She Is Mine

She Is Mine
part 6 kepulangan


__ADS_3

“woi, kemarin lo kemana? Kaga bilang-bilang kalo mau ngebolos.” Renal datang sambil menggebrak meja, membuat kevin yang tadinya fokus pada gamenya terjengkat kaget. Saking terkejutnya ia tak sengaja menjatuhkan ponsel itu ke lantai.


“si bangsat ngegetin aja.” Umpat kevin, ia memungut kembali ponsel itu di lantai, berharap masih bisa menyala.


“hehe sorry sorry.” Renal menggaruk tengkuknya sambil cengengesan.


“kemarin pacar gw sakit, jadi gw jagain dia seharian.” jelas kevin sambil mengusap layar ponsel nya yang terkena debu.


“pacar? Keysa maksud lo?” renal mendudukan dirinya di samping kevin.


“siapa lagi?” tanya kevin balik, ia kembali melanjutkan game yang tadi ia mainkan.


“dia sakit apa?” tanya renal


“kepo banget sama cewek orang.”


“yaelah gw cuman nanya gitu doang, sensi amat lo.” kevin akan selalu sensian jika menyangkut keysa nya.


“gara-gara kemarin lo ga masuk, si salsa jadi ngerecokin gw terus, asu bener.” Renal masih sangat kesal dengan perempuan itu, dia terus menanyakan keberadaan kevin, sudah renal jelaskan bahwa dirinya juga tidak tau kevin dimana, tapi gadis itu mengganggap semua yang di katakan renal bohong.


“kemarin dia maksa gw buat ngasih nomor lo.” Lanjut renal “terus lo kasih?” kevin menatap renal dengan pandangan penuh intimidasi.


“gimana ya vin, gw ngk bisa nolak kalo di sogok pake cireng isi buatan bi iyem.”  Awalnya renal bersikap acuh ketika salsa terus menanyakan nomor kevin, tapi ketika nama makanan itu di sebut dia tidak memgacuhkannya lagi.


“masa di sogok sama cireng isi aja lo luluh.” Kevin tak habis pikir, renal ini gampang sekali di ajak kompromi dalam segala hal, apalagi jika sudah di sangkut pautkan dengan makanan.


“dia ngasih berapa cireng ke lo?” tanya kevin sewot.


“gw bisa jajan cireng sepuasnya selama enam bulan full, mantap kan, bikin uang gw aman.” Tak tanggung-tanggung, salsa membiarkan renal jajan cireng di warung bi iyem sepuasnya selama enam bulan demi sebuah nomor.


“lo jangan marah dong, kalo dia chat langsung block aja. Gampangkan?”


“hmmm…”


“oiya, katanya si david hari ini balik.” Ucap renal dengan semangat.


Selain renal dan bagas, kevin mempunyai satu sahabat lagi, david bragas anatama namanya, satu minggu yang lalu ia harus pergi ke luar negeri karna mamanya sedang sakit, ayahnya sedang berada di negara lain untuk urusan bisnis sedangkan kakanya sibuk kuliah dan belum bisa pulang, alhasil david yang harus menjaga ibunya disana.


“mamanya udah mendingan?” tanya kevin. sekarang atensi nya tidak lagi pada ponsel.


“katanya sih udah, makannya dia bisa pulang.”


“ko cuman lo aja yang di kasih tau?”


“lahh, dia bilang di grup tadi  malem, makanya baca.”


“gw udah feeling sih kalo lo kaga bakal tau soalnya jarang respon di grup.”


“gw kaga pernah respon karena rata-rata pembahasan kalian tuh unfaedah.”


Renal adalah orang yang paling sering ramein grup. Bahasannya tentu saja tak jauh jauh dari makanan atau kalo tidak berisi curhatan soal kucing-kucing nya yang mengambil makanan renal tampa permisi.


Dari arah pintu, Bagas datang dengan senyum cerah melebihi sinar mentari pagi ini.


“serem banget anjir.” Celetuk renal yang di angguki kevin.


