Seorang Bintang

Seorang Bintang
Tujuhpuluhempat


__ADS_3

Pria bule berkebangsaan Belanda tersebut bernama Edward, jika dia bukan tamu undangan keluarga ku, pasti dia tamu dari keluarga Deva,


Pria itu memeluk Deva agak lama, aku agak risih melihatnya,


"thats good idea Dev" bisik pria bule tersebut pada Deva, Deva hanya diam mematung


Setelah melepas pelukannya, Edward beralih padaku, dia hampir saja memelukku tapi di cegah dengan cepat oleh Deva,


"oh sorry! stay calm Dev!" ujarnya pada Deva lalu mengurungkan niatnya untuk memelukku, dia malah menyalami tanganku dan berkata,


"selamat ya beb, atas pernikahanmu dengan Dev!" ucapnya yang membuatku terperangah, ternyata dia bisa berbahasa indonesia dengan lancar.


"oh ya.. terimakasih Edward!" jawabku setelah sadar dari keterperangahan sesaat ku.


"semoga pernikahan kalian langgeng selamanya!" ucapnya lagi sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.


Aku hanya tersenyum kecut menanggapinya.


Setelah menyalami kami berdua, Edward turun dari pelaminan dengan sesekali melirik ke arah Deva, entah apa arti lirikan tersebut.


Aku yang merasa penasaran, bertanya pada Deva dengan setengah berbisik,


"apakah Edward itu temanmu?" tanyaku pelan di telinganya.


"ya.." jawabnya singkat tanpa menoleh padaku.


"oh..." aku hanya ber oh ria saja menanggapi jawabannya.


Sedang sibuk menyalami para tamu undangan, mataku tak sengaja menangkap sosok Pandu di antara kerumunan para tamu undangan, dia menganggukkan kepala ke arahku dan tersenyum, aku membalas anggukannya dan tersenyum.


Setidaknya aku tidak ingin hubungan kami memburuk setelah perceraian walau sejujurnya aku masih sakit hati bila mengingat perlakuannya padaku, masih ada Mela yang membutuhkan kasih sayang ayah kandungnya.


Aku tidak pernah membatasinya untuk bertemu dengan Mela, dia berhak juga atas putrinya tersebut, tidak seperti yang dilakukan oleh Lala, mantan selingkuhan Pandu yang sempat menjadi istrinya setelah bercerai denganku, Lala tidak mengijinkan Pandu untuk bertemu Zidan, putra mereka.


Acara pun usai ketika waktu telah menunjukkan pukul 11 malam, kakiku rasanya kaku karena lelah berdiri apalagi dengan high heels yang agak tinggi.


Aku dan Deva turun dari pelaminan, berpamitan pada seluruh orang yang masih berada di sana untuk meminta ijin masuk ke kamar lebih dulu, aku benar benar merasa lelah dan mengantuk.


Melihatku berjalan perlahan, Deva lalu berinisiatif untuk menggendongku, wajahku langsung bersemu merah karena Deva menggendongku di depan banyak orang,

__ADS_1


"Deva.. turunkan aku, aku bisa jalan sendiri!" kataku sambil menepuk lengannya.


Deva tak menanggapi ucapan ku, dia terus saja berjalan melewati orang orang di sana dan segera membawa ku ke kamar, aku hanya bisa pasrah ketika dia tidak menanggapi ku.


Sampai di kamar, Deva segera membaringkan tubuhku di ranjang, membantuku melepas high heels yang sedari tadi menyiksa kaki ku.


"eh.. biar aku saja!" kataku mencegahnya membuka heels ku, dia tetap saja meneruskan kegiatannya tanpa bersuara.


Aku kembali hanya bisa pasrah karena lagi lagi dia tak menanggapi ucapan ku, setelah heels terlepas, di basuh nya kakiku dengan air hangat, nyaman sekali rasanya, membuat suasana hatiku menjadi rileks.


"seharusnya aku yang melakukan ini padamu!" kataku pada Deva, lalu Deva mendongak dan menatapku,


"kau sekarang sudah sah menjadi istriku, aku harus selalu membuatmu nyaman berada di sisiku!" sahutnya.


