Seorang Bintang

Seorang Bintang
Lima


__ADS_3

Hari hariku rasanya kembali tenang dan sibuk seperti biasanya.. aku sudah melupakan si Pandu yang sok kegantengan itu.


Meskipun beberapa kali berpapasan dengannya, aku enggan menyapanya, yaa.. karena memang kita ga saling kenal, kenal sih tapi terpaksa!


Dan akhir akhir ini aku juga sering melihatnya bolak balik keruanganku ,aku berusaha acuh tak acuh. dia bertanya aku menjawab, dia diam aku pun lebih diam.


"eh dar... kok kayaknya kamu musuhan gitu sih sama Pandu?" tanya Gina.


"musuhan? enggak lah... ngapain juga musuhan!" sahutku dengan entengnya.


"trus kenapa setiap ketemu kalian kaya lagi perang dingin gitu, ga saling sapa"


"harus ya nyapa nyapa gitu?" ucapku jengah.


"ya setidaknya... say hello kek"


"ogah...." jawabku bergidik ngeri.


🍻🍻🍻🍻🍻🍻


"heh...tolong laporan keuangan buat besok donk" kata Pandu padaku,


"aku??" tanyaku sambil menunjuk hidungku sendiri.


"ya iyalah... kalo ada oranglain lagi disini, ogah mah ngomong sama kamu!" ucapnya.


"ikh malesin banget!!!!" jawabku bersungut sungut.


"buruan laporannya... gerah lama lama deket kamu!"


"copy aja sendiri!?!"


"yaelahh... dasar cewek gilaaa...!!!"


"heh bilang apa kamu?" kataku menghampirinya.


"GILA... kamu cewek G....I...L...A " jawabnya mengejek.


"dasar cowok sok kegantengan, dikasih hati malah ngelunjak!" jawabku dengan penuh emosi, ku injak kakinya dengan sangat kuat membuatnya meringis kesakitan.


"aaauuuwwww......" ringisnya sambil memegangi kakinya yang ku injak tadi.


"sukuriiinnn... mangkanya tuh mulut dijaga.. biar ga sembarangan kalo nyocot!!!" kataku lalu meninggalkannya sendirian.


"sial... " gerutunya, tapi aku masih bisa mendengarnya meskipun aku sudah agak menjauh.


Bagian keuangan dan marketing, adalah divisi yang terikat erat satu sama lain, mau ga mau aku harus bertemu dengannya setiap hari, bahkan berkali kali dalam sehari,

__ADS_1


"aku memang pernah ga waras, menganggapnya tampan dan menarik" gumamku dalam hati.


Jika saja dari awal aku tahu betapa menyebalkannya dia, tidak akan pernah aku berbuat hal bodoh dengan mencuri curi fotonya, cih... najis aku mengingatnya lagi.


🏺🏺🏺🏺🏺🏺


"hai Dar..." sapa Juna, staff marketing yang aku kenal dengan baik.


"hai Jun....tumben kamu sendiri yang kesini?" tanyaku yang melihatnya datang keruanganku.


"kenapa? kamu ngarep Pandu yang kesini?"


"idih najiss....!" jawabku dengan cepat.


"hahaha.. najis kok sama cowok ganteng,kamu masih normal kan?" ujarnya sambil tertawa.


"gantengan kamu kali, jauuuuhhhh..." jawabku lagi.


"ah masakkk siiihh?" katanya menggodaku.


"iya suerrr deh" jawabku sambil mengacungkan dua jari padanya.


"tapi kamu ga pernah tuh nyuri nyuri foto aku" cibirnya.


"yaelah... dibahas lagi... yang itu mah khilaff Juna....." jawabku dengan malas.


"hahahaa..." lagi lagi dia tertawa.


"eh ini... tolong copy kan donk.. laporan buat pameran besok"


"oh oke... tunggu ya..."


Hari sudah mulai gelap, pekerjaanku tak kunjung selesai, mau ditinggalkan juga nanggung, lebih baik aku lanjutkan saja supaya besok tenang.


Setelah semua selesai, aku bergegas pulang, jalanan mulai lengang karena hari memang sudah malam dan ditambah hujan pula.


