
Semakin jauh mobil melaju, semakin sepi pula suasananya, ya Tuhan tolonglah aku, aku tidak ingin mati seperti ini, doaku dalam hati.
Otakku sudah benar benar lelah, terkuras setelah beberapa hari lembur di kantor dan sekarang aku sudah tidak bisa berpikir jernih lagi, aku memilih pasrah, tapi dalam hati terus menjerit, berharap seseorang datang dan menolongku, siapapun itu tolonglah aku...........
Tidak ingin lelah mengawasiku, preman yang menculikku tersebut, memukul tengkukku dengan tangan kosong, tapi cukup membuatku pingsan.
Entah berapa lama aku pingsan, ketika sadar, aku sudah di ikat di kursi, mataku mengerjap menyempurnakan pandanganku, dan dapat dengan jelas kulihat, aku berada di sebuah bangunan tua yang lembab dan gelap, sungguh mengerikan, teriak batinku.
"air..." lirihku, tenggorakanku terasa kering sekali rasanya sudah lama tak mencecap air.
"air.. tolong berikan aku air..." lirihku sekali lagi, dan semenit kemudian mereka menyiramku dengan seember air dingin, sungguh dinginnya sampai menusuk ke tulang rasanya, membuatku menggigil, aku memiliki riwayat hipotermia, dimana tubuhku tidak mampu menahan rasa dingin yang luar biasa.
gemeletuk gigiku saling bersahutan dengan lirihan ku yang menggigil kedinginan,
"bos bibirnya membiru dan wajahnya pucat" icap seseorang di hadapanku.
"selimuti dia.. aku ingin dia mati dengan caraku sendiri" jawab si bos yang ternyata seorang wanita jika di dengar dari suaranya.
Sekilas rasa hangat mulai menerpa tubuhku, nyaman sekali rasanya, lambat laun membuat suhu tubuhku menjadi normal kembali.
Kesadaranku mulai pulih, aku bisa melihat jika ada beberapa orang yang sedang berdiri di hadapanku namun karena gelap, aku tak bisa melihat wajahnya.
"sudah bangun kau rupanya, apa tidurmu sangat nyenyak nona?" cibir suara wanita tersebut.
"si...siiiapa kau? kenapa kau menculikku?"
"meski ku sebut namaku, kau tidak akan mengenaliku!"
"jika kau tak kenal denganku, kenapa kau menculikku?"
"karena kau terlalu banyak ikut campur urusan oranglain nona...."
"aku?? apa maksudmu?"
"kau sudah menjebloskan suamiku ke penjara dengan mulut manismu itu..." katanya sambil maju ke hadapanku, kini aku dapat melihat wajahnya dengan jelas, dia adalah wanita yang sama yang menamparku saat di pengadilan waktu itu.
"kauuuuu?" seruku terkejut.
"iya ini aku, ternyata ingatanmu bagus juga nona..." jawabnya sambil tertawa sumbang namun sangat mengerikan.
"apa maumu?" sentakku.
"aku ingin nyawamu..hahahahha..."
__ADS_1
"kau sudah gila!"
"aku gila karenamu nona.. KAU YANG MENJADIKANKU MANUSIA JAHAT SEKARAAANG!!!!!!" jeritnya histeris dan memilukan.
"KAU YANG MEMAKSAKU UNTUK MENJADI JAHATT!!!!!!!" Teriaknya lagi tak kalah melengking dari teriakan pertamanya lalu dia tertawa terbahak bahak dalam beberapa menit.
"hei.. kau yang membuat dirimu menjadi jahat, kau tak pernah berpikir apa yang dilakukan suamimu, perbuatannya bisa merusak banyak masa depan!"
"karena perbuatanmu, kini masa depan anakku dan keluargaku jadi taruhannya!!!"
"itu semua karena perbuatan suamimu, jika dia tidak salah jalan, kalian pasti masih baik baik saja sekarang!"
"aahhhh kau terlalu banyak berkilah!!! kau berlagak menyelamatkan masa depan orang lain tapi kenyataannya kau malah menghancurkan masa depan anakku!"
"aku lelah berdebat denganmu.. !!" jawabku.
"pergilah ke neraka nona, tapi nikmati dulu siksaan dariku, agar kau tau betapa sakitnya aku saat ini!" dia menyeringai seperti orang kesurupan membuat bulu kudukku berdiri,
Dia mendekatiku dengan besi panas membara di tangannya, dan dengan teganya dia menempelkan besi panas tersebut ke dada, tangan, paha dan kakiku secara bergantian,
"arghhhhh...." erangku kepanasan ketika besi itu mendarat di kulitku, kulitku sampai melepuh dan menimbulkan perih yang luar biasa.