Bagas type orang yang jarang memperlihatkan emosinya, entah itu sedang sedih, senang ataupun marah, dia lebih banyak diam. Tapi dengan diamnya bagas saja mood bagas bisa tertasa dari auranya.


“karena hari ini david pulang, gimana kalo kita kumpul-kumpul. Ada sesuatu yang mau gw bahas.” Ucap bagas masih dengan senyum cerahnya.


“kumpul di rumah siapa?” tanya renal menanggapi.


Mereka lebih sering kumpul di rumah, bukanya mereka tak punya uang untuk kumpul-kumpul di café atau tempat-tempat nongrong yang lain, mereka merasa lebih leluasa melakukan apapun jika di rumah, terlebih lagi saat rumah itu kosong.


“gimana kalo di rumah lo aja vin? Seumur kita temenan lo belum pernah ngajak kita maen ke rumah lo.” Usul bagas.


“iya juga ya, di antara kita cuman rumah lo aja yang belum penah kita datengin.”


Mungkin kalian sudah tau alasan mengapa kevin tidak pernah membiarkan mereka main di rumahnya, siapa lagi jika bukan keysa. yang mereka tau keysa itu pacarnya bukan adiknya.


“sorry, kalo di rumah gw ga bisa, lagi ada acara bokap.” Albi kevin.


“emang paling bener kalo kumpul-kumpul tuh di rumah si david.” Tukas bagas.


Rumah david selalu sepi, hanya ada beberapa pelayan rumah yang seminggu sekali datang untuk membersihkan rumah. David tak pernah membiarkan mereka menginap, ia merasa lebih nyaman sendiri. Untuk urusan masak david cukup ahli dalam hal itu.


Muncul satu notifikasi di ponsel mereka masing-masing.


“skuy lah ke bandara.” Ajak renal semangat, dia sudah menenteng tas nya.


Mereka bertiga sepakat untuk membolos hari ini, padahal sebentar lagi bel bernyunyi.


Ketika mereka bertiga tengah berjalan di kotidor, tak sengaja mereka berpapasan dengan salsa yang baru saja datang.


“vin, mau mau kemana?” salsa mencekal lengan kevin.


“bukan urusan lo.” Ucapnya dingin, ia menepis tangan salsa dengan kasar.


“chat dari aku kenapa ngk di bales?” kali ini salsa berdiri di depan kevin.


“minggir.” Kevin tak menghiraukan pertanyaan dari salsa. Tapi gadis itu tetap tak mau beranjak dari tempatnya.


“batu banget jadi cewek.” Kevin menubruk bahu salsa dengan keras membuat gadis itu meringis kesakitan,renal dan bagas mengikuti langkah  kevin dari belakang tanpa peduli pada  keadaan salsa.


Adegan itu tak luput dari mata orang-orang yang berlalu lalang.


“apa liat-liat hah?” Ucap salsa dengan tatapan galak. Membuat orang-orang yang ada di sana kembali pada kesibukan masing-masing.


☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️


Ketiga remaja itu sudah sampai di bandara, mereka celingukan kesana kemari mencari keberadaan david, banyaknya orang  membuat mereka kesulitan.


“coba telfon aja.” Usul bagas.

__ADS_1


Kevin mengeluarkan ponsel dari saku celananya kemudian menghubungi nomor david, pada deringan ketiga telfon tersambung.


“kita ada di deket pintu keluar, lo dimana?” tanya kevin to the point.


“toilet.” Jawab david.


“kita masih pake baju seragam, kalo lo liat,  itu pasti kita.”


Ucap kevin lagi.


“iya.”


Sambungan telfon terputus begitu saja.


“dimana katanya?” tanya renal kepo.


“toilet.”


Setelah menunggu hampir satu jam akhirnya orang yang mereka tunggu-tunggu muncul juga.


“sorry bikin nunggu lama, toiletnya ngantri.” Ucap david, terselip rasa tak enak pada teman-temannya.


“santai aja.” Bagas menepuk pundak david dua kali.


“nah karena sekarang kita udah lengkap, gimana kalo kita langsung aja ke rumah lo vid, katanya bagas mau ngomong sesuatu.”


