
Mencuat kabar yang tersebar luas di media sosial maupun TV jika Pandu dan istrinya, Lala akan segera bercerai, entah apa penyebabnya, menurut salah satu acara infotainment tersebut meyebutkan bahwa adanya orang ketiga yang menjadi pemicu keretakan hubungan mereka berdua dan ada pula yang bilang kalau masalah ekonomi yang menjadi akar masalah sebenarnya.
Wajar saja jika ada salah satu media yang menyebutkan permasalahan ekonomi, karena beberapa saat setelah perceraian Pandu dengan Dara, banyak kontrak kerja yang hilang begitu saja membuat Pandu lebih banyak menganggur di rumah.
Dan hal itu membuat pundi pundi rupiahnya kian menipis, ditambah lagi dengan gaya hidup Lala yang terlalu boros, semakin membuat keuangan Pandu cepat memburuk, lain halnya ketika Pandu masih hidup bersama Dara, Dara mengatur keuangan sedemikian rupa hematnya sehingga membuat rekening Pandu selalu menggendut.
Betapa mirisnya hidup Pandu kini, setelah dia bangkrut, istrinya malah meninggalkannya,
"Kasihan papi ya mih!" ucap Mela yang kebetulan sedang menyaksikan acara tersebut di TV.
"iya kasian..!" sahutku singkat, enggan menanggapi lebih lanjut.
"pasti papi kesepian sekarang mih!" ucap Mela lagi.
"mungkin.. em.. apa Mela mau ketemu sama papi?" tanyaku.
"apa boleh?" tanya Mela.
"boleh donk!"
Dan Mela pun tersenyum senang setelah mendapat ijin dariku, mungkin dengan kehadiran Mela dapat mengobati rasa kesepian Pandu.
π§πΌπ§πΌπ§πΌπ§πΌπ§πΌπ§πΌ
Saat di kantor, aku tidak banyak bicara dan lebih memilih stay di ruangan ku sendiri, aku malas keluar, karena takut berpapasan dengan pak Deva, aku tidak tahu caranya berpura pura setelah tahu tentang perasaan Pak Deva padaku.
Beberapa hari ini, misi ku untuk menghindarinya terbilang sukses, bagaimana tidak? aku selalu saja menemukan alasan yang tepat untuk tidak berhadapan langsung dengannya.
Pak Deva yang merasakan sikapku yang berusaha menghindarinya, merasa jengah, lalu dia mendatangi ruangan ku siang itu,
Pak Deva yang biasanya selalu berdiri di ambang pintu ruangan ku, kali ini memilih masuk dan menutup pintu dengan rapat, membuatku otomatis salah tingkah.
"ada apa bapak ke ruangan saya?" tanyaku berusaha bersikap sesantai mungkin.
"kenapa saya merasa kalau kamu sengaja menghindari saya selama beberapa hari terakhir ini?" ujar pak Deva yang sudah mendekat dan mengungkung ku di kursi kerjaku.
"eh.. a...aanu pak, saya tidak bermaksud menghindari anda!" jawabku terbata tanpa berani menatapnya.
"lalu? kenapa susah sekali melihat wajahmu beberapa hari ini?" katanya lagi semakin mendekatkan wajahnya padaku.
"ma..maksud bapak apa?? saya ga ngerti!" sahutku semakin kikuk melihatnya semakin mendekat membuat aroma maskulin tubuhnya tercium olehku.
"jangan pernah berusaha menjauh dari saya!" ucapnya penuh penekanan sambil mengusap lembut kepalaku.
__ADS_1
Anehnya aku tidak menghindari usapannya bahkan serasa terbuai dan menikmatinya.
Cukup lama kami saling menatap dalam jarak yang begitu dekat, wajah pak Deva yang semakin mendekat, kini hanya tersisa jarak 1cm saja antara bibirku dan bibirnya,
"Dara, saya menyukai kamu!" ucap Pak Deva dengan nafas yang memburu, mungkin karena degup jantungnya yang berdetak kencang sama dengan degup jantungku kali ini.
Aku terbelalak mendengar pengakuan pak Deva, ternyata tebakan Dr Rendra tidak meleset, pak Deva benar benar menyukaiku.
Ketika aku akan bersuara, pak Deva malah memajukan bibirnya dan mencium bibirku, mata kami sama sama otomatis terpejam, awalnya hanya saling menyentuh, lambat laun pak Deva mulai berani ******* bibirku dan aku pun terbuai mengikuti permainan bibirnya.
Ciuman terlepas karena kami sama sama butuh oksigen untuk tetap hidup, dengan nafas terengah engah, pak Deva yang enggan menjauh dari wajahku, menangkup wajahku dengan kedua tangan besarnya dan menatapku dengan intens,
"apa ini artinya kau menerima perasaanku?" tanya pak Deva padaku.
