
Kenapa hatiku harus hancur ketika Dr Rendra pergi begitu saja? bukankah ini kemauanku agar dia menjauh dariku? jujur hatiku sakit...jika sudah begini, aku hanya bisa menangis meratapi nasibku.
Walaupun begitu, aku harus tetap melanjutkan hidup,
"Hallo Mas Beno...?" kataku menghubunginya via telepon.
"Halo... Dara... oh my God.. my Dara..." serunya.
"Mas Ben, apa masih ada pekerjaan untukku?" tanyaku.
"tentu saja honey.. kau bahkan belum menyelesaikan syuting terakhirmu"
"kalo untuk itu, bisakah aku tak melanjutkannya?"
"kenapa Dara? mereka masih menunda syutingnya demi menunggu dirimu"
"maafkan Dara mas... Dara tak bisa memberi tahukan alasannya"
"ya sudah, nanti mas Beno coba bicara dengan produsernya"
"untuk pemotretan mas Ben? masih adakah yang tersisa?"
"masih kok... ada beberapa iklan juga...kapan kau mulai aktif lagi??"
"mungkin mulai besok mas..."
"ya sudah.. mas Beno tunggu di kantor ya.."
"iya mas...makasih mas Beno..."
🧁🧁🧁🧁🧁🧁
Aku mulai menjalani hari hariku dengan bekerja dan bekerja.. aku sengaja menyibukkan diri untuk melupakan luka hatiku, karena dua orang laki laki, yang pertama Pandu, laki laki yang sudah merenggut kesucianku dan kedua Dr Rendra, laki laki yang mulai aku cintai, kini meninggalkan aku karena perbuatan Pandu.
"Dar.. apa ga sebaiknya kamu cuti aja besok? sudah seminggu ini kamu kerja tanpa jeda!" saran Cika.
"aku gapapa kok Cik...malah aku suntuk kalo dirumah terus" sahutku.
"tapi pikirin juga kesehatan kamu.. wajahmu pucet banget lhoh..."
"ah biasa aja kok.. mungkin aku kurang tidur aja" balasku.
Setelah pekerjaan selesai aku langsung pulang kerumah namun sesampainya dirumah, aku tak langsung istirahat, ada saja yang aku lakukan, entah itu main game, nonton drakor dan lain sebagainya.
"Dara... kamu belom tidur nak?" tanya mamah yang mengintipku dari pintu.
"eh mamah...belom ngantuk mah" jawabku.
"jangan malem malem tidurnya, besok kan kamu harus kerja"
"siap ma... abis ini Dara tidur kok"
" ya udah kalo gitu.. mamah ke kamar dulu ya"
"iya mah... selamat tidur mamah"
🥯🥯🥯🥯🥯🥯
Lagi asyik menikmati sarapan pagi, terdengar bunyi klakson di depan rumah,
"siapa mah?" tanyaku.
"entahlah... biar mamah liat ke depan dulu, kamu lanjutin sarapan kamu"
"iya mah.."
Mamah berjalan ke depan rumah dan melihat siapa yang datang sepagi ini, karena aku merasa tak punya janji dengan orang lain dan aku juga tak memesan taksi online.
"Dara..." panggil mamah.
"iya mah.."sahutku yang tetap dimeja makan.
"sini keluar... ada tamu" kata mamah lagi.
"iya mah... "
Setelah cuci tangan, aku bergegas keluar,
"kamu...?" seruku melihat siapa yang datang.
__ADS_1
"iya nak... Pandu yang datang..kalo gitu mamah tinggal ke belakang ya" kata mamah.
"hai..." sapanya.
"ngapain kamu kesini?" mimik wajahku berubah kaku, aku sangat membencinya.
"Dar.. aku mohon, maafkan aku...aku akan bertanggungjawab atas apa yang telah aku lakukan padamu"
"aku ga butuh pertanggungjawabanmu! sekarang pergi dari rumahku dan jangan pernah muncul lagi dihadapanku, aku sangat membencimu!!!!" kataku muak.
"tolong beri aku satu kesempatan lagi!" mohonnya.
"ck... kesempatan?? setelah apa yang kau lakukan padaku? jangan mimpi!!!!" sungutku.
"memangnya apa yang sudah Pandu lakukan padamu nak?" tanya mamah yang tiba tiba muncul dan membawa minuman untuk kami berdua.
"eh...mamah.. ga da apa apa kok mah" sahutku gugup.
"beneran? jujur sama mamah!" ucap mamah tegas.
"memang tidak terjadi apa apa mah..."
"Pandu.. apakah kamu juga akan menutupinya dari mamah?" tanya mamah pada Pandu dengan tatapan penuh dengan selidik.
"iiii...itu mah... Pandu...." kata kata Pandu terpotong oleh Dara,
"Pandu mau pulang mah.." sambar Dara dengan cepat.
