
"sayang.. bangun...sudah sore..." Pandu mengguncang bahuku pelan,
"hoaaammmm...." aku menguap lebar, nikmaaat sekali.
"hemmm.. kebiasaan!" ucap Pandu melihatku menguap tanpa malu.
"upsss maaf.. aku lupa jika ada kau!" kataku reflek menutup mulutku dengan tangan.
"mandi gih...udah waktunya pulang" ucapnya.
"kamu ngusir aku?"
"ya ampun, enggak sayang.. aku cuma ga pengen mamah curiga sama kamu"
"setelah puas memggempurku, kau menyuruhku pulang begitu saja?"
"aku tidak mau egois sayang, walau aku ingin terus begini denganmu, tapi aku harus memikirkan mamah dan Mela juga"
"awas saja kalau sampai kau mencampakkan aku setelah ini!" ancamku.
"siapa yang akan mencampakkanmu sayang? aku bahkan tak ingin kehilangan dirimu untuk yang kedua kalinya"
"aaahh.. masaaak sih?"
"aku harus apa supaya kau percaya?"
"taaauuuuukkk"
"sayang, percayalah padaku.. aku sangat mencintaimu dan kita sudah memiliki Mela, tidak akan mudah membuat kita berpisah"
Aku beranjak dari ranjang, dengan hanya menggunakan handuk yang berserakan di sebelah ranjang.
"aku mau mandi" kataku sambil berjalan ke kamar mandi.
"aku ikut.." kata Pandu dengan cepat.
"tidaakkk... kau akan menggempurku lagi nanti" jawabku sambil melotot kearahnya.
"hahaha... bonus sayang" jawabnya.
"tidak ada bonus! bahkan yang kita lakukan ini saja sudah salah!"
"maafkan aku tak bisa menahan diri"
"aku juga sama..."
"sebaiknya kita menikah secepatnya sayang"
"selesaikan dulu urusanmu dengan mamah mamah kita"
"siap nyonya.."
Selesai mandi dan berpakaian, aku bergegas pulang kerumah,
"hati hati bawa mobilnya sayang.. maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang, aku takut ketahuan mamah"
"dasar pengecut!"
"eeee... aku bukan pengecut, hanya saja aku masih memikirkan cara yang tepat untuk mendekati calon mertuaku itu"
"heleeeh alasaan.....!!"
Aku melajukan mobilku perlahan, hari ini aku merasa sangat bahagia sekali, tanpa sadar aku senyum senyum sendiri, ya ampun apa aku sudah gila? batinku.
"mamih...." Mela menyambut kedatanganku,
"sayang..." kataku sambil memeluknya.
Mela nampak mengendus kemejaku,
"ehmmm.. bau parfum mamah kok mirip bau parfumnya om ganteng yah?" ucapnya.
__ADS_1
"ah masak sih?" jawabku pura pura mengendus kemejaku, mati aku kalo sampai mamah koment, aku lupa tadi semprot semprot parfum Pandu di kemejaku.
"iya mih..mirip baunya"
"mungkin karena Mela kangen sama om ganteng jadi kaya nyium baunya si om" bisikku ke telinga Mela.
Mela hanya manggut manggut, maafin mamih nak, harus bohongin kamu, batinku.
🍲🍲🍲🍲🍲🍲
Hari hariku kini lebih berwarna, selalu ada semangat baru semenjak kembalinya Pandu ke dalam hatiku.
Walau jarang bertemu, kami tetap bisa berkomunikasi via gadget. kesibukanku di kantor dan jadwal syutingnya yang selalu bertabrakan membuat kami susah untuk bertatap muka.
"sayang, kapan kita bisa ketemu lagi? bahkan ini sudah sebulan semenjak terakhir kali kita ketemu"
"sabar ya..kamu juga lagi sibuk banget kan?"
"iya sih.. jadwalku padat banget sampe akhir tahun nanti"
Ucapannya sebenarnya membuatku kecewa,namun aku bisa apa? ini sudah jadi konsekuensi dalam hubungan kami, aku tahu betapa sibuknya menjadi seorang entertain, karena aku juga pernah merasakannya walau hanya sebentar.
tring... ponselku berbunyi lagi,
"apalagi sih Pandu ini, katanya sibuk tapi masih sempet mainin ponsel" gerutuku sambil membuka pesan yang baru saja masuk.
Ternyata pesan Wa dari Dr Rendra, ya Tuhan aku lupa tak membalas Wa nya.
"hei, kau benar benar sibuk ya? sampai tak sempat membalas pesanku lagi" isi pesannya.
"maaf dok... hehe.. aku sudah mengetik balasannya tapi aku lupa mengirimnya" jawabku beralasan.
"jika kau ada waktu, aku ingin mengajakmu makan malam"
"kapan?"
"nanti malam"
"oke...jemput aku jam 7 ya" balasku.
