
“gimana udah lo chat, Za?” tanya Fabian sambil duduk di sebelah cowok tersebut yang tengah membaca buku “telepon” sahutnya singkat Fabian membulatkan mata “yang bener lo Za?” Arfiza menoleh lalu menutup bukunya “serius” ucapnya, lalu pergi dari kelas “mau kemana?” tanya Fabian penasaran “biasa” cowok jangkung itu mengehela nafas “tumben berani, nggak nyangka gue” ucapnya pada diri sendiri.
Arfiza melihat seorang gadis tengah duduk di pinggir rooftop rambut sebahu yang ikut terbawa hembusan angin itu membuatnya terlihat semakin manis. Arfiza menghampirinya “ngapain di sini?” tanya cowok itu seraya duduk di sebelah Raina. Ia menoleh “jamkos kak” Arfizah ber-oh ria “sering kesini?” tanyanya lagi “iya, kalau jamkos sama mau motret” sahut gadis itu “kak Arfi, sering kesini?” cowok tesebut berdehem “iya, setiap hari” Raina mengeluarkan ponsel dari saku roknya cekrek gadis itu mengambil gambar cowok di sebelahnya. Lalu Raina tersenyum puas melihat hasil jepretannya, terlihat Arfiza berpose candid di sana “gue jual ke fans lo laku kali ya kak?” ujarnya membuat cowok tersebut menatap gadis itu intens “jangan” Raina bingung “kenapa?” tanya gadis itu.
“lo nggak pernah lihat instagrram gue ya?”
“emang kenapa kak?” Arfiza mengambil ponsel Raina dan membuka satu aplikasi di sana “nih” gadis itu membaca nama yang tertera di aplikasi itu. Arfiza.D tidak ada satupun foto cowok tersebut yang ada hanya foto hasil jepretannya “lo suka motret juga kak?” Arfiza nyengir “lo doang kayanya yang baru tahu, Na” gadis tersebut terkejud “jadi semua murid sudah tahu?” ucap Raina tak percaya “ya gituh” cowok tersebut menatap Raina “lo doang yang nggak tahu tentang gue” ucap Arfiza lalu beralih menatap langit.
“ada ya cewek kaya lo, asik sama dunianya sendiri. Nggak peduli sama sekitarnya”
“males saja gue kak, kalau kita peduli emang mereka peduli balik? Belum tentu kan”
“kalau gue yang peduli sama lo gimana?”
“yaudah kita temenan” sahut gadis itu santai.
“Cuma temen?”
“sahabat?”
Arfiza menghela nafas “polos banget Na” gadis tersebut dibuat bingung akan pembicaraan mereka siang itu “maksud kaka apa?” Arfiza menggelengkan kepala “nanti temenin gue ke toko buku mau nggak?” ajaknya, Raina berpikir sejenak “boleh deh. Gue juga mau beli novel baru” cowok itu memekik dalam hatinya “nanti gue tunggu di parkiran” seru Arfiza lalu pergi meninggal Raina sendirian di rooftop. Gadis itu tersenyum lalu mengganggukan kepalanya.
Kedua remaja itu sudah sampai di toko buku salah satu mall kawasan jakarta “gue nyari buku sastra Na” ujar Arfiza membuat Raina menoleh.
“suka sastra kak?”
