Seorang Bintang

Seorang Bintang
Enampuluhempat


__ADS_3

Aku kembali ke ruangan Cika dan mendapatinya sedang menjilati tangannya yang belepotan bumbu rujak.


"astaga bumil, udah abis rujaknya?" tanyaku terperangah.


"hehe.. iya, malah kurang!" sahutnya sambil nyengir kuda.


"untung aja aku beliin dua bungkus!" sahutku.


"hehe.. kamu memang pengertian banget zheyeenk!!" jawab Cika lalu ingin memelukku.


"eits.. ga usah peluk, tangan kamu kotor tuh!" ucapku sambil menghindari pelukannya.


"ya deh.. pokoknya makasih ya Dara, kamu sellau bisa di andelin!" ucap Cika senang.


"jangan sering sering juga kali, bisa di pecat aku sama kakak ipar mu!" sahutku.


"hahaa.. ya ga mungkinlah.. kamu kan karyawan kesayangan nya!" jawab Cika sambil tertawa.


"kesayangan apaaan! lebay!" sahutku ketus.


"eh beneran kok!"


"ah udah ah.. aku mau balik ke kantor dulu!" pamit ku.


🎃🎃🎃🎃🎃🎃


Untung saja aku sampai di kantor tepat waktu, aku menormalkan nafasku yang ngos ngosan karena berlari dari parkiran ke ruanganku.


"kamu darimana? kenapa ngos ngosan gitu?" tanya pak Deva yang kebetulan lewat di depan ruanganku.


"eh pak Deva, dari kantornya Cika pak!" sahutku sambil berdiri dan memberinya hormat.


"oh, pasti dia lagi pengen sesuatu!" kata Pak Deva berusaha menebak.


"hehe... iya pak, suaminya lagi piket jadi minta tolong sama saya deh!" jawabku sambil terkekeh garing.


"fase ngidamnya luar biasa banget! oh ya, makasih ya!" jawab pak Deva.


"makasih? buat apa pak?" tanyaku.


"ya karena sudah jadi sahabat siaga buat adik ipar ku yang bawel itu!" jawab Pak Deva.


"hihi... gapapa lah pak, Cika juga sahabat saya dan saya pernah di posisi Cika jadi ngerti banget sama perasaan Cika sekarang!" sahutku asala nyerocos.


Sedetik kemudian wajahku berubah sendu, mengingat masa laluku yang pahit.


Suasana hening seketika, aku menundukkan kepalaku sedang pak Deva tak berani bersuara, karena takut salah bicara.


krucukkk...krucuukk..


Perutku berbunyi, sepertinya para cacing didalam sana lupa aku beri makan, karena asyik mengobrol dengan Cika dan Beno.


Wajahku merona menahan malu pada pak Deva, aku menepuk pelan perutku agar tak berbunyi lagi.


Aku melirik pak Deva dan melihatnya tersenyum melihatku.



"kamu belum makan siang?" tanya pak Deva padaku.


"em.. belum pak, saya lupa!" jawabku sambil menggaruk pelipis ku.


"urusan orang lain kamu ga lupa, tapi urusan perut sendiri kamu lupain!" sahutnya.


"iya pak!" sahutku tidak enak hati.

__ADS_1


"ayo ikut ke ruangan saya!" ajaknya.


"bu..buat apa pak?"


"kamu lapar kan?" tanyanya.


Aku hanya mengangguk malu malu,


"di ruangan saya ada stok makanan, buat ganjel perut kamu!"


"eh.. ga perlu pak.. makasih!"


"ini perintah atasan!" sahutnya tidak ingin di bantah.


Aku terpaksa mengikuti pak Deva ke ruangannya, sampai di sana pak Deva mengeluarkan isi kulkas mininya, ada Pizza, Roti, Susu, Coklat, Pia dll, membuat perutku semakin lapar melihatnya.


"makanlah sesukamu, jika mungkin, habiskan!" titahnya.


Aku mengambil sepotong pizza dan susu coklat kotak, lalu hendak keluar dari ruangan itu, tapi di cegah oleh pak Deva.


"mau kemana?" tanyanya padaku yang bersiap keluar.


"mau ke ruangan saya pak!" sahutku dengan tampang bodoh.


"kamu mau di potong gaji karena ketahuan makan di dalam ruangan kerja?" ucapnya.


ya Tuhan, aku lupa jika tidak boleh makan di dalam ruangan kerja, melanggar etika perusahaan! batinku.


"saya makan di toilet aja pak!" jawabku spontan.


"mau berbagi sama hantu toilet?" ucapnya lagi membuatku melotot ngeri.


"emang di toilet ada hantunya pak?" tanyaku setengah berbisik sambil celingukan.


