
Cukup lama aku tertegun di sana, tak menyangka dengan apa yang ku dengar barusan.
Benarkah pendengaran ku barusan? Deva dan Edward? mereka memiliki hubungan spesial? pantas saja, Deva tidak bernafsu sama sekali untuk menjamah tubuh ku, ternyata dia punya kelainan yang menyimpang.
Segala pikiran kotor mulai berkecamuk di dalam otakku, pantas saja dia mencampakkan Lidya begitu saja dan apakah pengakuan cintanya padaku, hanya tameng belaka?? tameng agar kelakuan menyimpangnya tidak diketahui orang lain! dengan menikahi ku dia bisa menyamarkan kepribadian menyimpang nya tersebut.
Tidak tahan dengan apa yang kulihat, ku dorong dengan keras pintu kamar hotel tersebut dan kedua laki laki abnormal tersebut nampak terkejut melihat kehadiranku di tengah tengah mereka.
Terlebih Deva, wajahnya berubah pucat pasi, tidak menyangka bahwa aku akan menangkap basah dirinya yang sedang bersama dengan Edward.
"Da..Dara.. apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya Deva dengan suara terbata, sedang Edward tersenyum sinis melihat ke arahku.
"jadi ini kah alasan mu menikahi ku?" tanyaku dengan suara bergetar.
"apa maksudmu?" tanya Deva tak mengerti.
"kau menjadikan aku sebagai tameng untuk kelakuan menyimpang mu ini?" kataku setengah berteriak.
"aku tidak bermaksud seperti itu, kau jangan asal menuduh Dara! aku bisa menjelaskan semuanya padamu!" kata Deva seraya mendekatiku, sedang aku mulai melangkah mundur, enggan di dekati olehnya.
"jangan dekati aku!" ucapku sambil terus melangkah mundur, air mata ku semakin deras berjatuhan.
"Dara.. aku mohon tenangkan dirimu! ayo kita pulang, kita bicarakan baik baik di rumah!" ucapnya dengan lembut namun tak membuatku luluh sama sekali.
"bagus lah kalau kau sudah tahu! jadi aku tidak perlu repot repot untuk memberitahumu!" Edward akhirnya angkat bicara dengan seringai aneh di wajahnya.
"Plis Ed! jangan memprovokasinya!" ucap Deva geram.
"aku tidak memprovokasi, aku mengatakan hal yang sebenarnya! sebaiknya kau jauhi Deva, aku dan Deva saling mencintai!" ujar Edward tanpa rasa malu sedikitpun.
"Edward!!! jaga bicaramu!" sungut Deva tak suka.
__ADS_1
"kenapa Dev? apa sekarang kau malu mengakuinya hah?" sentak Edward pada Deva.
"heeh dengar....kau janda genit! asal kau tahu, aku sudah terlebih dulu berhubungan dengannya, dan sebelum kau hadir hubungan kami mesra dan baik baik saja!!!" ucap Edward.
"Edward hentikan!!!" Deva kembali menyentak Edward hingga laki laki tersebut menampilkan wajah kecewanya.
"aku dan Deva sudah melakukan banyak hal! bahkan yang tidak pernah kau bayangkan sekalipun!!!" ujarnya dengan bangga.
Deva yang meradang, maju selangkah dan langsung menampar Edward, membuat laki laki itu geram dan menatap tajam ke arahku dan Deva.
"tega sekali kau padaku Dev! aku bersumpah akan membuat perhitungan pada pelakor ini!" ujarnya dengan emosi tingkat dewa.
"jangan pernah kau menyentuhnya! aku tidak segan segan untuk menyakitimu jika kau berani macam macam dengannya!!" sahut Deva.
"hahaha... lucu sekali! jangan bilang kau sudah jatuh cinta pada janda sialan itu!" ujar Edward sambil tertawa kecut.
"ya aku memang mencintainya dan jangan pernah berani menyentuhnya! karena kau akan tahu sendiri akibatnya jika aku sudah marah, aku tidak segan segan untuk membunuhmu!" sungut Deva dengan kilat kemarahan jelas terlihat di matanya.
