Seorang Bintang

Seorang Bintang
Tujuhpuluhenam


__ADS_3

Karena Deva tak kunjung menjawab pertanyaan dariku, aku memutuskan untuk turun dari pangkuannya dan berlari ke kamar lalu di sana aku melanjutkan kembali tangis ku, menumpahkan segala kekesalan di hatiku.


Aku sengaja mengunci kamar, aku tidak ingin di ganggu olehnya, Deva sempat mengetuk pintu dan menyuruhku membukanya namun aku tak menyahutinya,


"sayang... tolong buka pintunya!" ucap Deva sambil mengetuk pintu dengan perlahan.


"sayang.. maaf, untuk saat ini aku tidak bisa menjelaskan apa apa padamu!" ucapnya lagi.


"aku pasti akan meluruskan semuanya padamu, tolong beri aku waktu dan selama itu, aku mohon agar kau lebih bersabar lagi!" sambungnya lagi.


Merasa tak dapat tanggapan, akhirnya Deva beranjak dari sana, terbukti dengan tak ada lagi suaranya mau pun suara ketukan pintu.


Aku kembali menangis, yang aku tangisi bukan lah masalah nafkah batinnya, namun alasan kenapa dia tidak ada keinginan sama sekali untuk melakukannya denganku, hal itu di rahasiakan nya dariku membuatku merasa muak, jujur aku merasa sangat tersinggung.


♒♒♒♒♒♒♒


Mulai hari itu, aku berjanji untuk tak mengungkit masalah itu kembali karena Deva hanya akan diam ketika aku tanyakan kembali dan itu sukses menghancurkan hatiku berkali kali.


Aku berusaha menghibur diri, dengan bekerja, belanja, pergi ke salon dan memasak di rumah ketika sedang malas keluar.


Bicara seperlunya pada Deva, jika dia bertanya maka aku akan menjawab tapi jika dia diam, maka aku jauh lebih diam dan membisu.


Sampai tiga bulan usia pernikahan kami, tidak ada yang berubah, bahkan hubunganku mulai terasa hambar, kami tak lagi hidup dalam satu kamar, walau aku lah yang pertama kali mengajukan permintaan konyol padanya untuk tinggal di kamar terpisah dengannya.


Aku pikir dia akan menolak keinginan bodohku, ternyata di luar dugaan dia malah menyetujuinya.


"jika itu mau mu, baik lah akan aku turuti, mungkin dengan berpisah kamar akan membuatmu lebih nyaman! asal kau tidak keluar dari rumah ini, aku akan selalu berusaha untuk menurutimu segala keinginanmu!" sahut Deva kala itu.

__ADS_1


"apa katanya? asal tidak keluar dari rumah ini? apa bedanya ada atau tidak adanya diriku? toh dia juga tak punya kepentingan denganku, meski aku tak pulang sekalipun, dia tak pernah menghubungiku!" batinku meronta.


Aku memindahkan barang barang ku dengan cepat, aku berharap dengan berjauhan, dia bisa segera sadar dan mau menceritakan masalah yang sebenarnya padaku,


Namun sepertinya harapan ku sia sia, ternyata dia malah semakin nyaman, aku lah yang semakin tak nyaman.


Aku sudah merasa tak sanggup lagi menjalani pernikahan yang seperti ini, ingin rasanya aku keluar dari rumah ini, tapi aku harus kemana? aku tidak mungkin pulang ke rumah, aku tidak ingin menyusahkan Mamahku kembali dengan masalah rumah tanggaku.


Aku tidak ingin hatinya terluka kembali, jika sampai hal buruk terjadi pada rumah tangga ku, sudah cukup rumah tangga ku yang pertama saja yang hancur, jika yang kedua ini pun hancur, aku tidak tahu lagi bagaimana perasan Mamah.


Malam itu, aku memilih untuk tidak pulang ke rumah dan berencana untuk menginap di hotel, pada saat yang bersamaan aku melihat Deva juga ada di sana, sedang apa dia di hotel ini? pikiranku mulai melayang kemana mana,


Aku tidak jadi check in karena aku tidak ingin kehilangan jejak Deva yang sudah melangkah masuk setelah berbicara sebentar pada salah satu resepsionis.


