
Mamah Mia dan Mamah Bela sedang berdiskusi membicarakan tentang rencana pernikahanku dengan Pandu, belum juga deal masalah tanggal, media sudah duluan memberitakannya di TV, membuat kabar jadi simpang siur,
"sungguh, aku ingin sedikit privasi untuk acara pernikahanku" keluhku pada Pandu.
"apa kau merasa tidak nyaman?"
"sedikit..." sahutku dengan malas.
"tapi Media sudah banyak yang tahu tentang rencana pernikahan kita!"
"huh..darimana media bisa tahu sedangkan kita saja belum menentukan tanggal yang pasti!"
"namanya juga media, mereka bisa membuat gosip menjadi fakta dan begitupula sebaliknya!"
"huuh..." lenguh ku.
"apa kau mau kita menikah secara tertutup diluar negeri?" saran Pandu.
"di luar negeri? ga ah, mending disini saja, ga ada nuansa sakral nya kalo kita melaksanakannya diluar negeri, tidak sesuai dengan tatanan budaya kita!" jawabku.
"baiklah.. kalo kau bersikukuh untuk menikah disini, mau ga mau kita harus menerima media untuk meliput acara kita!"
"baiklah aktor tampanku!" sahutku menyerah pada keadaan.
Cuph...
Pandu mengecup bibirku sekilas lalu memberikan senyuman manisnya membuatku mabuk kepayang, haha...
Setelah berdiskusi panjang, akhirnya mereka semua sepakat untuk melaksanakan akad dan resepsi di hari yang sama, yaitu bulan depan.
Segala persiapan dilakukan mengingat acara pernikahan ini akan diliput oleh media.
Pandu memilih hotel berbintang sebagai tempat resepsi, sedang akad akan dilakukan di rumah ku sendiri.
Sampai tiba saatnya aku melakukan prosesi pingitan, dimana calon pengantin wanita tidak di perbolehkan bertemu dengan calon pengantin pria sampai proses akad dilaksanakan.
"Adat yang aneh.. mana bisa aku sehari tanpa melihat wajahmu!" keluh Pandu via telepon.
"bertahan lah hanya sampai besok pagi dan mulai besok setelah akad, kau bisa menatap wajahku sepanjang sisa hidupmu!" jawabku.
"sekali saja, video call yuk!" ajaknya dengan setengah memaksa.
"sekali ga boleh ya ga boleh sayang!" jawabku dengan tegas.
"huh.. tak akan ada yang tahu meskipun kita video call an sampai pagi!"
"melanggar tradisi, sama saja mengharap kejadian buruk terjadi pada pernikahan kita!" kataku.
"astagfirullah, apa yang kau katakan sayang!!!" sungut Pandu tak suka.
"ya maka dari itu, jangan berani berani melanggar tradisi!"
"ya ya.. aku tidak akan melanggarnya!" sahutnya terdengar kesal di telingaku.
__ADS_1
"ya sudah.. sebaiknya kau istirahat sekarang, jangan sampai kesiangan besok!"
"bahkan aku tidak mengantuk sama sekali sayang, malam ini terasa lama sekali!" keluhnya.
"tidur lah.. aku tidak mau melihat wajahmu kusut di hari bahagia kita!"
"siap nyonya.. akan aku usahakan, love you sayang!"
"love you too honey!" jawabku lalu menutup telepon dan segera beristirahat karena sudah pasti hari esok terasa berat dan butuh tenaga ekstra.
"lancarkan lah segala urusan kami ya Rabb..." pintaku dalam hati.
🔒🔒🔒🔒🔒🔒
Sampai pada hari yang kami tunggu dan mungkin semua fans Pandu juga tengah menunggu, hehe..
Pandu mengucapkan ijab qobul dalam satu tarikan nafas, alhamdulillah lancar sesuai harapan kami semua dan kini aku telah sah menjadi istri dari Pandu, sekarang saatnya kami di pertemukan setelah dua hari menjalani proses pingitan.
Aku sedikit gugup saat berjalan menuju meja akad, di sana sudah ada Pandu yang menunggu ku dengan senyum bahagia di wajahnya, aku pun tak kalah bahagia dengannya,
Pandu menyambut ku dengan uluran tangan nya,
"welcome to my life, my wife" ucap Pandu lalu mencium keningku dan memakaikan cincin berlian di jari manis ku,
"thank you my husband" jawabku, lalu menyalami tangannya, setelah itu kami menanda tangani beberapa berkas pernikahan.
