She Is Mine

She Is Mine
Episode 76. Awal mula sebuah Perubahan


__ADS_3


Suara derap langkah tergesa-gesa di lorong rumah sakit terlihat jelas kedua orang tua Anja sangat khawatir dengan keadaan putri mereka. Beberapa menit yang lalu salah satu ART di rumah mereka mengabarkan putri mereka terjatuh dari tangga.


"Bagaimana keadaan anak saya dok??" tanya Rani langsung bergegas menghampiri sang dokter.


"Keadaan pasien kritis karena penanganan yang lambat. Jadi, pasien mengeluarkan sangat banyak darah disebabkan benturan anak tangga."


Rani menangis histeris dan memeluk Bayu suaminya, mereka tidak becus menjaga putri mereka, "Selamatkan putri saya dok!!" titah Rani menatap sendu sang dokter dengan perasaan sangat kacau.


"Putri anda membutuhkan pendonor darah. Mari ikut saya!!" perintah sang dokter menuju ruangannya. Rani dan Bayu mengikuti dokter tersebut sedangkan Mita kini menghampiri Kintan yang tengah duduk di depan ruang inap adiknya.


"Bisa jelaskan!!" titah Mita bersedekap di hadapan Kintan dengan masih memakai baju seragam SMP. Mita langsung dijemput oleh mamanya ketika mendapatkan kabar adiknya jatuh dari tangga.


"Kintan ngak tahu kak," jawab Kintan dengan gugup tidak berani menatap kakak sepupunya itu.


"Bagaimana kamu ngak tahu, Anja mainnya selalu sama kamu. Anja selalu ngalah sama kamu. Anja selalu belain kamu. Dan adik aku ngak pernah mau nyakitin kamu!!" sentak Mita menahan emosinya yang memuncak mendengar jawaban tidak masuk akal dari Kintan.


"Anja jatuh dari tangga sendirian. Kintan lagi pergi ke kamar kecil tadi. Terus bibi teriak lihat Anja udah berdarah-darah kak. Jangan salahkan Kintan!! Kintan ngak salah!! Yang salah Anja ngak hati-hati."


Mita menggepalkan tangannya tidak percaya dengan penjelasan Kintan yang berbelit-belit. Sudah jelas ketika bibi menelpon mamanya tadi bilang mereka sedang bermain di atas tangga dan Anja tidak sengaja terjatuh.


"Kenapa kamu selalu mau nyakitin adik aku?? apa salah Anja sama kamu?? apa pernah Anja ngak peduli sama kamu Kintan?? bahkan aku sebagai kakaknya bisa saja mengusir kamu dari rumah orang tuaku. Kamu itu parasit!! ingat hanya parasit!! bahkan nenek sama kakek ngak pernah pandang kamu karena sikap kamu yang tidak mencerminkan dari kelurga Adelia."


"Apa jangan-jangan kamu hanya anak pungut!!"


"CUKUP KAK MITA SELALU RENDAHIN KINTAN!!" teriak anak kecil berusia 8 tahun itu di hadapan Mita yang sekarang tinggi Mita di atas kepala Kintan.


"Jangan main-main sama aku!! atau kamu akan tahu akibatnya!!" ancam Mita lalu pergi dari hadapan Kintan yang kini menatap tajam ke arah Mita.


Semua perlakukan Mita kepada Kintan masih Kintan ingat sampai sekarang. Bahkan ketika pernikahan mewah Mita diadakan, Mita tidak ingin mengundang dirinya, hanya dirinya seorang.

__ADS_1


****


Perasaan Kesya kini tengah tidak menentu karena hanya berdua di ruangan komputer bersama Steven. Kalau Kesya bisa memilih ia lebih baik berkerja sendiri ketimbang bersama dengan Steven di dalam ruangan ini.


"Kak Steven!! ini gimana caranya??" tanya Kesya menunjuk sebuah laporan proposal yang ia buat untuk tugas anak literasi. Kesya sekarang ikut ke dalam kumpulan anak-anak literasi yang suka dengan berbagai macam bau-bau tulisan dan lainnya.


"Lo anak literasi ngak bisa main komputer. Mati ajha sana!!" ujar Steven membuat Kesya kesal sendiri dengan kesombongan Steven.


"Iya-iya kak memang hebat kalau soal komputer kan keturunan."


"Semua hal di dunia ini tidak akan bisa diwarisi dengan mudah walaupun gen kecerdasan sekalipun dari keturunan kalau kita tidak mau belajar dan memahami semuanya."