“iya lo juga kan?” tebaknya yang dibalas anggukan oleh gadis itu. “kita banyak kesamaan” gadis itu menyeringai “kebetulan kali kak” ucapnya “ah masa” seru nya lalu tertawa. Mereka berjalan menyusuri rak novel sastra, Arfiza mengambil satu novel bagian tengah “novelnya Tere Liye tuh, bagus-bagus ya Na?” ujarnya pada gadis yang sedang membaca novel di sebelahnya “oh yang hujan, gue sudah baca. Bagus banget kak” seru Raina sambil melirik novel bersampul biru itu. Kemudian mereka melanghkah ke kasir “sini gue saja” ia mengambil novel di tangan Raina. Ketika gadis itu mengambil uang di dompetnya Arfiza sudah melangkah ke depan kasir “gue saja” ucapnya. “maksud..” Arfiza tak menjawab sepatah katapun “dipisah ya mba” ujarnya pada wanita berhijab hitam “baik kak” lalu wanita itu memberikan dua kantung plastik berisi novel pada cowok tersebut “makasih mba” ucapnya lalu memberikan satu kantung pada Raina. Ia bingung, Arfiza menarik tangan Raina keluar dari toko buku “makan dulu Na”
Mereka masuk ke salah satu resto di dalam mall “mau pesen apa?” tanya Arfiza sambil memberikan buku menu pada Raina “saya pesan nasi goreng sama es teh manis ya mba” pesannya pada seorang waiters “lo pesan apa kak?” Arfiza menoleh “samain ya mba” pesannya. Wanita itu mengangguk “baik saya ulang ya, nasi goreng dua sama es teh manisnya dua” keduanya mengangguk “baik” ucap waiters itu lalu pergi meninggalkan mereka. “Na, lo percaya cinta pandangan pertama?” tanya Arfiza seketika. Raina mengernyit “nggak kenapa kak?” jawabnya “kok gue percaya ya?” balasnya sambil membenarkan posisi “kak Arfi, lagi suka sama cewek ya?” papar Raina dengan tatapan jahil “tapi orangnya nggak peka Na” gadis tersebut berdehem “deketin saja kak” Arfiza tersenyum sumringah.
“caranya?”
“ya pake cara kak Arfi sendiri lah. Kan cara orang ungkapin rasa itu beda-beda kak”
“oke gue coba deh” Raina tersenyum simpul “semangat!” ujarnya. Tak lama pesanan mereka datang, tak ada lagi yang bicara hanya dentungan sendok yang menghiasi keheningan mereka.
“makasih ya kak” ucap Raina ketika motor cowok itu berhenti di depan rumah “gue yang harusnya makasih. Lo sudah nemenin gue ke toko buku” gadis itu menggaruk tengkuknya “next time, jalan sama gue lagi mau?” tanya Arfiza “lihat nanti kak” balasnya.
__ADS_1
“yaudah, gue pulang dulu ya” Raina tertawa mendengar itu.
“rumah deketan kok pamitan sih kak”
“iya juga sih, duluan Na” sahut Arfiza lalu melajukan motornya.
-----
Gadis yang berdiri di halte itu tampak gelisah, ia melirik jam tangannya berkali-kali. Seorang menghampirinya “sesekali telat gapapa Na” seru orang itu “kok kak Arfi, nggak bawa motor sih?” tanyanya “lagi pengen naik bus saja sama lo” Raina membuang pandangannya “kak Arfi aneh” cowok tersebut terkekeh. “lo juga aneh, ada motor di runah nalah naik bus setiap hari” Raina memutar bola matanya malas.
“yaudah kita sama-sama aneh”
“apa Na, kita?”
“iya kita, emang kenapa?”
“kita adalah kata yang ada dalam satu cerita”
“ih nggak jelas” imbuh gadis itu. Bus datang, lalu mereka naik ke dalam sana. Raina tampak risau karena lima menit lagi, gerbang sekolah akan di tutup. Ditambah jalanan macet pagi ini membuat bus itu tak bisa jalan lebih cepat. Sesampainya di sana gerbang sekolah sudah di tutup, Raina berdiri di depan gerbang hitam itu “pak tolong bukain gerbangnya dong” serunya “maaf atuh neng, nggak bisa. Nanti saya yang diomelin, tunggu gurunya saja ya” ujar seorang berseragam putih dengan celana navy itu. Arfiza yang ada disampingnya tampak tenang “kok kakak diem saja sih? Kita kan telat” cowok tersebut memasukan tangan ke dalam saku celana dan membenarkan posisi tasnya.
“kalau udah telat, mau diapain lagi?”
