She Is Mine

She Is Mine
Episode 84 // Nyawa yang Terancam


__ADS_3

Senyuman Kintan mengembang kala Danial mengirimkan pesan kepadanya semalam. Kintan sekarang berdiri di balkon sekolah sendirian, sembari menunggu cowok itu. Ia beberapa kali mengatur debaran jantungnya, karena pada akhirnya. Cowok itu ingin meliriknya dan mengajaknya bertemu di belakang Anja.


"Gue udah cantik ngak, ya?" tanyanya.


Kintan mengeluarkan cermin berukuran mini dan merapikan rambutnya kembali. Ia menghela nafas dan beralih memandang kembali pintu yang ada di ujungnya.


Seorang cowok keluar dari pintu itu dengan gaya cool dan tatapan tajam nan datar. Bukannya takut, Kintan malah terpesona melihat nya. Kalau dirinya bisa mengalahkan Anja, dan merebut pacarnya yang kaya raya itu. Pasti mamanya akan sangat bangga kepadanya.


Suara langkah Danial, mendekatinya. Hingga mereka berhadapan satu sama lain saling memandang. Danial memasukkan kedua tangannya ke dalam celananya dan tidak berekspresi apapun. Menambah kesan ketampanannya.


Kintan baru menyadarinya sekarang, cowok Anja sangatlah tampan. Dalam jarak sedekat ini. Maka Kintan tidak akan menyalahkan semua siswi sangat mengidolakan nya. Apalagi Danial sangatlah pintar dan anak yayasan.


"Lo... kirim pesan ke gue, semalam kan?" tanya Kintan basa basi.


Danial mengangguk, membuat Kintan salah tingkah.


"Lo...."


"Harus sadar posisi lo saat ini!" potong Danial cepat, membuat Kintan terpaku.


"Tapi...."


"Gue, bukan orang baik yang akan ngelepasin lo, gitu ajha."


Sudah Danial jelaskan. Andai Kintan bukan sepupu Anja. Mungkin sekarang Kintan telah hilang selamanya.


"Maksud lo apa, sih? gue ngak ngerti," sanggah Kintan kembali. Danial mengancamnya?


Bukannya menjawab. Danial melangkah dan mempersempit jarak mereka. Kintan refleks mundur perlahan, membuat Danial semakin melancarkan aksinya. Hingga sekarang, gadis itu berada di ujung balkon. Kintan yang tidak menyadarinya, langsung berbalik dan hampir terjatuh ke bawah.


"Lo mau ngapain?" ujar Kintan mulai ketakutan.


"Menurut lo?" tanya Danial.


Dengan nafas memburu, Kintan ingin keluar dari situasi ini. Ia ingin melangkah maju, Namun Danial dengan wajah datarnya seperti batu di hadapannya tidak ingin menyingkir tubuhnya.


"Yakin, lo mau tahu siapa gue?"


"Gu-gue, ngak akan pernah nyerah. Walaupun lo mengancam gue seperti ini. Gue ngak takut, lo ngak akan berani melakukannya. Gue yakin, lo hanya anak SMA biasa."


"Oh ya?"

__ADS_1


Danial kembali memajukan tubuhnya, membuat jantung Kintan berdebar dengan sangat kencang. Di bawahnya sepi tidak ada orang, jam pelajaran telah di mulai. Tidak ada yang bisa menolongnya sekarang.


"Gue akan kasih tahu Anja. Lo seperti ini ke gue." Kintan akan mengadukan nya ke Anja.


"Sebelum itu terjadi...." Danial hendak mendorongnya, namun Kintan langsung meraih tangannya. Sehingga sekarang hanya Danial yang bisa menolongnya. Tubuh Kintan terhuyung hendak jatuh, Kintan sudah bergetar ketakutan dengan bibir pucat dan bergetar.


"Tolongin gue! gue mohon!" pintanya memelas.


"Ngak ada untungnya, untuk gue."


Deg. Kintan terpaku mendengarnya. Ia segera menggelengkan kepalanya. Ketika sedikit lagi tangannya akan terlepas. ia tidak ingin mati.


"Pertunjukan yang menarik," ujar Satria dan teman-teman nya datang menghampiri mereka.


"Satria, tolongin gue. Danial mau bunuh gue. Gue takut."


Bukannya berkomentar apapun. Satria menyeringai membuat Kintan salah mengira selama ini. Satria tidak menyukai nya.


"Sebelum Anja tahu, lo mending jangan menunda waktu, Danial," sambung Rapa.


Danial mengangguk dan melepaskan tangan Kintan. Barakhir Kintan kini terjatuh namun masih bisa berpegangan di pinggir balkon. Dirinya tidak kuat kembali.


"Masih mau bermain-main?"


"Gue janji, kalau lo nolongin gue. Gue akan merestui hubungan kalian."


"Lo siapa?" tanya Rapa membuat Kintan enggan menjawabnya.


Beberapa menit, mereka menyaksikan Kintan yang bertahan hidup dan tidak menyerah.


"Satria!" perintah Danial.


Satria mengangguk dan meraih tangan Kintan. Cowok itu menariknya hingga Kintan sekarang selamat. Tubuh gadis itu setengah pingsan. Kintan mengatur nafasnya dan menatap Satria dengan derai air mata.


"Kita pergi!"


Mendengar instruksi dari Danial. Mereka semua pergi dari sana. Meninggalkan Kintan dengan segala ketakutan di benaknya.


"Gue ngak akan nyerah."


***

__ADS_1


"Nial, dari mana aja? Anja, sama Lala capek nungguin tahu."


"Sudah pesan makanan?" tanya Danial.


"Ngak mood, Nial lama banget," ucap Anja mengerucut kan bibirnya. Terlihat menggemaskan.


"Maaf, Sayang. Makan sekarang, ya? nanti kalau kamu kurusan pas kita tunangan bagaimana?"


"Anja ngak kurus. La! Anja kurus ngak?" tanyanya kepada Lala yang sekarang berada di dekat Rapa.


"Ngak, body lo bohay."


"Apaan sih, La. Ngak bohay."


"Pokoknya ideal deh."


"Tuh dengar kan kita, sesama perempuan," ujar Anja.


"Iya, sekarang kamu harus makan. Mau makan apa hem?"


"Nasi goreng sama susu ajha."


Danial mengangguk dan menyuruh Satria. Cowok itu langsung bangkit dan memesan makanan.


"Jujur sama Anja. Nial kemana? Anja nyari tadi bentar ke kelas Nial. Tapi ngak ada. Jangan bilang...." Anja memicingkan matanya.


"Ngak, Sayang. Kita tadi pergi ke ruangan pribadi aku. Membahas itu...."


"Itu apa?"


"Nja, ngak baik terlalu kepo sama urusan cowok," sambung Lala. Anja menatap Danial dan menghela nafas.


"Anja ngak kepo kok. Urusan cowok."


"Aku ngak kemana-mana, Sayang. Ngak baik curigaan."


Bukan seperti itu maksud Anja sebenarnya. Soalnya ketika Danial pergi, kakak sepupunya juga tidak terlihat. Apa salah, dirinya mencurigainya?


Tapi, Danial ngak mungkin melakukannya. Anja sangat mempercayai kekasihnya.


'Maafin Anja, Nial,' batinnya menyesal.

__ADS_1


__ADS_2