
Setahun berlalu begitu cepat....
Semenjak perceraian ku dengan Pandu, aku kembali menyibukkan diriku dengan bekerja dan bekerja, aku melamar sebagai staf keuangan lagi di perusahaan milik pak Deva, tentu saja pak Deva menerimaku dengan senang hati.
Karena track record ku selalu bagus tanpa cela selama bekerja di perusahaannya, bahkan pak Deva langsung mengembalikan posisiku yang dulu, menjadi kepala staf keuangan.
Tentu saja aku sangat senang, di saat yang lain susah mencari kerja, disini aku malah bisa mendapatkannya dengan mudah bahkan dengan jabatan yang sangat menggiurkan.
"apa kau senang kembali menjadi staf ku?" tanya pak Deva yang ternyata sudah setahun ini memilih tinggal di kota ini bersama sang mamah dan adiknya, Dr Rendra.
"tentu saja saya senang pak!" sahutku tanpa ragu.
"baguslah kalau begitu! aku percaya pada kemampuanmu!" ucapnya lagi.
"terimakasih karena masih mempercayai kemampuan saya!" jawabku senang.
"kau memang sangat mumpuni, aku tidak pernah meragukan kemampuanmu sejak dulu!" pujinya.
"jangan terlalu banyak memuji saya, nanti saya bisa terbang ke langit pak!" sahutku setengah bercanda.
"haha.. kau bisa saja! apakah mungkin kau memang berasal dari langit?" pak Deva malah menggodaku.
"haha.. bapak bisa aja!" sahutku dengan tawa renyah.
Deva Mahendra
Beruntungnya aku bisa mengenal pak Deva, walau ada campur tangan dari Dr Rendra sih, mungkin juga Pak Deva mempercayaiku karena aku adalah teman dari adiknya.
⛔⛔⛔⛔⛔⛔
Banyak kejadian di tahun berat yang aku lalui, Dr Rendra dan Cika sudah menikah beberapa bulan yang lalu bahkan sekarang Cika tengah mengandung, tapi dia masih saja bekerja dengan alasan suntuk jika berdiam diri di rumah terus.
Dr Rendra terpaksa mengijinkannya, jika tidak maka Cika akan ngambek berkepanjangan, mungkin efek dari kehamilannya, Cika mudah marah dan tersinggung bahkan dia bisa menangis secara tiba tiba, aneh sekali memang wanita hamil ini, Dr Rendra yang ekstra sabar saja hampir kewalahan menghadapinya.
Sedangkan Pandu, dia sudah menikah lagi, tentu saja dengan Lala, bahkan anaknya baru saja lahir sebulan setelah pernikahan Dr Rendra dan Cika.
Jika melihat pemberitaan di TV, pernikahan mereka bahagia di tambah lagi dengan kehadiran bayi tampan dalam pernikahan itu membuat kebahagiaan semakin komplit, aku sakit hati dan iri melihat kebahagiaan mereka, namun aku tidak bisa berbuat apa apa selain mengumpat dalam hati, hihi...
Sebenarnya aku juga sudah move on dan merelakan Pandu, aku juga merasa cukup bahagia bersama Mela, mamahku dan orang orang
terdekatku yang selalu peduli padaku.
__ADS_1
Mela tahun ini masuk ke bangku sekolah dasar, senang senang gimana gitu, di usiaku yang belum genap 30 tahun, aku sudah memiliki seorang anak yang duduk di bangku SD. ketika berjalan dengan Mela, banyak yang menyangka bahwa kami kakak beradik, dan itu membuat Mela merasa jengah.
"ish masak Mela di sangka adiknya mamih? berarti muka Mela tua donk?!" sungutnya karena kesal.
"bukan gitu sayang! mereka cuma iseng aja kok! masak wajah cantik begini di bilang tua!" ucapku menenangkan Mela.
Mela tumbuh menjadi anak yang sangat cantik, tubuhnya bongsor menurun dari gen ayahnya, sehingga dia terlihat lebih menonjol dari teman temannya.
Aku mencurahkan seluruh kasih sayangku padanya, aku pun tak pernah menghalangi Pandu untuk bertemu dengan Mela, namun Pandu memang jarang menemui Mela, usut punya usut, Lala tidak mengijinkan Pandu untuk sering bertemu dengan Mela.
Suatu hari Mela pernah menginap di rumah Pandu, di sana Mela di perlakukan tidak baik oleh Lala yang notabene adalah ibu tirinya, Mela menceritakan sifat Lala yang jahat dan kasar padaku sehingga aku tidak pernah mengijinkan Pandu untuk membawa Mela menginap di rumahnya lagi.
