
Tring….
Bunyi bel pergantian jam begitu nyaring berbunyi.
“kita lanjutkan minggu depan.” Ucap pak yoga, beliau berlalu dari kelas untuk kembali mengajar di kelas lain.
Keysa bersama alena, prisil dan shintya pergi ke ruang ganti baju. mengganti seragam dengan baju olahraga. “kalian ngerti ga yang tadi di jelasin sama pak yoga?” tanya prisil sambil menatap temannya satu persatu, mereka semua serempak menggeleng.
“ah udahlah tugasnya gausah di kerjain, pusing gw.” Ujar shintya dengan frustasi.
“alah gausah di kerjain katanya, nanti tiba-tiba dia duluan yang udah setor tugas.” Celetuk alena. Dia tau betul bagaimamna sintya, motto hidupnya malas in public ngambis in privat.
“kali ini gw beneran ga mudeng anjir.” mulai dari jam awal pelajaran sampai bel pergantian berbunyi, pikiran shintya melayang entah kemana. Dia benar-benar tidak fokus.
“gimana kalo besok kita ngerjain nya di café depan sekolah aja? Sekalian nongkin nyari cogan.” Usul prisil dengan semangat.
“boleh tuh.” Ucap alena yang di angguki shintya. “lo ikut kan?” tanya prisil pada keysa, sedari tadi gadis itu hanya diam.
“ikut.” Jawab keysa dengan sedikit ragu, semoga saja kevin mengijinkan.
Setelah berganti pakain, mereka semua kembali ke dalam kelas, menunggu instruksi dari guru olahraga. “ke lapang basket indoor.” Ucap bima yang baru saja kembali sehabis menyusul pak jiyan, guru penjas mereka.
☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️
Sesampainya di lapangan, ternyata bukan kelas 11 saja yang ada jam pelajaran olahraga. Kelas 12 ipa 1 pun sama. Biasanya walaupun jadwal mata pelajaran mereka sama, tempatnya akan berbeda, tidak di satukan seperti sekarang.
Keysa dan yang lainya berkumpul di bawah tribun, menunggu pak jiyan yang masih memberi instruksi pada kelas 12.
Sebenarnya guru olahraga mereka berbeda, hanya saja guru olahraga kelas 12 tidak bisa hadir, pak jiyan lah yang di percaya untuk mengawasi mereka semua selama jam pelajaran berlangsung.
“sehubung saya megang dua kelas sekaligus, jadi pemanasannya kita gabungkan saja, yang kelas dua belas coba menggerser ke sebelah sini.” Ucap pak jiyan dengan lantang.
“buat barisan 10 banjar.” Buru-buru mereka semua membuat barisan serapi mungkin, jika barisan masih belum rapi, jam pelajaran tidak akan di mulai.
“kevin pimpin pemanasan.” Panggil pak jiyan, tapi kevin menolak, ia memilih berdiri di samping keysa ketibang berdiri di hadapan semua orang.
“sama renal aja pak.” Teriaknya.
“yausah, renal maju kedepan. Kelas sebelas di pimpin sama bima.” Mereka yang di panggil langsung maju kedepan untuk memimpin pemanasan.
Selesai pemanasan, kelas sebelas dan kelas dua belas kembali di pisah karena materinya berbeda. Kelas keysa dengan materi kebugaran jasmani, kelas kevin tentang permainan bola basket.
“bapak akan membagi kalian jadi dua kelompok, kelompok ke satu yaitu kelompok yang pertama kali lari, kelompok dua bantu hitung seberapa banyak teman kalian berlari dalam waktu 12 menit, nanti giliran. untuk laki-laki minimal 20 keliling, untuk perempuan minimal 10 keliling. Ada yang ingin di tanyakan?” jelas pak jiyan panjang lebar.
“kalo kurang dari batas minimal, bakalan remedial pak?” tanya zaka mewakili pertanyaan teman-temanya yang lain.
“betul, untuk remedial, kalian bisa ambil praktek atau tes tulis. Kalo praktek berarti kalian harus lari lagi minggu depan, kalo test tulis berarti kalian ngerjain soal yang bakalan bapak kasih.”
“tes nya berapa soal pak?” tanya biyan
“40 pilihan ganda 20 essay.” Pak jiyan memang tidak pernah main-main jika memberikan soal, jika test tulis masih remedial maka diganti dengan membuat makalah.
“gaada diskon pak 20 pilihan ganda 5 essay.” nego zaka. mereka semua berharap pak jiyan akan memberikan keringanan, dipotong 5 soal pun tak apa.
“gaada diskon diskonan.” Tolak pak jiyan mentah-mentah.
“ada yang ingin di tanyakan lagi sebelum praktek nya saya mulai?” tanya pak jiyan dengan lantang.
“tidak pak.” Jawab semuanya serempak. Dengan begitu awal pembelajaran penjas pun di mulai.
