Seorang Bintang

Seorang Bintang
Empatpuluhempat


__ADS_3

Sejak makan malam romantis itu, aku menjaga jarak dengan Dr Rendra, aku tak ingin dia menaruh harapan lebih untuk hubungan ini.


"Dar... bersikaplah seperti biasa, jangan menghindariku" pesan wa dari Dr Rendra.


Aku mengabaikannya...


"tolong lupakan apa yang terjadi saat makan malam itu, aku khilaf Dar, kau masih mau kan berteman denganku?"


"iya..." aku balas dengan singkat.


"terimakasih..." balasnya.


Di sisi lain, Pamdu merajuk setelah aku menceritakan perihal lamaran yang dilakukan oleh Dr Rendra,


Sepulang kantor, aku memghampirinya di apartemen, dia tidak membalas pesanku mulai kemarin, tapi ketika aku tanya dia ada dimana, dengan sigap dia membalasnya, dasar akal buaya, rindu saja pake gengsi segala, batinku.


"aku datang...." kataku.


Dia tak bergeming tapi nampaknya dia seperti sedang berpikir,


uft..akhirnya dia datang juga, aku harus tetap stay cool agar tidak ketahuan kalo aku sebenarnya senang sekali dia mau menghampiriku ke apartemen, hihi.


"haiiiii aku dataaang..." aku mengulangi kata kataku kembali, tapi dia tetap diam saja, kini tanpa ekspresi apapun.


ayooooo lebih manja lagi, sekali kali donk kau yang merayuku, selama ini kan selalu aku yang memohon mohon padamu, ternyata begini rasanya sok cuek, hihi.


"kau yakin akan mendiamiku?" kataku lagi, dia tetap diam bagai patung, lama lama sebal juga dibuatnya.


ayo Dara masak cuma segitu doank rayuanmu? lagi donk.. aku sedang menikmati posisimu kali ini sayang.. hoho....


"ya sudah... mungkin sebaiknya aku pulang, sepertinya kau tak menyukai kehadiranku disini" kali ini aku benar benar sebal karena diabaikan olehnya, aku meraih tasku dan hendak membuka pintu.


lhaaaah... mau kemana dia?kok malah mau pergi gitu aja?? wah wah bakal ga dapat jatah nih kalo sampe dia pulang beneran, Dara ga asik banget sih!!! ukkh....


"stopppp.. mau kemana kau?" akhirnya dia bersuara juga, yesss, batinku.


"mau pulang lah!" sahutku ketus.


"kok pulang?" tanyanya dengan raut wajah kecewa.


"terus ngapain aku disini kalo dicuekin? yaaa mendingan pulang, main sama Mela" ucapku sambil meraih daun pintu.


"tidak tidak.. jangan pulang" rengeknya manja.


"iishhh... kenapa sekarang jadi merengek? kemana wajah datarmu tadi?" kataku dengan angkuhnya.


"huuhhh... setidaknya kau merayuku lebih dalam lagi bukannya malah mau pergi!!!" ucapnya kesal membuatku hampir tertawa namun aku tahan.


"kenapa aku harus merayumu?" jawabku sambil mengulum senyum.


"ya karena kali ini kau yang salah! ga peka banget sih jadi wanita!!!"


"hahahahaha...." akhirnya tawaku meledak, melihat ekspresi seorang Pandu, aktor dan bintang terkenal yang selalu terlihat cool di depan kamera, tapi di hadapanku tidak lebih seperti anak TK saja.


"kenapa kau malah tertawa? apanya yang lucu?"


"kau yang lucu, hahahaha...." jawabku sambil memegangi perutku yang sakit karena terlalu lama tertawa.


"kau pikir aku tukul?"


"tidak..."


"lalu?" dia mengernyitkan dahinya heran.

__ADS_1


"kau lebih mirip doyok ketimbang tukul!" ujarku asal.


"Daraaaaaa.....!!!!!!!" dia mulai merajuk lagi, sungguh kekanakan, apa dia lupa berapa usianya? ckckckk...


"okeee.. okeee aku minta maaf..." ucapku sambil mencium pipinya dengan gemas.


"lagi...!" katanya dengan bibir dimaju majukan.


"aku minta maaf..." ucapku lagi, kali ini ketika hendak mencium pipinya, dia dengan cepat menoleh ke arahku sehingga bibir kami bertemu.


Cuphhh...


"kau..mmpmpph...cuuu...mmphh..rang" kataku setelah berhasil mendorongnya menjauh.


Mendapat penolakan dariku, tiba tiba dia menarik tanganku hingga aku jatuh dipangkuannya,


"auw..." pekikku.


Pandu mengeratkan pelukannya dipinggangku,


"kenapa kau menolak ciumanku? apa kau tak merindukanku hem?" tanyanya tepat di samping telingaku, nafasnya membuatku geli.


"jika aku tak merindukanmu, buat apa sekarang aku ada disini?" jawabku yang kini menatapnya lekat.