"mana aku tahu! duduk lah dan habiskan makananmu disini, ruangan ku aman, tidak ada Cctv yang mengintai mu disini!" ujarnya.


Dengan terpaksa, aku mengunyah makananku di sana, di hadapan bos ku, gila kebayang ga sih groginya aku saat ini?? makan sambil di lihatin big bos!!!


Aku makan dengan cepat lalu bergegas meninggalkan ruangan pak Deva, muka ku pasti sudah mirip kepiting rebus sekarang karena menahan malu, apalagi pak Deva senyum senyum melihatku makan dengan cepat dan lahap.


Setelah bebas diluar, aku mengatur nafas kembali dan berusaha menormalkan degup jantungku yang tak beraturan.


🎈🎈🎈🎈🎈🎈


"mamih mamih..." panggil Mela ketika aku sedang duduk santai di depan TV.


"apa sayang?" jawabku.


"tadi papi ke sekolahku!" kata Mela, aku otomatis terkejut.


"papi? sama siapa? ngapain?" tanyaku bertubi tubi karena kepo.


"katanya papi kangen sama Mela, papi sendirian, pake masker gitu mih!" cerita Mela.


"papi kan aktor nak, wajar lah nutupin mukanya pake masker, takut ada yang ngenalin mungkin!" jawabku.


"oya sih mih, tapi papi agak aneh gitu, masak pas ngobrol, celingukan terus! Mela jadi ga fokus cerita cerita sama papi!"


"resiko punya papi aktor! sabar ya!" sahutku sambil tersenyum manis.


Mela hanya manggut manggut tidak jelas.


"oiya gimana di sekolah baru? betah sayang?" tanyaku.


Mela langsung antusias bercerita tentang kegiatannya di sekolah baru, sepertinya dia menyukai sekolah barunya, aku pun ikut senang jika Mela senang.

__ADS_1


♥♥♥♥♥♥


Mas Beno is calling.....


Aku menerima panggilan mas Beno,


"Hallo, ada apa mas?" tanyaku langsung.


"Hallo Dar, gimana? udah kamu pikirin belum tawaran ku tempo hari?" tanya Mas Beno.


"jadi model?" tanyaku.


"iya zheyenk... gimana? mau ya!" bujuknya.


"em.. gimana ya.. aku kan harus kerja juga mas Ben, aku ga bisa ngatur waktunya!" jawabku.


"masalah waktu, nanti aku bicarakan sama Deva!" sahutnya dengan santai.


"eh.. kok malah bawa bawa pak Deva sih!" ujar ku tak suka.


"Deva kan bos kamu Dar! aku mau minta ijin sama dia, pinjem kamu bentar setiap ada pemotretan!" katanya.


"jangan deh, malu tau!"


"aku yang ngomong, kenapa kamu yang malu! udah ih tenang aja, serahin semuanya sama mas Beno, kamu cuma bilang iya aja!"


"terserah mas Beno aja deh!" sahutku pasrah.


Sepulang kerja, pak Deva memanggilku ke ruangannya,


"ada apa lagi ya" gumam ku dalam hati.


Tok..tok..


Aku mengetuk pintu perlahan, setelah di ijinkan, aku langsung masuk dan menghadap pada pak Deva,


"bapak manggil saya?" kataku.


"iya, kata Beno kamu mau kembali ke dunia model lagi?" tanyanya.


"aduh mas Beno!" umpat ku dalam hati.


"em.. bukan saya pak yang mau kembali tapi mas Beno yang maksa!" jawabku dengan jujur.


"sudah ku sangka, pasti Beno yang maksa!" ucapnya.


"gapapa pak, kalau bapak ga kasih ijin,saya batalin aja ke mas Beno!" jawabku dengan cepat.


"aku ga berhak melarang kamu untuk melakukan bakat kamu!"


"tapi pak..." Pak Deva memotong ucapan ku.


"selama kamu bisa memanage waktu dengan baik antara di kantor dan di agensi!"


"aap..apaa pak?? jadi bapak ngijinin saya?" tanyaku tak percaya.


"iya..." sahutnya.


"wah makasih banyak pak, tapi beneran bapak ikhlas saya mendua?" ucapan Dara terdengar ambigu di telinga Deva, membuat Deva mengernyitkan keningnya,


"eh maksud saya menduakan pekerjaan pak, bekerja di dua tempat sekaligus, gitu maksud saya!" sahutku membenarkan kata kataku tadi.


Pak Deva hanya tersenyum dan memberi anggukan kepala tanda setuju, aku pun tak kalah senang mendapat ijin darinya.


â™ â™ â™ â™ â™ â™ 

__ADS_1


__ADS_2