Keysa fokus menghitung jumlah putaran biyan. Laki-kaki itu bisa berlari sebanyak tiga puluh tujuh keliling dalam waktu dua belas menit.
“sekarang gantian kelompok dua.” Instrupsi pak jiyan.
Keysa siap-siap di garis start, ketika peluit di bunyikan ia mulai berlari dengan santai supaya energinya tidak terlalu terkuras.
Fisik keysa memang tidak sekuat yang lain, ia lebih banyak jalan cepat di bandingkan lari, padahal ia sudah menyimpan energinya sebisa mungkin.
Sepuluh menit berlalu, keysa sudah mengelilingi lapangan sebanyak dua belas kali.
Keysa hanya fokus ke arah depan, tidak fokus pada jalan yang tengah ia pijak, sampai ada orang yang sengaja mengulurkan kakinya saja keysa tidak sadar, membuat gadis itu terjatuh dengan posisi tengurap. Kepalanya menghantam lantai lapangan dengan keras.
__ADS_1
“upsss sorry.” Ucap salsa yang hanya melewati keysa begitu saja.
Kepala keysa terasa sangat pusing karena hantaman di kepalanya tapi ia berusaha kuat dan kembali berdiri melanjutkan praktek.
“key, lo ga apa-apa?” tanya prisil dengan raut khawatir, gadis itu membantu keysa untuk berdiri.
“ga papa ko.” Bohong keysa, padahal dia sedang menahan rasa pusing di kepalanya.
“key, hidung lo mimisan.” Ucap prisil histeris, tepat saat keysa menyeka hidungnya. Gadis itu pingsan.
“KEYSA.” kevin yang baru saja kembali dari toilet di kejutkan dengan keysa yang pingsan di pinggir lapangan. Laki-laki itu segera membawa keysa ke uks.
☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️
Rupanya ruangan uks sedang kosong, tidak ada pmr yang berjaga satu orang pun. Kevin meletakan tubuh keysa dengan perlahan di bangkar yang kosong, kemudian menutup tirainya.
Hal pertama yang kevin lakukan membersihkan bekas mimisan keysa dengan tisu basah yang sudah di sediakan di setiap laci nakas di sebalah bangkar.
Kemudian setelah itu memijit kepala keysa dengan minyak kayu putih, kevin tidak tau apakah tindakan nya ini sudah tepat atau malah salah, ia panik dan tidak tau harus berbuat apa.
Empat puluh lima menit, keysa masih belum sadarkan diri. “key, sadar….” Gumam kevin yang entah untuk keberapa kalinya.
Tepat setelah satu jam berlalu akhirnya keysa sadar juga.
“masih pusing?” tanya kevin khawatir.
“dikit.” Ucap keysa dengan suara parau.
“kaka pijitin lagi ya biar pusingnya ilang.” Kevin kembali memijat kepala keysa dengan lembut, sesekali mengecup pelipisnya.
Srekkk…
Tirai di buka dengan tiba-tiba membuat tiga orang gadis yang ada disana harus menyaksikan keuwuan teman mereka sediri di depan mata kepala.
“sorry, kirain kak kevin udah balik ke kelas.” Ucap shintya tak enak. Mereka kembali menutup tirai dan pergi dari uks.
Sepergian alena, prisil dan shintya. Bagas dan renal masuk, membawakan tas kevin karena bel pulang sudah berbunyi beberapa saat yang lalu. David sudah pulang duluan karena ada urusan penting katanya.
“ga apa-apa kak.” Jawab keysa.
“syukur deh, kaget banget gw pas tau lo pingsan tadi.”
“perhatian banget lo sama cewek gw. Ada rasa?” tanya kevin sinis.
“yaelah gitu aja cemburu dasar bulol.”
“bulol?” beo keysa, ini pertama kalinya keysa mendengar kata itu.
“bucin tolol.” Jawab renal dan bagas serempak. Sontak kevin memberikan tatapan tajam pada keduanya.
“kalian masih mau disini? Gw cabut duluan.” Ucap bagas, jujur saja ia tidak betah berada di uks karena aroma ruangan membuatnya kurang nyaman.
“mau pulang sekarang?” tanya kevin pada keysa. sontak gadis itu menganggukan kepala.
☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️
Di parkiran tepat nya di samping mobil kevin, ada salsa yang sepertinya sedang menunggu seseorang.
Melihat kehadiran keysa dan kevin, salsa menghampiri keduanya.
“minggir.” Ucap kevin dingin tapi tak di ubris sama sekali.
“key sorry, tadi gw bener-bener ga sengaja. Maafin gw.” kata salsa dengan wajah penuh sesal, ia harus mendalami perannya supaya rencana yang dia susun bisa terencana dengan baik.
“ga apa-apa.” Jawab keysa.
“sebagai permintaan maaf gw.” Salsa menyodorkan keresek berwarna putih yang sedari tadi ia jinjing, entah apa isinya.