Aku rasa aku perlu memberitahu Pandu jika aku di ajak makan malam oleh Dr Rendra, aku tidak ingin ada rahasia di antara hubungan kami.
"aku akan makan malam dengan Dr Rendra" aku mengirimi Pandu pesan.
Belum sampai 30 detik, balasan sudah masuk ke ponselku.
"cih, katanya sibuk tapi ponsel selalu ditangannya" gerutuku lagi.
"jangan pergi"
"kenapa?aku sudah terlanjur janji dengannya"
"aku cemburu!"
"ya Tuhan, kau tak percaya padaku?"
"percaya, tapi aku tidak mau kau pergi makan malam dengannya!"
"kali ini saja, aku janji"
"baiklah.. jangan malam malam pulangnya"
"siap... ngomong ngomong kau bilang kau sibuk tapi kenapa lancar sekali membalas pesanku?"
"aku mencuri kesempatan, aku tak ingin melewatkan semua pesan darimu!"
"cih lebay"
"aku bersungguh sungguh, aku sangat merindukanmu"
"aku juga... ya sudah aku kerja dulu!"
__ADS_1
"ingat, jangan malam malam pulangnya, setelah makan langsung pulang"
Aku mengabaikan pesan terakhirnya, pekerjaanku benar benar menumpuk jika harus meladeninya terus.
🍆🍆🍆🍆🍆🍆
"sudah siap nyonya?" tanya Dr Rendra yang sudah menungguku diruang tamu.
"siaaaap" jawabku sambil tersenyum.
"wah kalian sudah rapi, mau kemana?" tanya mamah.
"maaf mah...Rendra mau mengajak Dara makan malam" ucap Dr Rendra sedikit canggung.
"ooowh... kalo begitu pergilah..tapi jangan malam malam pulangnya"
"iya mah.. kalo begitu kami pergi dulu"
Aku dan Dr Rendra menyalami mamah lalu berangkat.
Dr Rendra mengajakku makan malam di resto yang lumayan mewah, dilihat dari tempatnya saja sudah bisa dipastikan berapa harga makanan disini.
"kenapa ga makan di tempat biasa aja sih?" tanyaku sambil melihat dekorasi resto.
"karena aku ingin suasana baru" jawabnya.
"disini makanannya pasti mahal mahal" bisikku padanya.
"tenang saja, tidak sampai harus menjual rumah kok" jawabnya sambil tertawa.
"makanan apa yang harganya sampai harus menjual rumah? kau ada ada saja!"
Dia hanya tersenyum padaku.
Makan malam terasa sangat romantis, dengan lilin lilin kecil menghiasi meja, suara musik klasik dan resto yang sepi menurutku karena tidak ada pengunjung lain selain kami berdua.
"restonya sepi sekali..." kataku.
"memang sengaja" jawabnya sambil menyantap makanannya sepertinya dia keceplosan jika dilihat dari raut wajahnya.
"eh tunggu... jangan bilang kau sudah membooking seluruh resto ini untuk kita berdua?" tanyaku.
"hah? sepertinya kau terlalu banyak nonton drakor nyonya, khayalanmu jadi kemana mana!" sahutnya dengan santai padahal memang benar dugaan Dara, Dr Rendra sengaja membooking seluruh resto itu.
"lalu kenapa sepi sekali?"
"mana aku tahu...!" sahutnya tanpa ekspresi yang mencurigakan.
Selesai makan, kami berbincang seperti biasanya, dan tiba tiba Dr Rendra menggenggam tanganku, membuatku sedikit tak nyaman.
"sudah tak terhitung berapa kali aku menyatakan perasaanku padamu.. tapi malam ini aku ingin menyatakannya dalam suasana yang berbeda"
Perasaanku makin tak nyaman apalagi mendengar ucapannya barusan tentang perasaannya.
"Dara.. aku tidak akan basa basi lagi, aku mencintaimu Dara dan aku ingin melamarmu, jadilah pengantinku" ucapnya sambil berlutut dan menyodorkan sebuah cincin berlian.
"ya Tuhan Dokter...tapi waktu itu kau menyuruhku untuk memperjuangkan cintaku, kenapa sekarang kau bersikap seperti ini?"
"apa aku salah?"
"tidak.. tapi aku rasa kau tahu jawabanku tanpa harus aku menjawabnya"
"apa tidak ada kesempatan lagi untukku?"
"maafkan aku dok..." jawabku dengan menyesal.
"kenapa Dar? kenapa kau tak bisa memberiku kesempatan satu kali saja?"
"aku sudah pernah memberimu kesempatan dok tapi kau malah meninggalkan aku waktu itu"
"aku tidak meninggalkanmu.. aku hanya butuh waktu untuk mencerna semuanya saat itu"
__ADS_1
"jujur aku sangat kecewa saat itu..."
🍗🍗🍗🍗🍗🍗