"aku selalu nyaman berada di sisimu!" jawabku.


"apa kau lelah?" tanyanya.


"iya sedikit...!" jawabku.


"ganti lah pakaianmu dan segera lah tidur!"


Aku bergegas ke kamar mandi untuk mengganti pakaian dan mencuci wajahku yang lengket oleh make up.


Rasanya fresh sekali setelah mencuci muka, saat keluar dari kamar mandi, ku lihat Deva tengah berdiri di depan jendela kamarku yang terbuka, seolah sedang memikirkan sesuatu, entah apa, bahkan dia belum mengganti pakaiannya.


aku mendekatinya dan menepuk bahunya perlahan, dia tersentak, sepertinya aku sudah membuyarkan lamunannya,


"apa yang kau pikirkan?" tanyaku setelah Deva menoleh padaku.


"ah tidak.. hanya masalah kantor saja!" sahutnya dengan nada datar, aku merasa dia sedang berbohong padaku.


"masalah kantor? ada apa dengan kantor?" tanyaku lagi.


"hanya masalah kecil saja!" sahutnya sambil memegangi kedua bahuku.


Deva mendekatkan wajahnya dan mencium keningku sekilas,


"tidur lah duluan, aku masih ingin disini, setelah membersihkan diri aku akan menyusul mu!" ucapnya.

__ADS_1


"baiklah..." sahutku, aku memang benar benar merasa lelah sekali dan ingin segera merebahkan diri di ranjang.


Tak butuh waktu lama, aku pun terlelap, entah kapan Deva naik ke ranjang, ketika adzan subuh berkumandang, aku sudah melihatnya tidur memunggungi ku.


Aku bangun untuk melaksanakan shalat subuh, aku ingin membangunkan Deva untuk mengajaknya shalat berjamaah namun wajahnya terlihat sangat kelelahan sehingga aku tidak tega membangunkan nya.


Barulah setelah aku selesai shalat, aku berniat membangunkannya, bagaimana pun lelahnya raga ini, shalat tetaplah menjadi kewajiban yang tak boleh di lewatkan.


"Deva.. bangun lah!" kataku perlahan sambil mengguncang pelan bahunya, Deva tak bergeming, tidurnya sangat pulas.


Aku kembali membangunkannya, sampai dia menggeliat dan mengerjapkan matanya perlahan,


"ada apa?" katanya dengan mata setengah terbuka.


"sudah waktunya shalat subuh!" kataku.


"oh... ya sebentar lagi, aku baru saja terlelap sejam yang lalu!" sahutnya.


"tapi waktu subuh tidak banyak.. shalat lah dulu dan setelah shalat kau bisa tidur lagi!" ucapku dengan lembut.


Deva bangkit tanpa menjawab, dia langsung ke kamar mandi dan shalat dengan cepat, selesai shalat dia langsung naik ke ranjang dan menarik selimut sampai menutupi hampir seluruh tubuhnya.


Lalu aku ke dapur untuk membantu mamah dan bik Sani menyiapkan sarapan pagi.


"wah pengantin baru.. sudah bangun?" goda mamah.


"apaan sih Mah.." sahutku malu malu, mungkin mamah berpikir aku dan Deva telah melewatkan malam yang panas semalam, padahal kenyataannya kami berdua kelelahan dan tertidur dengan pulas.


"biasanya pengantin baru tuh ga usah keluar kamar!" ujar mamah lagi.


"ya Allah Mah, kenapa emangnya ga boleh keluar kamar? Dara kan bukan tahanan Mah!"


"pastinya semalam kamu kelelahan, dan sekarang waktunya untuk istirahat!" ujar Mamah dengan nada menggoda, membuat wajahku bersemu malu.


"apaan sih Mah!!!" kataku lalu memilih masuk kembali ke dalam kamar.


Tapi untuk apa aku di kamar? Deva saja masih tertidur dengan pulas nya,


⏺⏺⏺⏺⏺⏺⏺

__ADS_1


__ADS_2