
Untuk kesekian kalinya Anja mendengar Kintan menangis dan bergumam takut dan sakit. Anja memberanikan diri masuk ke dalam kamar Kintan. Walaupun tidak setiap malam Kintan menangis, tapi Anja tidak boleh diam saja.
"Kak Kintan kenapa?"
Kintan mengusap air matanya langsung. Ia memperhatikan wajah Anja yang ketakutan. Dengan wajah berantakan dan mata sembab membuat Kintan tampak mengerikan.
"Puas lo?" teriak Kintan menatap tajam Anja.
"Maksud Kakak apa? Aku ngak ngerti?"
"Ini semua karena lo. Lo penghancur dalam hidup gue."
Penghancur? Anja tidak pernah melakukan apapun ke Kintan. Jadi apa salahnya??
"Lo sengaja kan kasih tahu kak Mita tentang kejadian itu. Sehingga semua keluarga benci sama gue. Lo selalu menang. Lo cantik, pintar, dan sekarang memiliki pacar tampan."
Anja semakin tidak mengerti arah pembicaraan Kintan.
"Aku ngak pernah kasih tahu kak Mita kejadian itu. Aku ngak tahu kak Mita tahu dari mana. Kakak juga cantik dan cerdas. Soal Danial dia pacar aku. Kakak bisa nyari yang lain."
"Lo kasih Danial ke gue. Gue akan berubah."
"Aku ngak bisa. Walaupun aku sayang sama kakak. Tapi aku tidak mau mengorbankan dua hati yang saling mencintai."
"Lo egois. Lo dengan mudah mendapatkan apapun yang lo mau. semua orang sayang sama lo. Sedangkan gue... Orang tua gue sendiri benci sama gue."
Anja melebarkan matanya mendengar kejujuran sepupunya. Bukannya keluarga mereka baik-baik saja. Kintan anak tunggal tidak akan kehabisan kasih sayang.
"Maksud kakak apa?"
"Mereka akan bercerai dan gue akan hancur. Puas lo! makanya gue mau Danial buat mereka bangga."
"Aku tetap ngak bisa. Kenapa harus Nial? dia pacar aku. Cukup aku diam selama ini ke kakak. Soal berubah apapun itu, kuncinya di diri kakak. Jangan menyalahkan orang lain atas hidup kakak. Itu buat kita tersiksa."
Kintan merasa geram dan hendak mendarat kan tamparan ke wajah Anja. Namun Anja langsung menepisnya dengan kasar.
"Jangan bermain tangan kak! ngak baik. Aku bisa saja sekarang telpon pacar aku dan nyakitin kakak. Jangan berani menyentuh aku, atau kakak bahkan keluarga kakak akan lebih hancur."
__ADS_1
Kalau sampai ada bekas tamparan di wajah Anja. Detik itu juga Kintan akan hilang dari bumi. Anja tidak mau hal itu terjadi.
"Silahkan mengadu. Gue ngak takut lawan pacar lo yang sombong dan sok berkuasa itu."
"Kali ini aku diam. Tapi selanjutnya aku akan beneran kasih tahu Nial. Aku sudah memperingatkan dari awal. Besok aku tidak bisa menolong kakak. Karena perjanjian aku dengan Nial telah dilakukan."
Kintan menggepalkan tangannya. Segitu menakutkannya seorang Danial, sampai Anja berani melawannya.
"Jujur sama gue. Siapa Danial sebenarnya??"
"Dia orang berbahaya. Kakak jangan mencari masalah."
"Gue ngak peduli."
"Itu terserah Kakak."
Anja hendak pergi dari kamar itu namun Kintan langsung memegang tangan Anja dengan kuat. Anja tidak meringis sedikitpun. Bahkan ia langsung mendorong Kintan hingga jatuh ke atas ranjang.
"Kalau aku boleh sombong. Ilmu bela diri Kakak ngak sebanding dengan aku. Jangan mengeluarkannya untuk kejahatan Kak. Jadi orang harus amanah."
Anja pernah ikut pencak silat waktu sekolah menengah pertama. Namun dengan perjanjian tidak boleh diperlihatkan untuk kesombongan diri. Namun hanya untuk perlindungan diri.
"Pacar aku sendiri yang suruh aku manja ke dia. Kakak nyari pacar, jangan belajar jadi orang ketiga dalam hubungan orang."
Anja segera keluar. Sebenarnya ia merasa bersalah telah memperlakukan sepupunya seperti itu. Tapi dengan cara lembut sepupunya tidak mau mendengarnya.
Terpaksa Anja melakukan hal itu agar sepupunya sadar.
***
"Bagaimana?" tanya Danial. Anja menelepon Danial. Cowok itu langsung ke rumahnya. Sekarang mereka berada di ruang tamu.
"Perjanjian belum habis Nial."
"Apapun yang terjadi. Aku hanya cinta sama kamu. Jangan pernah berpikir aku akan berpaling. Besok kalau aku sampai berkhianat. Bunuh aku, Yang! aku sendiri yang akan kasih kamu pistol untuk tembak jantung aku."
"Anja selalu percaya sama Nial. Anja tidak pernah berpikir tentang hal itu. Tapi Anja hanya khawatir sama kondisi kak Kintan. Anja takut kak Kintan depresi dan masuk ke rumah sakit jiwa."
__ADS_1
"Jangan hanya hanya kepikiran dia. Kamu ngak pernah mikirin perasaan aku?" tanya Danial.
"Anja selalu sayang sama Nial selamanya. Jadi, jangan marah oke!"
Danial memeluk erat tubuh mungil Anja. Betapa sayang nya Danial pada gadis kecil nya.
"Aku telah menyiapkan acara pertunangan kita yang sempat tertunda. Cincin yang aku pesan juga sudah dikirimkan semalam."
"Ihhh Nial. Cepetnya," protes Anja mendongak wajah Danial.
"Nikah juga bisa. Kalau kita nikah langsung bagaimana?"
"Anja masih kecil. Ngak mau bunting."
"Ya kan nanti minum obat pencegah kehamilan sayang."
"Tunangan ajha dulu. Respon papa aku bagaimana??"
"Beliau setuju. Papa yang bicara kemarin. Besok acara pertunangan orang tua kamu akan pulang."
Anja tersenyum semakin mengeratkan pelukannya pada Danial. Bau maskulin aroma laki-laki melekat di tubuh Danial. Anja mengendus seperti tikus.
"Harum ya?"
"Hem."
"Makanya nikah. Biar setiap hari bisa pelukan ngak ada batasan."
"Nial ajha ngak punya kerjaan. Nanti Anja mau makan apa?"
"Kamu meragukan aku sayang? mau apa sekarang? mau beli tas atau beli mansion."
"Dasar sombong. Uang orang tua ajha bangga."
"Itu uang aku sayang. Kamu tahu kan aku punya perusahaan yang aku rintis sendiri dan sekarang lebih berkembang karena bersatu dengan perusahaan papa."
"Iya Nial kaya dan hebat."
__ADS_1
"Ya dong."