
Aku bingung, harus pulang ke rumah mamah atau bertahan disini saja? kalau aku pulang, pasti mamah berpikir macam macam, tapi jika aku tetap disini apakah aku bisa tahan melihat Pandu membawa pulang wanita lain? aku benar benar tidak bisa memutuskannya.
Ketika sedang mengemasi pakaianku, Pandu datang, dia melihatku kearah ku sekilas, aku pikir dia akan mencegahku untuk pergi,
"jika mau pergi, jangan ke rumah mamah! mereka akan membuat masalah semakin runyam!!" ucapnya dengan nada datar.
Aku tak sanggup menyahutinya, apa itu caranya mengusirku? mengusir secara halus mungkin! aku terus saja berkemas, sampai koperku penuh sesak.
Tak terdengar lagi suaranya, sepertinya dia sudah pergi lagi, aku masih asyik dengan pikiranku di ruang tengah, koper sudah siap, aku tinggal memutuskan akan kemana.
Sampai sore menjelang, aku masih tidak tahu harus kemana, aku malah tetap duduk di ruang tengah tanpa makan ataupun minum, sampai Pandu datang lagi, kini dia bersama Lala, Lala bahkan merangkul lengan Pandu dengan sangat mesra, membuat hatiku panas membuncah.
"kupikir kau sudah pergi!" ucap Lala sambil tersenyum mengejek.
"dasar perempuan tidak tahu malu!!! bisanya hanya menggoda suami orang lain!!" ketus ku.
"aku tidak menggodanya, dia sendiri yang datang padaku!" sahut Lala dengan santainya.
Aku menatap tajam ke arah Pandu, yang hanya diam menerima rangkulan Lala.
"jika kau punya perasaan, kau tidak akan pernah menanggapi godaannya!!! kau juga perempuan, bagaimana perasaanmu jika suamimu berbuat seperti itu padamu?" ujarku.
"siapa yang tidak akan tergoda jika yang menggodaku setampan dia?" ucap Lala sambil mengelus wajah Pandu, sangat menjijikkan menurutku.
" dan ya aku akan minta cerai jika sampai suamiku tergoda oleh wanita lain, gampang kan?" jawab Lala lagi lagi dengan santai tanpa beban sedikitpun, dia merasa menang karena Pandu ada di pihaknya.
"cerai katamu? pernikahan bukan sesuatu yang bisa di permainkan! tidak semudah itu memutuskan untuk bercerai!" jawabku sambil mengatur nafas agar tak terpancing emosi.
"lalu apa yang kau harapkan dari pernikahanmu? suamimu saja sudah tidak menganggap mu ada!" ejek Lala sambil meletakkan kepalanya di bahu Pandu.
Pandu tidak sedikitpun menolak ketika Lala bermanja manja padanya, bahkan dia melakukannya di hadapanku yang masih berstatus sah sebagai istrinya.
"tega sekali kau melakukan ini padaku! aku ini masih istrimu Pandu!" ujar ku setengah berteriak.
"kau saja tega padaku, kenapa aku tidak?" jawab Pandu.
"masalah itu lagi yang kau ungkit hah? aku bahkan sudah ribuan kali minta maaf padamu!!" ucapku semakin kesal.
"bahkan trauma masa laluku, itu di sebabkan olehmu!!!" lanjut ku sambil menangis.
"kenapa kau malah menyalahkan aku?" jawab Pandu tak terima.
"ya, maaf.. aku lupa kalau kau selalu benar dan tidak pernah salah!!" ujar ku.
"ah sudahlah berdebat denganmu tidak akan ada habisnya!" jawab Pandu lalu menarik Lala masuk ke dalam kamar pribadi kami.
"apakah ini caramu untuk membalas ku?" kataku sebelum mereka masuk.
__ADS_1
"terserah apa yang kau pikirkan!" jawabnya Lalu menutup pintu dengan membantingnya membuat telingaku sakit.
Bukan hanya telingaku, hati dan seluruh jiwa ragaku pun sangat sakit, aku lelah bertahan tapi aku bisa apa? apa aku memang harus pergi? jujur aku masih sangat mencintai Pandu meskipun dia sudah mengkhianati ku.
Panas rasanya hatiku, membayangkan apa yang sedang mereka lakukan berduaan di dalam kamar, sepertinya aku memang harus pergi, Pandu juga sudah tidak menginginkan ku lagi!
"ya Allah, bantu aku untuk memutuskan langkah apa yang terbaik untuk menyelesaikan masalah ini!" doa ku dalam hati.
