Seorang Bintang

Seorang Bintang
Enampuluhsembilan


__ADS_3

Entah apa tujuannya, Pak Deva sering datang ke rumahku dengan alasan mengunjungi Mela, dan Mela pun tampak akrab dengannya.


Tak jarang mereka jalan jalan hanya berdua, tanpa aku! aku memang di ajaknya namun aku selalu menolak dengan berbagai macam alasan, padahal aku tak nyaman saja bila terlalu dekat dengan pak Deva, orang pasti beranggapan yang tidak tidak jika kami sering jalan berdua.


"mamih beneran ga mau ikut? ini film kesukaan mamih lho!" bujuk Mela.


"ga ah.. mamih capek! mamih di rumah aja ya!" sahutku pura pura lelah padahal aku ingin sekali menonton film yang jadi incaran ku.


"ya udah.. awas kebawa mimpi lho mih!" goda Mela yang membuat pak Deva tersenyum geli, sedang aku hanya bisa mendengus kasar melihat kepergian mereka berdua.


"hati hati sayang, jangan malam malam pulangnya ya!" pesanku pada Mela.


"iya mih... abis nonton langsung pulang, iya kan om?" ucap Mela lalu mengalihkan pandangannya pada wajah tampan Pak Deva.


"iya sayang.. setelah nonton, kita langsung pulang!" sahut pak Deva.


"ya udah, pak saya titip Mela ya!"


"iya.. tenang saja, aku akan menjaganya dengan baik!" sahutnya lagi.


Sepeninggal Mela dan Pak Deva, aku terduduk lesu di depan TV, pasti seru filmnya, pikirku.


Aku merasa kesepian tanpa Mela, mama juga sedang tidak di rumah, mamah sibuk dengan arisannya.


🎯🎯🎯🎯🎯🎯


Di bioskop, Mela tak sengaja melihat Dr Rendra dan istrinya Cika,


"om dokter...." panggil Mela, membuat Pak Deva sedikit terkejut.


Dr Rendra yang mendengar suara Mela, segera mencari sosok gadis imut tersebut dan setelah menemukannya, Dr Rendra terkejut karena Mela bersama kakaknya, Deva.


"Mela sayang, kamu kesini sama siapa?" Dr Rendra berjongkok mensejajarkan dirinya dengan tubuh Mela, dan bertanya untuk memastikan dengan siapa dia kemari.


"sama Om Deva om..." sahut Mela dengan polosnya.


"berdua aja?" tanyanya lagi.


"iya.. mamih lagi capek jadi ga ikut!" sahut Mela lagi.


Dr Rendra berdiri dan memandang ke arah kakaknya yang tampak diam namun ada kegelisahan di wajahnya.


"apa yang sedang kakak rencanakan?" tanya Dr Rendra dengan nada serius, ketika Mela sudah di ajak duduk oleh Cika.


"Rencana? apa maksudmu?" Deva bertanya balik, tidak mengerti dengan maksud dari ucapan Rendra.


"jangan pernah mempermainkan perasaan Dara, dia wanita yang baik!" seru Rendra dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"aku tidak pernah berniat mempermainkan siapapun!"


"jangan memberinya harapan palsu! kau harus ingat statusmu kak!"


"status? dengan Lidya maksudmu?"


"iya, dengan siapa lagi! kalian sudah lama bertunangan!"


"kami sudah putus!" jawabnya dengan tegas.


"putus??? bercanda mu tidak lucu!"


"aku serius!"


"sejak kapan?"


"beberapa hari yang lalu!" sahutnya dengan santai.


"jangan bilang kau putus karena Dara!"


"bukan karena siapa siapa! aku sudah lama memikirkannya dan sekarang saat yang tepat untuk mengakhiri semuanya!"


"bagaimana dengan Lidya? apa dia menyetujuinya?"


