
Sampai dirumah, aku melihat Mela masih belajar di ruang tengah bersama bik Sani dan mamah,
"assalamualaikum.." salamku.
"waalaikumsalam..." jawab mereka serempak.
Aku mencium punggung tangan mamah dan mengelus puncak kepala Mela,
"sayang kok belom tidur?" tanyaku sambil tersenyum.
"masih ngerjain tugas sekolah mih"jawab Mela.
"susah banget ya tugasnya?"
"lumayan mih.. menggambar tentang keluarga" sahutnya.
"coba mamih liat.." kataku sambil mengambil gambar milik Mela,
Hatiku sesak melihat isi gambarnya, disana Mela menggambar diriku, dirinya sendiri dan Mamah serta bik Sani, sedang bergandengan tangan.
"ini ceritanya kita lagi di taman ya sayang?"
"iya mih, Mela sering liat kalo hari libur, anak anak menghabiskan waktunya di taman dengan bermain bersama papa dan mamanya" jawabnya, Mela berubah menjadi murung saat mengucap kata papa, membuatku semakin bersalah padanya,
"mih... boleh Mela tanya sesuatu?"
"tanya apa sayang?"
"papi Mela ada dimana mih?"
Jantungku yang sedari tadi bergemuruh kini rasanya sudah terbang keluar dari tubuhku, setelah mendengar pertanyaan tak terduga dari putri semata wayangku.
Mamah dan bik Sani saling pandang lalu melihat ke arahku, aku jadi makin bingung untuk menjawabnya,
"suatu saat nanti, Mela pasti tau papi kemana" jawabku.
" suatu saat kapan mih?"
"Mela sabar aja, semakin sabar makan semakin cepat saat itu tiba"
"Mela janji akan sabar mih supaya bisa ketemu sama papi secepatnya" sahutnya dengan begitu polosnya.
"anak mamih memang pintar, sini peluk mamih" ucapku sambil merentangkan kedua tanganku untuk memeluknya.
Ada rasa bersalah karena menutupi identitas ayahnya kepada Mela, namun ini yang terbaik untuk saat ini, pikirku.
__ADS_1
🍇🍇🍇🍇🍇🍇
Setiap hari aku bekerja sambil menjaga Dr Rendra, bagaimanapun juga Dr Rendra begini karena aku, aku harus bertanggungjawab setidaknya dengan menjaganya dirumah sakit menggantikan mamah Rena.
Aku hampir selesai memeriksa dan memperbaiki laporan keuangan yang dimanipulasi, setelah di selidiki pelakunya adalah kepala staff keuangan yang terdahulu beserta dengan bawahannya, mereka bersekongkol melakukan hal itu untuk meraup keuntungan bagi pribadi mereka sendiri.
Dengan semua bukti yang ada, mereka semua di tangkap dan dijebloskan ke penjara, Pak Deva mengangkatku menjadi kepala Staff keuangan yang baru,
Dalam sidang kasus penggelapan tersebut aku di hadirkan sebagai saksi, aku sebenarnya sangat takut karena dampaknya akan buruk ke depannya, mereka para tersangka, menatap benci ke arahku dari meja pesakitan, aku bergidik ngeri mendapat tatapan membunuh dari mereka.
"kau jangan takut Dara, mereka semua akan mendekam lama di penjara" ucap Pak Deva berusaha menenangkan aku.
"tapi pak.. saya takut suatu saat mereka mencelakai saya dan keluarga saya"
"kau tenang saja Dara, setelah apa yang kau lakukan pada perusahaan, aku tidak akan lepas tangan begitu saja, aku akan mengutus beberapa bodyguard untuk menjagamu dan keluargamu selama 24 jam penuh"
"apa itu tidak berlebihan?"
"tentu saja tidak, kau akan lebih tenang jika ada yang menjagamu dimanapun kau berada"
"terimakasih pak.. jujur saya sangat takut...mereka bukan orang biasa"
"lalu aku? apa menurutku aku orang biasa? kau meragukan kekuasaanku?"
"bukan begitu maksud saya pak...maaf"
Aku keluar dari ruang sidang dengan langkah gontai, tiba tiba ada seseorang yang menarikku dengan kasar dan ketika aku berbalik menghadapnya dia langsung menamparku dengan sangat keras membuat sudut bibirku sobek dan berdarah.
