
Mata indah itu perlahan terbuka, menampilkan bola mata coklat dan bulu mata yang lentik. Sepasang suami istri terlihat bahagia melihat anaknya kini telah bangun dari tidurnya. Gadis itu Anja, Anja sudah tertidur tiga hari, membuat orang tuanya cemas dengan putrinya itu.
"Ma!! Pa!! haus!!" ujarnya lemah.
Rani langsung memberikan Anja minum secara perlahan, "Akhirnya putri kecil mama sadar," ucap Rani bersyukur dan terharu.
Anja mengangguk, namun bayangan itu langsung memenuhi kepala cantiknya, ia menangis membuat Rani dan Bayu khawatir dan segera memanggil kan dokter untuk anaknya.
"Kamu kenapa sayang?" ujar Rani memeluk anaknya agar Anja kembali tenang. Hati seorang ibu mana yang tega melihat anaknya seperti ini.
"Anja takut ma!! Anja ngak mau ketemu sama siapapun, mereka jahat sama Anja hiks."
"Iya sayang, papa juga tidak setuju anak papa yang cantik ini bergaul dengan mereka," jelas Bayu memiliki kesempatan untuk menghasut anaknya itu.
"Jangan kasih mereka ketemu sama Anja pa hiks."
__ADS_1
"Iya papa janji akan menjaga putri kecil papa ini. Mereka penyebab putri papa masuk rumah sakit. Musuh Danial menjadikanmu pelampiasan. Jadi jangan dekat dengan mereka!!" perintah Bayu mengusap surai anaknya itu.
Karena dasarnya anaknya itu polos dan juga selalu menurut apapun yang dikatakan orang tuanya, jadi Anja gampang terhasut maupun menerima perintah apapun dari papanya. Termasuk menjauh dari Danial.
"Lihat kan!! bahkan mereka tidak menjenguk putri papa, malah sibuk untuk mengurus geng mereka."
"Papa!!" peringkat Rani, karena yang dikatakan oleh suaminya tidak benar sama sekali. Bahkan Danial hampir setiap hari memberontak ingin menemui putrinya, namun suaminya melarang keras hal itu.
Karena tidak ingin ada keributan dan juga pertengkaran hingga menganggu gadisnya, Danial mengalah dan menjauh dari ruangan Anja, namun ia tetap memantau dari jauh dan cctv.
"Papa!! Anja kangen papa!! hanya papa lelaki terhebat untuk Anja," ujar gadis itu memeluk erat papanya.
Kreek!!
Pintu dibuka menampilkan dokter muda, memasuki ruangan tersebut dan segera memeriksa Anja, "Keadaan pasien baik, namun pasien memiliki trauma atas kejadian itu. Untuk itu bapak ibu untuk menjauhkan pasien dari hal-hal yang nantinya membuatnya histeris dan ketakutan."
__ADS_1
Bayu dan Rani mengangguk, dan itu keuntungan untuk Bayu, "Terima kasih dokter. Kapan putri saya akan pulang??"
"Sama-sama bapak ibu. Untuk kepulangan pasien bisa besok pagi dan jangan lupa meminum obat yang telah di sediakan."
Dokter tersebut tersenyum ramah, "Saya pamit!!" bagaimana pun nona yang menjadi pasien sekarang adalah kekasih dari orang yang memiliki rumah sakit ini. Jadi ia harus bersikap hati-hati, agar karir nya aman dan tidak kehilangan cita-cita nya untuk selalu menolong orang lain.
Setelah itu, dokter muda dan cantik itu meninggalkan ruangan, menyisakan kini Anja yang mulai meminum obat dibantu oleh Rani.
"Yang punya rumah sakit??" tanya Rani pelan, agar anaknya yang kembali mengantuk karena meminum obat tidak mendengar nya.
"Syahreza Hospital," jawab Bayu, menggepalkan tangan nya, karena yang memiliki rumah sakit ini adalah keluarga Syahreza.
"Papa sudah mengurus administrasi nya?"
"Sudah kemarin. Namun semuanya sudah lunas, bahkan bolak-balik ke rumah sakit ini pun, Anja tidak akan mengeluarkan uang sepeserpun. Karena Danial sudah mengumumkan bahwa Anja adalah calon nona muda keluarga Syahreza. Jadi tidak ada yang berani menentangnya."
__ADS_1