
"Et...Et... Queen mau lewat girls," ujar Celina mengejek Anja dan Lala yang lewat di depan mereka. Sekarang mereka berada di lorong sekolah yang lumayan sepi, karena Lala dan Anja pamit ke ingin ke kantin.
Merasa tidak ada urusan dengan mereka, Lala dan Anja berlalu begitu saja, namun Celina dengan jahil menghalangi mereka dengan kaki cewek itu, "Mau kemana sih?? cepet banget."
"Ngak ada urusan sama lo!!" ujar Lala hendak menendang Celina, namun cewek itu langsung mundur perlahan, "Ngak usah ngegas dong."
Anja hanya diam melihat pertunjukan tersebut, ia tidak ingin ikut campur maupun sekedar berbagi oksigen dengan cewek licik seperti Celina.
"Kenapa lo diem?" tanya Celina mencoba untuk memancing kemarahan Anja, namun Anja tidak ingin menyapanya sama sekali.
"Anja tahu semuanya Celina!" lirih Anja setengah berbisik, membuat Celina menegang. Namun ia segera menormalkan ekspresinya agar tidak terlihat lemah di hadapan cewek manja itu.
"Maksud lo apa?" tanya Celina setenang mungkin, "Lo nantangin gue?"
"Kalau Anja kasih tahu Nial, pasti kamu musnah dalam sekejap," bisiknya lagi membuat Celina merinding, Anja memang gadis yang tidak bisa diremehkan, bahkan ia bisa memiliki dua kepribadian yang membuat semua orang takut dan juga bersifat manja dan membuat orang bahagia melihatnya.
"Gue ngak pernah takut sama ancaman lo," ujar Celina menunjuk wajah Anja, tapi langsung ditepis kasar oleh Lala.
"Jangan pernah lo nunjuk Anja dengan tangan busuk lo itu!!" peringat Lala.
"Dia ngancem gue, sahabat lo itu bermuka dua," ujar Celina menjelaskan kepada Lala, namun dihadiahi senyuman miring oleh Lala.
"Lo ngomong Anja bermuka dua?" tanya teman Celina merasa bingung, karena wajah Anja yang imut tidak meyakinkan untuk hal itu.
"Anja tuh polos banget, kita dengan mudah bisa injak-injak anak manja seperti dia," bisik sang teman kedua Celina.
"Gue ngak bohong, tadi dia ngancem gue," ujar Celina, membuat teman-teman Celina menggelengkan kepalanya, karena bingung, kapan Anja membuka suaranya?? dari tadi gadis itu hanya diam.
Lala menarik tangan Anja untuk pergi dari sana, dan segera menuju kantin, walaupun belum bel keluar main, karena Anja dari tadi merengek ingin meminum susu, sehingga Lala yang tidak tega, langsung keluar permisi dari kelas.
"Nih susunya, minum yang banyak!!" ujar Lala duduk di samping Anja.
Anja menerima susu kotak dengan senyuman menggemaskan, "Makasih Lala ku tersayang," ucap Anja tersenyum, lalu mencubit pipi Lala dengan cubitan kecil, membuat Lala meringis.
"Lo ngomong apa sama Celina tadi?" tanya Lala penasaran. Terlihat Celina sangat ketakutan dari raut wajah Celina yang gemetar.
"Celina itu orang yang mendorong Anja, pas nonton berita Osis di mading."
Lala membekap mulutnya tidak habis pikir, jadi pelakunya, nenek sihir itu. Lala menggepalkan tangannya, "Nanti gue kasih tahu Danial."
__ADS_1
"Ngak usah La!! udah berlalu juga," ujar Anja, tidak ingin memperpanjang masalah yang sudah lama.
"KALIAN!!" Teriak seorang guru yang tengah piket menegur mereka karena beraninya keluar kelas dan nongkrong di kantin.
Anja tersedak dan terkejut, Lala menatap tajam guru itu, "Kita?" tanyanya singkat.
"EMANGNYA DI SINI ADA SIAPA LAGI KALAU BUKAN KALIAN BERDUA. KALIAN HARUS DI HUKUM. INI SUDAH MAU BEL, TAPI KALIAN SUDAH LEBIH DULU DI KANTIN!!"
"Maaf pak, tapi saya anterin teman saya tadi yang ingin meminum susu. Kami juga sudah izin," ujar Lala menjelaskan dan membela diri.
Sebisa mungkin agar tidak dihukum, karena bukan karena takut dihukum, namun masalahnya, Anja belum sehat untuk menerima hukuman. Lala khawatir Anja kenapa-kenapa, dan pak guru itu mendapatkan hukuman dari Danial nantinya.
"CEPAT KALIAN HORMAT BENDERA DI LAPANGAN!!" tegas guru tersebut lalu membuang semua susu kotak yang ada di hadapan Anja dengan cukup kasar.
Anja mengangguk, mengikuti Lala untuk hormat di lapangan, "Biar gue ajha yang dihukum. Lo istirahat ya?"