Dan kini, Pandu sudah jarang menemui Mela lagi, bahkan dia tidak mengirim jatah bulanan lagi untuk Mela, aku tidak mempermasalahkannya karena sejak awal aku memang sudah menolak uang dari Pandu, aku masih mampu mencukupi kebutuhan Mela.
Dan inilah hidupku kini, Janda kembang beranak satu, hehe..
⭕⭕⭕⭕⭕⭕
Jam istirahat kantor, aku mengunjungi Cika di kantor agensi milik mas Beno, karena tadi Cika meneleponku dan minta tolong untuk membelikannya rujak buah.
"kenapa kamu malah telepon aku? suami kamu kemana?" ucapku setengah bercanda sambil memberikan kantong berisi rujak buah sesuai pesanannya.
"ish!! pengen banget ya? mukanya sampe mupeng gitu!" sahutku.
"aku udah dari semalem pengen, sampe ngeces ngeces gitu rasanya!!" jawabnya sambil membuka bungkusan rujak buah.
"terus? kenapa ga minta sama Dr Rendra?" tanyaku heran.
"dia sibuk, semalem ada operasi mendadak, sampai sekarang dia belum pulang karena lanjut piket!" jawab Cika dengan wajah lesu.
"oh pantesan, karena dia biasanya kan selalu siaga!" ucapku.
"siaga apaan? malah lebih siaga kamu daripada dia!" sungut Cika sambil mengunyah mangga muda.
Aku melihatnya saja sudah merasa ngilu di gigi, seolah ikut menggigit mangga muda tersebut.
"wajar dong, itu sudah jadi resiko karena menikah dengan dokter hebat! jadwalnya padat!" ujar ku.
"iya sih!" sahut Cika yang mulai fokus dengan rujak buahnya.
Aku berkeliling kantor dan melihat lihat, ternyata tidak banyak yang berubah disini, hanya karyawan saja yang bertambah jumlahnya, Agensi milik Beno sangat maju pesat selama beberapa tahun terakhir.
__ADS_1
Di tambah lagi dengan kehadiran Kate, kekasih bule Beno, Beno juga mengorbitkan Kate menjadi modelnya, kini mereka berkolaborasi bersama untuk memajukan Agensi tersebut.
"Dara...." seru Beno lalu langsung memelukku.
Aku sempat gelagapan karena mendapat pelukan tiba tiba dari Beno.
"aduh mas Beno, kebiasaan deh!" kataku setelah Beno melepas pelukan singkatnya.
"ih Dara...kangen deh!!!" ucapnya sambil mencubit pipiku dengan gemas.
"aku juga kangen sama mas Beno!" seruku sambil mengusap pipiku.
"kamu apa kabar? ngapain disini?" tanyanya.
"alhamdullilah aku baik mas! aku kesini karena di telepon Cika!" jawabku.
"duh, apalagi tuh maunya si bumil!" gerutu Beno membuatku tertawa geli.
"hihi.. emangnya kenapa mas?" tanyaku.
"tiap hari ada aja yang dia pengen, sampe aku pun di suruh suruh sama dia!" ucap Beno.
"hehe.. sabar mas ngadepin bumil! itung itung buat calon keponakan juga!" kataku sambil terkekeh.
"iya itu, kalau ga inget keponakan, aku mah ogah di repotin sama dia!" omel Beno.
Aku kembali terkekeh karenanya.
"ssst... jangan ngomong gitu mas, ntar Kalo Kate hamil, ngidamnya lebih parah dari Cika lho!! baru tahu rasa mas Beno!" kataku mengejeknya.
"wah amit amit Dar!" sahut mas Beno mengetuk kepala sendiri sebanyak tiga kali, entah apa tujuannya.
"ya udah deh mas, aku mau ke ruangannya Cika dulu soalnya aku harus balik ke kantor lagi!" pamit ku.
"hadeh buru buru banget sih! eh Dar, jadi model lagi dong, mas Beno kangen sama foto fotomu!" ucapnya spontan.
Membuatku tertawa karena lucu,
"aduh mas.. Dara udah tua, udah ga cocok di depan kamera!" sahutku.
"kata siapa? coba dulu lah!" sahutnya.
"ya nanti Dara pikir pikir lagi deh!" jawabku lalu bergegas ke ruangan Cika.
__ADS_1
➕➕➕➕➕➕