Seorang Bintang

Seorang Bintang
Enampuluhtujuh


__ADS_3

Tak lama setelah Lidya keluar dari ruangannya, Pak Deva juga keluar dengan setengah berlari, sepertinya dia hendak mengejar Lidya.


Kalau menurut prediksi ku sih, Lidya pasti sudah jauh dan Pak Deva ga mungkin bisa mengejarnya, salah dia kenapa lama banget mau keluar dari ruangannya.


Hadeh, kenapa jadi aku yang ribet dengan masalah percintaan orang lain?payah!!!


Sesuai dugaan ku, Lidya pasti sudah jauh, buktinya Pak Deva kembali lagi ke ruangannya, untung saja hari ini aku cuti, kalo ga, pasti kerjaan ku keteteran karena terlalu kepo dengan urusan pak Deva dan tunangannya.


Aku yang tadinya sedang menunggu Lidya di depan ruangan pak Deva, kini berniat untuk pulang ke rumah, saat bangun dari duduk, ponselku berbunyi,


Pak Deva is Calling....


"tamat riwayatmu Dar!" gumam ku seorang diri, pasti Pak Deva marah besar padaku kali ini.


Aku dengan ragu menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan dari pak Deva, sebelum menjawab, aku menarik nafas perlahan,


Fiuh....


"Hallo, iya pak!" jawabku seolah tidak terjadi apa apa sebelumnya.


"masuk ke ruangan saya sekarang!" ucapnya lalu langsung memutus sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dariku.


"dasar sultan!!! aku mah apa atuh!!" seruku karena kesal, Pak Deva langsung memutus sambungan telepon seenak hatinya.


Sebelum masuk keruangan nya, aku berkaca pada ponselku terlebih dahulu, memastikan wajahku masih oke sampai detik ini, entah nanti setelah keluar dari ruangan angker itu, membayangkannya saja sudah membuatku bergidik ngeri.


Sayang kalau udah buka ponsel terus cuma ngaca doank, sekalian aja aku selfie, mumpung manis nih muka, hehe..


Cekrek, dih tumben banget sekali shot udah bagus hasilnya, gumam ku senang melihat hasil selfie ku kali ini, aku posting ke IG ah, lanjut ku begumam manja.



Tengah asyik mengutak atik IG, tiba tiba ponselku berdering lagi, dan itu panggilan dari Pak Deva.


"astaga, aku sampai lupa kalau di panggil Pak Deva!!" lirihku dengan panik.


Tentu saja aku langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu saking paniknya.


"ssii..siang pak Deva! maaf saya lama!" kata kataku terbata karena panik.


"darimana aja kamu?" tanyanya dengan wajah masam.


"duh mampuus beneran aku kali ini!" ucapku dalam hati.

__ADS_1


Pak Deva nampak sedang melihat ponselnya, entah sedang apa dia.


"maaf Pak, tadi saya ke toilet dulu sebelum kemari!" jawabku beralasan.


"ke toilet apa selfie di depan ruangan saya?" katanya sambil menunjukkan foto yang baru saja aku posting di IG.


"the end Ra??!" iblis dalam diriku ikut bersuara.


Wajahku seketika memanas menahan malu, pasti ini wajah udah kaya bendera indonesia jadinya!!!


"em.. iii..itu.. saa..saya...anu..."


"bicara yang jelas, jangan em itu anu saya terus, saya ga ngerti!?" ujarnya dengan suara sedikit meninggi membuat nyaliku ciut.


"saya minta maaf pak!" kataku sambil menundukkan kepalaku.


"lagian kamu, masih sempat sempatnya selfie padahal saya suruh kamu segera ke ruangan saya?!" kata pak Deva sambil berdiri di hadapanku, aku hanya meliriknya sekilas.



Aku tidak berani menanggapi ucapannya barusan karena ini memang salahku,


"kenapa malah diem?" tanyanya lagi dengan melangkah sedikit maju ke arahku membuat degup jantungku semakin tak beraturan.


"barusan diem sekarang nangis! mau kamu apa? padahal saya belum ngomong apa apa!" lanjut pak Deva berkata.


Aku bersimpuh di hadapan Pak Deva, lalu berkata,


"maafin saya Pak, saya tahu saya salah, saya sudah lancang membawa Lidya kemari tanpa ijin terlebih dahulu pada pak Deva dan masalah selfie itu, saya cuma iseng pak, saya beneran lupa kalau sedang di panggil pak Deva!" jawabku sejujur jujurnya berharap Pak Deva bisa memakluminya.


"ayo bangun, saya bukan berhala yang patut kamu sembah!!!" ujarnya dengan nada datar.


"ii..iya Pak!" sahutku lalu berdiri lagi.


"yang pertama, saya ga marah karena kamu bawa Lidya kemari, malah saya mau berterima kasih sama kamu, dengan begini saya bisa bertemu dan berbicara dengannya, mengingat betapa sulitnya untuk saling bertemu" kata Pak Deva menjelaskan.


Nyesss.. hatiku tiba tiba jadi sejuk mendengar penjelasan Pak Deva.


"yang kedua, saya juga ga marah kamu mau selfie dimana aja, asal jangan lupa sama kewajiban kamu, ga biasanya kamu lama ketika saya panggil saya jadi berpikir kamu kenapa napa" lanjutnya lagi.


"maafkan saya Pak!" lagi lagi hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutku.


"ya.. saya maafkan..." jawabnya dengan nada melembut.

__ADS_1


"tapi maaf Pak kalau saya lancang bertanya, kenapa Lidya menangis setelah bertemu dengan bapak?" kataku memberanikan diri bertanya agar tidak penasaran lagi.


"saya memutuskan hubungan dengannya!" jawab Pak Deva secara gamblang, mataku melotot sempurna mendengar jawaban Pak Deva.


"apa?? putus?? kok bisa Pak?" tanyaku makin kepo, anehnya Pak Deva menanggapi kekepoanku dengan baik.


"iya, saya sudah lama ingin putus tapi tidak pernah punya kesempatan untuk bertemu langsung dengannya!" ujarnya.


"apa ga bisa di pertahanin lagi pak?" kataku sok gawat.


"saya sudah bertahan dan bersabar selama 5 tahun ini dan hasilnya tetap sama jadi saya pikir lebih baik kita jalan masing masing saja!"


"pantesan Lidya nangis, pasti dia marah sama saya karena saya yang mengajaknya kemari, secara ga langsung saya ikut andil dalam putusnya hubungan Pak Deva dan Lidya!"


"bukan salah siapa siapa kok.. memang hubungan kami sudah tidak bisa di pertahankan lagi!"


"em.. iya Pak!" jawabku singkat karena speechless dengan ucapan Pak Deva.


"sorry ya, saya malah curhat ke kamu!"


"ga masalah Pak, saya bersedia jadi pendengar yang baik untuk anda!"


"wah benarkah? jadi saya bisa curhat kapanpun saya mau?"


"boleh boleh aja pak, asal jangan tengah malam pas saya lagi mimpi indah aja!"


Pak Deva terkekeh mendengar jawaban dariku,


"saya bukan vampir yang gangguin orang tengah malam!"


Kini giliran ku yang terkekeh.


"oiya Pak, saya mau nanya, bapak Follow IG saya ya?" tanyaku tiba tiba teringat foto di IG tadi.


"iya?" sahutnya singkat.


"sejak kapan?"


"sejak kamu jadi karyawan saya dulu!!" jawabnya.


Wah selama itu dia follow akun ku dan baru sekarang aku menyadarinya.


🎟🎟🎟🎟🎟🎟

__ADS_1


__ADS_2