Seorang Bintang

Seorang Bintang
Enampuluhlima


__ADS_3

Mas Beno is Calling....


"ini mas Beno apaan sih telpon mulu!!!!" gerutu Ara yang merasa terganggu.


"Hallo!" jawab Dara dengan sedikit ketus.


"ya ampun, anak gadis ga bisa lembut dikit ya terima teleponnya?" ucap Beno mengejekku.


"anak gadis? jendes kali mas, hahaha!" sahut ku sambil terbahak.


"jendes model kamu mah masih kalah yang gadis!!" ucapnya.


"cieee, baik banget! pasti ada maunya!" sahutku.


"hahaha.. tau aja! eh besok kamu ada pemotretan zheyenk jadi minta ijin dari sekarang ya sama Deva!" ujar Beno kegirangan


"wah secepat itu? baru juga kemaren minta ijin sama pak Deva!" sungut ku.


"iklan mana yang tahan lihat wajah kamu zheyenk!!! di jidat kamu itu ada dewi fortunanya!" ujar Beno.


"ish, lebay banget!" sahutku jengah.


"kok lebay? ini buktinya, mereka langsung kontrak kamu setelah aku sodorin foto kamu tadi!" jawabnya.


"mas, tapi aku malu mau ngomong sama pak Deva!" tukas ku.


"aduh zheyenk, masak harus mas lagi yang ngomong sama Deva?" jawabnya jengah.


"ya udah kalau mas ga mau bantuin ngomong, aku ga datang ke pemotretan besok!" kataku setengah mengancam.


"ampun deh ya!! susah berurusan sama janda labil!!!" sahut Beno setengah kesal setengah bercanda.


"biarin wleee..." ujar ku lalu memutus sambungan telepon secara sepihak.


"gedeg gedeg deh mas Beno..!" gerutu Dara di depan layar ponselnya.


"kamu marah marah sama ponsel?" ujar pak Deva yang sudah ada di hadapanku.


"eh.. pak Deva!" kataku seraya bangun dari dudukku.


"udah ga usah berdiri, saya cuma mau nyapa aja!" ujarnya dengan santai.


"eh.. iya, maaf pak ya saya duduk lagi!" kataku sedikit kikuk.


"tadi kenapa? ponselnya kok di marahin?" tanya pak Deva kepo.


"hehe, enggak kok pak, tadi mas Beno abis telepon saya!" jawabku lalu nyengir kuda dengan garing nya, karena memang ga ada yang lucu.


"apa Beno udah dapat iklan buat kamu?" tanyanya seolah tahu isi pikiranku.


"kok pak Deva tahu?" tanyaku heran.


"ya tau lah, kamu ga tahunya kalau saya punya kelebihan bisa baca pikiran orang lain?" jawab dengan tersenyum,


Senyumnya nih orang, kalau diliatin lama lama bisa diabetes aku! manisnya kelewatan! heh, otakku mulai eror!! dilarang keras mengagumi calon suami orang lain! aku memasang warning alarm di dalam otakku agar tidak keluar batas.


FYI ya reader, Pak Deva ini sudah punya tunangan, cuma belum nikah juga sampai detik ini, entah kenapa ga nikah nikah padahal sudah bertahun tahun tunangan, sampai di dahului adiknya, Dr Rendra yang nikah duluan sama Cika.


"jadi pak Deva bisa baca pikiran saya dong?" tanyaku dengan polosnya.


"tadi kan udah saya baca! beneran kan kamu dapat kontrak iklan!" sahutnya.

__ADS_1


"oya sih! wah hebat dong pak Deva ini, semacam punya indera ke enam!" kataku memujinya.


"berarti mulai saat ini, aku ga boleh mikir macam macam tentang pak Deva, kan malu kalau sampai dia tahu isi pikiranku!" gumam ku dalam hati.


"hahaha...." akhirnya tawa pak Deva pecah begitu saja bahkan dia sampai terbahak membuatku heran,


"pak Deva kenapa tiba tiba ketawa begitu?" tanyaku bingung.


"abisnya kamu lucu, polos banget!!!" sahutnya lalu terbahak.


"lucu? polos? maksudnya?" tanyaku semakin bingung.


"kamu percaya saya bisa baca pikiran kamu?"


"loh terus?saya percaya karena tebakan pak Deva bener banget!!" kataku makin penasaran.


"maaf ya, saya cuma iseng tadi! sebenarnya Beno sudah telpon saya dan minta ijin untuk kamu besok!"


"aih!" hanya itu tanggapanku sambil menatapnya dengan malas.


Aku benar benar keliatan bodoh di hadapannya, dengan segala kekonyolan ku.


"saya minta maaf! sudah lama rasanya ga bercanda!" katanya lagi lalu menghentikan tawanya.


Aku enggan menanggapinya lagi, hatiku lagi dongkol karena aku di bohongi sampai terlihat seperti orang bodoh di hadapannya.


"pasti pak Deva ketawa karena saya terlihat bodoh ya saat di bohongi?" tanyaku sambil memalingkan wajahku ke layar komputer di meja kerjaku.