“dihukum berdua ini kan?” Raina kesal mendengar itu, terlihat seorang pria menghampiri mereka “kenapa kalian telat?!” ucap guru itu dengan raut wajah kesal “macet pak” sahut keduanya. “alasan klasik. Sudahlah kalian bapak hukum saja” Raina membulatkan mata “jangan dong pak” seru gadis itu “cepat kalian bersihkan lab komputer” perintah pak Rama pada kedua murid di hadapannya “tapi kan pak” sanggah Raina tak terima “nggak ada tapi-tapian. Atau mau saya tambah hukumannya?” Raina mengembungkan pipinya “jangan pak”
“mimpi apa gue semalem sampe dihukum berdua sama lo kak” ujar gadis yang tengah membersihkan kompoter menggunakan kemoceng “sinih gue saja” ucap Arfiza sambil mengambil kemoceng dari tangan Raina “duduk sana” perintahnya “tapi kan gue juga dihu...” Arfiza berdecak “duduk Aina” gadis tersebut mengikuti perintah cowok itu. Limabelas menit kemudian Arfiza sudah selesai melakukan tugasnya “sudah selesai” ucapnya sambil duduk di kursi yang di depan Raina “cepet banget” cowok itu membenarkan posisinya.
“gue lagi deketin dia nih, Na”
“serius? Terus dia gimana kak?”
Arfiza berdehem “gue nggak suka basa-basi Na, jadi tothepoint saja ya” Rania mengernyit “maksudnya apa ya kak?” cowok di hadapannya tersenyum “aku menyukaimu. Raina Salsabila” ungkap cowok itu tulus. Dunia Raina seakan berhenti karena penuturan Arfiza barusan “lo nggak perlu jawab sekarang Na” gadis tersebut mengusap lehernya “eh?!” Raina gugup, bingung harus bagaimana sekarang. “aku bakalan nunggu kamu Na” seru Arfiza yang membuat gadis tersebut tambah gugup.
“aku bakalan nanya kamu terus Na”
“tanya apa?”
“udah sayang aku belum?”
__ADS_1
“gue nggak bisa jawab sekarang kak”
“gapapa, aku tungguin”
“aku, kamu?” ucap Raina yang menyadari panggilan cowok itu berubah. “iya, gapapa kan? Aku pake kata itu kalau lagi ngomong sama kamu?” gadis tersebut tersenyum kikuk “biar apasih kak?” Arfiza mengusap puncak kepala Raina “biar terbiasa kalau kamu sudah suka beneran sama aku” gadis berlesung pipi itu salah tingkah karena perlakuan orang di hadapannya. “kelas yuk” ajak Raina menutupi wajahnya yang memerah.
“jawabnya jangan lama-lama” kemudian keduanya melangkah ringan menuju kelas masing- masing.
“Raina lo kemana saja sih?” ujar Naya ketika gadis tersebut tiba di kelas “telat” jawabnya santai “bisa telat juga lo?” ucap gadis itu lagi “macet Nay” Raina merubah posisinya jadi menghadap gadis tersebut “dengerin gue sampe selesai jangan dipotong ya Nay” gadis cantik itu mengangguk “sebenernya kemarin gue nemenin kak Arfiza ke toko buku. Terus kita makan, kak Arfi beliin gue novel. Gue pulang bareng, terus tadi ketemu di halte, sama-sama telat, dihukum pak Rama bersihin lab komputer. Tapi Cuma kak Arfi yang bersihin gue malah disuruh duduk” jelas Raina panjang lalu ia berkata dalam hati ‘soal kak Arfiza nembak jangan diceritain deh nanti saja’ mendengar cerita sahabatnya, Naya memekik “terus gimana lagi Rai?” gadis itu nyengir “udah itu saja” jawabnya santai. “hah? Lo biasa saja gitu?” Raina menghiraukan ucapan gadis itu “kantin yuk Nay” ajaknya, lalu beranjak keluar dari kelas dan melangkah ringan menuju kantin.
