Seorang Bintang

Seorang Bintang
Tigapuluhsembilan


__ADS_3

Beberapa hari dirumah, kondisiku semakin membaik, dan hari ini aku mendengar kabar jika Pandu telah siuman, ingin sekali aku menjenguknya namun perkataan mamah Mia tempo hari membuatku takut untuk kesana, sampai pada akhirnya karena penasaran aku meminta bantuan Dr Rendra untuk mengambil gambar Pandu.


"dok... bisakah kau memotret Pandu? aku ingin memastikan kalau dia sudah baik baik saja" kataku via telepon.


"aku usahakan ya...mungkin nanti saat jam berkunjung aku akan ke kamarnya"


"terimakasih dok.. kau tak pernah menolak permintaanku" kataku senang.


"kau meminta nyawaku sekalipun, aku pasti akan memberikannya" jawabnya sambil terkekeh.


"aku tidak akan meminta nyawamu, karena aku ingin kau tetap hidup dan selalu menjagaku" ucapku dengan tulus.


"aku akan selalu ada untukmu.."


"terimakasih..."


Aku menanti dengan penuh harap,


"semoga Dr Rendra bisa mendapatkan fotonya" doaku dalam hati.


Ting....


Ponselku berbunyi, aku langsung mengambilnya dan membuka isi pesan dengan terburu buru,


Saat aku buka, Dr Rendra malah mengirim fotonya sendiri, dia sengaja menggodaku!



"Kau sudah tak sabar menantikan pesan dariku ya??? hahahaha...sabar ya.. aku baru saja keluar dari ruang operasi" itulah isi pesannya, membuatku geram, arrghh....


"ahhhh... " balasku singkat.


"kenapa? apa aku terlihat sangat tampan? sampai sampai kau harus berteriak gemas begitu?" godanya lagi.


"ya tampaaaaan..... tolong selesaikan segera tugasmu sebelum aku marah dan tak membalas pesanmu lagi." balasku penuh penekanan.


"siaaap cantikkk, kau gampang sekali marah.." balasnya.


Aku hanya senyum senyum sendiri membaca balasan darinya, sungguh dokter tampan yang satu ini, tahu caranya membuat aku tersenyum, namun sayang, perasaanku padanya tak seperti dulu, dulu bahkan aku sangat menyukainya kali ini aku hanya mengaguminya,


Entah kenapa hatiku terluka sekali saat dia menghindariku waktu pertama kali dia mendengar aku hamil anak Pandu dan sampai saat ini luka itu masih membekas di hatiku.


Sedang asyik melamun,ponselku berbunyi lagi,


Ting..


Kali ini aku membukanya dengan perlahan, dan yang muncul di layar membuat jantungku berdegub sangat kencang, muka bantal Pandu yang terlihat menggemaskan sedang berpose dengan rekan sesama artis yang kebetulan siang ini sedang menjenguknya,



"apakah foto ini cukup? susah sekali mencari alasan untuk memotretnya, dia cerewet sekali" isi pesan Dr Rendra berbarengan dengan foto yang dikirimnya.


"yaya... sudah lebih dari cukup meskipun fotonya tidak terlalu jelas, hehehe" balasku dengan senang.


"wajah mereka terlalu bersinar, sehingga cahaya memantul kemana mana membuat hasil fotonya silau seperti itu, hihiii" balasnya berusaha melucu.

__ADS_1


"kau pikir wajah mereka wajan? sampe bisa memantulkan cahaya?" balasku.


"hahhaa... " balasnya.


"ya sudah, pandangi foto itu sepuasmu tapi jangan sampai ilermu menetes kemana mana, aku akan ada operasi sebentar lagi" isi pesannya lagi.


"iler? kau pikir aku burung walet?baiklah sekali lagi terimakasih malaikatku" balasku.


Dr Rendra hanya membacanya saja tanpa membalasnya lagi sepertinya dia benar benar sibuk hari ini.


🍟🍟🍟🍟🍟🍟


"Mah... apakah Dara tak pernah sekalipun kemari?" tanya Pandu pada mamahnya.


Mamah Pandu yang tak ingin anaknya kecewa lagi karena perasaannya tak berbalas bertekad menjauhkan Pandu dari Dara,


"tidak..." jawab mamah.


