She Is Mine

She Is Mine
part 10 makan siang


__ADS_3

Hari weekend, dimana biasanya orang-orang akan menghabiskan waktu mereka untuk berkumpul entah itu bersama keluarga, saudara atau teman, ada juga yang menghabiskan hari weekend dengan bermalas-malasan, ada juga yang masih bekerja saking sibuknya.


Keysa,kevin dan kanaya memilih menghabiskan weekend mereka untuk bersantai, mengistirahatkan tubuh dan pikiran dari tugas-tugas yang membelenggu.


"kira-kira papa pulang kapan mah?" celetuk keysa, mereka bertiga tengah menonton film keluarga di temani dengan beberapa cemilan tak lupa juga minuman.


"kaya nya masih lama, udah kangen ya sama papa?" tanya kanaya, mengusap surai anaknya.


Keysa mengangguk nganggukan kepala dengan bibir yang di cebikan.


"papa lama banget di sana nya, apa ga kangen sama kita." Keysa mengalungkan tanganya di lengan kanaya dengan kepala yang ia jatuhkan di pundak sang ibu.


"kangen banget ya sama papah?" ucap seseorang yang ada di belakang keysa.


"banget." Jawab keysa cepat. Tersadar dengan suara seseorang yang sangat familiar di telinganya, keysa buru-buru membalikan badan, seketika matanya berbinar kala kafian lah yang ada di belakangnya. Pria paruh baya itu tersenyum hangat sambil merentangkan kedua tangan.


"papaaa..." keysa langsung meloncat dari sofa, menghambur ke pelukan kafian.


"papa ko tiba-tiba ada di sini?" tanya keysa di ceruk leher kafian.


"sengaja, biar suprise." Kafian mencium puncak kepala putrinya dengan sayang.


"padahal kalo papa bilang dulu bisa kevin jemput di bandara." Ujar kevin yang masih asik memakan makroni bontot kesukaannya.


"papa ga mau ganggu weekend kamu." Tatapan kafian beralih pada kanaya. Keysa sudah melepaskan pelukannya jadi sekarang kanaya yang mendapat giliran.


"miss you." Bisik kanaya tepat di telinga kafian. "I miss you more." Balas kafin sambil berbisik pula.


"mas mau langsung istirahat atau mau makan?" tanya kanaya. "mau mandi dulu deh, gerah banget." Kafian melongarkan dasi yang terasa mencekik.


Kanaya mengantar kafian ke kamar, untuk menyiapkan air mandi dan juga pakaiannya.


Dari arah depan keysa melihat mang maman yang membawa banyak barang.


"itu apa mang?" tanya keysa penasaran, ia menghampiri mang maman, berniat membantu.


"barang-barang punya tuan." Jawab mang maman, keysa mengambil beberapa barang yang ada di tangan laki-laki tua itu "biar aku bantu." Mang maman sempat menolak bantuan keysa, tapi gadis itu tetep kukuh ingin membantu.


Atas se izin kevin, mang maman membiarkan keysa membantu.


Keysa membawa barang-barang itu ke kamar orang tuanya, tapi pintu itu tak kunjung di buka dari dalam.


"kita simpen aja di kamar kak kevin." keysa berjalan lebih dulu di ikuti mang maman dari belakang.


"di situ aja mang." Keysa menunjuk sofa yang ada di sana. "kalo gitu saya permisi dulu neng." Pamit mang maman, keysa mengiyakan.


Keysa baru sadar, Ternyata sedari tadi kevin berdiri di belakangnya. "aku bawa ke sini karena pintu kamar mama sama papah dikunci dari dalem, kaya nya mereka tidur." Jelas keysa.

__ADS_1


"pasti ini semua oleh-oleh dari papa buat kita." lanjut keysa dengan senyum sumbringah. Setiap kali orang tuanya dinas ke luar kota ataupun luar negeri, mereka tak pernah lupa membawa buah tangan.


"kalo bukan oleh-oleh apa lagi." Kevin juga sama sumbringahnya dengan keysa, tanpa menunggu lagi kevin mulai membuka satu persatu paper bag yang ada di depannya.


Ketika tengah asik membuka paper bag-paper bag itu , padangan kevin malah salah fokus pada leher dan bahu keysa, karena hari ini gadis itu mengenakan baju tanpa lengan di tambah lagi rambut yang di sangul ke atas.


Kevin menarik sanggul itu membuat rambut keysa terturai. "ko malah di lepas sih, gerah tau." gerutu keysa.


Kevin menaikan suhu ac di kamarnya "masih gerah?" tanya kevin, keysa menggelengakan kepala "udah engga." Kemudian melanjutkan aktifitasnya.


Saat jam menjunjukan pukul satu. mereka semua mengadakan makan siang di selilingi beberapa percakapan.


"kamu udah punya target kampus belum?" tanya kafian, mengingat kevin sudah kelas dua belas, yang sebentar lagi akan lanjut ke universitas.


"belum pah." Jawab kevin jujur, ia tidak pernah memikirkan soal itu, yang penting kevin kuliah, tidak masalah di kampus mana saja.


"kalo jurusan nya? Mau ngambil jurusan apa?" tanya kafian lagi, ia bukan type orang tua yang memaksakan kehendaknya pada anak, biarlah mereka sendiri yang memutuskan mereka ke jalur mana, tapi kafian sangat berharap jika kevin melanjutkan di jurusan bisnis agar bisa meneruskan perusahannya, karena kevin anak laki-laki satu satunya.


"bisnis pah." Jawab kevin, membuat kafian tersenyum senang.


"gimana kalo kamu kuliah di washington university? lulusan disana bagus-bagus." Saran kafian. kevin menjeda sebelum menjawab, apakah ia akan sanggup berjauhan dengan keysa dengan jangka waktu yang lama? Ia tidak yakin.


