
Danial menatap datar ke sekeliling markas, ia merasakan seseorang kini mengawasinya, walaupun orang itu jauh dari jangkauannya saat ini. Mungkin hanya dirinya yang merasakannya. Dan benar saja.
Dor.
Tembakan dan peluru hampir mengenai jantung Danial. Hanya dengan satu jari ia bisa menyentuh peluru dengan mudah. Semua anak buah Danial langsung menunduk melihat raut wajah Danial yang semakin menyeramkan, mereka kini telah lalai, membiarkan penyusup berani menyentuh gerbang utama markas.
"Maafkan kesalahan kami tuan muda!!" mereka semua terduduk meminta ampun.
"Lalai," jawabnya datar.
Buk.
Danial menendang satu persatu anak buahnya yang tidak becus dalam menjaga markas nya. Mereka tersungkur dengan darah di pelipisnya akibat tendangan Danial yang kasar dan mereka berhak mendapatkan hal itu.
"Penghianat!!"
Danial mengetahui ada penghianat di markas nya. Tidak ada yang bisa menyentuh seujung kukupun markas miliknya, kalau bukan ada salah satu anak buahnya yang berkhianat.
__ADS_1
"Rapa!!"
"Ada lima anak buah penghianat. Mereka memberikan akses masuk untuk para musuh untuk mengincar nyawamu."
Steven membawa lima penghianat yang hampir menembak jantung Danial tadi. Kini mereka ketakutan luar biasa. Pertahankan di markas Danial sungguh hebat. Sebelum mereka kabur, Steven yang bertugas sebagai peretas jaringan keamanan menemukan mereka yang hendak kabur dengan helikopter.
Dor.
Tanpa basa-basi Danial menembakan pistol ke arah jantung para penghianat, "Rapa!"
Rapa menyeringai, Danial memberikan ia isi penelitian laboratoriumnya. Sungguh Rapa sangat senang hadiah dari sahabatnya itu.
****
Kreek. Pintu terbuka dengan lebar, menampilkan tubuh mungil yang kini tengah tertidur dengan lelap, gadis itu memeluk boneka beruang berwarna putih. Selimut yang kini perlahan tersingkap ke bawah pahanya.
Danial menutup pintu kamar tersebut dengan perlahan, tidak ingin menganggu gadisnya. Danial disuruh langsung ke kamar Anja oleh Rani, karena sepertinya mereka perlu berbicara berdua.
__ADS_1
Tampak jelas raut wajah Anja dari kemarin menandakan mereka tengah ada masalah, yang perlu diselesaikan. Dan Rani paham akan hal itu, ia juga pernah merasakan pacaran dahulu. Rani percaya kepada Danial, bisa menjaga Anja dengan baik, untuk itu ia mengizinkan mereka berdua di kamar.
Danial memperbaiki selimut Anja. Tanpa niat membangunkan gadis itu. Ia sibuk meneliti wajah damai Anja yang terlihat lucu dan menggemaskan, sudut bibirnya terangkat menampilkan senyuman tipis, bahkan sangat tipis.
Anja adalah bahagia dirinya, hanya melihat wajah damai gadis itu, membuat dirinya bahagia dan berjanji sampai kapanpun gadis itu hanya miliknya.
"Nial!!" Suara yang sangat ia rindukan. Namun sepertinya gadis itu hanya bermimpi. Jadi dirinya ada dalam mimpi gadis itu.
Danial masih diam membiarkan Anja menyebut namanya. Namun gadis itu masih enggan membuka mata.
"Nial!! apa bener seperti itu??"
"Nial!! Anja rindu, tapi Anja takut ketemu Nial."
Wajah Anja tampak sedih. Namun gadis itu belum membuka matanya juga. Tidur gadis itu tampak terusik, kini Anja mempererat pelukan bonekanya.
Dan Danial menatap itu semua dalam diam. Bahkan kematianpun tidak membuat Danial puas, karena cowok itu membuat Anja menjadi takut kepadanya. Danial mengetahui semua perkataan cowok itu kepada gadisnya.
__ADS_1
"Vanessa!" satu nama yang Danial sebutkan, akan menjadi targetnya selanjutnya. Sepertinya gadis itu terlalu dalam mengusik kehidupan nya.
Awalnya Danial ingin memperlambat hukuman gadis itu, tapi sepertinya Vanessa semakin menantang nya untuk memberikan hukuman yang gadis itu akan dapatkan segera mungkin.