Mamah menatap kami berdua dengan tatapan penuh kecurigaan membuat kami berdua tidak nyaman.
"mau jujur atau mamah cari tahu sendiri?"
"mah... mamah kok ga percaya sama Dara?"
"karena kamu berbohong pada mamah.."
"Dara ga bohong mah..."
"ya sudah... jangan sampai mamah mendengar sesuatu yang aneh tentang kalian..!!" ancam mamah.
"iya mah..."
🍎🍎🍎🍎🍎🍎
Dua minggu sudah aku ditinggal oleh Dr Rendra, ada rasa rindu di hati ini, tapi aku bisa apa?
"Dara..." panggil seseorang ketika aku dikantor Mss Beno.
Aku langsung menoleh dan hendak menyahuti, tapi seketika aku terpaku dengan pemandangan di hadapanku,
"Dokter..." ucapku tanpa sadar.
"apa kabarmu?" sapanya.
Jujur aku masih terkejut dengan kehadirannya yang tiba tiba, sehingga aku tak mampu bersuara lagi setelah itu,
"Rendra... tumben banget kesini!" seru mas Beno membuat lamunanku buyar.
"oh hai Ben.. kebetulan aku lewat, jadi sekalian mampir" ucapnya.
"ooh begitu... apa kau kesini mencari Dara?"
"tentu saja..." sahutnya.
"ya sudah.. aku tinggal dulu ya.. kalian ngobrol saja"
"thanks Ben.."
Mas Beno hanya membalas dengan senyumannya,
"Dar..aku ingin berbicara denganmu, apa kau sibuk?"
"iya..." sahutku sedatar mungkin, padahal kalo boleh jujur aku senang dengan kedatangannya.
"aku akan menunggumu sampai kau selesai bekerja"
"aku tidak punya waktu untuk berbicara denganmu!"
"Dar.. aku mohon.. sebentar saja!" mohonnya dengan wajah melas membuatku tak kuasa menolaknya lagi.
__ADS_1
"baiklah.. 10 menit dari sekarang!" ucapku.
"maafkan aku menghilang tanpa kabar, aku hanya butuh waktu untuk sendiri dan berpikir"
"8 menit lagi..." ucapku sambil melihat jam tanganku.
"Dan setelah aku berpikir.. aku tak bisa lagi menipu hatiku sendiri Dar..."
"6 menit lagi..."
"Aku mencintaimu Dar.. aku tak sanggup harus berjauhan denganmu lagi"
"4 menit..."
"Dan aku tak peduli dengan apapun yang sudah terjadi padamu..."
"2 menit..."
"menikahlah denganku...."
Suaraku tercekat mendengar ucapannya yang terakhir,
"sa..sa...tu menit" ucapku terbata.
"Aku mohon menikahlah denganku..."
"waktumu habis.."
"aku akan tetap disini menunggu jawaban darimu"
"dia tidak akan menikah dengan siapapun selain denganku" tiba tiba Pandu datang juga.
Pikiranku semakin tak karuan saat ini,
"Dara selamanya akan menjadi milikku" lanjut Pandu.
"Dara tolong jawab, kau pilih aku atau dia?" ucap Dr Rendra.
"a... aaku... tak bisa memilih kalian berdua!!"
"jika kau tak bersamaku, lebih baik aku mati saja" ucap Pandu sambil mengacungkan pistol di kepalanya sendiri.
Seketika suasana menjadi tegang, para kru dan staff lainnya yang sibukpun akhirnya menghentikan aktifitasnya,
"aaa.... dia pegang pistol" teriak salah satu kru wanita.
"awas hati hati..." sahut lainnya.
"apa apaan kau Pandu? jangan main main dengan senjata itu!" ucapku panik.
"siapa yang main main?" jawabnya santai.
"buang senjata itu.." suruhku.
"asal kau mau kembali padaku.. aku akan membuangnya"
"aku tidak bisa kembali padamu.... tolong dewasalah!"
"baiklah.. mungkin memang sudah saatnya aku mati" ucap Pandu bersungguh sungguh,
Diluar dugaan, aku pikir dia hanya menggertakku saja, ternyata Pandu benar benar menembak dirinya sendiri,
"Dorrr..." suara letusan senjata api itu, mengenai pelipis Pandu, Pandu langsung jatuh tersungkur ke lantai.
"aaaa....."
"aaaa...."
Suara jeritan sahut menyahut membuatku semakin panik, aku langsung berlari ke tubuh Pandu yang sudah tergeletak lemah tak berdaya.
"apa kau sudah gila?" kataku sambil memangku kepala Pandu yang berdarah.
Nafasnya tersengal tapi dia sempat tersenyum padaku sebelum akhirnya menutup matanya,
"Pandu....!"
"Pandu...!" panggilku berulang ulang sambil menepuk pipinya berharap dia sadar.
🍉🍉🍉🍉🍉🍉
__ADS_1