
"mamiiiiih....." Mela berlari ke arahku yang baru pulang dari kantor,
"tumben anak mamih nungguin diluar" seruku menyambut Mela dengan pelukan.
"itu lho mih, di dalam ada om ganteng, katanya temennya mamih, Mela dibeliin boneka besar lho" ceritanya dengan sangat antusias.
"om? temen mamih? siapa sayang?"
"itu lho mih, yang sering muncul di tipi"
Degh...
Darahku berdesir hebat, aku bisa menebak siapa om ganteng yang dimaksud Mela,
"kau?" kataku ketika sudah sampai diruang tamu.
"oh hai.. kau sudah pulang?" sahutnya tanpa berdosa.
"kenapa kau kemari tanpa bilang dulu padaku?" kataku masih sambil menggendong Mela.
"mih... kok om gantengnya dimarahin sih" tegur Mela.
"sayang, Mamih ga marah kok... Mela masuk dulu ya.. mamih mau bicara sama om ini dulu" kataku melembutkan suaraku.
"jangan lama lama ya mih, Mela masih mau main sama om ganteng" sahut Mela, lalu dia masuk sambil melambaikan tangannya kepada Pandu, Pandu pun membalasnya sambil tersenyum manis.
Aku memutar bola mataku jengah melihat kelakuan Pandu pada Mela, dan Mela tampak sangat akrab meskipun baru kali ini bertemu, apa ini yang dinamakan ikatan batin antara ayah dan anaknya?
"kemari kau..." kataku mengajaknya berbicara di teras depan.
"ada apa sih?"
"kenapa kau kemari tanpa bilang dulu padaku?"
"aku tadinya tidak berniat kemari, aku bertemu Mela dan pengasuhnya sedang beli eskrim di minimarket"
"lalu?"
"lalu Mela menyapaku duluan dan meminta tanda tangan dariku,sepertinya dia mengenaliku sebagai bintang iklan, tentu saja aku sangat terkejut melihat wajahnya yang sama persis dengan foto yang kau kirim tempo hari"
"lalu?"
"lalu aku ingin memastikan kalau dia benar benar Mela anakku, aku mengantarnya pulang dan benar saja, dia menunjuk rumahmu sebagai rumahnya"
"lalu?"
"lalu apalagi? lalu disinilah aku, bermain dengan anak yang belum pernah aku temui sama sekali padahal usianya sudah hampir 5 tahun"
"boneka itu? apa itu suatu kebetulan juga?"tanyaku penuh selidik.
__ADS_1
"boneka itu memang sudah lama aku beli dan memang akan ku berikan jika aku bertemu dengannya, dan aku memang menyimpannya dibagasi mobilku"
"apa ceritamu bisa ku percaya?"
"ya Tuhan Dara... buat apa aku berbohong padamu? bahkan Tuhan telah mengatur pertemuan ayah dengan anaknya tanpa di sengaja!"
"benarkah ini rencana Tuhan?" gumamku seorang diri.
"jika sudah tidak ada lagi yang ingin kau tanyakan, sebaiknya panggilkan Mela.. aku masih ingin bermain dengannya"
"sebaiknya kau pulang saja sebelum mamah melihatmu datang kemari"
"kenapa aku harus menghindari mamah?"
"karena mamah membencimu"
"aku akan berusaha membuatnya menerima kehadiranku kembali"
"tidak semudah itu Tuan Bintang ternama!"
"semua usaha pasti ada hasilnya dan setiap usaha tidak akan menghianati hasilnya"
"cih... yakin sekali kau"
"semua butuh keyakinan yang kuat"
"lebih baik kau pulang, sekarang bukan waktu yang tepat untuk bertemu mamah"
Aku masuk ke dalam dan keluar dengan membawa serta Mela di gendonganku,
"Mela sayang... om pulang dulu ya.. kapan kapan om kesini lagi"
"kok pulang sih om? kan mainnya belom selesai!" raut wajah Mela terlihat kecewa.
"om janji akan kesini lagi dan main sama Mela lebiiiihhh lama lagi, oke?" bujuk Pandu.
"janji ya om?"
"iyaaaa om janji...."
"yadeh om boleh pulang, hati hati ya om" katanya lalu turun dari gendonganku dan mencium kedua pipi Pandu.