Semua rangkaian acara telah selesai di laksanakan, saatnya istirahat karena nanti malam, acara resepsi siap di gelar dengan tamu undangan yang jumlahnya fantastis, maklum saja keluarga Pandu merupakan keluarga besar dan juga banyaknya kolega yang dimiliki Pandu sebagai seorang publik figur.
"alhamdulillah akhirnya selesai juga" kataku setelah kami berada di kamar.
"haha.. apakah segugup itu dirimu? padahal kau sudah sering mengucapkannya dalam naskah film atau sinetronmu!"
"kalau itu kan hanya akting sayang, nah yang ini?? nyata terjadi dalam hidupku dan aku tidak boleh salah sepatah katapun, kalau sampai salah, aku harus menunggu lagi untuk menjadikanmu istri!" ucapnya.
"hihi... tapi tadi kau lancar sekali, tanpa cela sedikitpun!" kataku lalu memeluknya dari belakang.
Pandu mengusap lembut tanganku yang melingkar di perutnya.
"aku bahagia sayang" ucap Pandu lalu membalikkan tubuhnya menghadap padaku.
"aku juga sangat bahagia, akhirnya kita bisa bersatu" ucapku lalu mengecup bibir Pandu sekilas.
"wah.. kau mulai berani ya!" kata Pandu
"aku memang pemberani!" sahutku.
"ayo kau yang mulai jika memang kau pemberani!" tantang Pandu.
"kau menantang ku?" tanyaku.
"tentu saja!" jawab Pandu yang sudah merebahkan tubuhnya di ranjang pengantin kami.
"siapa takut!" kataku lalu melompat ke ranjang dan menindih tubuhnya yang masih berpakaian lengkap.
__ADS_1
Kami memulainya dengan berciuman mesra, lama lama ciumannya menuntut dan membuat tubuhku terasa panas.
"apa kau sudah mengunci pintu?" tanyaku yang masih setia berada di atas tubuh Pandu.
"sudah.." jawab Pandu dengan suara parau nya, sepertinya Pandu sudah terbakar nafsu,
Tak mau membuang waktu, Pandu membalikkan posisi kami, sekarang dia yang berada di atas ku,
"boleh aku lakukan sekarang?" tanyanya dengan suara yang makin serak.
Aku hanya menganggukkan kepala, tak butuh waktu lama, Pandu sudah melucuti seluruh pakaianku dan pakaiannya sendiri.
Walau tak bisa disebut sebagai yang pertama, tapi kami begitu menikmati penyatuan tubuh kami berdua sampai peluh mulai membasahi sprei ranjang pengantin kami.
Entah berapa kali Pandu menggagahi ku, sampai akhirnya dia terkapar di sebelahku dengan senyum tersungging di bibirnya.
"terimakasih sayang" ucapnya sambil mengusap kepalaku.
Aku yang masih berusaha mengatur nafas hanya bisa mengangguk pelan, dan akhirnya kami tertidur pulas setelah bertempur beberapa jam lamanya.
Beberapa jam kemudian..
Suara ketukan pintu kamar membangunkan ku yang masih polos tanpa pakaian,
"iya sebentar" kataku sambil memunguti pakaian yang berserakan di lantai.
Sebelum membuka pintu, aku menutupi tubuh polos Pandu dengan selimut,
"Dar.. periasnya sudah datang, sebaiknya kau bersiap siap!" ucap Mamahku yang menggedor pintu kamarku tadi.
"iya mah.. ini juga Dara mau mandi!" jawabku, aku membuka pintu sedikit agar Mamah tidak melihat kondisi kamar kami yang sudah berantakan akibat pergulatan panas tadi.
"buruan ya.. Pandu juga suruh siap siap!"
"iya mah!" sahutku lalu menutup pintu kembali.
Aku menghampiri Pandu yang masih tertidur dengan begitu pulas nya.
"sayang.. ayo bangun.. sudah waktunya bersiap siap" kataku sambil mengguncang pelan tubuhnya.
"ehmmm... bentar lagi sayang, masih ngantuk!" jawabnya dengan mata terpejam.
"buruan sayang.. apa kamu mau aku cari pengantin pengganti?" kataku berusaha menggodanya.
Pandu langsung melotot sempurna ke arahku, aku pun tertawa melihat tingkahnya yang menurutku sangat konyol.
"jangan berani berani cari yang lain!" tukasnya lalu terduduk di ranjang sambil mengumpulkan kesadarannya.
"ngapain cari yang lain kalau yang di depan mata sudah begini sempurnanya!" kataku.
"cih... pintar sekali kau merayu!"
"hanya pintar merayu mu saja!" jawabku lalu terkekeh.
__ADS_1
🔨🔨🔨🔨🔨🔨