak beradik tersebut.


"sudah Deva, kau jangan menggodanya terus, dia baru saja sadar dari tidur panjangnya" ucap mamah berusaha menengahi.

__ADS_1


🍉🍉🍉🍉🍉🍉


__ADS_2