"hmmm...makasih sayang" jawab Pandu senang dan mengecup kening Mela.
Sepulangnya Pandu, Mela dengan sangat antusias menceritakan pertemuannya dengan Pandu, ceritanya sama persis dengan apa yang di ceritakan oleh Pandu tadi, bahkan mereka berdua sempat berselfie ria dan Mela menunjukkan fotonya padaku,
"mih... tadi Mela sempet selfie sama om ganteng" ucapnya sambil menunjukkan foto tersebut.
__ADS_1
Bahkan Mela menjadikan foto tersebut sebagai wallpaper di ponselnya, aku hanya menggelengkan kepalaku melihat tingkah anak jaman sekarang yang luar biasa kemajuannya di banding anak anak jaman dahulu sebelum mengenal yang namanya gadget.
Sebelum Omanya pulang, aku memberitahu Mela agar tak bercerita tentang om ganteng pada Omanya karena Oma pasti marah besar nantinya dan aku bilang jika Mela tidak bisa bertemu om ganteng lagi jika sampai Oma tahu, Mela hanya mengangguk tanda mengerti dengan apa yang aku ucapkan.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄
Beberapa hari ini aku harus lembur karena pak Deva akan membuka cabang baru perusahaannya di kota lain, Pak Deva menyuruhku membuat proposal keuangannya, mungkin karena aku kepala staff keuangan disini, jadi dia selalu melibatkan aku dalam segala urusan keuangan perusahaannya.
"sudah selesai proposalnya?" tanya pak Deva via telepon.
"sedikit lagi pak... jika sudah selesai, akan segera saya kirim melalui fax" jawabku.
"baiklah.. saya akan menunggu"
"baik pak, beri saya 15 menit, saya akan langsung mengirimnya"
Tak sampai 15 menit, selesai juga proposal yang dimaksud, aku langsung mengirim fax pada pak Deva,
"kerja bagus Dara, aku memang selalu bisa mengandalkanmu" ucapnya puas setelah menerima fax dariku.
"terimakasih pak Deva atas kepercayaannya selama ini kepada saya" jawabku senang karena kerja kerasku selama beberapa hari ini tidak sia sia dan di apresiasi oleh pak Deva.
Hari sudah gelap ketika aku keluar dari kantor dan aku langsung menuju parkiran,
"ah..akhirnya besok tak perlu lembur lagi" seruku senang.
Aku melajukan mobil dengan perlahan, sampai di lampu merah, ada seorang pengamen yang mengetuk kaca mobilku, aku membuka kaca mobil dan hendak memberinya uang, namun dia dengan cepat menodongkan senjata tajam ke leherku, membuatku seketika panik,
"jangan coba coba untuk berteriak kalau kau masih ingin hidup" ancamnya.
"iii...iiya.." sahutku dengan suara bergetar.
"pindah kau ke sebelah, aku yang akan menyetir" perintahnya membuatku otomatis beringsut ke jok sebelah.
"jangan macam macam dan telpon bodyguard yang mengikutimu itu, bilang pada mereka untuk tak memgikutimu lagi dan segera pulang saja! cepat!!!"
"iii...iiya... akan aku lakukan" jawabku yang kini mulai menangis karena takut, yang ada dalam pikiranku saat ini hanya Mela, aku tak ingin mati konyol dan meninggalkan Mela.
Aku berusaha menormalkan suaraku dan menelpon bodyguard suruhan Pandu agar pulang, mereka pun menurutinya tanpa bertanya ataupun curiga.
"suuu..sudah..tolong lepaskan aku" kataku memberanikan diri.
"diam kau!!! atau mau ku sobek saja mulutmu itu!" sungutnya tetap dengan sebelah tangannya menodongkan sajam ke arah leherku.
Mobil terus melaju dengan kencang, seperti kearah perbatasan karena sepanjang jalan hanya ada pepohonan di samping kanan dan kirinya, suasananya sunyi hanya ada suara jangkrik dan kawan kawannya yang terdengar saling bersahutan.
"siapa kau? dan mau kau bawa kemana aku?"
"jangan banyak bertanya jika kau masih ingin hidup!!!" ancamnya lagi.
__ADS_1
🍒🍒🍒🍒🍒🍒