“gausah kak.” Tolak keysa.
“kalo lo tolak, berarti lo belum maafin gw.” ucap salsa dengan wajah memelas.
__ADS_1
Terpaksa keysa menerimanya, hanya untuk menghargai kebaikan salsa “makasih.”
“sekali lagi gw minta maaf.”
☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️
Keysa membuka pemberian salsa ketika ia sudah berada di dalam mobil. Ternyata isinya makanan kesukaan keysa semua, dari kebab, burger, jus alpukat dan beberapa coklat.
Keysa yang tergiur memakan kebab dan juga burgernya. “kak salsa baik banget.” Gumam keysa.
“cobain deh kak enak banget.” Keysa menyodorkan burger yang dia makan tapi kevin menolak.
Hampir semua makanan yang salsa berikan tersikat habis. Rasa pusing nya hilang seketika saat memakan makanan enak.
☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️
Malam ini Keysa benar-benar tidak bisa tidur. Perutnya terasa sangat mulas, entah sudah keberapa kali dia bulak balik ke toilet hingga membuatnya lemas, dilihatnya jam yang ada di atas nakas menunjukan pukul tiga pagi.
matanya sudah sangat mengantuk tapi perutnya tidak bisa di kondisikan.
ketika pagi tiba keysa memaksakan diri untuk berangkat ke sekolah meski kondisinya benar-benar tidak fit.
“kamu sakit sayang?” tanya kanaya, dilihat dari luar saja penampilan keysa sudah tidak bisa di katakan baik-baik saja.
“gausah sekolah ya, istirahat aja di rumah. Nanti papa panggilin dokter.” Baru saja kafian berkata demikian, keysa sudah terjatuh di latai yang sontak membuat semua orang di sana terkejut.
“siapain mobil.” Perintah kafian
Keysa di larikan kerumah sakit terdekat supaya bisa segera ditangani, kevin yang seharusnya pergi ke sekolah malah mengikuti mobil kafian dari belakang, percuma saja kevin sekolah jika fikirannya hanya tertuju pada keysa.
Setelah di periksa oleh dokter, ternyata keysa kekurangan cairan sampai membuatnya jatuh pingsan. Suster memasangkan selang infus untuk menambah cairan tubuh.
Dua jam berlalu, akhirnya keysa sadarkan diri. Kafian kanaya dan kevin yang ada di sana mengucap syukur dalam hati.
“ada yang sakit sayang? Kepalanya masih pusing? Mau minum?” cerca kafian, pandanganya memancarkan kekhawatiran.
“tinggal pusingnya aja.” Jawab keysa dengan suara lemah.
Tatapan keysa jatuh pada kakanya yang sudah rapi dengan seragam sekolah.
“kaka ga sekolah?” tanya keysa sambil mengerutkan dahi. Kevin menggelengkan kepalanya “engga, hari ini kaka izin dulu.” Sebelum keysa sadar, kevin sudah menghubungi teman-temannya bahwa hari ini ia tidak akan masuk.
Pandangan keysa jatuh pada wanita paruh baya yang sedari tadi hanya mengusap tangan keysa yang sedang di infus, diam-diam kanaya menangis.
“mama ko nangis?” keysa mengusap air mata kanaya dengan sebelah tangannya.
Kanaya masih bungkam, ia tidak tega melihat keysa yang tidak berdaya seperti ini.
“mama jangan nangis terus dong, aku jadi ikutan nangis nih.” Gadis itu benar-benar ikut menitikan air matanya.
Giliran kanaya yang mengusap air mata keysa. “cepet sembuh ya anak cantik nya mama.” Di kecupnya kening keysa dengan penuh kasih sayang.
☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️
Keysa benar-benar di jaga ketat, kafian sampai memanggil beberapa bodyguard di rumah untuk ke rumah sakit menjaga ruangan keysa, terdengar berlebihan, tapi itulah kafian.
Keysa bergerak sedikit saja mereka langsung waspada, padahal dia hanya mengubah posisi berbaringnya.
Ketika malam tiba, kafian dan kanaya izin pulang sebentar untuk membersihkan diri juga mengambil beberapa pakaian dan beberapa keperluan lain . Mereka percayakan keysa pada kevin dan juga bodyguard yang ada disana.
Para bodyguard hanya berjaga di depan pintu ruang inap jadi hanya tinggal kevin dan keysa yang ada di ruangan.
Kevin senantiasa duduk di samping keysa.
“gitu banget liatinnya.” Keysa jadi risih sendiri di perhatikan seintens itu oleh kevin.
“sakit ga?” tanya kevin, ia menggenggam tangan keysa yang terdapat selang infus.
“engga.” Jawab keysa, suster memasangkan selang infus itu ketika keysa sedang pingsan, tentu saja tidak terasa sakit.
“cepet sembuh cantik nya kaka.”
__ADS_1