
Author Pov
Sampai di rumah sakit, Deva langsung di tangani oleh para tim medis di ruang gawat darurat, Dara menanti dengan cemas di depan ruang UGD tersebut.
Mulutnya sibuk melafalkan doa untuk keselamatan Deva,
"Ya Allah selamatkan lah suamiku!" lirih Dara dalam tangisnya.
Berjam jam menunggu, akhirnya dokter keluar juga dan Dara langsung mencecarnya dengan berbagai macam pertanyaan saking khawatirnya pada keadaan sang suami.
"Dok..bagaimana keadaan suami saya?" tanya Dara dengan paniknya.
"apa dia baik baik saja?" lanjut Dara.
"tenangkan diri anda Nyonya.. saya minta maaf sebelumnya, karena Tuan Deva saat ini belum siuman dan kondisinya masih kritis sebab racun sudah menyebar hampir ke seluruh organ vitalnya!" jawab dokter.
Kaki Dara terasa lemas seketika, dia jatuh terduduk di lantai mendengar penuturan sang dokter, Dara kembali menangis bahkan mulai histeris sambil memanggil manggil nama Deva.
"Deva.. sadar lah sayaang.. " racaunya,
Sedang sang dokter hanya bisa melihatnya dengan tatapan prihatin, tim medis sudah melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan nyawa Deva.
End Pov
Aku kini sudah di temani Mamah dan Mamah mertuaku di rumah sakit, sedang Deva sudah di pindahkan ke ruang ICU,
Mamah mertuaku menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Deva, aku mulai bercerita dengan takut takut karena hal ini merupakan Aib bagi Deva,
Tak lama kemudian Rendra dan Cika juga datang ke sana dan segera bergabung dengan kami, lalu aku pun mulai menceritakan semuanya secara perlahan dan mendetail, Rendra sampai ternganga mendengar ceritaku karena semuanya tidak pernah di sangka nya sama sekali sedang Mamah mertuaku, tampak terpukul, Mamah terus saja menangis tidak menyangka bahwa putranya akan terjerumus ke lembah hitam penuh dosa tersebut.
"kamu yang sabar ya Ra!" ucap Cika sambil memelukku.
"aku sudah tidak mempermasalahkan masa lalu Deva lagi Cik, yang aku pikirkan sekarang hanyalah kesembuhan Deva!" sahut Dara dengan air mata yang terus mengalir.
"iya.. sekarang kita sama sama berdoa untuk kesembuhan Deva ya!" ujar Cika berusaha menyemangati ku.
Sementara Rendra tampak menenangkan Mamahnya yang sangat terpukul dengan kenyataan yang baru saja di ungkap oleh menantunya tersebut.
♍♍♍♍♍♍♍
__ADS_1
Sementara Deva masih kritis di ruang ICU, Dara meminta Rendra untuk mengantarnya ke kantor polisi, Dara merasa harus bertemu dan berbicara dengan Edward,
"untuk apalagi kau menemuinya Dar?" tanya Rendra penasaran.
"aku ingin mengatakan sesuatu padanya!" jawab Dara tanpa menoleh pada Rendra, matanya memerah menahan amarah.
"biarlah dia menjadi urusan polisi Dar!" ujar Rendra mengingatkan.
"aku ingin dia mendapat balasan yang setimpal atas segala perbuatannya pada Deva!" sahut Dara dengan garangnya.
Sesampainya di kantor polisi, Dara langsung ke ruang tahanan dimana Edward tinggal, wajah Edward tampak sembab dan berantakan,
Edward melihat Dara datang dan menghampirinya, dengan tatapan horor yang mematikan,
Polisi mengijinkan Edward menemui Dara sebentar di ruang besuk.
"sudah puas kau?" teriak Dara meluapkan segala emosinya.
"bagaimana keadaannya?" tanya Edward dengan suara lesu tanpa menghiraukan teriakan Dara.
"buat apa kau bertanya? apa kau ingin tahu dia sudah mati atau belum hah?" Dara kembali berteriak, Rendra berusaha menenangkan Dara.
"aku tidak berniat membunuhnya!!! yang mau aku bunuh adalah kau!!!! ini semua salahmu!" ujar Edward dengan nada tinggi, bahkan dia menjambak rambut Dara.