"eh enggak.. kamu bukannya terlihat bodoh, tapi polos!" sahutnya dengan cepat agar aku tak salah paham dengannya.


Entah keberanian darimana, aku mencebik kan bibirku pada pak Deva karena kesal padanya.


"kamu marah sama saya?" tanyanya hati hati.


"nada bicaramu jadi judes, pasti kamu marah! sekali lagi maafin saya ya! saya janji ga akan kelewatan lagi bercanda sama kamu!" ucapnya tak enak hati padaku.


Giliran aku yang tak enak hati mendengar pak Deva minta maaf berulang kali padaku.


"iya!" sahutku singkat.


Pak Deva yang merasa adanya aura permusuhan di antara kami, akhirnya memilih masuk ke ruangannya.


"hufthh... " aku menghela nafas kasar.


🧩🧩🧩🧩🧩🧩


Hari ini aku berniat lembur untuk menyelesaikan semua pekerjaanku, karena besok aku harus cuti,


aku tidak mau di anggap lalai oleh pak Deva,


Sampai jam 7 malam, aku masih berkutat di meja kerjaku, tanpa memperhatikan kalau kantor sudah mulai sepi.


"kalau sepi begini kok jadi serem ya kantornya!" gumam ku seorang diri.


Aku bergidik ngeri, untuk menghilangkan rasa takut, aku memutar musik di ponselku.


"setidaknya ga sepi!" gumam ku senang sambil mengikuti lantunan lagu lagu korea favoritku.


Tap... tap... tap...


Terdengar suara langkah berat dari arah lift, seketika bulu kudukku berdiri sempurna,

__ADS_1


Aku ketakutan dan membaca ayat kursi sekencang kencangnya sambil menutup mata,



"ya Allah, jauhkan setannya dariku, sumpah aku takut!" racau ku dengan mata tertutup.


"ehem..." terdengar suara dehaman membuatku spontan membuka mata, dan yang aku lihat bukan hantu tapi pak Deva yang telah berganti pakaian casual.



"ppp..pak Deva?" ucapku terbata, degup jantungku belum kembali normal setelah tadi ketakutan setengah mati.


"Dara?? kok kamu masih di kantor jam segini?" tanya Deva merasa heran lalu melirik jam rolex di tangannya sekilas.


"ssa..saya lembur pak!" sahutku masih dengan suara terbata.


"lembur? tumben?" tanya Deva sambil mengernyitkan dahinya.


"kan saya besok cuti pak, jadi pekerjaan untuk besok saya selesaikan sekarang!" jawabku yang mulai berbicara dengan normal kembali.


"ya ampun Dara... kenapa kamu ga bilang kalau mau lembur? kan saya bisa nemenin!" sahutnya.


"eh.. ga perlu pak! saya bisa selesaikan semuanya sendiri!" jawabku sedikit grogi.


"setidaknya kamu ga sendirian di kantor malam malam begini!"


"gapapa pak, sudah konsekuensi saya!" sahutku.


"lain kali jangan lembur sendirian! kantor ini ada hantunya lho!" kata pak Deva setengah berbisik padaku.


"hha..hantu??" kataku kembali tergagap karena takut.


"iya!" sahutnya kembali berbisik.


Wajahku seketika memucat, pantas saja tadi saat sendirian bulu kudukku berdiri terus pasti gara gara hantu! batinku beropini.


Aku segera mengemasi barang barang ku selagi ada pak Deva disini, jadi aku tidak sendirian keluar dari kantor.


"oya pak Deva ngapain balik ke kantor lagi?" tanyaku berbasa basi untuk mengalihkan rasa takutku.


"ponsel saya tertinggal di dalam!" jawabnya sambil menunjuk kearah ruangan kerjanya.


Aku membereskan meja dengan sesekali melirik kesana-kemari, aku benar benar takut kali ini.


"udah selesai beres beresnya?" tanya pak Deva yang sudah keluar dari ruang kerjanya.


"eh.. udah pak!" jawabku lalu berjalan ke belakang pak Deva.


"mau saya antar pulang sekalian?" tanyanya menawariku tumpangan.


"saya nebeng punggung bapak sampai keluar kantor ini saja! nanti pulang ke rumah, saya naik ojol aja!" kataku yang malah muncul kata kata ambigu.


"nebeng punggung saya? kamu nyuruh saya untuk gendong kamu?" tanya pak Deva yang merasakan kata kataku ambigu.


"lah.. bukan itu maksud saya pak!" jawabku salah tingkah.


"lalu?" pak Deva sengaja menggodaku, dia merasa lucu ketika melihatku salah tingkah.


"maksud saya, bapak jalan duluan, saya dibelakang punggung bapak, mengikuti bapak sampai keluar kantor karena saya takut jalan sendirian!" kataku berusaha menjelaskan perkataan ku yang ambigu tadi.


Pak Deva terkekeh pelan nyaris tak terdengar, tapi aku bisa tahu hanya dengan melihat ekspresi wajahnya saja.

__ADS_1


🎲🎲🎲🎲🎲🎲


__ADS_2