Seorang Bintang

Seorang Bintang
Sembilanbelas


__ADS_3

"arrrgghhhhh...." teriak Pandu frustasi melihat Dara sudah tak lagi di kamarnya.


"Daraa....!!!" teriaknya histeris.


"kenapa kau tega meninggalkan aku?" ratapnya seorang diri.


"aku tak akan pernah melepaskanmu" ucapnya bertekad dalam hati.


🍇🍇🍇🍇🍇🍇


"hallo.." Dr Rendra menelponku setelah dia sampai kerumahnya, sesuai dengan janjinya padaku.


"halo.." sahutku.


"kenapa belom tidur hem?"


"aku menunggu telpon darimu dok"


"apa kau sudah merindukanku?" kekehnya.


"kan dokter sendiri yang berjanji tadi untuk menelponku"


"jadi kau menungguku?"


"ya iyalah..."


"kenapa?"


"karena kau yang menyuruhku"


"kalo tidak kusuruh?"


"aku akan tetap menunggumu"


"kenapa?"


"apa harus ada alasannya?"


"tentu saja,setiap yang kau lakukan harus ada alasannya"


"aku tak punya alasan.."


"kau yakin?"


"yakin..."


"ya sudah..." sahut Dr Rendra melemah.


"kalau aku bilang aku mulai belajar menyukaimu,bagaimana?"


"apa...?" Dr Rendra reflek setengah menjerit.


"aku rasa kau bisa mendengarnya dengan jelas dok" ucapku jengah.


"ulangi sekaliiii lagi..." Dr Rendra memohon.


"aku menyukaimu..."


tut... tut... tut...


Sambungan telepon terputus, menyisakan Dr Rendra yang terperanjat dengan kata terakhir dariku tadi.


🥞🥞🥞🥞🥞🥞


"Daraaa....!" panggil Pandu dengan sangat keras dari luar pagar rumahku.


"Daraaa...!" ulangnya tak kalah keras dengan panggilannya yang pertama.


Aku terpaksa keluar, karena memang hanya ada aku dirumah, mama sedang menghadiri arisan dengan teman temannya.


"kau pikir ini hutan sehingga kau bisa berteriak seenaknya?" ucapku dengan wajah datar,tanpa membuka pagar.


Sebelum keluar rumah aku sudah menghubungi Dr Rendra untuk segera datang kerumahku.

__ADS_1


"buka pagarnya!!" kata Pandu sambil mendorong pagar dengan kasar.


"untuk apa? jika kau mau bicara, bicaralah dari tempatmu, aku akan mendengarkannya" sebenarnya aku sangat ketakutan tapi aku berusaha terlihat tenang.


"aku mencintaimu Dara... sangat mencintaimu... jangan pernah berpikir untuk menjauh dariku, ingat itu!!" ucap Pandu.


Aku tak menanggapi ucapan Pandu, aku hanya berharap agar Dr Rendra segera datang.


Pandu mulai menendang pagar dengan kasar, sampai pengaitnya terlepas,


"biarkan aku masuk Dara..." ucapnya sambil melangkah maju,


Sebelum kakinya sempat melangkah maju, satu bogem mentah melayang kearah wajahnya membuat Pandu tersungkur ke tanah.


"awwww..." pekikku ketika melihat Pandu jatuh ke tanah.


Sudut bibir Pandu robek dan mengeluarkan darah, dia bangun dan melihat siapa yang berani memukulnya.


"itu buat kau yang selalu mengganggu Dara!" ucap Dr Rendra.


"kau...!!! siapa kau hah? berani beraninya kau memukulku?" ucap Pandu geram.


"tak perlu tahu siapa aku, mulai sekarang jauhi Dara!!?" kata Dr Rendra dengan garang.


"kau tak berhak melarangku!"


"aku berhak!!"


"cih... memangnya kau siapanya Dara, ayahnya bukan, pacarnya pun bukan!" decih Pandu tak suka.


"Dia pacarku!!!" sahutku kemudian, tak kuasa melihat mereka berdua berdebat.


"apaaa?" pekik mereka berdua hampir berbarengan.


Pandu dan Dr Rendra saling pandang dengan tatapan tak suka satu sama lain.


"kau pasti berbohong Dar! kau hanya mencintaiku, aku cinta pertamamu!" raung Pandu tak terima.


"aku tidak berbohong Pan,dia memang pacarku dan aku tak mencintaimu lagi!" setelah mengucapkan itu, aku masuk kedalam rumah dan menangis. hatiku sakit sekali saat mengatakan jika aku tak mencintainya lagi.


"hei kau, berhenti berteriak! kau membuat keributan dirumah orang!" ucap Dr Rendra.


"Daraa... !!!" Pandu terus berteriak tanpa memperdulikan ucapan Dr Rendra.


"jika kau tak pergi darisini, aku akan menelpon polisi sekarang juga!" ancamku.


Pandu yang tampak putus asa, memilih pergi darisana dengan perasaan yang tak karuan.


Setelah Pandu benar benar pergi darisana, Dr Rendra pun akhirnya pergi juga, dia membiarkan Dara sendiri, sepertinya Dara butuh waktu untuk menenangkan dirinya sendiri.


