
Hubunganku dengan Dr Rendra kembali menghangat walau aku merasa agak aneh di dalam hatiku, aku kembali memikirkan Pandu, sikapnya yang berubah menurutku sangat mengganggu pikiranku.
Apa dia sudah benar benar melupakan aku? batinku terus saja bergejolak.
Syuting FTV masih terus berjalan, sudah seminggu berjalan selama itu juga aku menerima sikap Pandu yang dingin terhadapku, seharusnya itu bukan masalah bagiku, masih ada Dr Rendra, yang begitu hangat kepadaku.
Sampai pada adegan dimana aku harus bertatap muka dengan Pandu, aku jadi sedikit gugup sekarang, lagi lagi diluar ekspetasiku, Sikap Pandu menghangat, ya pastinya karena tuntutan skript.
"cut..." teriak sang sutradara.
"sip bagus....lanjut besok ya..." lanjut sang sutradara sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"okee..." segenap kru menjawab secara bersamaan.
Pandu duduk di sebelahku, sedang meminum air botolnya,
"thanks ya.. banyak bantu aku selama syuting" kataku berbasa basi.
"yup.. sama sama..." sahutnya singkat.
"oya selain syuting ini, kamu sibuk apalagi?" entah kenapa aku sangat ingin mengobrol dengannya.
"abis ini? abis ini aku free.. kayaknya aku mau pulang" sahutnya.
"ouh...." aku hanya bisa ber oh ria saja, tak tahu harus bertanya apalagi.
"kenapa emangnya? kamu mau main kerumahku ga? udah lama banget semenjak kita putus, kamu ga pernah kerumahku lagi" katanya dengan santun membuatku terbuai dengan kata katanya.
"kan emang aku cuma sekali doank kesana.. selebihnya main di apartemen kamu!" jawabku.
"hehe.. iya iya..." kekehnya sambil menggaruk tengkuknya.
"oya apartemen kamu masih?"
"masihlah..itu kenang kenangan dari kantor yang dulu, beli dari gaji kantor, sayang banget kalo harus dijual apalagi disana banyak tersimpan kenangan kita"
"ooohh... kukira kau sudah membeli apartemen yang lebih mewah setelah jadi aktor"
"enggak.. duit hasil jadi aktor, mamah yang handle, aku cuma pegang sebutuhnya aja"
"bagus donk..." ucapku senang.
"kok bagus?"
"ya bagus lah..ada yang kontrol keuangan kamu jadi kamu ga bisa seenaknya ngabisin duit"
"iya sih.."
"oya.. jadi ikut ga?" tambahnya.
__ADS_1
"hmm... gimana ya?" sahutku ragu dan bingung, aku sebenarnya pengen banget ikut, tapi aku harus bilang apa pada Dr Rendra?
"kenapa? takut sama pacar kamu ya?"
"ga sih.. cuma aku bingung harus alasan apa ke dia" jawabku asal.
"yaaa.. bilang aja kalo ada syuting tambahan"
"hmm.. ide bagus tuh.. boleh deh, aku juga kangen sama mamah kamu" sahutku beralasan.
Aku dan Pandu menuju kerumahnya dengan mobil mewah milik Pandu, sedang mobilku dibawa pulang oleh Cika.
Awalnya Cika bertanya aku mau kemana, aku beralasan bertemu sutradara dan dia percaya begitu saja, ya Tuhan.. aku harus berbohong pada banyak orang untuk ikut dengan Pandu, semoga aja ga menimbulkan masalah kebelakangnya.
"rumah kamu kok sepi banget Pan?" tanyaku setelah sampai di depan rumahnya.
"mungkin mamah lagi tidur" sahutnya.
"wah.. ganggu donk aku"
"enggak lah.. selagi nunggu mamah bangun, kita kan bisa ngobrol"
"iya sih..."
"kamu mau minum apa? biar aku buatin!" tawarnya.
"lemon tea kalo ada..." kataku tanpa curiga sedikitpun pada Pandu, mungkin saja dia sudah berubah, batinku senang.
Sambil menunggu, aku melihat lihat isi ruang tamu yang pernah sekali aku kunjungi dulu ketika aku masih berpacaran dengan Pandu.