Renal merangkul kevin dan juga david. Dengan cepat keduanya  melepaskan rangkulan renal, membuat laki-laki itu merenggut sebal.


“tumben banget.” David memandang bagas dengan tatapan heran yang di tatap malah cengar cengir ngk jelas.


“bawain koper gw dong.” Entah untuk siapa perkataan itu david lontarkan, yang jelas dia benar-benar meninggalkan kopernya dan berjalan dengan santai di depan.


“lo aja nal yang bawa.” Ucap kevin kemudian menyusul langkah david, begitupun juga dengan bagas.


“ko jadi gw.” Walaupun merasa terpaksa, renal tetap membawa koper itu, bisa habis dia kalo koper itu tidak ia bawa.


☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️


Sesampainya di kediaman david, renal langsung memanggil pelayan rumah supaya membuatkannya minuman jas jus rasa mangga, minuman yang selalu menjadi favoritnya. Apapun yang ia makan, minumanya harus selalu itu.


Karena mereka bertiga sudah sering bermain di rumah david jadi para pelayan disana sudah sangat hafal betul siapa mereka-mereka ini.


“koper lo berat banget anjirrr,, bawa apaan sih?” tanya renal dengan nafas tersenggal-senggal.


Ia harus membawa koper david dari gerbang sampai ke pintu utama, belum lagi jika ingin sampai di pintu utama ia harus menaiki beberapa undakan anak tangga.


Tak ada satupun yang ingin membantunya, termasuk si pemilik koper.


“cuman baju doang.” Jawab  david santai.


“jadi lo mau ngomongin apa gas?” tanya kevin pada bagas yang duduk di sebelahnya.


“kalian masih inget sama jian?” bagas menatap satu persatu temannya. Mereka mengangguka kepala yang artinya 'iya'.


Dulu, jian adalah mantan kekasih bagas. Bagas sangat menyukai gadis itu sampai apapun kesalahan yang di lakukan jian, bagas akan selalu memaafkannya, bahkan tak sedikit berita yang menyebarkan rumor bahwa jian merupakan gadis yang sangat ‘nakal’ tapi bagas terus menerus menutup mata dan telinga. Bagaimanapun jian dimata orang lain, gadis itu akan tetap menjadi gadis kesayangan bagas.


Sampai malam itu tiba, hubungan mereka harus kandas. bagas memergoki jian yang tengah melayani ‘seseorang’ di klub malam, bagas tau hal itu karna bartender yang bekerja disana merupakan salah satu temannya.


Bagas tidak bisa lagi menutup mata karena apa yang dia lihat di sana benar-benar jian nya, gadis yang tengah mengenakan gaun yang hanya menutupi sebagian pahanya sedang berciuman mesra di atas pangkuan seorang laki-laki yang entah siapa bagas, sudah tak peduli.


Ia berlalu dari sana begitu saja, hatinya sudah teramat hancur.


Sejak hari itu bagas memutuskan hubungan mereka secara sepihak. gadis itu juga tidak pernah mencarinya atau menanyakan kabarnya sama sekali, bagas di anggap bagai orang yang sangat tidak berarti.


Waktu yang mereka lalui bersama selama dua tahun sepertinya tidak ada apa-apanya.


Beberapa bulan berlalu, bagas mendengar bahwa jian pindah keluar negeri untuk melanjutkan studynya. Tapi ternyata gadis itu kembali.


Satu hal yang bagas sadari, ia telah gagal melupakan gadis itu. Entah magnet apa yang membuatnya sulit melupakan jian.


“lo masih berhubungan sama tu cewek?” tanya david. Ia menatap serius ke arah bagas.


“gw udah ngk berhubungan lagi sama dia sejak hari itu.” Jawab bagas sambil menyesap minumannya.


“terus lo dapet berita ini dari siapa?” tanya renal.


“dari temen-temennya.”


“gw harap lo ngk bakal balik lagi sama cewek itu.” Tungkas kevin. Ia hanya tidak ingin bagas kembali jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalianya.