Kesya tertegun dengan penjelasan bijak dari Steven. Memang benar adanya tidak semua bisa kita dapatkan dari keturunan kalau kita tidak berusaha untuk belajar sendiri. Semua itu akan sia-sia kalau kita mengandalkan rasa malas dan juga enggan untuk mau melangkah maju.


"Lo ngak usah banyak mikir!! proposal lo sebentar lagi mau jadi nih," tegur Steven melihat Kesya tengah melamun.


"Kan gue baru nih jadi anak literasi, gue bingung mau nempel berita di mading tentang apa?? menurut lo gimana? lo kan cerdas nih."


"Terima kasih kak untuk bantuannya. Kakak boleh pergi!! ini sudah jadi," ujar Kesya seakan mengusir jujur jantungnya berdetak tidak karuan di dekat Steven. Kalau cowok itu tahu kan bahaya, Kesya malu.


"Lo ngusir gue??" tanya Steven mengerenyitkan dahinya dalam. Kesya langsung bungkam.


"Lo salting sama gue??" tanya Steven lagi membuat Kesya melototkan matanya hampir keluar.


Melihat raut wajah lucu Kesya membuat Steven hampir tertawa terbahak-bahak namun ia tahan agar tidak merusak imagenya menjadi senior, "Gue bercanda jangan diseriusin!! kalau lo mau di seriusin juga ngak papa."


"Jangan gombal deh kak!!" keluh Kesya mencoba untuk tidak salah tingkah sendiri.


"Gue ngak bercanda Kesya Pratama!! lo cantik seperti bidadari!!"


"Capek digombalin terus," seakan memancing Steven, Kesya sebenarnya suka bercanda dengan seniornya yang asik ini.

__ADS_1


"Lo kan bidadari punya sayap makanya jangan jalan!! atau perlu gue gendong??" tanya Steven berhasil membuat wajah Kesya memerah.


"Kakak jangan buat gue terbang tinggi terus dihempas begitu saja."


"Jangan gampang baper!! gue hanya bercanda kok adik kelas," ujar Steven mengacak rambut Kesya hingga berantakan membuat Kesya mengigit bibirnya dengan kesal.


Steven pergi begitu saja tidak bertanggung jawab karena dirinya baper berat dengan obrolan mereka barusan, "Dasar kakak senior ngak ada akhlak. Gue juga kenapa baper gini," kesal Kesya menghentakkan kakinya lalu mengambil lembaran-lembaran proposal dan mengumpulkan nya menjadi satu.


***


"Lo kenapa senyum sendirian??" tanya Riko bingung dengan tingkah laku Steven yang baru saja menghampiri mereka di kantin.


Steven langsung mengubah raut wajahnya kembali datar, "Ngak ada," jawabnya dengan singkat.


"Abang Steven lagi jatuh cinta," ejek Anja melihat tingkah laku Steven yang aneh.


"Tapi tunggu!! lo jatuh cinta sama siapa?? jangan bilang lo jatuh cinta sama gue??" tanya Riko memicingkan matanya takut, karena Steven tidak pernah dekat dengan siapapun, biasanya hanya dirinya teman bercanda Steven.


"Bacot!!" ujar Steven malas menanggapi pertanyaan dari Riko dirinya normal lahir dan batin.


"Lah gue hanya bercanda. Jangan sensi dong mas!!" jelas Riko tampak tidak merasa bersalah.


"Lo jangan sembunyikan apapun dari kita?? lo ketemu sama siapa tadi sampai senyum sendirian??" tuntut Satria kini membuka suara penasaran.


"Kesya."


"Kesya?? teman kelas Anja?? wah abang suka sama sama Key."


Kenapa jadi seperti ini?? Steven jadi pusing sendiri kapan dirinya bilang suka dengan juniornya itu. Cewek itu juga sangatlah cerewet dan gampang baper, bukan tipe Steven tapi ya sudahlah.


"Cye abang Steven suka sama Key." Anja kembali gempar untuk mengejek Steven begitupun dengan Satria dan Riko yang kini nyengir tidak jelas menatap dirinya aneh.

__ADS_1


"Kasihan abang Steven nya sayang!!" tegur Danial mengusap surai Anja, Danial tahu tatapan memohon dari Steven untuk menghentikan Anja agar berhenti mengejeknya.


__ADS_2