"arghhhhhhh" erangku lagi ketika dia mengulangi hal yang sama,kini tubuhku penuh dengan luka bakar,
"arghhh..." eranganku lebih dahsyat dari yang tadi, ternyata isi ember itu adalah air garam. sungguh sangat perih rasanya.
"bagaimana rasanya? bahkan ini baru permulaan nona!" ujarnya dengan seringai devilnya.
"kau... benar benar sudah gila!" lirihku diantara rasa sakit itu.
"hahahahahahaha......" tawanya menggelegar di seluruh sudut ruangan.
"lihatlah dirimu nona.. wajahmu bahkan sudah tak cantik lagi sekarang!!!" dia tertawa dan menamparku berkali kali sambil memotretku dengan ponselnya dan menunjukkan hasilnya padaku,
"lihatlah wajah cantikmu itu nona.. sepertinya sekarang sudah sama busuknya dengan hatimu itu!!" ucapnya.
l
"sekarang tamatlah riwayatmu nona.." ucapnya sambil mengacungkan pistol tepat di kepalaku,
Aku berusaha tenang dan tak gentar dengan pistol di hadapanku,
__ADS_1
"ternyata nyalimu besar juga nona.. mari kita pemanasan dulu" ucapnya lalu menembak kakiku dengan keji dan dia kembali tertawa.
"arghhh..." jeritku, kakiku terasa panas dan sakit luar biasa, darah bercucuran namun aku tak bisa berbuat apapun dengan tangan dan kaki yang terikat.
"apakah sakit?" tanyanya sambil menarik daguku agar menatapnya.
"sakit tapi demi kebahagiaan oranglain, aku rela bahkan jika harus mati sekalipun!" ucapku menantangnya.
"memang kau harus mati ditanganku nona.."dia kembali mengarahkan pistolnya ke kepalaku, dan pelatuk sudah di tarik, mataku terpejam, ya Tuhan, matikan aku dalam keadaan husnul khotimah, doaku dalam hati.
***Dorr..
Dorrrr***....
terdengar dua kali suara letusan, aku mulai sempoyongan, apakah aku sudah mati? batinku terus saja bergejolak, sampai saat aku merasakan seseorang merengkuh tubuhku dan menepuk pelan pipiku,
"Dar... sadar lah..." ucapnya,
Lalu aku berusaha membuka mataku perlahan, apa sekarang aku sedang menghadap malaikat? sekilas aku melihat seorang pria tampan dengan pakaian serba putih, sudah pastilah dia malaikat maut yang bersiap menjemputku.
Aku pingsan lagi karena lemah tak berdaya,
"Ren, tolong bawa Dara kerumah sakit, cepat!!" ucap Pandu.
"tapi kau?"
"tidak usah memikirkan aku!!! nyawa Dara lebih penting! bawa dia keluar darisini!" sentak Pandu sambil mengacungkan pistolnya ke segala arah, berjaga jaga takut ada serangan mendadak.
Untung saja, Pandu dan Dr Rendra beserta anak buah Pandu datang tepat waktu, Pandu menembak perempuan sadis itu sebelum dia menembak kepala Dara.
Wanita itu terkapar tak berdaya di gedung tua itu, Pandu dan anak buahnya meninggalkannya disana, tapi tanpa di duga wanita itu masih bernyawa dan mengacungkan pistolnya tepat ke arah Pandu yang sedang berjalan keluar gedung, Pandu tak menyadari hal itu dan...
Dorrrr....
Peluru wanita itu menembus tubuh Pandu, seketika anak buah Pandu refleks menembak wanita itu dan kali ini dia benar benar mati.
Pandu segera dilarikan ke rumah sakit oleh anak buahnya, peluru bersarang di dadanya, jauhnya jarak rumah sakit membuatnya kehilangan banyak darah.
"bertahanlah bos.. sebentar lagi kita sampai dirumah sakit" ucap salah satu anak buahnya yang memangku kepala bosnya yang tak sadarkan diri tersebut.
🍅🍅🍅🍅🍅🍅
Gimana readers?? cukup menegangkan ga? ini Pandu mau terbunuh atau bagaimana? sungguh author galau saat ini, disana udah ada Dr Rendra yang setia nemenin Dara..😁
__ADS_1