“jawab jujur, lo masih suka sama dia?” suara david benar-benar mengintimidasi.


“bohong banget.” Bagas ingin mengatakan yang sebernarnya, tapi ia sudah bisa memprediksi reaksi teman-temannya.


Mereka akan mengatakan ‘jauhin dia, masih banyak cewek baik di luaran sana’ bagas sudah sangat hafal dengan kalimat itu.


"Lo kalo mau bohong jangan ke kita." Ucap david tenang.Jika bagas sudah tidak menyukai gadis itu, kenapa dia terlihat sangat senang mengetahui bahwa jian akan kembali ke negara ini.


“gw masih belum bisa ada di tahap move on." Bagas menghembuskan nafas kasar.


☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️


Malam sudah tiba, tapi belum ada tanda-tanda mereka akan pulang.


“vid, cewek-cewek disana pasti sedep-sedep kan?” tanya renal, pandanganya fokus pada game yang sedang ia mainkan di ponselnya.


“hmmm…” sama hal nya dengan renal, david juga fokus pada gamenya.


Mereka  berempat sedang mabar.


“kenalin satu dong buat gw, kali aja jodoh.” Sepertinya renal sudah gumoh dengan single yang berkepanjangan ini.


Sebenarnya renal ini cukup terkenal di sekolah karena sikapnya yang ramah pada semua orang, banyak gadis-gadis yang menyukai renal karena sikapnya itu, sayangnya renal tak memiliki perasaan yang sama dengan yang mereka rasakan untuknya.

__ADS_1


“tau nama mereka aja ngk.”


sama hal nya dengan renal. David kevin dan bagas juga sama-sama famous, jika renal di sukai karena sikap ramahnya, mereka ini di sukai karena sikap dinginya. Para gadis di sekolah menganggap bahwa cowok cool lebih keren dan menantang untuk di dekati.


“salsa aja gih, biar ngk ke gw mulu.” Celetuk kevin.


“ogah, risih bat gw sama dia.”


Salsa memang cantik, famous dan kaya, tapi karena sifatnya itu lah yang membuat sebagian laki-laki berfikir dua kali untuk menjadikannya pacar.


“so soan pengen punya pacar, palingan juga baru pacaran tiga hari aja lo udah bosen.” timpal bagas.


Terakhir kali renal pacaran ketika kelas sebelas, pada awalnya renal sangat menyukai gadis itu, karena katanya gadis itu adalah type idealnya. Teman-temannya yang lain sangat  mendukung renal, mereka tau citra gadis itu di sekolah.


Pertama PDKT renal senang bukan main,  begitupun saat dia berhasil menjadikan gadis itu kekasihnya.


Tapi tiga hari kemudian renal memutuskan untuk menyudahi hubunganya, tentu saja kevin bagas dan david terkejut, pasalnya hubungan mereka belum seumur biji jagung.


Renal bilang pada saat itu “dia terlalu baik buat gw.”


“itu kan dulu, sekarang udah beda lagi.” sanggah renal.


“jodoh kaga perlu di cari nal,kita cuman tinggal nunggu waktu aja.” Kevin yang ada di sebelah renal menimpali.


“najis so bijak banget.” Renal malah mencibir, alhasil dia mendapat tempelengan di kepalanya.


“gua cabut duluan.” Ucap kevin, jam sudah menunjukan pukul sembilan malam.


“aelahh bentar lagi kita menang nih.” Kata bagas.


Tapi kevin malah langsung log out membuat kemenangan yang ada di depan mata harus sirna begitu saja.


“si kevin emang asu.” Gerutu renal.


“bodo, gw cabut.” Kevin keluar dari kamar david begitu saja tanpa menghiraukan teman-temannya yang lain.


“gw nginep disini aja ya vid.” bukan sekali dua kali renal menginap di rumah nya, bahkan kamar tamu yang ada di lantai bawah sudah di klaim milik renal.


“oke.” Balas david.


“gw mau pulang juga.” Bagas merapikan sedikit bajunya yang berantakan, memasukan barang-barannya ke dalam tas tak lupa juga dengan kunci motornya.


