Seorang Bintang

Seorang Bintang
Limapuluhdelapan


__ADS_3

Pagi ini, aku terbangun dan seperti biasa selalu tanpanya, Mela sengaja aku titipkan pada omanya, aku tidak ingin dia sampai melihat pertengkaran ku dengan Pandu, cukuplah aku yang menangis tapi tidak dengan putri kecilku tersebut.


Sejak menikah dan memutuskan untuk resign dari perusahaan pak Deva, kegiatanku hanya di rumah saja, merawat Pandu dan Mela namun karena akhir akhir ini Pandu jarang makan di rumah bahkan terkadang dia tidak pulang, aku jadi tidak punya kegiatan apapun membuatku mati gaya.


"aku harus apalagi?"pikirku.


Aku menghubungi Cika untuk sekedar mengobrol, setidaknya aku punya teman untuk membunuh rasa sepi ku.


"Hallo..." kataku ketika Cika mengangkat teleponnya.


"Hallo Dar.. kenapa suaramu terdengar lesu begitu?" tanya Cika.


"hehehe.. gapapa kok Cik! mungkin karena belum sarapan aja!" jawabku berbohong.


"kebetulan aku juga belum sarapan, sarapan bareng yuk?" ajak Cika.


"ide bagus, jemput aku ya!" sahutku senang.


"oke..."


"eh apa kau tidak ada kerjaan?" tanyaku.


"aku tidak terlalu sibuk!" jawabnya.


30 menit kemudian, aku dan Cika sudah ada di warteg, sengaja memilih warteg karena memang kami berdua sangat lapar.


"kamu ga masak? kok keliatan laper banget gitu?" tanya Cika yang melihatku makan dengan lahap.


"iya lagi males Cik, lagian Pandu juga jarang makan di rumah jadi percuma aku masak!" jawabku dengan mulut penuh.


Cika berhenti mengunyah dan memperhatikan wajahku,


"kamu sama Pandu baik baik aja kan?" tanya Cika kemudian.


"eh.. iya baik baik aja! kamu tahu sendiri kan gimana jadwalnya akhir akhir ini!' jawabku berusaha membuang kecurigaan Cika.


"iya juga sih, dia ngambil kontrak banyak banget, apa ga capek ya!" kata Cika sambil berpikir.


"aku juga berpikir begitu, tapi dia nya sanggup, ya udah aku hanya bisa dukung aja!" sahutku.


"tapi beneran kan hubungan kamu sama Pandu baik baik aja?" tanya Cika lagi.


"iya" jawabku sambil menunduk.


"kamu jangan bohong Dar!"


Aku akhirnya menangis, aku benar benar tidak mampu menyimpan semuanya sendirian lagi.


"aku sudah menyangka kalau kamu sedang ada masalah dengan Pandu! kenapa kamu ga cerita?"


"apa boleh aku cerita masalah rumah tanggaku sama orang lain?" tanyaku ragu ragu.


"sah sah aja Dar, setiap orang butuh curhat agar hatinya tenang!" jawab Cika.

__ADS_1


Aku kembali menangis sampai sesenggukan, dan mulai bercerita awal mulanya permasalahan datang.


"jadi dia masih mempermasalahkan itu?" tanya Cika, Cika pasti tahu dari Dr Rendra mengenai masalah dua bulan yang lalu tersebut.


"iya.. dia berubah jadi dingin dan cuek padaku!" sahutku.


"bukankah kalian baik baik saja ketika di rumah sakit? bahkan Rendra bilang, kalian nampak akur!" ucap Cika.


"iya, aku juga berpikir begitu, tapi mulai saat itu, dia berubah padaku!" jawabku.


"aku sudah berusaha untuk berbicara dengannya, tapi dia selalu mengabaikan aku! setiap bicara, ujung ujungnya kami selalu bertengkar!" lanjut ku.


"kenapa dia jadi berubah seperti itu? bukankah kau sudah minta maaf!" ujar Cika.


"Cik, maaf ya.. tak seharusnya aku bercerita padamu, aku tidak bermaksud membuatmu berpikir negatif tentang pernikahan!" kataku.


"tidak apa apa.. ini bisa jadi bahan pertimbangan ku ke depannya! aku juga belum siap menikah sekarang!"


"kenapa? bukankah dokter Rendra sudah melamar mu?" tanyaku heran.


"iya.. tapi aku masih ragu, apakah aku siap menjalani hidup berumah tangga dengannya!" jawabnya.


"dan sekarang kau pasti semakin ragu setelah mendengar ceritaku? iya kan?" tanyaku hati hati.


"sebelum mendengar ceritamu, aku memang sudah ragu, tenang saja, aku tidak apa apa!" jawabnya lalu tersenyum.