Aku mengikuti langkahnya dengan sangat hati hati agar tidak ketahuan, dia naik ke lantai 27, aku pun terus mengikutinya, sampai dia berhenti di sebuah kamar,


Dan yang lebih shock nya lagi, Edward menyambut Deva dengan pelukan mesra, bahkan dia mencium pipi Deva berkali kali, Deva berusaha menolaknya, namun Edward seperti setengah memaksa dengan mencengkeram lengan Deva dengan kuat, terlihat dari buku buku tangannya yang memucat karena kuatnya meremas lengan kekar Deva.


"i miss you Dev..." ucapan Edward yang sukses membuatku merinding.


"apa maksudnya semua ini? kenapa Edward bertingkah seperti itu? kenapa aku merasa sikapnya sangat posesif pada Deva layaknya seorang kekasih yang tak ingin kehilangan pasangannya?" batinku terus saja bergejolak sendiri.


Gerakan tubuh Deva yang melesat masuk ke dalam kamar, membuyarkan lamunan sesaat ku, seakan Tuhan sedang berada di pihak ku, pintu kamar tersebut tidak tertutup rapat, jadi aku bisa mendengar apa yang terjadi di dalam kamar.


"tutup dan kunci pintunya beb!" titah Edward pada Deva.


"tidak, biarkan terbuka seperti itu, jika kau tak terima, sebaiknya aku pulang saja!" sahut Deva dingin.

__ADS_1


"oh.. stay cool Dev, kenapa kau jadi galak begini hem? aku hanya tak ingin ada orang yang mengintip kita!" sahut Edward dengan nada yang berusaha menggoda Deva,


Aku mengintip dari celah kamar yang terbuka, dia berjalan mendekati Deva dan bergelayut manja dalam pelukannya, sangat janggal terlihat dan anehnya Deva hanya terdiam mendapat perlakuan aneh dari Edward.


Deva merenggangkan pelukan Edward dan berkata,


"sebaiknya kita akhiri semuanya Ed, aku merasa semua ini sudah tidak benar!" ucap Deva dengan wajah datar.


"what?? mengakhirinya? kenapa baru sekarang Dev setelah bertahun tahun menjalaninya!" sahut Edward tak terima.


"karena baru sekarang aku menyadarinya, bahkan aku sudah salah, bertahan pada lembah hitam ini bersamamu!" sahut Deva dengan emosi.


"hahaha.. ayolah Dev, kau bahkan menikmatinya selama bertahun tahun! apa kau bosan padaku?" seru Edward dengan terbahak.


Nafasku tercekat mendengar percakapan mereka berdua, apa benar dugaan dalam pikiranku? aku harus mendengarkannya dengan seksama agar tidak salah paham terhadap apapun itu.


"aku tahu aku pun salah karena telah terbuai pada permainan mu Ed, sebelum semakin jauh sebaiknya hentikan semua ini Ed! aku sudah menikah dan istriku sedang menunggu di rumah!" ujar Deva, kali ini wajahnya memelas.


"hahaha.. apa kau berniat meninggalkan aku demi wanita itu Dev? kau tak akan terpuaskan olehnya, hanya aku yang bisa memberikan mu kenikmatan selama ini! buktinya kau selalu datang lagi dan lagi padaku sampai tak terasa sudah hampir lima tahun lamanya kita menjalin hubungan ini!"


"aku mohon Ed, hentikan semuanya! kita harus kembali ke jalan yang benar! perlakuan kita sudah menyimpang terlalu jauh!" sahut Deva.


"apa kau sekarang sedang berkhotbah dan berusaha menceramahi ku???" ucap Edward dengan nada mencemooh.


Aku tak sanggup lagi menahan air mataku, ku tutup rapat mulut ku dengan tangan, agar tidak menimbulkan suara saat menangis, aku masih harus mendengar lebih banyak lagi agar semuanya menjadi jelas.


⛎⛎⛎⛎⛎⛎⛎

__ADS_1


__ADS_2