"lalu kenapa tadi kau hendak kabur?"


"aku hanya menggertakmu saja, wleeee" jawabku sambil menjulur lidah mengejeknya.


"oooo jadi kau pura pura?"


"bagaimana denganmu? kau diam, hanya pura pura juga kan?"


"emp.... itu... itu hanya..."


"ah... sudah sudah jangan dibahas lagi!" dia merebahkan kepalanya di ceruk leherku, sesekali mengendus rambutku.


"ikkhhh.. jangan begini aah...aku belum mandi tauuuu" kataku berusaha melepaskan pelukannya.


"tapi kau masih wangi, aku suka aroma tubuhmu" kini dia malah menyandarkan kepalanya di dadaku.


"dasar aneh, manja!"


"biar, wleeee.. yang penting kau mencintaiku!"


"kata siapa?"


"kataku lah..."


"cih PD sekali!"


"tentu saja... tak mungkin kau menolak Dokter tampan itu jika kau tak mencintaiku!" cibirnya.


"apa aku harus menerimanya juga?" jawabku pura pura membayangkan sesuatu.


"hanya dalam mimpimu nyonya!!! kau sudah tersegel kepemilikan, atas namaku!" pelukannya makin erat membuatku sesak.


"hahaha... kau posesif sekali!"


"posesif? aku hanya melindungi apa yang telah menjadi milikku!" jawabnya.


"lepaskan aku, biarkan aku mandi dan memasak untukmu"


"kau mandi saja, tak usah memasak, aku sudah pesan makanan, sebentar lagi juga datang"

__ADS_1


Dan benar saja, ketika hendak ke kamar mandi, bel berbunyi,


"sepertinya makanannya datang" ucap Pandu.


"biar aku saja yang membuka pintunya, aku tak ingin kurirnya pingsan melihat wajahmu!" jawabku.


"kenapa pingsan? apa aku terlihat seperti hantu?"


"jika dia tahu siapa yang memesan, pasti dia akan menyebarkan alamat apartemenmu di medsos, apa kau mau tempat ini di ekspos ke media?"


"tentu saja tidak... sudah cepat buka pintunya, dia menekan bel seperti orang ngajak ribut saja!"


Setelah membayar dan menerima makanannya, aku meletakkannya dimeja pantry,


"aku mandi dulu, nanti aku siapkan untuk kita makan"


Selesai mandi, aku sudah melihat makanan tertata rapi di atas meja, apa dia sudah kelaparan? hingga melakukannya sendiri? batinku.


Tiba tiba dia memelukku dari belakang, dan menciumi rambutku yang basah..


"kau wangi dan seksiii..." bisiknya sambil menggigit pelan daun telingaku,


"ah..." aku pura pura mendesah membuat wajahnya merah padam.


"kau sengaja menggodaku?"


"hahha.. apa kau tergoda?"


"tanpa menggodaku pun, aku selalu tergoda untuk menerkammu, kau terlalu indah untuk diabaikan"


"cih bahasamu, mesum sekali!"


"mesum? tapi kau suka kan?" godanya.


"ah sudahlah... sebaiknya kita makan, aku sudah sangat lapar" jawabku.


"bagaimana dengan mamah?" tanyaku di sela sela makan.


"aku sudah menjelaskan semuanya pada mamah, kalo yang dilihatnya itu tak sesuai dengan dugaannya, bahkan ketika aku bercerita tentang Mela, dia menangis dan memintaku untuk membawa Mela menemuinya"


"trus trus?" kataku antusias dengan ceritanya.


"dia sangat bahagia mengehtahui dirinya sudah menjadi seorang oma... dan dia sangat ingin bertemu kau dan Mela"


"apa kau yakin mamah sudah tidak marah lagi padaku?"


"aku yakin.. sebenarnya mamah sangat menyayamgimu.. namun saat itu dia kecewa dan salah sangka dan menuruti pemikirannya sendiri tanpa bertanya kebenarannya terlebih dahulu" tukasnya.


"berarti sudah clear masalah dengan mamah Mia? sekarang pikirkan cara untuk mendapatkan hati mamah Lina" kataku.


"aku sudah memikirkannya.. kau tenang saja"


Selesai makan, kami melanjutkan hasrat kami yang tertahan lebih dari sebulan, walau tidak bercinta setidaknya kami melakukan ciuman panas, rabaan dan remasan, menyalurkan segala kerinduan dalam hati.


"ah... maaf aku tak bisa menuruti keinginanmu untuk bercinta" ucapku disela adegan panas kami.


"puaskan aku walau tanpa lubangmu Dara.." jawab Pandu yang sudah tertutup kabut gairah.


"dasar mesum!" aku membalas ciumannya sampe bergulung gulung di ranjang.


Malam yang semakin larut memaksa kami menghentikan aktifitas panas ini, aku harus pulang jika tidak ingin di ceramahi mamah.


🍑🍑🍑🍑🍑🍑

__ADS_1


__ADS_2