Lega rasanya bisa meluapkan semuanya, pikiranku sedikit tenang dan plong, aku pun pulang dengan perasaan lega, sampai di rumah, aku mendapati mobil Pandu di garasi, rupanya dia pulang lagi.


Aku bergegas masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan Pandu, aku berjalan ke kamar, tapi suara gaduh dari arah dapur membuatku mengurungkan niatku ke kamar.



Pikiranku seakan melayang kemana mana melihat kedekatan mereka berdua di apartemen ini, yang kata Pandu, dia tidak pernah membawa wanita lain selain diriku kemari, tapi sekarang dia malah membawa wanita lain.


Pikiranku mulai kotor, apa yang akan terjadi selanjutnya jika aku tidak pulang, perasaanku hancur seketika.


"Pandu....!" teriakku dengan histeris.


Mereka berdua menoleh dengan begitu santainya seolah tidak terjadi apa apa, sedangkan aku mulai terbakar api cemburu, wajahku merah padam menahan emosi.


"kenapa kau berteriak seperti itu? aku belum tuli!" sahut Pandu.


"kenapa kau membawa wanita lain ke apartemen ini?" tanyaku dengan berapi api.


"apa masalahnya? aku hanya ingin mengajaknya kemari!" sahut Pandu dengan santainya.


"kau mengajaknya kemari tanpa ijin dariku?" tanyaku lagi,


"tadinya aku berpikir akan meminta ijin setelah sampai ke rumah, ternyata kau tidak di rumah!"


"kenapa kau tiba tiba membawanya kemari hah?" sungut ku.


"aku sudah menjawabnya, kenapa kau bertanya lagi! sudahlah jika kau tidak suka, sebaiknya kau pergi saja!" usir Pandu.

__ADS_1


"apa kau lupa dengan statusmu? kau suamiku!" kataku.


"suami? benar kah?" jawabnya sambil tersenyum aneh.


"apa maksud ucapan mu? apa kau sudah tak menganggap ku istrimu lagi?" tanyaku lagi.


"kau duluan yang tak menganggap ku suami! jadi wajar kan kalau aku juga demikian?"


Pandu kembali fokus pada wanita tersebut, wanita itu adalah Lala, mantan kekasih Pandu dulu, rekan sesama artis.


Pandu nampak tersenyum bahagia, bersama dengan Lala, membuat hatiku semakin hancur.


Aku tidak tahan melihat mereka berdua, aku berlalu masuk ke dalam kamarku dan mengunci diri, aku sudah tidak peduli lagi apa yang akan terjadi pada mereka berdua selanjutnya.


"ya Allah, apa sesakit ini rasanya berumah tangga?" gumam ku sebelum menenggelamkan kepalaku di bantal dan menangis.


Aku terus saja menangis, sampai aku dengar suara pintu di ketuk dengan kasar,


tok..tok...


"buka pintunya!!!" suara Pandu nampak bergelegar.


Aku bergegas membuka pintu dan kembali menenggelamkan kepalaku di bantal, aku enggan melihat wajah Pandu.


"kenapa harus mengunci pintu segala? harus kau ingat, ini bukan kamar pribadimu!" sungut Pandu.


Aku tak bergeming, aku tersadar dengan ucapannya, ya aku memang hanya menumpang di apartemennya.


Pandu membuka lemari dan menurut pendengaran ku, sepertinya dia sedang mengemasi pakaiannya.


Aku mengangkat kepala untuk memastikan apa yang aku dengar, dan benar saja, Pandu sedang memasukkan pakaiannya ke dalam koper.


"kau mau kemana?" tanyaku.


"apa urusanmu?" jawabnya dengan ketus.


"tentu saja ini urusanku, aku masih istrimu yang sah!!"


"aku bahkan lupa jika sudah menikahi mu!!!" jawabnya.


Kata katanya bagaikan sembilu yang menancap tepat di hatiku.


"kenapa kau berubah seperti ini? jika pil KB itu masalahnya, aku kan sudah minta maaf dan berjanji tidak akan menggunakannya lagi!"


"itu masih tidak cukup untuk membuatku melupakannya!!" jawabnya.


"lalu aku harus bagaimana?" tanyaku pasrah, air mataku rasanya mengering.


"kau pikir saja sendiri!!" sungutnya lalu menyeret kopernya keluar.


"kau tidak perlu pergi, ini apartemen mu, biar aku saja yang pergi!" kataku dengan lesu.


"terserah kau saja!!" jawabnya lalu membanting koper di hadapanku dan dia keluar sambil membanting pintu,

__ADS_1


Aku kembali menangis, sikapnya yang kasar membuatku merasa rendah dan sakitnya hatiku, tidak bisa aku gambarkan dengan apapun lagi.


🔋🔋🔋🔋🔋🔋


__ADS_2