"dasar homo psikopat!!! kenapa kau malah menyalahkan aku hah!!" Dara melawan dengan menjambak balik rambut Edward.
Mereka saling jambak dengan emosi yang menggelora, Rendra berusaha melerai namun di tendang oleh Edward hingga dia terjengkang.
Petugas yang melihat kejadian tersebut, segera melerai mereka berdua dan memasukkan Edward kembali ke dalam sel tahanan.
"jangan biarkan dia bebas! buat dia membusuk di penjara!" ujar Dara dengan tatapan penuh kebencian.
Edward pun melotot ke arah Dara, dia juga sangat membenci Dara, karena Dara lah dia jadi terpisah dari Deva dan karena Dara pula lah, Edward berakhir di balik jeruji besi ini.
"hey you... go to hell!!" ucap Edward dengan aksennya yang kental.
"dasar laki laki bejat tak berperasaan!!!!" maki Dara.
Rendra tidak menyangka jika Dara bisa sebrutal ini, berbeda jauh dengan Dara yang sebelumnya yang tampak tenang dan bersahaja.
__ADS_1
"Dara, kendalikan dirimu! jangan mengumpat sesuka mu! polisi bisa menahan mu atas perlakuan tidak menyenangkan!" ujar Rendra mengingatkan, Dara akhirnya menarik nafas dalam dalam untuk meredam emosinya.
Sebelum dia meninggalkan tempat itu, Dara kembali menghampiri Edward dan berkata,
"sadar kan dirimu dan buka matamu lebar lebar!!!! kau laki laki dan Deva pun sama, ada atau tidak adanya diriku, hubungan kalian tidak akan pernah bertahan karena itu merupakan hal yang mustahil! bukan kodrat mu menyukai sesama laki laki!!!! semoga kau bisa segera sadar setelah merasakan dinginnya ruangan di balik jeruji besi ini!" ucap Dara dengan penuh penekanan.
Edward tidak menanggapi dan hanya meludah ke kaki Dara, Dara berhasil menghindarinya dan hendak berlalu dari hadapan Edward,
"camkan itu laki laki bastard!!!! selamanya kau tidak akan pernah bisa bersatu karena hubungan kalian terlarang jadi sebaiknya kau jangan memaksakan diri!!!" sambung Dara.
♑♑♑♑♑♑♑
"ternyata kau sangat mengerikan jika sedang marah!" ujar Rendra ketika mereka sudah di dalam mobil.
"mengerikan? benarkah?" tanya Dara sambil tertawa masam.
"iya, bahkan kau berani membalas perbuatan pria bule bertubuh kekar itu!" sahut Rendra sambil bergidik ngeri.
"apa kau tak merasa geram melihatnya? dia lah yang telah menjerumuskan Deva!!"
"tentu saja aku geram namun apa yang bisa aku perbuat? dia sudah di penjara dan akan segera di jatuhi hukuman atas segala perbuatannya!"
Dara tidak menanggapi ucapan Rendra, dia hanya diam dan tampak sedang memikirkan sesuatu,
"heh... apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Rendra setelah melihat ekspresi Dara.
"seberapa besar kemungkinan Deva untuk pulih?" tanya Dara pada Rendra.
"kita sama sama berdoa saja, semoga kakak lekas pulih! kondisinya memang kritis namun kita kembalikan lagi pada ketetapan yang kuasa Ra!" jawab Rendra berusaha menenangkan Dara.
Dara mulai menangis memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi pada Deva, dia tidak akan sanggup untuk kehilangan Deva kali ini, Dara sudah terlanjur mencintainya.
"tenangkan dirimu Dar, semua akan baik baik saja, tim dokter sedang mengusahakan yang terbaik untuk menyelamatkan nyawa kakak!"
"aku tak sanggup membayangkan hidupku tanpa Deva!" lirih Dara dalam tangisnya.
"hush.. sebaiknya kau jangan bicara sembarangan Ra! kata kata adalah Doa! apa kau lupa?"
"astagfirullah!" Ara langsung sadar dan mengucap istighfar.
__ADS_1
♓♓♓♓♓♓♓