Dr Rendra bukannya senang dengan ucapan Dara yang mengklaim dirinya sebagai pacar, dia malah tertohok karena terlihat jelas raut wajah Dara berkata lain, dia masih mencintai Pandu. hati Dr Rendra sebenarnya sangat terluka saat ini.


🍟🍟🍟🍟🍟🍟


"Dokter, bisa kah kau datang kerumahku sekarang" ucapku lewat sambungan telepon.


"aku masih ada beberapa pasien Dar... ada apa?" sahut Dr Rendra dingin.


"owh... maaf jika aku mengganggumu"kataku lagi.


Saat aku bersiap mengakhiri sambungan telepon, Dr Rendra berbicara,


"tunggu Dar... aku akan kesana setelah jam praktekku berakhir" ucapnya, kini tak sedingin tadi.


"baiklah... aku tunggu" sahutku senang.


Aku sudah bertekad untuk menerima perasaan Dr Rendra dan berusaha untuk mencintainya. aku memang bilang kalau aku menyukainya tapi aku belum mencintainya, dia baik dan humble membuatku selalu nyaman jika berada di dekatnya.



Sore itu Dr Rendra datang dengan membawa oleh oleh di tangannya. aku yang sudah berdandan untuk menyambut kedatangannya, tersenyum melihatnya datang dengan membawa dua kantong belanjaan yang isinya makanan dan cemilan semua.


__ADS_1


"apa kau hendak membuka toko di depan rumahku Dok?" tanyaku setengah bercanda.


"tentu saja jika itu bisa membuatmu makan dengan teratur" jawab Dr Rendra dengan cepat dan duduk di teras rumah Dara.


"sebaiknya duduk di dalam saja Dok, diluar bising" kataku mengajaknya masuk keruang tamu.


"owh... baiklah" sahutnya kembali bangun dan masuk mengekoriku.


"kita makan dulu ya..." kata Dr Rendra sambil mengeluarkan sekotak pizza.


"oke.... jarang jarang seorang dokter memberikan junkfood pada pasiennya" ucapku meledeknya.


"hihi... sekali kali tak apalah... lagian aku tahu jika aku bawakan nasi, kau tak akan memakannya" jawab Dr Rendra membela diri.


"sok tahu...!" jawabku senang.


"tahu lah... apa yang tak aku ketahui tentangmu, wleee..!" cibirnya.


Aku dan dia makan dalam tenang tanpa ada yang berbicara,


"ehmm... dok" aku akhirnya membuka suara, masih sambil mengunyah potongan pizzaku.


"ya...." sahutnya dengan mulut penuh pizza.


"soal kemaren...." Dara menggantungkan ucapannya.


"tak usah dibahas, aku akan menunggu sampai kau benar benar siap dan yakin dengan perasaanmu sendiri" ucapnya lancar karena dengan cepat Dr Rendra menelan isi mulutnya.


"tapi dok..." sahutku, lagi lagi Dr Rendra memotong pembicaraanku.


"aku tahu, kemarin kau terpaksa berkata seperti itu di depan Pandu" ucapnya dengan ekspresi wajah yang sulit di artikan.


"maafkan aku dok.. aku terpaksa!" sahutku, seketika raut wajah Dr Rendra berubah sendu.


"kau tak perlu minta maaf" sahutnya dengan senyuman palsu.


"Dok.. jangan menampilkan senyum palsu di hadapanku"


Dr Rendra tersenyum kecut menatap kearahku, akupun berpindah duduk beralih ke sebelahnya,


"dok..." panggilku.


"hemmm..." sahutnya dengan kepala tertunduk.


Aku meraih tangannya dan meletakkannya di pangkuanku,


"dok...aku memang belum mencintaimu tapi aku sangat menyukaimu, bisakah kita memulainya meskipun belum ada cinta dihatiku? aku berjanji akan belajar mencintaimu seperti kau mencintaiku" kataku sambil terus menatapnya.


Hening, Dr Rendra membisu tapi rautnya wajahnya tampak berpikir,


"Dok..." panggilku lagi.


"bisakah kau berhenti memanggilku dokter?"


"lalu aku harus memanggilmu apa?"


"katamu, akan memulainya sekarang? bisakah di awali dengan mengganti nama panggilanku?" ucapnya.


Aku sempat terbelalak dengan ucapan Dr Rendra, ternyata dia mau memulai hubungan denganku meski aku belum bisa mencintainya.


"baiklah Rendra.. apakah itu artinya sekarang kita berpacaran?" kataku.


Dr Rendra mengangguk pasti dan mencium punggung tanganku berkali kali,


"terimakasih karena mau berusaha untuk mencintaiku" sahutnya senang.


"seharusnya aku yang berterima kasih karena kau mau memberiku kesempatan" ucapku.


Dr Rendra tampak bahagia dan pandangannya tak lepas dariku, sampai akhirnya aku berinisiatif untuk menciumnya duluan.


"cuph..." aku mengecup bibirnya sekilas, membuat Dr Rendra melotot sempurna dan memegang bibirnya sendiri yang baru saja aku kecup.


Aku senyum senyum sendiri melihat ekspresinya yang menurutku sangat lucu.

__ADS_1


🌭🌭🌭🌭🌭🌭


__ADS_2