"em..." bibirku terasa kelu untuk menjawab, ingin rasanya menunduk menghindari tatapan mata pak Deva namun tidak bisa, pak Deva menahan wajahku dengan kuat.
"jika kau tidak bisa menjawabnya sekarang, tidak apa apa, saya akan menunggu jawaban kamu!" ucap pak Deva lalu mengecup keningku sekilas dan segera berlalu dari hadapanku.
Sepeninggal pak Deva, aku menarik nafas panjang, dan mengatur debaran jantungku yang tak beraturan.
"huh... kenapa dengan jantungku?" gumam ku sambil mengusap dadaku sendiri.
"kenapa juga aku harus membalas ciumannya? apa aku juga menyukainya?" gumam ku lagi dengan pikiran yang berantakan karena bingung sendiri.
Semenjak kejadian itu, pak Deva tidak lagi mencari cari kesempatan untuk menemui ku, sepertinya dia sedang memberi ku ruang yang luas untuk berpikir tentang ucapan nya tempo hari.
Jika tidak, maka bisa berhari hari lamanya aku tidak bisa menikmati wajah tampan nan teduh tersebut, dan ini sungguh sangat menyiksaku.
Anehnya kenapa dia tidak segusar aku sekarang? apa dia sengaja mempermainkan aku? mencampakkan aku setelah berhasil mencium bibirku? pikiran kotor mulai merasuki otakku.
Hingga pada suatu sore saat pulang kerja, aku menantinya di parkiran, berharap aku tidak terlambat dan dapat menemuinya.
Sesuai harapan, dia baru hendak pulang dan sedang berjalan santai menuju mobilnya, aku segera berjalan cepat ke arahnya dan menghampirinya
Ku tarik lengan kekar itu sampai wajahnya menatapku, dia terlihat kebingungan namun aku tidak peduli, aku harus segera mengeluarkan uneg uneg di hatiku selama satu minggu terakhir ini padanya.
"kenapa kini aku yang merasa kau menghindari ku?" tanyaku yang tanpa sadar tidak memanggilnya dengan sebutan "Pak" lagi.
Dia tampak tersenyum dengan begitu manisnya, santai melihatku yang hampir meledak karena menahan rindu.
"kenapa kau malah tersenyum? apa kau sengaja ingin mempermainkan aku?" kataku lagi dengan nada yang sedikit keras.
"kau kenapa?" tanyanya dengan nada santai, nyaris membuatku menangis.
__ADS_1
"kenapa?? kau tanya aku kenapa? setelah dengan lancangnya kau mencium ku?" kataku tidak terima pada ucapannya.
Deva menjatuhkan tas di tangannya dan membenarkan posisinya menghadap padaku, kedua tangannya menarik kedua tanganku yang membuat jarak kami semakin dekat,
"apa kau sudah mulai menyadari perasaanmu padaku?" tanya Deva dengan suara setengah berbisik.
"aap..apa sebenarnya tujuanmu?"
"membuatmu sadar akan perasaanmu sendiri!"
"lalu?"
"lalu apa? ternyata kau menyimpan perasaan yang sama denganku!"
"darimana kau tahu?"
"kau datang menghampiriku saat ini adalah bukti bahwa kau juga menyukaiku! aku yakin kau tersiksa selama seminggu ini bukan?"
"kau sengaja?"
"aku melakukannya agar kau segera menyadari perasaan yang ada di dalam hatimu itu!"
"kau jahat!"
"aku sama tersiksanya denganmu, aku hampir saja gagal karena tidak tahan menahan rindu untukmu!"
Aku menangis lalu menenggelamkan kepalaku di dadanya yang bidang, sambil terus meracau,
"kau jahat!"
"maafkan aku Dara, aku sangat mencintaimu bahkan dari awal kita bertemu dulu, aku sudah tertarik padamu!"
"benarkah?" kataku lalu mendongak, terkejut dengan pengakuannya barusan.
"iya, aku sudah tertarik padamu sejak dulu, tapi aku tahu jika Rendra sangat mencintaimu jadi aku memilih mengubur perasaanku saat itu, dan berusaha menjalani hubunganku dengan Lidya" jawabnya menjelaskan.
"selama itu kau memendamnya sendiri?" tanyaku tak percaya.
"iya, dan kau tak pernah menyadarinya, padahal aku berusaha menunjukkan perasaanku saat di pengadilan, saat menyelesaikan kasus korupsi itu tapi sepertinya kau tidak peka sama sekali!"
"karena aku tidak pernah berpikir sejauh itu!"
"kenapa?"
__ADS_1
"karena orang sepertimu yang cuek dan sedikit angkuh, tidak mungkin menyukaiku! berbeda dengan Dr Rendra yang menunjukkan perasaannya secara gamblang padaku!"
π§πΏπ§πΏπ§πΏπ§πΏπ§πΏπ§πΏ