“oh ini yang lagi deket sama Arfiza?!” tandas cewek berambut panjang dengan dua dayang-dayang di belakangnya “jangan sok cantik deh, segala deketin Arfiza lagi” ucap cewek yang bernama Alexa itu. Raina geram mendengarnya “saya nggak pernah deketin kak Arfi. Dia sendiri yang deketin saya” jelas gadis tersebut Alexa menepuk tangannya “lo junior ya di sini nggak usah sok cantik, gue sering lihat lo berangkat bareng sama Arfiza, naik bus. Pulang bareng juga, terus kemarin ke toko buku kan?” seru cewek yang berdiri di depan Raina “kakak tahu darimana?” Alexa berdecih “apa yang nggak gue tahu tentang Arfiza? Mana mungkin dia deketin cewek kaya lo, Raina!” ujarnya membuat gadis tersebut kesal “saya sudah bilang kak Arfiza duluan yang deketin saya” mendengar penuturan Raina, Alexa mengangkat tangan ingin menampar pipi cewek itu tapi di cegah oleh seorang di belakangnya “ALEXA!” bentaknya “eh lo Za. Gue bisa jelasin kok” ucap gadis tersebut gugup.
“nggak ada yang pelu dijelasin lagi”
“tapi dia emang kecentilan sama lo”
“lo yang kecentilan sama gue, tiap malem nelponin gue, chat gue, ngajak jalan, nyamperin ke kelas gue, terus nembak gue juga pernah kan?” jelas Arfiza membuat semua yang ada di kantin, menatapnya tak percaya. Ia menoleh ke arah Raina “apa yang dia bilang bener kok. Gue yang deketin dia, Raina beda makanya gue penasaran sama dia, terus gue coba deketin, udah lama juga gue merhatiin dia karena karyanya selalu ada di mading. Terus gue pindah rumah yang nggak tahunya satu komplek sama rumah Raina terus gue mulai deketin dia, dan satu hal yang harus lo tahu gue suka sama Raina” kalimat terpanjang dari mulut cowok itu membuat siswi yang ada di kantin geram, terlebih lagi penuturan bahwa ia menyukai Raina membuat mereka teriak histeris “siapapun yang berani macem-macem sama Raina berurusan langsung sama gue ya!” ujarnya lalu menarik tangan gadis tersebut pergi dari kantin. Mereka melangkah menuju rooftop Raina duduk di sana, ia masih syok karena kejadian tadi. “jangan dipikirin omongan Alexa. Orang gila dia Na”
“iya kak” ucapnya singkat lalu berdiri dari posisinya.
“kemana Na?”
“gue mau sendiri kak”
Setelah kejadian itu Arfiza tak pernah bertemu dengan Raina, telepon maupun pesan tidak dibalas oleh gadis itu. “perjuangin, jangan nyerah” ujar Fabian sambil menepuk pundak cowok itu “pasti” balasnya sambil meminum secangkir cappucino “kemana ya dia?” Arfiza hanya mengangkat bahu “dua bulan lagi kita UN” ujar Fabian membuat cowok itu mengacak rambut prustasi “ makanya gue harus dapet kepastian dari Raina”
Sementara di lain tempat kedua remaja itu tengah berada di kamar bernuansa biru “Rai, nggak kangen kak Arfi?’ tanya Naya seketika membuat gadis tersebut tersedak.
“nggak tahu Nay”
“gengsi digedein”
“iya”
Naya menyeringai “tuh kan , lo kangen. Udah sih terima saja, kak Arfi nanyain lo terus ke gue” gadis itu terkejud “nanya apa Nay?” ujarnya “kepo” Raina berdecak “gue serius Nayaa” gadis tersebut tersenyum jahil.
“dia nanya, lo kenapa nggak bales chat dia”
__ADS_1
“terus lo jawab apa?”
“Raina gengsi kak” ia melempar bantal yang ada di tangannya “rese lo Nay” Naya bangkit lalu mengambil tasnya “gue balik ah, jangan lupa tuh kak Arfi dua bulan lagi lulus nanti lo nyesel kalau gengsi terus” serunya lalu melangkah pergi.