Anja menggelengkan kepalanya, "Anja yang salah, ajak Lala keluar kantin, kalau bukan karena Anja mau minum susu, pasti Lala ngak kepanasan sekarang."
"Kata mama, guru yang baik itu, peduli dengan muridnya karena itu mereka menghukum muridnya yang bandel, biar ngak nakal lagi."
"Tapi ini masalah nya beda," lirih Lala memandang Anja yang keras kepala. Ini akan menjadi masalah besar. Lala melirik Anja yang sudah berkeringat hormat di bendera di depan sekolah.
"KALIAN BOLEH ISTIRAHAT SETELAH BEL BERBUNYI, SEKITAR 20 MENIT LAGI!!"
Berbeda dengan Lala yang tampak gelisah karena dari tadi melihat ke arah lorong-lorong sekolah, berharap Danial maupun Rapa tidak melihat mereka.
Bisa habis pak guru itu kalau sampai Danial melihat kesayangan nya yang baru sembuh langsung di suruh panas-panassan.
"Tuh kan keringetnya banyak banget," ujar Lala mengeluarkan tisu lalu mengelap keringat Anja dengan lembut.
"Makasih Lalanya Anja," ucap Anja tersenyum manis.
"Lo ngak pusingkan Nja?" tanyanya lagi.
Anja menggelengkan kepalanya, "Ngak sama sekali. Kenapa Lala tampak gelisah gitu?" tanya Anja bingung. Pasalnya Lala dari tadi terlihat ketakutan.
"Gue takut kalau Danial mengetahui kita dihukum."
"Nanti Anja yang jelaskan, Lala tenang ajha ya?? Anja juga jarang panas-panassan seperti ini. Ternyata asik juga hehe...."
__ADS_1
Bukan seperti itu Anja Adelia, bisa saja Danial membunuh guru itu, batin Lala.
Dari kejauhan terlihat Danial dan Rapa menyeringai melihat pemandangan gadis mereka dihukum. Apalagi Danial menggepalkan tangannya dan langsung menghampiri gadisnya yang tengah kepanasan di tengah terik matahari, demi tuhan penyakit Anja bisa kambuh lagi.
"Nial!!" panggil Anja tersenyum manis, namun masih hormat bendera.
Deg. Lala juga melihat ada Rapa di sana tengah memperhatikan dirinya lalu menariknya dan membawanya pergi.
"Kenapa dihukum hem?"
"Anja yang nakal, Anja tadi mau minum susu, terus Anja kasih tahu Lala. Nah, kita keluar bentar ke kantin buat beli susu."
Danial menarik lembut Anja dari terik matahari, lalu membawanya berteduh. Lihatlah gadisnya sepertinya terlihat pusing.
"Pusing?"
Anja cepat menggelengkan kepalanya, "Ngak pusing, kan belum waktunya istirahat Nial, nanti guru marah."
Sebenarnya Danial tengah menahan emosinya, namun ia tahan agar Anja tidak curiga, "Sayang!! siapapun tidak ada yang berhak menghukum kesayangan Nial. Jadi mereka tengah mencari masalah dengan Nial."
Anja tidak mengerti dengan ucapan Danial, ia memilih bersandar di dada bidang Danial di baluti almamater jas OSIS, "Anja capek, pasti nanti mama nanya kenapa Anja keringetan."
"Kita istirahat ya?" gadis itu menggelengkan kepalanya, membuat Danial bingung.
"Kak Mita juga pasti akan marah, karena Anja panas-panassan."
"Nial!! Anja pusing, kepala Anja sakit."
Danial melihat ke arah gadisnya yang tampak pucat, lalu menggendong nya, masuk ke ruangan pribadi nya.
Anja di baringkan di atas kasur ruangan pribadi Danial, terlihat Anja yang memperhatikan Danial yang tengah menyiapkan obat lalu menyuruh Anja meminumnya, "Bajunya ganti ya sayang."
Anja mengangguk, ia juga tidak nyaman dengan baju yang basah karena keringat. Danial menyiapkan baju baru, lalu perlahan membuka baju sekolah Anja, memperlihatkan kaos lengan pendek, yang dikenakan gadisnya. Setelah selesai Anja kembali memeluk Danial.
"Makasih Nial, tapi Nial harus janji sama Anja, jangan marah-marah ke pak guru itu. Kalau Anja lihat Nial marah-marah, Anja akan balik marah sama Nial."
"Hem."
Anja tersenyum lalu mengecup pipi Danial sekilas, "Makasih Nial," ujar Anja, memandang wajah Danial dari jarak dekat yang sangat tampan, "Nial tampan, kenapa Nial mau sama Anja yang manja dan juga lemah?"
__ADS_1
"Aku tahu semuanya tentang kamu sayang. Kamu manja hanya sama orang yang kamu sayang dan percaya. Tapi kamu bahkan berani membuat cewek itu ketakutan karena ancaman kamu."
Deg. Bagaimana Danial mengetahui semuanya??