"masih sama kaya dulu kan?" kata Pandu yang dari dapur membawa 2 gelas lemontea.
"iya.. ga da yang berubah sama sekali" jawabku sambil menerima gelas yang diberikan Pandu.
"ya begitulah mamah.. ga terlalu suka perubahan" ucapnya.
"tapi selera mamah tuh luar biasa.. aku suka desain interior rumah kamu"
"mamah memang punya selera tinggi untuk urusan desain, ayo diminum" ucap Pandu
Aku meneguk lemon tea di tanganku, sekali teguk langsung membasahi kerongkonganku yang daritadi memang sudah kering.
Aku meneguknya lagi dan lagi sampai akhirnya tandas tak bersisa,
"kamu mau lihat kamar aku ga?" Pandu menawariku.
"emang boleh?" sahutku.
"boleh lah.. ayok" ajaknya.
__ADS_1
"oke.." saat bangun kepalaku terasa pening tapi ga parah, aku mengekori Pandu menuju kamarnya.
"ayo masuk..." katanya setelah membuka pintu berwarna putih tersebut.
Akupun masuk tanpa curiga sama sekali, kali ini bukan hanya kepalaku yang pening, pandanganku juga kabur dan anehnya badanku terasa panas, ada apa denganku? padahal tadi aku baik baik saja.
"panas..." lirihku tapi lebih terdengar seperti desahan.
"panas? ac nya kurang dingin ya?" jawab Pandu lalu menghampiriku yang mulai sempoyongan.
"Pandu.. kamu ga ngerjain aku kan?" tanyaku di sela sela kesadaranku yang mulai menurun.
"kamu kenapa? sakit?" tanya Pandu dengan ekspresi yang tak bisa kulihat dengan jelas.
Lalu aku ambruk dan tak ingat lagi apa yang terjadi selanjutnya.
Author Pov
"maafin aku Dar.. aku harus lakuin cara ini untuk ngedapetin kamu lagi" gumam Pandu seorang diri lalu dia menggendong Dara ke ranjang miliknya.
Dara yang tak sadar menggeliat kepanasan, Pandu memberikan obat perangsang pada minuman Dara.
Pandu melepas pakaian Dara dan menciuminya membuat Dara makin menggeliat, menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Pandu.
Pandu melepas pakaiannya sendiri dan dengan cepat menyambar tubuh polos Dara, Pandu memberi kissmark dimana mana, meskipun dengan mata terpejam, Dara dapat mengimbangi Pandu,
Dalam sekali hentakan, Pandu berhasil memporak porandakan pertahanan milik Dara, Dara meringis kesakitan tapi hal itu malah membuat Pandu semakin kalap, Pandu mulai bergerak perlahan memberikan sensasi luar biasa pada mereka berdua.
"akh.... sakit...." racau Dara.
"sabar beb, nanti juga ga akan sakit.." sahut Pandu.
Dan benar saja ketika temponya dipercepat, ringisan Dara berubah menjadi desahan yang membuat Pandu makin bersemangat.
"ahhh... ah....ah..." desah Dara.
Desahan mereka saling sahut, menggema diseluruh sudut ruangan bernuansa abu abu tersebut.
Sampai pada puncaknya, Pandu terkulai lemas di atas tubuh Dara dan tanpa sadar Dara mencakar punggung Pandu,
"aaahhhh......" lenguh mereka bersamaan dengan peluh bercucuran.
Pandu turun dari tubuh Dara dan ketika akan menyelimuti tubuh polos itu, Pandu melihat bercak darah di sprei putih miliknya,
"aku akan bertanggungjawab Dar.." ucapnya sambil menutupi tubuh Dara dan mencium kening Dara lama sekali, Pandu menitikkan airmata, entah airmata bahagia atau sedih.
Pandu harus menghadapi amukan Dara nantinya ketika dia sadar, akhirnya Pandu mulai terlelap di samping Dara dengan kepala yang ditenggelamkan di ceruk leher wanita yang dicintainya tersebut dan tangannya memeluk tubuh Dara dengan erat.
End Pov
__ADS_1
🍊🍊🍊🍊🍊🍊