"hei apa yang kau lakukan?" teriak pak Deva pada orang yang menamparku, dia seorang wanita yang sedang menggendong bayinya yang masih agak merah, sepertinya dia baru beberapa hari dilahirkan.
Pak Deva hendak mendekatinya namun aku mencegahnya,
"biar saya saja pak..." ucapku mencekal lengan pak Deva yang tersulut emosi.
"siapa kau? kenapa tiba tiba menamparku?" tanyaku dengan nada biasa setelah menghampiri wanita itu, wanita yang tatapannya penuh kebencian terhadapku.
"kau tanya aku siapa hah?" jawabnya dengan berteriak.
"jika kau tahu siapa aku apa kau bisa merubah keadaan?" lanjutnya.
"apa maksudmu?" tanyaku tak mengerti.
"karena kau, bayiku tak akan bisa melihat ayahnya dalam waktu yang lama!!!"
Aku tersentak mendengar ucapan wanita itu, apakah dia istri dari salah satu tersangka, batinku.
__ADS_1
"apa kau mempunyai anak? coba posisikan dirimu, bagaimana jika hal ini terjadi padamu?" sungutnya.
Aku terenyuh sendiri, selama ini anakku memang belum tahu siapa ayahnya dan itu sangat menyiksa batinku.
"kenapa kau diam saja? kau tak bisa menjawabnya? kau wanita jahat, kau menjebloskan mereka ke penjara semata mata demi kepentingan pribadimu!!!" tuduhnya.
"hei nyonya.. jaga ucapanmu! mereka semua memang pantas menerima hukuman atas perbuatan kotor mereka!" sahut pak Deva geram.
"tanpa campur tangan wanita ini pun, mereka akan tetap dijebloskan ke penjara! sebaik baiknya menyimpan bangkai, suatu saat akan tercium juga!" lanjut pak Deva.
"aku akan menuntut balas padamu, supaya kau juga merasakan betapa sakitnya hidupku karena ulahmu!" ucapnya sambil berderai airmata.
"maafkan aku kak.. aku tidak bermaksud seperti apa yang kau tuduhkan.. perbuatan mereka merugikan banyak orang, kau tahu berapa banyak ayah yang bergantung pada kejayaan perusahaan tersebut?" jawabku berusaha tenang.
"kakak katamu? aku tak sudi kau panggil kakak! cuih!" jawabnya sambil meludah di hadapanku.
"sudahlah Dara.. jangan ladeni dia.. ayo kita pergi darisini" ajak pa Deva.
"sekali lagi maafkan aku kak.. aku tak bermaksud membuatmu jauh dari suamimu, tapi mereka sendiri lah yang menjauh dengan perbuatan mereka" ucapku sambil berlalu
"dasar wanita tak berperasaan!!!!" teriaknya dengan frustasi, membuat hatiku perih bagai di sayat sembilu.
"kau tenanglah, jangan hiraukan perkataan wanita sinting itu" kata pak Deva.
"sebaiknya kita kerumah sakit sekarang, obati lukamu" lanjutnya.
"tidak perlu pak.. sebaiknya saya langsung pulang saja" sahutku dengan tatapan kosong, aku benar benar merasa syok saat ini, wajah bayi dan wanita itu terus berputar di kepalaku membuatku semakin pening.
"apa kau yakin Dara?"
"iya pak saya yakin"
"kau jangan memikirkan ucapan wanita itu lagi.. langkahmu sudah benar, kau menyelamatkan nyawa ribuan karyawan lainnya Dara"
Aku hanya mengangguk lemah, di lema, apa aku memang sudah benar atau aku hanya wanita jahat seperti yang di ucapkan wanita tadi? pikiranku terus saja melayang tak menentu.
"pak, titip salam untuk mamah Rena, maaf jika saya tidak bisa menggantikannya hari ini untuk menjaga Dr Rendra, saya benar benar lelah" ucapku setelah mobil pak Deva sampai di depan rumahku.
"baiklah saya akan sampaikan pada mamah.. saya yakin mamah akan mengerti" jawabnya.
"terimakasih sudah mengantar saya sampai kerumah" ucapku sambil keluar dari mobil mewah itu.
"sama sama... jangan lupa obati lukamu dan beristirahat dengan cukup" nasehat pak Deva.
"iya pak..." sahutku lalu masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
🍈🍈🍈🍈🍈🍈