"apa mamah yakin?"


"iya mamah yakin..mamah yang menjagamu 24 jam disini jadi mamah tahu siapa saja yang sudah menjengukmu"


"kenapa mah? kenapa dia tak peduli padaku?"


"jauhi dia nak.. kau dan dia hanya masa lalu..."


"tapi mah.. aku sangat mencintainya..."


"lupakan perasaanmu itu, dia sudah bahagia dengan orang lain"


"dia sudah bersama dengan dokter itu..."


"Rendra maksud mamah?"


"iya..."


Pandu nampak kecewa dan menjambak rambutnya dengan kasar, dia benar benar frustasi mendengar kenyataan pahit dari mamah.


"mulai sekarang belajarlah untuk melupakannya.." nasehat mamah pada Pandu.


"apakah aku bisa mah?"


"bisa jika kau mau berusaha!"


"5 tahun mah aku sudah berusaha, tapi apa? aku selalu mengharapkannya kembali" sahut Pandu, ada bulir bening di sudut matanya.


"cobalah sekali lagi nak... mamah akan membantumu"


"akan aku coba mah..."


🍞🍞🍞🍞🍞🍞


Hari ini Pandu dinyatakan benar benar pulih dan bisa pulang kerumah,


Dengan tekad yang bulat Dara pergi kerumah sakit untuk mengantarkan kepulangan Pandu kerumah.

__ADS_1


"Dok.. tolong temani aku ya, aku sangat gugup" kata Dara dengan wajah sumringah setelah tiba dirumah sakit.


"ish.. kau manja sekali, seperti anak gadis yang baru mengenal cinta saja!" sahutnya.


"plisss.. aku benar benar grogi sekarang"


"baiklah..."


Dara dan Dr Rendra jalan beriringan menuju kamar Pandu,


"assalamualaikum.." aku mengucapkan salam, di sampingku masih setia Dr Rendra yang selalu menemani.


"waalaikumsalam.." sahut Pandu dan mamahnya berbarengan tanpa melihat siapa yang memberi salam.


"Pandu...." panggilku dengan senyum cerah diwajahku, aku benar benar merindukan laki laki dihadapanku saat ini,


Sontak saja Pandu dan mamah menoleh ke arahku, tapi hanya sekilas dan dia membuang muka setelahnya membuatku sedikit kecewa,


"apa aku boleh ikut mengantarmu pulang?" aku tak patah semangat, aku mendekati Pandu dan meraih lengannya.


"tidak usah..." sahut Pandu lalu menepis tanganku dengan kasar.


"kau kenapa?" tanyaku heran dengan sikap dingin Pandu.


"sebaiknya kau tak usah menemui Pandu lagi Dara" ucap mamah dengan ketus membuat hatiku perih.


"tapi kenapa mah?"


"jalani saja hidup kalian masing masing seperti yang terjadi selama 5 tahun terakhir, tidak saling mengenal satu sama lain"


"tapi mah.."


"ayo Pandu... mobilnya sudah menunggu di depan" kata mamah sambil memapah Pandu, sedang Pandu tetap dengan ekspresi datarnya.


Mereka berlalu begitu saja meninggalkanku sendiri dengan banyak pertanyaan yang muncul dalam benakku,


Aku sudah tak mampu menahannya lagi,airmataku luruh berbarengan dengan luruhnya tubuhku ke lantai, kakiku terasa lemas sekarang, aku tak sanggup lagi menopang tubuhku,


Dr Rendra berusaha menahanku, namun aku menepisnya, dan terus saja menangis,


"hikss....hikssss....apa salahku padanya?" racauku.


"Dara kumohon tenanglah..." kata Dr Rendra.


"kenapa dia tega berbuat ini padaku?" ucapku lagi, tangisku makin pecah.


"kau tenanglah dulu... nanti kita cari tahu apa yang sebenarnya terjadi" dia berusaha menenangkanku.


Dr Rendra membawaku ke dalam pelukannya, mengusap lembut puncak kepalaku membuatku sedikit mereda.


"ayo bangunlah.. aku akan mengantarmu pulang"


Aku mengikuti langkahnya dan memang sepertinya pulang akan lebih baik untukku.


🥜🥜🥜🥜🥜🥜

__ADS_1


__ADS_2