"nanti kevin pikir-pikir lagi pah." Jawab kevin pada akhirnya. Terlintas satu ide cemerlang.


"gimana kalo keysa ikut sama kevin?" ujarnya.


Kevin mengangguk "iya, jadi kevin ga akan sendirian di sana."


"kalo keysa ikut sama kevin, dia juga ga akan sendirian di rumah, mamah sama papah pasti bakal sibuk lagi sama pekerjaan yang mengharuskan keluar kota, atau malah keluar negeri dengan jangka waktu yang lama." Ucap kevin


"tapi kalo kaka ke kampus, berarti aku sendirian dong disana?" tanya keysa sambil menatap kevin.


"kita bisa ajak bi lala buat bantu ngurus rumah." Ucap kevin dengan penuh keyakinan. Sejujurnya kevin hanya ingin berdua saja, tapi mengingat betapa payahnya dia dalam hal mengurus rumah dan juga memasak, kevin jadi berfikir dua kali, ia tak akan membiarkan keysa yang mengurus itu semua.


"kalo gitu papah setuju, nanti papah yang urus bodyguard buat kemanan rumah sama asisten rumah tangga yang bakal bantu-bantu disana." Kafian menyetujui, setidaknya keysa akan lebih aman jika berada di negara lain.


"mama ga setuju." Ujar kanaya mengutarakan penolakan.


"dari pada ikut kevin ke luar negeri, gimana kalo keysa sekolah dulu disini? sekolah umum bukan homeschooling kaya sekarang, papah tau ga? Kemaren temen mama yang anaknya baru homeschooling satu tahun aja udah hampir stress pah, mama ga mau ya keysa jadi depresi karena sedari kecil dia ga pernah keluar rumah. Lagian papa ini aneh-aneh aja, punya anak gadis cantik gini malah di kurung terus di rumah." Ucap kanya panjang lebar, jujur saja ia sangat takut keysa jadi depresi gara-gara tidak di perbolehkan keluar rumah sama sekali. Awalanya kanaya kira, keysa mengidap kelainan xeroderma pigementosum dimana di pengidap sangat sensitif terhadap sinar matahari, tapi ternyata tidak.


"semua yang papa lakuin demi kebaikan kita semua ma."


Kanaya mengernyitkan dahi heran. Kebaikan? Kebaikan apa maksud nya?


"coba deh papa jelasin lebih rinci lagi, kebaikan apa yang papa maksud?"


Kafian mengurut pangkal hidungnya, haruskah ia menjelaskannya dari awal? Tapi ia rasa ini bukanlah waktu yang tepat.

__ADS_1


"ma, papa ga mau bahas ini dulu."


"kenapa?"


"kita bahas lain kali aja ya." Kafian mencoba memberi pengertian pada kanaya.


"kenapa sih pa? mama dari dulu udah nahan-nahan loh buat ga nanya ini, mama nunggu waktu yang tepat tapi papa kaya nya ngundur-ngundur terus. Kenapa? Kenapa papa bedain keysa sama kevin?"


"papa sama sekali ga beda-bedain mereka ma."


"sekarang papa jelasin kenapa keysa ga pernah di bolehin masuk ke sekolah umum." Ucap kanaya menuntut. Bukannya jawaban, yang kanaya dapat malah bentakan.


"MA." Ucap kafian sambil menggebrak meja.


Semua yang ada disana terjengkit kaget, termasuk para asisten rumah tangga yang tengah mencuci piring dan memasak hidangan penutup di dapur.


"mah, pah ko malah berantem sih." Kevin melerai, ia mengusir beberapa asisten rumah tangga yang berusaha menguping.


Kanaya pergi dari sana dengan langkah cepat, sedangkan kafian kembali duduk, berusaha merendam amarahnya.


Tapi tak lama kemudian kafian menyusul kanaya.


Kevin memenangkan keysa yang tengah di landa shock, mungkin karena ini pertama kalinya Ia melihat kanaya dan kafian adu mulut.


Kanaya membelakangi kafian, air matanya tiba-tiba mengalir. Ia tidak pernah di bentak seperti itu seumur hidupnya.


Kafian memeluk kanaya dari belakang, ia menenggelamkan kepalanya di ceruk leher sang istri sambil terus menggumamkan kata maaf.


"mama cuman kasian sama keysa yang ga pernah keluar rumah sama sekali." Ucap kanaya dengan nada sesegukan.


"maafin papa."


"papa ga kasian apa sama keysa? diem-diem keysa tuh selalu ngelamun sambil liatin anak-anak yang lagi main lewat jendela. Mama juga pengen keysa kaya yang lain tapi papa selalu larang-larang." Ucap kanaya lagi.


"maafin papa." Lagi-lagi kata itu yang terucap.


"maaf maaf terus, tapi ga pernah dengerin kata mama."


"ma, papa cuman khawatir sama keysa, mama tau kan saingan papa ada dimana-mana, mereka bakal lakuin apa aja termasuk nyelakain keysa." kafian membalik posisi istrinya hingga kini mereka saling berhadapan satu sama lain.


"bodyguard papa banyak ga cuman satu, papa bisa merintahin mereka buat jadi bayangan keysa."


"mama ga mau liat raut sedih keysa lagi, dia selalu baik-baik aja di depan kita padahal sebenernya engga."


Sebenarnya kafian juga sama halnya dengan kanaya, ia tidak tega. Tapi ia juga tidak siap jika memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi jika keysa bebas berkeliaran seperti kevin.


Kafian merenungkan fikirannya sebentar.

__ADS_1


"lusa, papa masukin keysa supaya bisa satu sekolah sama kevin."


__ADS_2