Setengah berlari, aku menutupi kepalaku dengan tas kerja menuju halte bus, berharap masih ada bus yang lewat.


Hujan makin deras dan petir yang menyambar membuatku sedikit ketakutan, ditambah lagi suasana halte yang begitu sunyi, pikiranku malah memikirkan hal hal mistik, membuat bulu kudukku berdiri.


Celingukan berharap bus segera datang, nampaknya bus malam ini sedang kompak tak beroperasi, terbukti sudah dua jam aku berdiri tak satupun bus yang lewat, aku mulai kedinginan, sampai ada lampu mobil yang menyorot ke arahku.


Aku berharap di dalam mobil itu adalah orang yang aku kenal, dan benar saja, orang itu turun dan menghampiriku,


"kenapa kamu masih disini?" ujar orang tersebut.


Aku berusaha mengenali wajah orang tersebut, silaunya cahaya lampu, membuatku sedikit kesulitan melihat wajahnya, tapi mendengar suaranya, aku yakin kalo orang itu adalah Pandu.

__ADS_1


Karena sudah cukup lama aku kedinginan ditambah lagi perutku yang kosong, membuatku menjadi lemah dan mata mulai berkunang kunang, hampir saja aku jatuh pingsan jika tangannya tak menahan tubuhku,


"Pandu...." lirihku.


Tanpa basa basi, Pandu langsung menggendongku ke mobilnya, dan dia menyelimutiku dengan jaketnya,


"kenapa kamu masih dikantor sampe selarut ini?" ucapnya sambil menyelimutiku.


Sebenarnya aku masih mendengarnya tapi karena lemah, aku tak bisa menjawabnya,


Pandu membawaku ke rumah sakit, dia khawatir melihatku yang semakin pucat dan bibirku yang membiru karena kedinginan.


Semalaman Pandu menjagaku di ruang UGD, paginya aku terbangun dan melihat Pandu yang tertidur di samping brankarku.


"aaahh...." hanya suara itu yang bisa keluar dari mulutku tatkala aku berusaha untuk bangun, suaraku membuat Pandu terbangun dan menatapku.


"kamu sudah sadar? apa kamu baik baik saja?".


"i...iya..." jawabku.


"aku akan panggilkan dokter, kau jangan kemana mana" katanya lalu beranjak keluar.


Setelah diperiksa, dokter mengijinkan aku pulang karena aku hanya kedinginan dan kelelahan saja.


Pandu membantuku masuk ke mobil miliknya,


"rumahmu dimana?"


"gang mawar no 5" sahutku.


"baiklah...."


Tak ada percakapan lagi di antara kami berdua, aku masih tak percaya saja, Pandu yang begitu dingin mau menolongku semalam, bahkan menjagaku semalaman diruang UGD.


Pandu mengantarku sampai rumah dengan selamat, disana aku disambut oleh mamaku yang tampak khawatir melihatku,


"Dara.. darimana saja kamu nak? dari semalam mama hubungi ponsel kamu ga aktif!" ucap mama lalu memelukku.


"ponsel dara lowbat maaa... dan semalem dara lembur, pulangnya ga dapat bus, untung ada Pandu yang nolongin Dara" kataku menjelaskan.


"jadi kalian semalem nginep dimana?" tanya mama menyelidik.


"oh.. begini tante, ketika saya melihat Dara di halte, dia hampir saja jatuh pingsan karena kedinginan mungkin karena terlalu lama menunggu bus, lalu saya membawanya kerumah sakit, saya ga tau harus menghubungi siapa jadi saya menunggunya sampai sadar" jawab Pandu.


"oooh.... kalau begitu terimakasih yaa nak...." jawab mama dengan wajah lega.


"ya sudah kalau begitu saya pamit dulu, karena harus segera ke kantor dan kamu Dara, sebaiknya kamu istirahat saja hari ini, nanti aku akan bilang pada direktur kalau hari ini kamu cuty" ucapnya.

__ADS_1


"terimakasih Pan..." jawabku.


πŸ₯ͺπŸ₯ͺπŸ₯ͺπŸ₯ͺπŸ₯ͺπŸ₯ͺ


__ADS_2