“hati-hati di jalan.” Seru renal.


☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️


“dari mana aja kamu?”


Kevin  terkejut bukan main saat di suguhi wajah kanaya yang sudah ada di depannya ketika ia baru membuka pintu utama.


“astaga mama bikin kaget aja.” Pemandangan tadi benar-benar menyeramkan baginya.


“jawab dulu, kamu ngk ke ke tempat aneh-aneh kan?” tanya kanaya galak.


“ngk mah.” Ucap kevin dengan malas.


Ketika kevin pulang malam, kanaya selalu mengira bahwa ia habis dari club. Padahal ia tak pernah lagi ke sana sejak kejadian itu.


“awas aja ya kalo kamu main ke sana, uang jajan kamu mama potong selama tiga bulan.” Ancaman kanaya sebari berdecak pinggang.


“kevin kan udah legal mah, wajar dong kalo main kesana sesekali.” Umurnya sudah menginjak sembilan belas tahun, padahal teman-temannya yang masih belum legal bisa dengan bebasnya mengunjungi tempat itu kapan pun.


“pokonya mama ngk ngijinin kamu main ke club club ga jelas itu.” Kanaya sangat memperhatikan pergaulan anaknya, ia takut kevin terjerumus dalam dunia yang tidak semestinya.


“iya iya.”berdebat dengan ibunya hanya akan membuat mulut kevin berbusa.


“mandi, makan, udah gitu langsung istirahat.”


"Iya." Kevin celingukam kesana kemari mencari-cari sosok gadis kesayangannya yang tidak ia lihat selama seharian. “keysa udah tidur?”


“udah.”


“ohhh.. kevin ke kamar dulu.”


Kevin berlalu dari sana ‘ke kamar dulu’ yang di maksud kevin yang sebenarnya adalah kamar keysa.


☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️


Pintu kamar gadis itu tidak terkunci membuat kevin bisa masuk dengan leluasa, ia membuka pintu dengan sangat hati-hati supaya tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan keysa. tak lupa pintu itu ia tutup dan di kunci dari dalam.


kevin sengaja mematikan lampu, membuat kamar itu jadi gelap gulita, keysa tak menyadari itu karena jiwanya sudah berkelana di alam mimpi.


Di simpannya tas yang sedari tadi bertengger di bahu sebelah kirinya, satu persatu kancing seragam ia buka beserta kaos dalamnya hingga bagian atas tubuh kevin tak tertutup oleh sehelai kain pun.


Sepatu yang melekat dikakinya ia buka dengan tergesa.


Pelahan tapi pasti, kevin naik ke atas ranjang sebisa mungkin tak menimbulkan suara.


Tubuh kevin tepat berada dia atas tubuh keysa, ia menopang tubuhnya dengan meletakan kedua tangannya di samping kiri dan kanan tubuh gadis itu.


Keysa hanya mengenakan tangtop tipis membuat bra yang ia pakai terawang dengan kontras.


“shitt…”


Bibir tipis keysa yang sedikit terbuka seolah-olah memanggil kevin.


Karena merasa tak tahan lagi, kevin meraup bibir itu dengan sedikit rakus, terjadi pergerakan pada keysa, sepertinya gadis itu terganggu dengan ulah kevin, maka dari itu kevin sedikit memelankan temponya.


Kedua tangan kevin tak lagi menopang tubuhnya. Sebagai gantinya, kevin menggunakan lututnya supaya tubuhnya tidak meniban keysa.


Satu tanganya ia letakan di bawah tengkuk keysa untuk memperdalam ciumannya, sedangkan tangan yang satunya lagi aktif mengusap-usap bahu keysa yang terkpos.


“nghhhh…” lenguhan dari keysa membuat kevin semakin menggila, gadis itu sudah hampir kehabisan nafas.

__ADS_1


Kevin melepaskan ciuman itu dengan hati tak rela, ketika keysa sudah kembali damai dalam tidurnya, kevin melakuakn hal itu berulang-ulang.


__ADS_2