Dengan langkah sedikit ragu, aku menyeret koperku keluar rumah dan memanggil taksi,
"mau kemana non?" tanya sang sopir taksi membuyarkan lamunanku.
"ehm.. jalan aja pak!" jawabku.
"siap!" jawabnya.
"non, kalau di lihat lihat, wajah non kok familiar ya?" ucap sopir taksi yang melihat wajah Dara sekilas.
Dara yang tetap cantik dengan pakaian serba hitamnya, hanya melirik sekilas pada sang sopir yang berusaha mengingat sesuatu.
"masak sih pak? bapak pernah ketemu sama saya dimana?" tanyaku, aku sedikit senang ada teman untuk mengobrol.
"ketemu sih enggak, tapi kaya pernah lihat dimanaaa gitu!" ujar sang sopir sambil berpikir dan mengingat.
"bentar bentar, bapak ingat, bukankah non ini seorang bintang iklan ya?" tanya pak sopir dengan sangat antusias karena berhasil mengingatnya.
"hah? bapak beneran pernah tahu sama saya?" tanyaku lagi.
"iya benar kan, non ini bintang iklan shampo itu ya?" sang sopir mencoba menerka.
"iya pak, tapi kan itu sudah lama sekali, kok bapak masih ingat?" tanyaku dengan takjub, berbincang dengan pak sopir membuatku sedikit melupakan masalahku dengan Pandu.
"tentu saja saya ingat, anak saya ngefans sekali pada non, bahkan sampai sekarang dia tetap memakai shampo yang non iklankan!" jelas sang sopir.
"wah saya merasa tersanjung pak!" jawabku senang.
"non kalo boleh, saya minta foto non untuk anak saya, sebagai gantinya, saya akan mengantar non kemana saja, gratis! bagaimana?" ucap sang sopir.
"dengan senang hati pak dan saya akan tetap membayar ongkos taksinya, bapak kan juga sedang kejar setoran!" ucapku.
"terimakasih banyak non, selain cantik ternyata non ramah sekali!" pujinya.
Sopir taksi tersebut memberikan ponselnya padaku dan aku pun mulai selfie semanis mungkin agar putri pak sopir senang.
__ADS_1
Berkali kali selfie, akhirnya dapat juga angel yang pas, dan aku pun mengembalikan ponsel pak sopir, pak sopir pun terlihat senang.
"terimakasih banyak ya non..." ucapnya.
"sama sama pak" sahutku.
"oiya non, jadi mau di antar kemana?" tanyanya lagi.
"em.. antar kan ke hotel X ya pak!" jawabku.
"oke siap non!" jawabnya lalu fokus menyetir.
Sampai di hotel X, sopir taksi tersebut sempat menolak uang yang aku berikan sebagai ongkos taksinya, tapi aku memaksa sampai akhirnya dia mau menerima.
"disini aja dulu kali ya, sambil menenangkan diri!" ucapku dalam hati sambil menuju resepsionis dan memesan satu kamar.
Aku langsung menuju ke kamar setelah mendapatkan kunci,
Sampai di kamar, aku langsung merebahkan diri, lagi lagi rasa sepi membuatku mengingat masalahku kembali, aku mulai menangis sampai akhirnya aku terlelap karena kelelahan.
Suara dering ponsel membuatku terbangun,
"hallo mih.. mamih dimana?" tanya Mela yang menelpon ku.
"hallo, mamih lagi di luar sayang, kenapa?" jawabku sambil mengucek mataku karena baru bangun tidur.
"Mela lagi di apartemen, tapi ga ada orang!" jawabnya.
Degh...
Jantungku rasanya berhenti berdetak, kenapa aku tidak berpikir ke sana?
"Mela sama siapa ke apartemen?" tanyaku sambil menormalkan degup jantungku.
"sama oma mih.. mamih masih lama ga?" tanya Mela lagi.
"Mampuuus!!" lirihku dalam hati.
"em.. mungkin agak lama sayang, Mela pulang aja ya.. salamin buat oma juga!" kataku.
"oh ya udah kalau begitu, Mela pulang, mamih mampir ke rumah oma ya kalau udah selesai!" ucapnya.
"iya sayang!" jawabku.
Setelah Mela mengakhiri panggilannya, aku kembali merebahkan diri dan memikirkan langkah ku selanjutnya.
Aku tidak bisa menutupinya terus dari mamah...🥺🥺
__ADS_1
📸📸📸📸📸📸