"kita bahas nanti, kita harus mencari tempat duduk jika tidak ingin dilempar penonton lainnya!" ucap Deva lalu mencari kursi kosong untuk mereka nonton.


Selama film di putar, tak ada percakapan lagi, mereka sama sama terhanyut dalam film tersebut.


Karena sudah terlanjur di depan rumah Dara, Rendra dan Cika akhirnya memutuskan untuk mampir,


"lho.. kalian! tumben malam malam kesininya?" tanyaku yang antusias melihat kedatangan Rendra dan Cika.


"kebetulan tadi aku dan Cika bertemu Mela dan kak Deva di bioskop!"


"wah pasti seru ya filmnya?"


"jelas dong mih.. nyesel kalo ga nonton!" ujar Mela yang sengaja memanas manasi sang mamih.


"mamih bakal nonton besok!" sahutku.


Mela menguap beberapa kali, sepertinya dia lelah dan mengantuk, jadi aku mengantarnya ke kamarnya.


Sementara Deva, Rendra dan Cika sudah duduk santai di ruang tamu,


Aku menghampiri mereka kembali dengan nampan berisi minuman di tanganku,


"kenapa pada diem sih? jadi angker suasananya!" seruku memecah keheningan di antara kami.

__ADS_1


"kayak lagi ada perang dingin!" sindir Cika yang sedari tadi memilih diam.


"sebaiknya aku langsung pulang saja!" ucap Pak Deva seraya bangkit dari kursinya.


"kok buru buru pak? minumannya belum diminum!"


"terimakasih.. aku juga sangat lelah sebenarnya!"


"ooo.. ya sudah.. hati hati di jalan kalau begitu!" ucapku.


Pak Deva pun pulang dengan langkah gontai nya,


"sedekat apa hubunganmu dengan kakak?" tanya Dr Rendra padaku.


"maksudmu?" tanyaku tak mengerti arah pembicaraan Dr Rendra.


"sedekat apa hubungan kalian diluar hubungan kerja?"


"apa kau sudah gila? pak Deva adalah bos ku, tentu saja hubungan kami dekat sebatas antara bos dan bawahannya!" sahutku sambil tertawa hambar.


"tapi baginya, kau bukan sekedar bawahan!"


"lalu? aku tidak mengerti kemana arah pembicaraanmu sebenarnya!" sahutku semakin bingung.


"apa kau tidak melihat? ada perasaan lebih di hatinya, jika kau lihat sorotan matanya ketika memandang mu!"


"kau jangan sok tahu!"


"aku mengenal kakakku, jauh lebih baik dari siapapun juga!"


"apa kau sedang mengajakku bercanda?"


"apa aku terlihat sedang bercanda?"


"sepertinya kak Deva menyukaimu Ra!" Cika ikut menimpali, kata katanya sukses membuat jantungku hampir copot.


"hahaha.... kalian lucu sekali!!! mana mungkin seseorang seperti pak Deva menyukai wanita seperti diriku? aku hanya seorang janda dengan satu anak!"


"cinta bisa datang kepada siapa saja tanpa di duga sebelumnya! dan aku yakin kak Deva menyukaimu!" ucap Dr Rendra dengan penuh keyakinan.


"hei jangan lupa, dia tunangan seorang model ternama yang super cantik! akan terasa aneh jika dia lantas menyukaiku!!"


"kak Deva tidak bahagia selama bersama Lidya!"


Lagi lagi aku terpaku dan tertegun, apakah aku harus mempercayai semua ini?? aku tidak menyangka Dr Rendra bahkan Cika, bisa berpikir sejauh itu.


Pak Deva selama ini memang selalu baik bahkan dari dulu saat aku kabur dari kota ini demi menghindari Pandu.

__ADS_1


hah... aku jadi gugup untuk bertemu dengannya di kantor besok, setelah tahu tentang perasaanya, walau aku tak yakin sepenuhnya bahwa itu benar.


🤺🤺🤺🤺🤺🤺


__ADS_2