
Seharian aku dan Deva menghabiskan waktun hanya berduaan saja di dalam kamar, sampai malam menjelang kami tetap enggan beranjak dari ranjang panas kami.
"sebaiknya kita mandi dan istirahat, agar besok tubuh fit untuk bekerja kembali!" ucapku pada Deva,
Deva masih tak bosan bermanja manja padaku seolah kami akan berpisah setelah hari ini, padahal sudah seharian penuh kami bergelung di dalam kamar saja.
Benar benar menggantikan waktu yang terbuang selama beberapa bulan menikah tanpa saling menjamah.
"kenapa kau tiba tiba berubah haluan?" tanyaku pada Deva.
"berubah haluan?" Deva mengernyitkan dahinya.
"maksudku, kenapa kau tiba tiba memilihku?" tanyaku dengan tatapan penuh selidik.
"karena aku mencintai mu!" sahutnya dengan tegas.
"itu saja?" tanyaku lagi.
"alasan apalagi yang lebih mendasar selain perasaan cintaku padamu?"
"tapi kenapa awalnya kau tidak melakukan itu padaku?"
"aku ingin memastikan perasaanku terlebih dahulu!"
"jadi kau masih membandingkan antara aku dan Edward?" tanyaku dengan jengah.
"bukan..bukan maksud ku untuk membandingkan dirimu dengan dia!"
"lalu?"
"sudah sejak lama aku ingin lepas dari Edward namun aku masih takut, takut tak punya tempat bersandar lagi!"
"tapi setelah bertemu dengan mu lagi, keinginan ku semakin kuat untuk lepas darinya, aku baru menyadari jika kelakuanku tidak benar dan menyimpang!" lanjut Deva.
"sungguh sangat di sayangkan, laki laki sepertimu jatuh ke dalam lembah hitam itu!" ujar ku dengan ekspresi yang susah di tebak.
"aku benar benar menyesal!" sahutnya dengan wajah di tekuk.
"kita bicarakan lagi besok, sekarang istirshat lah!" ucapku.
Deva menenggelamkan kepalanya di dadaku, bergerak mencari posisi tidur ternyaman.
__ADS_1
Akhirnya kami berdua terlelap dalam kondisi berpelukan.
®®®®®®®®
Aku dan Deva sudah siap untuk berangkat ke kantor, sampai di kantor, kami berjalan dengan beriringan sambil bergandengan tangan, senyum bahagia terpancar dari wajah kami masing masing.
Bagaimana tidak, seharian kemarin kami lewatkan dengan suasana panas sepanjang hari, bahkan wajahku bisa langsung bersemu merah jika mengingatnya kembali.
"masuk lah ke ruangan mu dan selamat bekerja sayang, sampai jumpa saat jam makan siang!" ucap Deva lalu mencium keningku dengan lembut.
Aku pun membalasnya dengan pelukan singkat.
✳✳✳✳✳✳✳✳✳
AUTHOR POV.
Tanpa di sadari ada sepasang bola mata menatap benci dari kejauhan, melihat kemesraan pasangan suami istri tersebut, siapa lagi kalau bukan Edward.
Edward yang terbakar api cemburu pada Dara, ingin merusak kebahagiaan mereka, Edward tidak rela jika Deva dan Dara bahagia sementara dirinya terpuruk seorang diri.
Edward berniat untuk melenyapkan Dara dari kehidupan Deva untuk selama lamanya.
Edward menyeringai jahat setelah mendapat ide jahat yang harus dilakukannya pada Dara yang telah merebut Deva darinya.
"tunggu saja pembalasanku Dara! kebahagiaanmu tak akan berlangsung lama!" ucapnya lagi.
Edward menyamar menjadi seorang OB untuk melancarkan aksi jahatnya, dia membuat minuman untuk Dara yang telah di campur nya dengan racun yang mematikan.
"permisi, ini mbak minumannya!" ucap Edward dengan nada yang dibuat buat untuk membuat Dara tak curiga padanya.
"tapi aku ga minta di buatkan minuman!" sahut Dara dengan wajah heran.