"ini peringatan terakhir untukmu Edward! aku sudah bersabar selama ini padamu!"
"auuw... takut! hahahahaha!" sahut Edward mengejek Deva.
Deva semakin geram namun dia berusaha menahannya demi Dara yang masih melihatnya dengan tatapan penuh kekecewaan.
"jika kau saja bisa mengancam ku! maka boleh dong aku mengancam mu balik? hahahaha!" sahut Edward tertawa puas.
"lakukan lah sesukamu!" sahut Deva tak peduli.
"benar kah Dev? bagaimana jika Video mesum kita sampai tersebar? apa yang akan terjadi padamu dan karier itu hem?" kata Edward mulai menakut nakuti Deva.
Bahkan Edward tanpa malu memutar sebuah video adegan panas dirinya dengan Deva yang tersimpan rapi di smart phone canggihnya.
__ADS_1
aku langsung shock dan merasa jijik dengan apa yang ku lihat, hatiku benar benar hancur sekarang, ternyata Deva hanya menjebak ku dalam pernikahan ini, berpura pura mencintaiku agar aku mau menikah dengannya, agar kelakuan menyimpang nya tidak terkuak ke permukaan.
"kalian brengsek!!" ujar ku lalu bergegas keluar dari kamar itu dan berlari sejauh mungkin
Deva sepertinya sedang mengejar ku, aku mendengar derap langkahnya yang berat berada dekat di belakang tubuhku.
Setelah cukup dekat, Deva menarik tanganku dengan kasar dan menyeret ku ke mobilnya! dia mendorongku masuk ke dalam mobilnya dan segera melajukan mobil itu menuju rumahnya.
Sampai di rumah, aku tidak mau turun dari mobil, lalu Deva menggendongku dengan paksa keluar dari mobil, dia terus menggendongku dan membawaku ke kamar, dia menjatuhkan tubuhku di atas ranjang.
Deva mengunci pintunya dan membuang kuncinya ke sembarang tempat lalu dia mulai mendekati ranjang sambil melepaskan pakaiannya sendiri.
Sampai di dekat ranjang, hanya boxer yang masih melekat di tubuhnya, aku mundur perlahan, merasa takut dengan apa yang akan dilakukan Deva padaku, aku mulai menangis karena takut.
Deva menarik kakiku hingga tubuh ku terlentang, dia mengungkung tubuhku dengan menindih ku, aku memejamkan mata, seolah tak ingin melihat Deva.
Deva mulai mencumbui ku dengan brutal, dia tak menghiraukan penolakan ku, sampai tanpa di sadari, tubuhku sudah polos tanpa pakaian.
Deva menatapku dengan lapar, dia mendekati telingaku dan berbisik,
"bantu aku Dara..aku mohon! aku ingin keluar dari lembah hitam itu!" ucapnya dengan lembut, membuatku merasa geli karena nafasnya menerpa telingaku.
Deva menatapku sejenak, melihatku memejamkan mata, Deva kembali melancarkan aksinya, walau dia tak bernafsu, dia paksakan diri untuk menggagahi ku, kami pun mulai terbuai dan saling mengimbangi.
Berjam jam lamanya hal itu berlangsung sampai tubuh kami terkulai lemas dengan peluh membanjiri tubuh kami masing masing.
Sekilas aku melihat Deva tersenyum puas, matanya menerawang ke langit langit kamar,
"rasanya benar benar berbeda, terasa jauh lebih nikmat!" gumamnya pelan lalu kembali tersenyum sebelum akhirnya dia menoleh ke arahku dan mengecup keningku lama.
Setelah pergulatan panas tersebut, kami sama sama kelelahan dan akhirnya terlelap dalam posisi saling memeluk satu sama lain tanpa sehelai pakaian pun yang menutupi tubuh polos kami.
__ADS_1
🎚🎚🎚🎚🎚🎚🎚