"hari ini, hari pertamaku bekerja mbak, aku membuatkan minuman untuk seluruh karyawan disini dan mengantarnya sendiri sekaligus untuk memperkenalkan diriku!" ujarnya.
"oh.. kalau begitu salam kenal ya, namaku Dara dan terimakasih atas minumannya, aku akan meminumnya nanti!" sahut Dara tanpa rasa curiga sedikitpun pada OB gadungan tersebut.
"sebaiknya segera di minum selagi hangat mbak!" ujarnya dengan setengah memaksa.
"iya.." sahut Dara malas, sambil menatap layar di hadapannya tersebut.
Saat mengangkat cangkir yang dibawa oleh OB tersebut, tiba tiba Deva menyambarnya dengan cepat dari tangan Dara, tanpa permisi, Deva segera meneguk minuman hangat tersebut hingga tersisa separuhnya.
__ADS_1
"wah.. nikmat sekali, minuman apa ini?" kata Deva setelah meminum separuh isi cangkir tersebut.
Sang OB samaran atau yang tak lain adalah Edward menatap horor pada Deva yang dengan sembarangan meminum minuman yang dibuatnya untuk Dara, ketika Deva hendak meneguk sisanya, dengan sigap Edward menepis cangkir tersebut hingga jatuh dan pecah di lantai.
Dara dan Deva lun terkejut dengan reaksi OB baru tersebut,
"hei.. apa yang kau lakukan?" tanya Dara dengan nada geram.
"kenapa kau sembarangan meminum minuman yang bukan milikmu!" ujar OB tersebut dengan nada kasar pada Deva.
"kenapa kau malah marah? aku tidak masalah dia meminumnya, dia suamiku!" sahut Dara yang semakin gusar.
"tapi minuman itu aku buatkan khusus untukmu!" sentak OB itu lagi.
"kenapa kau jadi sewot seperti ini? kau bisa membuatkannya kembali untukku!" sungut Dara.
Tak lama Deva pun berkeringat dan meringis kesakitan sambil memegangi dadanya sendiri,
"akh..." seru Deva lalu jatuh tersungkur ke lantai, dari mulut dan hidungnya keluar darah segar,
Dara panik bukan main melihat kondisi Deva yang berdarah, padahal tadi dia baik baik saja, kenapa tiba tiba dia jadi seperti ini?
"Deva...Deva.. bangun.. kau kenapa sayang?" ucap Dara sambil menepuk pelan wajah Deva, kepalanya di letakkan di pangkuan Dara.
Dalam kegusarannya, Dara menoleh dan menatap tajam ke arah OB tersebut, Dara yang menangis mulai berteriak histeris,
OB itu pun terlihat sangat terpukul dan menangis melihat keadaan Deva yang mengenaskan,
"apa yang kau masukkan ke dalam minuman itu hah? kenapa suamiku jadi seperti ini?" teriak Dara dengan air mata berlinang,
OB itu tak menjawab malah terlihat linglung,
Dara segera menelpon security sekaligus ambulance, dalam sekejap Deva telah dibawa ke rumah sakit, Dara ikut di dalam ambulance bersama Deva yang terbujur kaku dengan wajah pucat bersimbah darah.
Sedang security menahan OB tersebut atas perintah Dara, dia menyerahkan diri tanpa perlawanan, dan menangis meraung raung menyebut nama Deva.
Dara sebenarnya penasaran, siapa sebenarnya dia? kenapa dia hendak meracuni dirinya? namun menemani Deva jauh lebih penting saat ini.
Dara memilih ikut bersama ambulance yang membawa Deva, daripada melihat siapa sebenarnya OB gadungan tersebut, toh dia sudah di amankan dan akan segera di bawa ke kantor polisi.
Dara semakin panik melihat keadaan Deva, tubuhnya terus saja mengalami kejang bahkan dia sampai muntah darah,
__ADS_1
"Ya Allah... bertahanlah sayang!" lirih Dara di samping tubuh Deva.
♉♉♉♉♉♉♉